SASTRA DAN YANG NISKALA


Sr. Wilda, CIJ

Staf Pengajar pada FKIP PBSI Uniflor, Ende

SEBUAH apresiasi patut diberikan kepada Lembaga Seni Budaya Rumah Poetika Kupang dalam seluruh upaya untuk mendekatkan sastra kepada masyarakat melalui dialog budaya dan kompetensi musikalisasi puisi Nusantara se-NTT yang diselenggarakan pada bulan bahasa tepatnya 16 Oktober 2009 (Pos Kupang, 19/10/2009) yang pada ujung simpulnya menyitir semangat membangun kesadaran budaya-kesadaran bersastra yang tentu tidak hanya berhenti agar sastra dekat dengan masyarakat, tetapi menjadikan sastra sebagai tempat dan ruang bagi masyarakat untuk dapat memaknai hidup dan fenomena kehidupan dengan lebih bestari.

Sebuah kegiatan yang inspiratif,  di tengah hingar bingar corak hidup zaman ini dengan daya gagasnya tersendiri sastra dapat menembus sesuatu yang tak terjangkau, bahkan yang sudah tertutup oleh kenikmatan, kemegahan, kekuatan, kekuasaan, kemewahan, keglamouran duniawi yang serba palsu dan tak berkanjang.

Memperbincangkan sastra dalam kehidupan sama bagai menempuh dan menggapai sesuatu yang niskala, yang mau tidak mau dikejar dan harus didapat. Karena sesungguhnya sastra hidup dan hadir untuk kehidupan, bagi siapapun yang menggeluti kehidupan itu sendiri. Sastra senantiasa bergerak menuju ke sebuah horison, ke yang niskala, yang mesti dicapai oleh manusia. Karena itu  membaca sebuah karya sastra membutuhkan keberanian, keberanian yang bukan hanya sekadar menyisihkan waktu, tetapi keberanian demi mendapatkan sebuah makna yang utuh pada deretan kata-kata, ungkapan, bahasa yang ada, yang lahir dari sebuah proses kreatif pengarang yang penuh pendakian dan niskala karena  kata-kata sastra merupakan kata-kata yang katarsis dan sublimatif.

Sastra merupakan sebuah dialog terbuka dan dinamis antara manusia, zaman dan realitas yang sekaligus mencerminkan identitas, sosok, citra diri, kegelisahan jiwa yang terus mencari. Mempertimbangkan konteks kehadiran sastra model ini, sebenarnya sejak lama para filosof dan ilmuwan semisal Ernst Cassirer, Johan Huizinga, Muhammad Iqbal mengingatkan bahwa manusia bukan hanya homo faber, homo economicus, dan animale rationale, melainkan juga homo ludens, homo fabulans, dan animal symbolicum karena manusia selain memerlukan kerja, makan, minum, mencari rezeki tetapi juga tertawa, bermain, bercerita, merenung, atau bukan hanya mencari yang jasmaniah tetapi rohaniah perlu dipenuhi, diguyur, disejukan, dan dicerahkan.

Sebuah citra diri

Karya sastra meski dibungkus dengan kata-kata, bahasa yang katarsis-sublimatif, estetis-metaforis, konotatif-imajinatif, selalu menampilkan realitas yang terjadi pada zamannya. Kemomentanan sebuah karya sastra menjadi yang niscaya bagi pengarang pun pembaca sehingga dapat menemukan makna terdepan di balik sorotan kata atau bahasa yang ditampilkan. Kemomentanan ini sekaligus mempertegas gambaran citra diri sekelompok orang, individu atau masyarakat.

Hal serupa barangkali tengah bergerak di balik kegiatan Rumah Poetika yang memberi isyarat kepada masyarakat NTT untuk memahami kehadiran sastra sebagai wadah yang mampu menampilkan citra diri entah pengarang pun pembaca dan masyarakat NTT umumnya kala mana sebuah karya itu lahir, sebagaimana Damono mengatakan pemahaman karya sastra tidak lengkap apabila dipisahkan dari lingkungan kebudayaan dan peradaban yang telah menghasilkannya. Melalui karya sastra, potret diri dan seluruh kehidupan terungkap, karena sastra menawarkan kejujuran dan kebeningan untuk mengatakan, menerima serta mengakui sambil terajak untuk merefleksi serta menatanya  lewat suntikan kata-kata yang katarsis dan sublimatif itu.

Sastra semacam sebuah  jedah yang mempertemujumpakan sebuah  pengalaman dan pelaku pengalaman itu dalam sebuah realitas yang utuh, realitas kehidupan, realitas diri dan realitas kepentingan. Perjumpaan sebuah karya sastra dengan pembacanya merupakan perjumpaan untuk melihat diri dan seluruh kehadirannya di balik makna yang tersembunyi dalam kata-kata dan keseluruhan teks sastra itu. Menggauli teks sastra membutuhkan keberanian dan kepekaan penuh kejujuran karena  harus masuk dan  menuju pulang  ke dalam batinnya untuk menemukan apa yang tersembunyi dibalik metafora yang tampil secara konkrit maupun abstrak.

Karena itu teks sastra seperti puisi, novel, cerpen bukan hanya sekadar kumpulan kata-kata konkret atau abstrak, tetapi kata-kata yang dirakitjadikan menjadi sebuah rajutan makna dengan kadar estetika yang tinggi. Sastrawan biasanya memiliki style dan diksi yang khas untuk merekam dan membahasakan realitas yang terjadi dalam kehidupan. Dengan itu pula pengarang dan karyanya sekaligus menampilkan citra diri yang terus bereaksi terhadap fenomena kehidupan ini.

Pada sastra tidak ada yang palsu, tidak ada yang munafik karena sastra tidak akan pernah mampu menutup-nutupi yang riil. Pada sastra semua menjadi terbuka, memiliki makna, faedah dan menyuguhkan cita rasa nilai yang tinggi bagi kehidupan. Alangkah menggembirakan bangsa ini bila memiliki generasi yang akrab dengan sastra, mencintai karya sastra melalui budaya membaca yang terus dibangun hingga memiliki keinginan untuk memetik nilai luhur yang terkandung dalam sebuah cipta sastra serta membijakinya dalam kehidupan dan realitas yang terjadi.

Keakraban dengan sastra memberi ciri peradaban hidup yang diidamkan karena sastrawan secara terang-terangan mengatakan dengan jujur realitas yang terjadi melalui kata-kata yang tersorot tajam, menusuk tetapi membangkitkan kesadaran untuk berubah. Inilah citra diri yang berhasil dibangun sastra dimana kehadiran sastra selalu merupakan cermin kehidupan yang tak pernah terlepas dari kenyataan.

Horison Peradaban

Karya sastra memiliki kemampuan atau daya untuk ‘memaksa’ atau ‘mengharuskan’ manusia atau masyarakat sastra untuk menggauli dan menggumulinya. Karena itu karya sastra dapat diperlakukan sebagai sosok hidup yang memiliki daya diri selain mengatur dirinya juga memikat orang untuk mengggauli serta mengembangkan dirinya. Sastra merupakan sosok yang hidup yang selalu gesit dan dinamis berkembang bersama sisi politik, ekonomi, agama, kesenian, kebudayaan dalam kehidupan ini.

Menurut Saryono, sastra bahkan berkembang lebih pesat melesat mendahului dan meninggalkan sosok lain karena sastra mampu mengintroduksi dan menyuguhkan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan yang lain. Semua yang disuguhkan menghantar pembaca atau masyarakat sastra untuk tergerak berjalan menuju ke horison peradaban di mana hidup dan realitas yang terjadi dimaknai secara tepat dan benar dalam koridor kejujuran tanpa kepalsuan dan kemunafikan. Bahkan cara berpikir serta pandangan hidup seperti eksistensialisme, universalisme, kosmopolitanisme dan pascamodernisme pertama-tama diintroduksi dan disuguhkan oleh sastra.

Dengan daya dirinya, sastra mampu membangun, mendirikan, dan menegakkan dunia tersendiri yang berbeda dengan dunia sosial, dunia ekonomi, politik dan dunia empiris lainnya. Dalam perjumpaan antara manusia dan sastra, tampak jelas bahwa sastra telah membangun dunia khas sastra yang kontemplatif, religius, imajinatif, ilahiah, penuh damai, penuh kejujuran, kearifan, penuh teladan dalam peradaban hidup.

Peradaban seperti ini, menjadi sesuatu yang niskala yang memberikan kedamaian, keteduhan, kenyamanan psikologis dan batiniah karena manusia dilepaskan dan dibebaskan dari kekerasan, kecurigaan, kemunafikan, dikembalikan kepada kesahajaan, kebijakbestarian, ketenangan, keteduhan, kesigapan, dan kekhusukan, dibimbing untuk melihat wajahnya sendiri, melihat wajah sesama, sekaligus dibimbing, dipandu menuju dunia penuh rahmatan yang menyejukkan bathin.

Sastra mampu mengembalikan manusia kepada hakikatnya sebagai hamba dan khalifah Allah. Sastra pun mampu menjadi pengomentar dan saksi kehidupan manusia karena sastra merekam semua peristiwa dan pengalaman yang empiris-natural maupun pengalaman yang nonempiris-supernatural baik pengalaman res extensa maupun res cogitans. Pengalaman dan peristiwa kehidupan yang penuh corak tawa, sedih, gembira, kejam, ngeri, sadis terekam, tersimpan dan terawat baik dalam sastra. Sebut saja misalnya, novel Burung-Burung Manyar punya Mangunwijaya, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Sang Nabi karya Khalil Gibran, Para Priyayi-nya Umar Kayam  atau Anna Karenina karya Leo Tolstoy, Godlob-nya Danarto, Trilogi Oedipus-nya Sopochles dan sejumlah karya lainnya. Niscaya dalam karya-karya ini  kita akan menemukan aneka pengalaman dan peristiwa kehidupan yang mengharubirukan, menyejukkan, memekatajamkan nurani dan budi.

Sejumlah pengetahuan dapat ditawarkan sastra yang berbeda dengan pengetahuan yang ditawarkan bidang ekonomi, politik, sosial dan sebagainya karena bukan pengetahuan keilmuan yang dikemas dalam bahasa proposisional jinak-kering, sistematika rasional dan bernalar dengan gaya yang hampir sepenuhnya kaku, melainkan pengetahuan khas sastra yang dikemas dalam bahasa intensional-liar-penuh kemungkinan dan tafsiran, sistematika tekstural atau struktural yang memikat dan gaya naratif-metaforis yang memikat, pengetahuan yang hidup, bagai bernapas, dinamis dan terus bergerak yang harus dan hanya dapat ditangkap sendiri oleh manusia untuk dipelihara dalam nurani dan budinya.

Karena itu membaca dan mengakrabi  karya sastra menjadi sebuah yang niscaya untuk merebut, mendapatkan, menemukan aneka ragam pengetahuan literer, religus, etis-moral, sosial-politis, psikologis, filosofis dan melalui pengetahuan-pengetahuan ini serta pengalaman-pengalaman kemanusiaan sastra mampu mengingatkan, menyadarkan manusia untuk kembali ke jalan kebenaran, sastra menjadi pemandu menuju kebenaran hakiki, sebuah yang niskala itu.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pos Kupang (Kupang), 30 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s