SASTRA KITA


Ahmad Munif

Ada berapa komunitas sastra di Semarang? Warga masyarakat yang mendapat pertanyaan seperti itu pasti bakal menggelengkan kepala. Saya pun pernah menjawab serupa ketika Sunlie Thomas Alexander, cerpenis dari Yogya, bertanya soal itu.

Karena ingin tahu, saya balik bertanya soal komunitas sastra di Yogya. Jawaban dia mengejutkan. Katanya, di Yogya ada puluhan komunitas sastra. Mengejutkan, karena saat itu, setengah tahun lalu, di Semarang tak ada satu pun komunitas sastra. Rumah Lebah dan Wisma Puitika adalah dua contoh dari sekian banyak komunitas sastra di Yogya. Tak mengherankan jika lembar sastra media cetak dihiasi banyak karya penulis Yogya. Ya, komunitas sastra di Yogya telah menjadi garda depan perkembangan sastra di Indonesia.

Gambaran itu tentu sangat kontras dengan Semarang. Kota ini bahkan dikenal sebagai kuburan budaya. Sastrawan besar asal Semarang, NH Dhini, pun terpaksa meninggalkan Semarang karena perhatian dan apresiasi terhadap sastrawan minim. Di Yogya, kehadiran NH Dini disambut khusus oleh komunitas sastra.

Jika ada yang masih menghubungkan sastra dan kota Semarang, tentu berkat jasa beberapa sastrawan. Sebut saja cerpenis S Prasetyo Utomo dan Triyanto Triwikromo. Di pelataran sastra nasional kedua cerpenis yang tinggal di Semarang itu termasuk di jajaran atas.

Kelahiran beberapa komunitas sastra di Semarang beberapa bulan belakangan ini juga tak lepas dari peran mereka. Dalam komunitas sastra Kampoeng Sastra Soeket Teki, misalnya, Prasetyo Utomo jadi sesepuh. Triyanto juga memberikan banyak masukan.

Prasetyo dan Triyanto tampaknya ingin menunjukkan, kita semua bertanggung jawab menjaga keberadaan sastra di Semarang. Tentu tidak cuma sastrawan atau peminat sastra, tetapi juga pemerintah dan masyarakat umum.

Seharusnya tak cukup dengan menjaga. Sebagai ibu kota provinsi, sebutan Semarang sebagai kuburan budaya tentu sangat memalukan. Karena itu bisa juga berarti masyarakat Semarang tak berbudaya.

Pembentukan beberapa komunitas sastra, seperti Kampoeng Sastra Suket Teki, Hysteria, dan Komunitas Sendang Mulyo, tentu belum jadi jaminan perkembangan sastra di Semarang bakal menggembirakan. Namun setidaknya keberadaan komunitas itu bisa membuat peminat sastra dan masyarakat belajar bersama. Juga makin sadar, betapa sastra meninggikan keberbudayaan kita.

Tulisan ini pernah dipublikasikan Harian Suara Merdeka (Semarang), 22 Februari 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s