MENEGAKKAN PUSAT ALTERNATIF



Sunaryono Basuki Ks.

Novelis, Tinggal di Singaraja

Pada ”Temu Sastra Bali Nusra” yang diselenggarakan di Mataram tahun
1986, saya mengemukakan sebuah gagasan mengenai penegakan pusat
alternatif bagi kegiatan berkesenian, terutama sastra. Saat itu, mungkin
gagasan itu masih sangat relevan, karena kecenderungan para sastrawan
terutama yang tinggal di luar Jakarta saat itu ialah menaruh kecurigaan
yang berlebihan terhadap dominasi para pengasuh ruang budaya pada
penerbitan Jakarta. Mereka merasa bahwa telah terjadi ketidak-adilan dan
pilih kasih sehingga karya-karya para sastrawan yang kebetulan tinggal
di luar Jakarta terpinggirkan. Akhirnya kemudian muncul istilah-istilah
atau mungkin dapat dianggap suatu gerakan, misalnya ”Revitalisasi Sastra
Pedalaman” di Ngawi, disusul oleh munculnya istilah Sastra Marjinal.

Di dalam makalah itu, saya mendorong para sastrawan daerah untuk tidak
bekecil hati, malah sebaliknya harus berjuang keras untuk menjadikan
karya mereka hadir dalam khazanah sastra Indonesia dengan cara lain.
Sebetulnya, pada saat itu kota Mataram sudah menjadi salah satu kota
yang menjadi pusat alternatif seperti yang saya inginkan. Artinya, di
bawah komando Putu Arya Thirtawirya, sastrawan asal Buleleng, Bali,
Mataram sudah mepunyai sebuah organisasi yang diberi nama HP3N, sebuah
organisasi yang punya cita-cita ideal yang menghimpun seluruh sastrawan,
pengarang, dan penyair Nusantara. Dari sebuah kota kecil itu diluncurkan
sebuah buletin berkala ( yang kala-kala saja terbit) berisi karya sastra
dari para pengarang dari penjuru tanah air.

Sistem Penyebaran

Buletin itu biasanya dikirimkan kepada satu atau dua orang di sebuah
kota, dan penerima buletin punya kewajiban memfoto kopi buletin tersebut
untuk diedarkan kepada rekan-rekan peminat sastra di lingkungannya
masing-masing. Sistem penyebaran informasi semacam ini saya anggap
sangat modern, sejalan dengan menggeliatnya ”cetak jarak jauh” di
Indonesia , yang justru baru bisa direalisir ( karena berbagai hambatan
non teknis), beberapa tahun kemudian. Sistem cetak jarak jauh sudah
dipraktekkan oleh rekan-rekan HP3N tahun 1980an, suatu kemajuan yang
luar biasa.

Menyaksikan kenyataan inilah saya juga punya keyakinan bahwa pusat
kegiatan publikasi sastra tidak harus terletak hanya di Jakarta, dan
keunggulan Jakarta dalam bidang pemasaran produk informasi tidak harus
disaingi dengan teknologi cetak yang canggih plus sistem pemasaran yang
sudah sangat kuat. Sia-sialah melawan raksasa dengan kekuatan cacing.
Namun, cacing toh mampu bergerak diam-diam dan perlahan untuk
menyuburkan tanah sastra tempat bersemainya tunas sastra di daerah.

Sesudah Mataram masih ada Batu, sebuah kota kecil di sebelah barat kota
Malang, yang secara rutin menerbitkan buletin Sastra ”Kreatif”, dan
kota-kota lain seperti Kudus, Tegal, Tasikmalaya, Lampung, Pekanbaru,
dan lain-lain, punya komunitas sastra dan seni yang aktif. Bahkan, kota
Batu, Padang, Pekanbaru, Makasar, semua pernah menyelenggarakan
pertemuan sastra dan seni yang bertaraf nasional, bahkan regional.

Lima belas tahun kemudian terungkap pula bahwa ternyata pengarang yang
sudah terkenal dan punya pembaca, yang tinggal di Jakarta pun, ada yang
merasa mendapat perlakuan yang tidak adil dari redaktur penerbitan
tertentu. Di depan pertemuan dengan para mahasiswa School of
International Training yang dipandu oleh Dr. Tom Hunter, Saut Poltak
Tambunan, novelis terkenal yang ternyata pegawai Departemen Keuangan,
menceritakan tentang ketidakadilan yang dialaminya di Jakarta.
Karya-karyanya tidak pernah disiarkan dalam sebuah majalah yang mungkin
menjadi saingan majalah tempat dia banyak menyiarkan karyanya. Namun,
tentu saja yang itu semua sekarang menjadi tidak penting.

Perkembangan Teknologi Komunikasi
Gerson Poyk juga pernah menganjurkan memanfaatkan desk top publishing
untuk penyebaran karya sastra. Dengan penemuan teknologi internet dan
pemakaian internet yang sangat luas dan perkembangannya yang sangat
cepat, maka terjadi kecenderungan perubahan orientasi sistem penyebaran
informasi dan karya sastra, dari teknologi cetak yang relatif mahal ke
publikasi tanpa kertas yang jauh lebih murah dan cepat.

Walaupun lambat, suatu proses penyebaran karya sastra melalui internet,
yang dikenal sebagai sastra cyber sedang berlangsung. Karya sastra dapat
tersebar dalam jangkauan yang lebih luas tanpa batas dan lebih cepat. Ke
dalam alamat e-mail saya sering saya terima karya-karya sastra yang
dikirim oleh sosok sastrawan yang sama sekali tidak pernah saya kenal,
dan saya hanyalah salah seorang dari banyak orang yang disasar oleh
pengirim karya tersebut.

Kritik dan komentar diminta oleh pengarang yang mengirim karya tersebut.
Walaupun sempat merepotkan, karena harus menyediakan waktu khusus di
depan komputer, kegiatan ini cukup mengasyikkan, dan bilamana
dikembangkan dengan baik, maka para pengarang pemula dapat dengan lebih
mudah dan lebih cepat menyerap pengalaman dari yang lebih tua.

Dengan kejadian ini, maka seruan untuk menegakkan pusat (pusat
alternatif) bagi kegiatan sastra sudah tidak diperlukan lagi, sebab
tidak dapat dikatakan lagi mana yang pusat dan mana yang pingiran, mana
yang marjinal dan mana yang pedalaman. Semua punya hak hidup dan hak
untuk dibaca yang sama derajatnya. Cuma saja, tentu, belum punya hak
yang sama untuk honorarium atau royalti atas karya mereka. Menegakkan
pusat alternatif barangkali masih dapat dipakai untuk kegiatan teater,
sebagaimana masih disinggung oleh Max Arifin dalam pertemuan teater
Katimuri di Mataram bulan Juli lalu

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.sinarharapan.co.id, lalu di http://www.sastra-indonesia.com, 24 April 24 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s