RUANG SEMPIT, SUPAYA PIKIRAN TIDAK SEMPIT


Fadli Akbar

Dunia sastra kampus tidak akan bisa dipisahkan dari aktivitas membaca, berdiskusi, dan menulis. Membaca adalah ‘gerbong’ awal ilmu pengetahuan, diskusi adalah ‘kereta’ pemahaman, sementara menulis adalah sebuah ‘keberangkatan’ menuju dunia ‘peng-amalan’. Sebuah ironi jika mahasiswa sastra jarang membaca, enggan berdiskusi, dan tidak bisa menulis. Prihatin dengan kondisi demikian, maka segelintir anak muda berinisiatif untuk membuat ruang kreatif, yang mereka beri nama Ruangsempit.
Lahir pada 16 September 2006, digagas oleh dua mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (UNP) Akbar dan Devi Kurnia Alamsyah. Komunitas itu besar di lingkungan Sastra Inggris yang kesadaran baca, tulis, dan diskusi mahasiswanya amat minim. Mereka mencoba realistis untuk menerima kenyataan bahwa terlalu sempit ruang yang ada untuk berbicara dan berdiskusi mengenai sastra dan karya sastra itu sendiri. Kebanyakan mahasiswa terlalu tenggelam akan ketakutannya terhadap pencapaian akademis, di samping iklim kampus yang tak memberikan ruang berdialektika alternatif selain di bangku perkuliahan. Setidaknya kenyataan itu harus diterima jika dibandingkan dengan gairah sastra yang muncul di kampus tetangga, Universitas Andalas.
Komunitas ini sempat vakum karena anggotanya, yang keseluruhannya Sastra Inggris, timbul, tenggelam, dan tidak konsisten melanjutkan misi-misi serta mimpi yang digali. Akan tetapi pada Desember 2007, Ruangsempit aktif kembali dengan individu-individu lintas ilmu, mulai dari Sastra Indonesia, Seni Rupa, hingga Ilmu Sosial dan Politik.
Sempitnya ruang gerak tidak membuat Ruangsempit ikut berpikiran sempit. Kehadirannya justru untuk membuka ruang-ruang berwacana. Agenda-agenda rutin semisal diskusi mingguan menjadi barometer keberlanjutan proses dialektika komunitas itu. Mereka berdiskusi tentang segala hal di sekitarnya, mulai dari rumitnya memahami novel Ayu Utami, sampai ‘bersumpah serapah’ atas menjamurnya pengemis di Kota Padang. Sebagai output, diskusi selalu berlabuh dalam bentuk tulisan-tulisan yang nantinya dikirim ke media-media lokal maupun nasional.
Seperti yang dibahas sebelumnya, sasaran yang ingin dicapai komunitas Ruangsempit sangat sederhana, yakni mencoba menghidupkan kembali wacana dialektika dengan membuka ruang-ruang diskusi untuk mahasiswa, mahasiswa sastra khususnya. Ini adalah tentang membuka sebuah ruang publik bagi mahasiswa untuk lebih intens mempertajam semangat intelektualitasnya, sekaligus mengajak mahasiswa untuk lebih bersusah-payah dalam membaca kehidupan, kehidupan kampus khususnya, dari sekadar berputar-putar dan menghabiskan waktu di plaza-plaza. Selain itu, Ruangsempit juga bekerja secara militan melalui pamflet-pamflet dan buletin yang ditempel dibeberapa information box.
Sementara itu, secara eksternal, komunitas Ruangsempit masih terlalu muda untuk memprakarsai peristiwa-peristiwa sastra yang masif. Ia hanya berinteraksi dengan cara berkolaborasi dengan komunitas sastra lain dalam menggagas temu-temu atau silaturahmi komunitas sastra. Dalam waktu dekat, Ruangsempit akan menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam diskusi sastra pada Desember mendatang dengan topik ‘Keberadaan Kritik Sastra dan Kritik Sastra Koran di Indonesia’.
Selain itu, kini Ruangsempit berusaha mati-matian mengoleksi buku-buku. Hal itu dilakukan dalam upaya membangun sebuah ‘rumah baca’, sebuah ruang untuk pekerja (mahasiswa atau pelajar) maupun pecinta ilmu humaniora secara umum, atau sastra secara khusus, di mana mereka akan membiasakan diri berkomunikasi dengan buku-buku. Sasarannya adalah untuk menciptakan manusia-manusia sadar baca, menghidupkan diskusi-diskusi dan menciptakan kesadaran menulis. Khusus misi terakhir, Ruangsempit punya filosofi, bahwa setiap orang tidak mesti menjadi penulis, namun ia mesti menulis setiap harinya.
Status keanggotaan lebih bersifat terbuka dan fleksibel. Setiap anggota tidak dilarang bergabung dengan komunitas lain. Sebagai contoh, beberapa anggota sedang bereksperimen dengan puisi rupa, visual, dan film dokumenter.
Pemerintah sebagai agen pembentuk kebijakan publik mesti kritis dengan muncul dan menjamurnya bermacam komunitas sastra di Indonesia, khususnya Sumatra Barat. Pemerintah harus bisa memosisikan dirinya sebagai fasilitator sehingga komunitas tidak sporadis. Diperlukan strategi dan manajemen kebudayaan yang intens dan serius sehingga komunitas itu bisa berkembang tanpa terhalang masalah klasik, semisal birokrasi dan sponsorship, mudah-mudahan.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Media Indonesia (Jakarta), 13 Agustus 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s