PEMBIBITAN SASTRA DI BANYUMAS


Teguh Trianton

Peminat Sastra, Staf Edukatif SMK Widya Manggala Purbalingga

Konon, faktor utama yang menyebabkan terjadinya stagnasi kesusastraan di Banyumas adalah rendahnya budaya kritik sastra. Setidaknya, inilah penilaian Abdul Wachid BS, sastrawan dan kritikus Yogyakarta yang konsen menggiatkan dan kehidupan bersastra di Banyumas. Ia banyak terlibat diskusi sastra dengan sastrawan muda Banyumas, juga merintis penerbitan sastra di STAIN Purwokerto.

Menurut Wachid, rendahnya budaya kritik bukan hanya terjadi di kalangan sastrawan, melainkan yang lebih akut juga melanda para kaum kritikus di kalangan akademis. Dua perguruan tinggi besar di Banyumas yang memiliki Fakultas Sastra, yaitu UMP Purwokerto dan Unsoed, tidak pernah secara aktif terlibat polemik kesusastraan Banyumas.

Tak hanya itu, mahasiswa sastra yang secara akademik berdiri di wilayah intelektual pun jarang terlibat dalam kontestasi sastra dan budaya Banyumas. Satu-satunya aktivitas bersastra yang menjadi andalan mereka adalah bergiat di teater kampus. Cara inilah yang mereka anggap paling murah, meriah, lagi mapan.

Tak jarang, dengan segala atribut keteaterannya, mereka muncul di permukaan bak sastrawan besar. Lalu tenggelam entah ke mana ketika ditanya tanggung jawab kekaryaannya.

Menurut saya, pilihan bercokol berlama-lama hingga menjamur di komunitas teater kampus saja tentu tidak cukup. Apalagi jika tanpa karya dan dialektika. Panggung teater memang bagian dari dunia kesusatraan. Namun berdiam, menunggu pangung bertebaran, dan dilirik massa tentu sama dengan bunuh diri sastra.

Mereka memang bisa berdalih, bahwa berteater itu sulit, butuh kerja keras, konsentrasi, dan biaya tinggi. Untuk mementaskan sebuah lakon milik orang, misalnya, mereka harus berlatih berbulan-bulan. Alhasil, mereka terjebak pada pola yang sama setiap masa. Pementasan teater dianggap satu-satunya harga mati untuk membayar mahal eksistensi berkesusastraan di Banyumas.

Saya melihat ada yang terlupakan di sini. Untuk eksis di kancah sastra, tak cukup hanya berlenggok di pentas teater. Dunia sastra sesungguhnya dunia literasi (literer), yaitu dunia baca-tulis. Melupakan dimensi literasi sama halnya mengingkari hakikat sastra. Pendek kata, berteater tanpa menulis karya sama halnya boneka tanpa nyawa mengenakan aneka kemeja berjajar di distro.

Dalam sejarah teater Indonesia, kita mencatat beberapa nama besar seperti Rendra dan Putu Wijaya. Tapi keduanya dikenal bukan semata aksi di pentas sastra-teater. Kesastrawanan mereka dikukuhkan dengan melahirkan karya sastra-literer, seperti puisi, cerpen, novel, kritik sastra, esai budaya, dan sebagainya. Begitulah mereka mempertaruhkan esksistensi kesastrawanan.
Laboratorium Sastra Rendahnya budaya kritik sastra dan penulisan sastra kreatif di Banyumas menginspirasi lahirnya kelas-kuliah menulis. Lantas diikuti lomba karya tulis esai, kritik, dan sastra kreatif. Di sini calon sastrawan dengan leluasa dapat bereksperimen, tanpa harus malu atau takut salah. Kelas dan lomba menulis merupakan laboratorium sastra di kalangan mahasiswa.

Pada gagasan ini, saya baru melihat STAIN yang mulai konsisten memfasilitasi berdirinya laboratorium sastra. Alhasil, dalam catatan saya, sedikitnya telah terbit empat buah antologi karya sastra kreatif. Mulai dari cerpen Islam (kerja sama Grafindo), bunga rampai esai sastra (hasil lomba 1 dan 2), serta antologi cerpen remaja Islami.

Yang menarik dari laboratorium sastra ini adalah lahirnya penulis-penulis muda yang energik. Dari beberapa buku yang telah terbit, beberapa nama penulis kemudian karyanya terlihat sering muncul di media cetak.

Artinya, gagasan mendirikan laboratorium sastra ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pembibitan calon sastrawan. Mula-mula mereka belajar menulis, lalu mengikutsertakan karya tulisnya dalam lomba di komunitas. Tahap selanjutnya, mereka berani dan mampu menampilkan karya di media massa, bahkan menerbitkan karyanya secara tunggal.
Barometer Media Lalu, kenapa ukurannya harus media massa cetak? Banyak kritikus sastra sependapat, sastra Indonesia adalah sastra koran. Koran atau media cetak sejenis menjadi barometer kualitas karya seorang penulis. Tentu penilaian ini bukan tanpa dasar.

Dipilihnya koran sebagai standar kualitas karya karena media ini memiliki banyak kelebihan ketimbang media lain, seperti buku atau website. Untuk menerbitkan buku tunggal, syarat utama adalah kepemilikan modal materi sebagai investasi. Sementara kualitas karya menjadi nomor dua.

Yang lebih mudah adalah penerbitan karya melalui dunia maya atau cybermedia. Di internet, semua karya dengan mudah dapat terbitkan (posting) sesuai selera penulisnya. Mekanismenya sangat sederhana, penulis membuat blog, atau menjadi member media online, lalu menulis dan memposting karya.
Ini sangat berbeda dengan sistem dan aturan main penerbitan tulisan di koran yang harus melewati beberapa tahap. Tetapi, di sinilah keunggulan koran. Selain itu, koran memiliki beberapa keunggulan lainnya. Pertama, mudah didapatkan dengan harga yang relatif terjangkau.

Kedua, koran adalah media umum yang terbuka. Siapapun, dengan latar belakang sosial apapun, bisa memberikan kotribusi karya secara bebas. Di sini kualitas karya menjadi pertaruhan dalam persaingan pemuatan. Kualitas karya yang terbit di koran relatif bisa dipertanggungjawabkan daripada karya yang diterbitkan sendiri di blog.

Ketiga, keberadaan rekdaktur atau editor berperan dalam proses seleksi karya. Ini pula yang menjamin kualitas karya sastra koran. Sebelum dimuat, setiap karya harus melewati seleksi ketat oleh redaktur. Sehingga profesionalitas dan kapabilitas redaktur sangat berpengaruh. Sepanjang redaktur bekerja professional dan tidak memperturutkan hasrat atau seleranya, maka jaminan kualitas karya dapat dipertanggungjawabkan.
Pembibitan Fenomena kelas dan lomba menulis sebagai laboratorium sastra merupakan alternatif upaya pembibitan penulis sastra di Banyumas. Fenomena lain yang perlu mendapat perhatian adalah keberadaan komunitas sastra.

Selama ini, beberapa komunitas mulai bergiat menghidupi jagat kesusastraan Banyumas. Namun minimnya persinggungan dialektika wacana menyebabkan komunitas sastra ini terjebak pada formalisme. Mereka sibuk menancapkan papan nama di setiap ruang kosong, membentuk lembaga hingga tingkat ranting, kemudian membiarkannya terdiam.

Jika saja komunitas sastra ini memiliki konsep kaderisasi yang matang, keberadaannya dapat makin menyemarakjan persemaian-pembibitan sastra di Banyumas.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka (Semarang), 2 Februari 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s