SENIMAN SENEN


Jauh hari sebelum Jakarta berdenyut cepat seperti sekarang, kawasan Senen sudah menjadi pusat beragam aktivitas. Mulai dari perniagaan hingga kesenian. Ya, di sanalah tempat berkumpulnya para Seniman Senen. Dulu, saban hari Seniman Senen berseliweran di sekitar Bioskop Grand, pagar Proyek Senen, dan Gelanggang Olah Raga Senen.

Di Senen, sejatinya para seniman tak memiliki tempat yang mewah untuk bertemu. Meski begitu, mereka tetap saja datang ke Pasar Senen. ”Tempat mangkal yang utama adalah sekitar restoran padang ‘Merapi’, kedai kopi Tjau San, dan tukang kue putu dekat pompa bensin,” urai Misbach Jusa Biran, sutradara kenamaan, ketika berbicara pada acara diskusi bertema Kehidupan Seniman Tahun 50-an Seri Tokoh Lintas Sejarah Berbicara yang digelar The Habibie Center, Kamis, 1 November 2007.

Konon, bertandang ke Senen tak ubahnya melanjutkan tradisi semasa para seniman masih menetap di daerah asalnya. Seperti yang dilakukan seniman asal Medan atau Padang. ”Begitu bertemu di Senen, mereka berbaur dengan seniman etnik Betawi, Bangka, Jawa, Kalimantan, Manado,” ujar Misbach yang ketika itu tinggal di Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Siapa saja mereka? Seniman Senen berasal dari segala cabang seni. ”Tetapi, lebih dominan para perintis karir di bidang teater dan film,” jelas Misbach, kelahiran Rangkasbitung, 22 September 1933. Yang menjadi pengunjung tetap Pasar Senen adalah seniman yang sedang berusaha menemukan tempat. Selagi seniman senior bermarkas di kantor-kantor redaksi majalah kebudayaan dan seniman muda berbakat nimbrung di tempat yang sama, seniman lainnya lebih betah berkumpul di Senen. ”Mereka kebanyakan belum punya ‘sertifikat’ seniman, meski sajak atau cerpennya sudah pernah dimuat di penerbitan yang kurang bergengsi,” kata Misbach yang mengayuh sepeda jengki dari rumahya ke Senen.

Julukan Seniman Senen atau Anak Senen lekat menempel pada Misbach, Wachid Chan, Sukarno M Noor, Zulhamans, Muslim Thaher, DQ Lampong, Zen Rosydi, Wim Umboh, Wahyu Sihombing, Menzano, dan Harmoko. ‘Anggota’ tidak tetap juga ada. ”Saya sering datang tetapi tidak pernah ‘mendaftarkan’ diri kepada Wachid Chan Si ‘Camat’ Pasar Senen,” celetuk Ajip Rosidi, sastrawan senior, yang sempat bermukim di Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Ajip mengenang Seniman Senen sebagai kelompok yang awalnya netral dari kepentingan politik. Perbedaan paham, pendirian, atau agama memang sering menjadi bahan perdebatan namun tak pernah membuat mereka terpecah. ”Sejak adanya Konsepsi Presiden tahun 1957, yang menyertakan Partai Komunis Indonesia dalam Kabinet Gotong Royong, mereka terpecah belah,” kenang Ajip yang di ulang tahunnya ke-70 tanggal 31 Januari 2008 akan meluncurkan autobiografi berjudul Hidup Tanpa Ijazah.

Pergolakan ideologis membuat seniman mengkutub. Misbach bergabung dengan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang terkait dengan Nahadatul Ulama (NU). Anas Bey yang juga Anak Senen menjadi salah satu petinggi Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) bersama Pramoedya Ananta Toer. Di era yang sama, sejarah mencatat Sitor Situmorang mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Menggali ingatan tentang era 1950-1960, Misbach teringat naskah drama Bung Besar. Hasil karyanya yang mulai tersiar di awal 1958 sangat sulit mendapat izin pementasannya lantaran dianggap menyindir Presiden Indonesia pada masa itu, Sukarno. ”Saya jadi takut hingga termimpi-mimpi. Beruntung, di tahun 1965 ada Gestapu. Kalau tidak mungkin saya juga menjadi penghuni Pulau Buru,” kenang Misbach, suami artis Nani Wijaya.

Seniman Senen boleh jadi bukan merupakan komunitas yang terorganisir. Namun, atmosfer yang tercipta dari perkumpulan tersebut berpengaruh positif pada dunia seni. ”Kami sangat bersemangat untuk menghasilkan karya yang bernas meski dananya minim,” kata Misbach yang pensiunan kepala Sinematek.

Misbach merindukan fasilitas kesenian serupa Pasar Senen masa lampau. Namun, bukan sekadar tempat bertemu. ”Tetapi, tempat yang menyediakan atmosfer yang kondusif bagi para seniman untuk menemukan diri, mencari nilai, dan menghasilkan karya,” tandasnya. Seperti masa lalu! reiny dwinanda

Tulisan ini pernah dipublikasikan Harian Republika (Jakarta), 4 November 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s