MENDEKONSTRUKSI SENTRALISASI SASTRA


Yusri Fajar

Prolog
Eka Budianta, pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang juga
dikenal sebagai penyair, menuturkan bahwa ketika umur 15 tahun, dia
telah berkenalan dengan komunitas sastra di Kampus Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Malang (IKIP, sekarang Universitas Negeri Malang).
Sebulan sekali di Perguruan Tinggi tersebut diadakan pembacaan puisi,
pentas teater dan diskusi sastra dalam acara malam purnama. Saat itu dia
berkenalan dengan para sastrawan Malang yang punya nama nasional seperti
alm. Hasjim Amir, Jasso Winarto, dan Henri Suprianto yang mengajaknya
berlatih membaca puisi dan pentas. Menurut Eka, sejak dulu kala, kota
Malang sudah punya sanggar seni lukis, seni tari dan kelompok-kelompok
baca puisi.

Awal tahun 2001 di Universitas Muhammadiyah Malang, saya pernah
menghadiri acara bedah puisi yang didahului dengan pembacaan puisi oleh
beberapa peserta yang hadir. Pembicaraan tidak hanya terpusat pada
apresiasi teks puisi baik dari aspek instrinsik maupun ekstrinsik namun
juga melebar pada diskursus determinasi dan resistensi komunitas dalam
kaitannya dengan proses kreatif. Saya melihat ada kegairahan dari para
pegiat sastra yang datang meski saya juga sekaligus mempertanyakan
sejauh mana kegairahan itu akan terus menyala. Di forum itu saya bertemu
dengan penyair muda Malang, Ragil Sukriwul, dan pegiat teater jebolan
ISI yogyakarta, Jumali, yang dua-tiga tahun berikutnya sering saya
jumpai dalam diskusi-diskusi pasca pentas teater dan beberapa event
sastra dan budaya lainnya di Malang.

Tahun 2004-an di Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya, saya
bersama beberapa mahasiswa membidani kelahiran komunitas kesenian
bernama teater O ( kini berubah nama menjadi teater Lingkar) yang pada
perjalanannya tidak hanya berkonsentrasi pada proses kreatif berteater
tetapi juga bersastra. Beberapa kegiatan pembacaan puisi, bedah prosa,
menghadirkan sastrawan, sampai mengadakan sayembara penulisan puisi
pernah dilakukan. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang bergiat di
komunitas tersebut pada perjalanannya juga mampu mempublikasikan
puisi-puisinya di media masa. Geliat komunitas sastra selanjutnya saya
temukan di kegiatan “arisan reboan (karena dilakukan malam rabu)” di
Unibraw, yang di dalamnya berkumpul para pegiat teater dan pegiat sastra
yang saling bergantian membaca puisi, bikin short performance, dan juga
menggelar diskusi. Sastra saya lihat menggeliat di sana meskipun pada
dasarnya geliat itu tak harus bertumpu pada ada dan tidak adanya sebuah
komunitas.

Menurut saya, jika sastra ingin dimasyarakatkan dan ‘dibudidayakan’,
gelombang sastra terpusat, bertumpu pada wilayah-wilayah tertentu, dan
terlalu bersandar pada eksistensi para sastrawan tua atau yang sudah
punya ‘nama’ sudah saatnya ‘dideskontruksi’. Karya sastra bisa lahir
dari siapapun dan manapun termasuk dari wilayah yang tak dilihat dan
kurang diperhitungkan. Di tengah hutan rimba yang jauh dari keramaian
bisa jadi banyak bunga bagus dan menakjubkan, tetapi karena tak ada
orang yang melihat maka bunga dan tanaman tadi tak terekspos keluar
meskipun pada hakekatnya ia tetap sebagai ciptaan yang indah dan bagus.
Karya bagus bisa lahir dari penulis tak terkenal dan dari daerah yang
diremehkan. Kualitas karya juga tak bisa digaransi seratus persen oleh
usia pengarang. Oleh karena itu gelombang dan geliat sastra itu harus
dilihat sebagai kontruksi yang bisa hidup di berbagai habitat manusia
dengan wilayah menyebar.

Namun ‘dekonstruksi’ sentralitas sastra dan penggairahan kehidupan
sastra di wilayah-wilayah ‘terpinggirkan’ dari peta besar sastra
sesungguhnya bukan persoalan sederhana. Gerakan dan karya-karya sastra
pedalaman yang sempat menarik perhatian karena semangat “revitalisasi
sastra pedalaman” misalnya, sebagaimana diungkapkan Faruk, ternyata tak
memiliki perbedaan signifikan dengan karya-karya dari pesisir dan tak
mampu melahirkan revolusi bersastra dan cara berkesusastraan yang
mandiri. Bahkan menurut pengamatan saya kini sastra pedalaman sedang
mengalami hibernasi. Secara kultural bisa dikatakan belum mengakar dan
belum mampu mendorong perubahan signifikan. Terlepas dari penilaian ini,
minimal sastra pedalaman telah meletakkan pondasi untuk melakukan
counter hegemoni dan melecut generasi mutakhir dari daerah-daerah untuk
terus bereskplorasi meski ‘politik ordinasi dan subordinasi’ terus
membayangi.

Post-modernisme memang mengisyaratkan sesuatu yang menyebar, tidak
terpusat dan terkungkung mainstream tertentu. Dan menurut saya, di
negeri yang plural seperti Indonesia, sesuatu yang terpusat dan seragam
justru memang sangat kontraproduktif dengan hakekat keberagaman dan
keserbamungkinan cara bersastra. Oleh karena itu warna dan gelombang
sastra dari berbagai daerah dengan penulis-penulis muda perlu dibaca
dengan seksama.

Memintal Karya “Tanpa Sentral”?
Perjalanan panjang dunia kesusastraan diwarnai konstruksi dan
dekontruksi dalam lingkaran aliran sastra pada setiap zaman berbeda.
Strukturalisme dan post strukturalisme, humanisme universal dan realis
sosialis-revolusioner, sastra tekstual dan kontekstual, absurditas dan
realitas-empiris, mencatatkan tensi-tensi ketegangan yang meramaikan dan
memperkaya dunia sastra. Posisi para penyair dalam menanggapi fenomena
lokal dan global di sekitarnya begitu beragam dan sepertinya mereka
masih berada pada konteks pencarian ‘diri’ sehingga tidak mengherankan
jika terjadi mimikri di sana -sini dan terdapat banyak kutub sastra.

Dunia subjektif individu dan teologi sastra “sufistik” misalnya, adalah
dua buah warna yang dalam periode sastra pernah menjadi sentral dan
hingga kini masih banyak penulis yang menjadikannya sebagai kiblat.
Kecenderungan pertama mengkoptasi puisi sebatas struktur dan permainan
semiotika, mistisisme linguistik belaka. Konteks hanyalah sumber dari
penanda dan petanda bahasa. Sementara sastra sufistik membangun
kontemplasi atas kekuatan supreme di luar diri manusia. Domain vertikal
begitu kuat sehingga terkesan menegasikan relasi horizontal kontekstual.
Realisme sosialis revolusioner menjadi kehilangan tempat pada
puisi-puisi teologi profetik semacam yang ditulis oleh Abdul hadi WM,
Amien Wangsitalaja, dan beberapa lainnya. Di barat, T.S. Elliot, meski
dengan basis dan persperktif berbeda, mengesplorasi sesuatu yang
‘metafisis’ yang secara semangat memiliki kesamaan. Lalu bagaimana
membaca karya sastra sastrawan-sastrawan muda Malang?

Karya-karya beberapa sastrawan muda Malang sepertinya tengah berada pada
kisaran pencarian (eksperimentasi) stereotype estetis dan isi dalam
dialektika latar perkembangan sastra yang melingkupinya. Hal ini wajar
mengingat sejarah panjang kesusastraan Indonesia tak bisa dihindarkan
dari warna ‘kolonial’ yang melahirkan kekuasaan sentral. Mimikri menjadi
bagian reflektif dari memori sadar dan alam bawah sadar pengarang atas
konstruksi mapan yang datang sebelumnya. Terlebih lagi dominasi dan
berbagai gaya sastra, dengan dukungan kekuasaan media yang teramat sulit
dihindari oleh mereka. Karena itu, dari pembacaan berulang dan seksama,
saya dihadapkan pada peta tak purna dari ‘kemutakhiran’ karya-karya
mereka. Peta yang menuntut kontinyuitas penelusuran ulang. Namun
demikian, karya-karya sastrawan muda Malang perlu dikritisi dan didekati
dengan perspektif objektif agar realitas-realitas yang saya sebutkan di
atas tidak mereduksi subtansi kekuatan karya mereka.

Puisi-puisi Abdul Mukhid penyair muda Malang yang terkumpul dalam
antologi tunggal “Tulislah Namaku dengan Abu” (2006) mengantarkan saya
pada pengembaraan sastra “tanpa pusat”, tanpa mainstream, melanglang
buana dari satu ruang ke ruang lainnya tanpa pernah berlama-lama di
salah satunya. Mukhid suatu kesempatan terkesan subjektif, berasyik
mansyuk dengan eksistensinya sebagai upaya membangun dialektika sunyi;
seperti terlihat dalam puisi-puisinya yang berjudul Tulislah Namaku
dengan Abu, Dialog imajiner Dengan Caligula, Catatan Sepi 1, 2, 3, Tanda
Tanya Agung. Tapi dalam puisi lainnya Mukhid justru menebar
kontekstualitas sosio-politik-kultural dengan diksi lugas seperti dalam
puisinya, 56 Tahun Indonesia (Masih) Cemas dan Berdamai dengan
Kenyataan. Sementara di sudut lainnya, sentuhan teologi ketuhanan Mukhid
terekam dalam Tuhan Maafkan Aku, Tak Semua dan Bukalah Bilik Hatimu.
Mukhid sepertinya ingin berkelana dalam beragam genre, meski mungkin tak
disadarinya. Sebuah pilihan berpuisi yang merdeka meski tanpa ciri. Cara
berpuisi Mukhid hampir merambah sebagian besar penyair muda Malang yang
karyanya pernah saya baca.

Ragil Sukriwul ‘mendekontruksi’ lokalitas dengan menabur beberapa diksi
bahasa Inggris ke dalam puisinya yang sebenarnya mayoritas dia tulis
dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya, Ragil ‘tak menganggap’ petanda
‘global’ sebagai ancaman yang akan memarginalkan warna bahasa lokal
(Indonesia) dan pemaknaannya. Ada kesadaran dan keberanian untuk
mengelaborasikan petanda lokal dan global dalam puisi karena batas
budaya telah remuk dalam desa global (global village). Salah satu
puisinya berjudul “Lost”, dan puisinya yang berjudul “Jangan Kartu Pos
I” berisi petanda global (Bahasa Inggris) yang saya maksudkan.
……………

Berceritalah tentang perutmu yang masih saja berteriak
Meski telah disumpal senampan Pizza, tentang jemari
Telunjukmu yang berungkali tersayat karena ngotot ingin
Masak
Sendiri,

(Juga biografi lelaki negeri mana saja yang pergi dan datang di kencanmu)

Ceritakan saja meski selarik puisi.
I was there…! I’m very Happy!” teriakan asingmu ini
Hanya jadi
Barisan abjad-abjad penuh cemas di sini
Jangan kirim kartu pos lagi: benci!
Kirimkan saja aku perih.

Lebih jauh, dengan gaya bangunan struktur dalam beberapa puisinya yang
seperti mengajak kita untuk kembali melihat karya penyair Amerika E.E.
Cumming dan penyair Sutardji Calzoum Bahri, Ragil juga sepertinya ingin
meletakkan struktur bukan sebagai beban dalam berpuisi. Kata bisa
digeser, ditata horisontal, vertikal, miring, dan tak lurus-rapi. Namun
yang membedakan Ragil dan Sutardji adalah bahwa sebenarnya Ragil tak
sepenuhnya ingin membebaskan kata dari makna sebagaimana Sutardji. Lihat
saja dalam beberapa puisinya, seperti Di Antara yang Datang dan Pergi
dan Menggambar Bulan, Ragil nampak masih bersetia dengan relasi makna
dalam kata yang merajut puisinya.

Tegar Prajaksa, Penyair muda yang sedang kuliah di jurusan sastra
Inggris Universitas Brawijaya Malang, mendekontruksi struktur kata dalam
puisi dengan melakukan pemecahan dan penyatuan suku kata sebagaimana
dilakukan oleh penyair sekaligus pelukis dan pemahat Jerman Kurt
Schwitters (1887-1948). Tegar melakukan dekonstruksi itu dalam puisinya
Kontemporer Cinta. Tegar lalu dengan liar juga mendekontruksi sistem
kultur ‘tabu’ dengan menghadirkan kata vagina dalam puisinya: Rengek
Bocah Lima Tahun. Meski dalam banyak puisinya Tegar cenderung membawa
kata dalam permainan strukur bebas, ia ternyata juga tak melepaskan diri
dari godaan konteks di luar dirinya sebagai muatan yang mendahului
penciptaan. Puisi Berjudul Lapindo, yang hanya berisi huruf 0, dan Hamid
Mencari Iskandar bisa menjadi bukti.

Sementara dalam dunia prosa, nampak dalam cerpen Corry Atur, cerpenis
perempuan yang masih muda dan sedang kuliah di Program Bahasa dan Sastra
Unibraw Malang, ketegangan mitos dalam tradisi dan elemen modernitas
justru berusaha dikolaborasikan dengan tujuan menghadirkan bentuk yang
tak terpusat. Ada upaya membangun ‘ideologi’ yang tidak semata-mata
berkiblat pada tradisi dan juga tidak serta-merta mengagungkan
keilmiahan ‘modernitas’ dalam salah satu unsur sastra (literary
devices). Corry yang telah lama tinggal di Malang memang menggunakan
tradisi, dalam hal ini pernik-pernik mitologi, untuk membangun cerita
dengan atmosfer modern. Folklore tentang Coban Rondo (salah satu tempat
wisata di Malang) misalnya, yang dia hadirkan untuk menawarkan benang
merah cerita yang dia tulis menunjukkan relasi kutub sastra sehingga
tercipta medan magnit antar satu dengan yang lainnya. Hal ini sungguh
menarik karena dalam wacana post-modernisme dua entitas yang begitu
berbeda dimungkinkan bisa menjadi sumber inspirasi yang justru saling
melengkapi, mengisi, bahkan mendekonstruksi.

Dengan begitu proses kreatif bakal mendapatkan ‘kebebasan’ dan
keliarannya, seperti penggalan puisi Skizoprenia karya Miza, penyair dan
mahasiswa di Program Bahasa dan Sastra Unibraw.
……………

Dalam keliaran dan kegilaan
Sesungguhnya tangis tak henti
Mendera
Lalu dengan sengaja
Mengapungkan diri di tengah laut
Biar dikoyak-koyak hiu

Epilog
Saya tidak berpretensi bahwa pembacaan saya atas beberapa sastrawan muda
Malang tersebut di atas sudah representasif. Identifikasi dan pemetaan
sastra di Malang membutuhkan proses yang tidak sekali jadi. Di luar itu,
upaya untuk menjadikan gelombang sastra di Malang sebagai bagian
revitalisasi dan perayaan sastra perlu terus mendapatkan apresiasi dan
dukungan. Sastra yang terpusat dan dipusatkan, berada di atas menara
gading dan menegasikan potensi sastra di daerah-daerah akan menjadikan
berbagai kemungkinan kreativitas menjadi ‘terbatas’.

Sengkaling, Malang, Desember 2007

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.sastra-indonesia.com, 24 April 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s