YOGYAKARTA, NAPAS PUISI YANG PANJANG


Warih Wisatsana

Bukan hal yang istimewa, seorang perupa atau novelis menghasilkan karya yang bertemakan kehidupan sebuah kota. Tak sedikit pula puisi tercipta lantaran penyairnya terilhami oleh tempat-tempat yang sempat disinggahinya. Di sisi lain, lumrah pula banyak kota-kota dunia, termasuk yang kosmopolitan seperti Paris atau Venesia, dengan bangga mencantumkan dalam sejarahnya tentang para seniman atau sastrawan dunia yang pernah mukim dan berkarya di sana—suatu bentuk penghargaan yang boleh dikata belum membudaya di negeri ini. Pendeknya, antara kota dan para kreator tersebut, punya tali temali batin, yang tidak hanya mengikat kita ke masa silam penuh kenangan, namun juga memberi arah bagaimana masa depan bersama sepatutnya digagas dan diwujudkan.

Sekitar tahun 1987, saya datang ke Yogyakarta, semata ingin menjumpai penyair-penyair terdahulu yang nama dan karyanya kala itu memenuhi kabar dan berita-berita seputar perkembangan sastra. Sebagai seorang pemula, yang mulai ingin serius menekuni puisi, tak pelak Persada Studi Klub (PSK), yang salah satu pendirinya adalah Umbu Landu Paranggi, merupakan tujuan utama saya. Namun di Malioboro, tempat para sastrawan menghidupkan atmosfer kreatif pergaulannya, saya tak berhasil menemui seorang pun dari mereka. Konon, sepeninggal Umbu, Presiden Penyair Malioboro, situasi sastra yang gayeng dan hangat di pedestrian itu perlahan menjadi kian surut dan redup. Akan tetapi, di akhir kunjungan, saya beruntung bertemu dengan sosok sastrawan dan penggiat apresiasi yang kondang dan total, Ragil Suwarno Pragolapati. Dengan bertanya sana sini, tiba saya di kediamannya, kalau tak salah di sekitar Patangpuluhan.

Mas Warno, yang juga pendiri PSK selain Mas Imam Budhi Santosa dkk, bukan hanya menjamu makan siang sederhana, namun dengan penuh semangat menjelaskan apa yang tengah ia lakukan sepeninggal Umbu ke Bali. Dengan segala keterbatasan pemahaman, maklumlah, saat itu masih belasan tahun, saya mencoba menangkap betapa Mas Warno tengah menegaskan pentingnya bagi seniman untuk senantiasa berurat dan berakar pada pengalaman kesehariannya, juga bagaimana spiritualitas, dengan keyakinan pilihan masing-masing, kudu dikelola serta diyakini sebagai bagian yang utuh dari keseluruhan pengalaman pencarian dan penciptaan seni. Dengan nada tinggi pula, yang bikin saya terkaget-kaget serta menduga Mas Warno sedang meluapkan amarah, ia menyatakan bahwa Yogyakarta adalah kota dengan “napas puisi yang panjang”. Begitulah, sampai sekarang saya masih menduga-duga, apa sebenarnya yang dimaksud “napas puisi yang panjang”? Apakah itu berarti bahwa Yogyakarta, sebagaimana kita ketahui, memang punya sejarah panjang kepenyairan, dari pra Rendra hingga yang paling terkini—kala itu—Emha dan Linus Suryadi? Ataukah, boleh jadi, ungkapan tersebut terkait dengan hal yang lebih esensial, yakni bahwa puisi atau karya seni yang mumpuni, lantaran dilahirkan dengan sepenuh kesungguhkan serta pergulatan “rohani” yang mendekati intensitas dzikir atau tafakur, memancarkan energi ke sekeliling tempat di mana momen penciptaan itu terjadi? Bila pernyataan terakhir ini ada benarnya, maka Yogyakarta, yang dalam sejarahnya terbukti turut andil melahirkan sekian banyak seniman dan sastrawan besar, tak pelak memang sungguh sebuah kota yang punya napas puisi nan panjang. Atau dengan kata lain, hal yang sebaliknya patut saja terjadi, bahwa seniman yang singgah maupun yang kemudian beberapa waktu bermukim di kota ini, “terasuki” atmosfer kreatif Yogyakarta, berpeluang menciptakan karya berikutnya yang tak kalah hebat dengan para pendahulunya.

Masih dengan kecamuk pertanyaan tentang “napas panjang” itu, bebeberapa tahun belakangan setelah pertemuan dengan Mas Warno, saya singgah lagi ke Yogyakarta. Kali ini, saya beruntung berjumpa Mas Linus Suryadi AG (almarhum), bahkan sempat menginap di rumah masa kanaknya di Kadisobo, juga berkeliling kota Yogya dengan dibonceng vespa antiknya itu. Sedangkan dengan Mas Imam Budhi Santosa, saya menyambanginya sekian tahun berikutnya. Dari pertemuan-pertemuan itu, dan sejalan dengan kecintaan yang kian suntuk pada puisi, sedikit banyak saya mulai dapat menyelami bahwa bentuk pergaulan kreatif, termasuk cara sang seniman atau sastrawan dalam menyikapi kekinian, mencerminkan sekaligus turut mempengaruhi perubahan “perangai” sebuah kota, dan tentu seyogyanya juga arah masa depannya.

Yogyakarta Kini dan juga Esok

Sebagaimana kota besar lainnya, Yogyakarta, sekilas permukaan, punya persoalan yang sama. Papan-papan iklan, bagian yang tak terelak dari kapitalisme global, memenuhi hampir semua ruas jalan. Susah payah pembangunan dan sendat napas perubahan kota ini, tercermin juga sebenarnya pada ekspresi dan buah cipta para seniman, dapat dilacak semisal melalui karya seni rupa, sastra, serta bentuk-bentuk kesenian eksperimen lain, atau pertarungan beragam wacana yang melingkupinya. Keprihatinan di seputar kemandekan penciptaan serta krisis kreativitas yang kerap dikemukakan, tidakkah hakikatnya berpautan, meski tidak sepenuhnya berbanding lurus, dengan suara-suara kritis yang mencemaskan wajah kota ini? Saya termasuk dari banyak orang yang tertarik untuk memperhatikan, bukan hanya karya-karya sastra, cerpen atau puisi, melainkan juga karya-karya seni rupa yang marak di kota ini, hal mana dinamikanya mengundang pertanyaan, karya (seniman) unggul macam apa lagi yang bakal lahir? Kalau dulu ada kemah urakan ala Rendra, atau gerakan seni rupa baru, sekedar contoh, kira-kira “goro-goro” seni apa lagi yang bakal mewarnai keberadaan kota ini?

Belum lama ini, saya diajak teman mengunjungi Kaliadem, menyaksikan dari dekat sisa amukan Gunung Merapi. Tentu saja, luapan lava dan erupsi nan dahsyat itu, mengingatkan siapa saja yang sedia merenung, bahwa manusia memang sungguh mahluk lemah di hadapan fenomena semesta. Namun, hal yang mengingatkan saya pada “napas panjang” Mas Warno, justru adalah bagaimana ibu-ibu separuh baya, yang menurut pengakuannya mulai berangkat kerja pukul lima pagi, dengan rutin mengumpulkan rumput-rumputan nun di lereng tinggi Merapi, serta kemudian memanggulnya menuruni setapak jalan berbatu yang curam. Rumput-rumput itu akan digunakan sebagai makanan ternak, gantungan hidup mereka. Tidakkah ini sebentuk tetirah, olah spiritual Jawa yang bersandarkan pada keyakinan dan ketulusan “nerimo ing pandum”, sebentuk totalitas penghayatan pada panggilan hidup?

Terpicu peristiwa penghayatan para ibu perkasa itu, sambil mengingat-ingat ulang percakapan dengan Mas Warno 21 tahun lalu, saya merasa Yogyakarta, dengan percepatan perubahannya, menyediakan peluang sekaligus “menuntut” untuk disikapi secara lebih tanggap melalui upaya-upaya tetirah sebagaimana di atas. Walau tak sepenuhnya dapat merengkuh apa yang diidealkan W.S. Rendra, yakni proses kreatif adalah manjing ing kahanan nggayuh ngarsaning Hyang Widi (melebur dalam dunia nyata dan merengkuh dunia keilahian), totalitas penciptaan yang dilandasi ketulusan patut jadi ageman para kreator kota ini, tentu sembari, sebagaimana dianjurkan Mas Warno, senantiasa berurat dan berakar pada pengalaman keseharian.

Kini saya yakin, sebuah puisi yang berhasil, adalah ibarat sebuah kota yang hidup, setiap kali dibaca, setiap kali pula menghadirkan arti yang baru dan lapis pengalaman yang lebih bermakna, demikian juga sebaliknya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas (Jakarta), 1 September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s