SEJARAH KOMUNITAS SASTRA DI BANTEN


Toto ST Rasik

Penasihat Rumah Dunia

Kesusastraan modern Indonesia lahir dengan kehendak besar untuk menuju dan mengukuhkan literacy (keberaksaraan) yang kerap diperlawankan dengan orality (kelisanan). Literacy adalah “dunia buku” atau “dunia membaca” (mata), sedangkan orality adalah “dunia membacakan/mendengarkan” (mulut-kuping). Literacy konon menghendaki kesendirian yang teguh dan sepi, memisahkan atau mengasingkan diri, sedangkan orality konon menghendaki kebersamaan yang guyub dan ramai, menyatukan atau menggabungkan diri.

Uniknya, kesusastraan modern Indonesia yang menghendaki state of mind keberaksaraan juga ditandai dengan lahirnya begitu banyak komunitas-komunitas sastra yang menghidupkan keguyuban, membangun silaturahmi dan kehangatan hubungan sosial antaranggota komunitas maupun antara satu komunitas dengan komunitas lain yang justru berlari ke state of mind kelisanan. Seperti ada dua arah yang bersimpangan di situ.

Komunitas sastra lantas dituding sebagai satu satuan massa yang cenderung menggelapkan individualisme dan menggantikannya dengan kolektivisme, cenderung melambungkan segelintir orang di dalamnya, dan cenderung menjadi alat legitimasi atau pentasbihan kesastrawanan. Oleh karenanya, komunitas sastra harus dicurigai habis-habisan. Sikap kolektif yang mengikat diri harus ditolak dan diberangus karena kerja sastra merupakan kerja individual yang sangat keras dalam waktu yang tidak singkat.

Namun komunitas sastra dari tahun ke tahun terus saja bermunculan, baik di kota maupun di kampung-kampung. Jika menelisik sejarah kesusastraan (modern) Indonesia, lahirnya sesuatu komunitas sastra sesungguhnya merupakan estafet panjang. Sebutlah misalnya para sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, juga generasi Gelanggang, Kisah, Sastra, Horison, dan Kalam yang pada dasarnya merupakan komunitas sastra yang dibentuk oleh lingkungan pergaulan sastra penerbitan majalah-majalah tersebut. Dengan kata lain dapatlah dikatakan, nyaris semua sastrawan Indonesia pernah terlibat di dalam komunitas sastra.

Tentu saja, kerja sastra tetaplah kerja individual yang sangat keras, melelahkan, dan membutuhkan waktu panjang. Karena hanya melalui karya sastra yang baiklah (yang lahir dari tradisi literacy yang sepi, dari pengerahan pemikiran dan permenungan bertahun-tahun, dari studi yang tak kunjung henti, dari semadi yang khusyuk) yang mentasbihkan seseorang menjadi sastrawan. Sedangkan komunitas sastra selaiknya tempat bertemu muka untuk melakukan perjumpaan dan membicarakan hasil pikiran dan renungan dengan/bersama orang lain. Sebuah lingkungan yang hangat dan kondusif untuk saling memerhatikan dan merawat kemungkinan-kemungkinan kreatif.

Dari proses semacam itulah, karya sastra pun lahir, berbagai-bagai dan mekar bersama. Untuk selanjutnya berjumpa dengan pembaca yang menjadi penulis dan penulis yang menjadi pembaca. Mereka yang emoh menjalani proses itu, berada atau tidak berada dalam komunitas, tentu bakal mati iseng sendiri.

Perjalanan komunitas sastra di Banten barangkali juga merupakan estafet panjang. Tapi kapan komunitas sastra lahir dan dimulai di Banten, adalah pertanyaan sederhana yang sulit dijawab. Ini karena tidak tersedianya informasi dan data yang lengkap mengenai kehidupan kesusastraan di Banten, termasuk sejarah dan perkembangan komunitas sastranya. Walaupun sesungguhnya Banten telah memiliki tradisi (sastra) tulis sejak berabad-abad lampau, di mana Babad Banten (anonymous) telah ditulis dalam bentuk tembang macapat pada paruh kedua abad ke-17, sekira tahun 1662 atau 1663, yang oleh Hoesein Djajadiningrat (1913) disebut sebagai kronik Jawa tertua dipandang dari sudut historis dan historiografis. Koran-koran juga sudah bertebaran di Banten pada awal abad ke-20, seperti Koran Mimbar (1919-1920), Pengharapan Banten (1923-1924), De Banten Bode (1924-1936), Soerasowan (1929-1930), dan lain-lain.

Oleh karena itu, pada bagian ini saya hanya akan mengemukakan apa-apa yang saya ketahui tentang komunitas sastra di Banten yang lahir dan tumbuh sejak pertengahan tahun 1980-an, di mana saya terlibat di dalamnya sebagai pelaku aktif. Sehingga mau tidak mau, apa yang saya kemukakan adalah menurut perspektif dan ingatan saya yang terbatas.

Seingat saya, pada paruh pertama tahun 1980-an saat saya masih siswa SMA Negeri Serang belumlah ada komunitas sastra di Serang atau Banten. Juga tidak pernah mendengar atau mengetahui ada sastrawan, penyair, cerpenis, novelis, atau esais dan kritikus sastra. Saat itu yang ada adalah komunitas teater yang sesekali manggung. Jika pun ada kegiatan sastra, masih sebatas pembacaan puisi di acara perpisahan sekolah serta lomba-lomba baca puisi. Barulah pada Mei 1988 muncul komunitas sastra di Serang dengan nama Kelompok Azeta yang digawangi Toto ST Radik, Gola Gong, dan Rys Revolta (1964-2004). Program pertamanya adalah menerbitkan antologi puisi Jejak Tiga (Toto ST Radik, Gola Gong, dan Rys Revolta, Juli 1988) yang dicetak dengan mesin stensil dan berkeliling membacakannya serta menggelar diskusi ke beberapa sekolah di Serang.

Kelompok Azeta kemudian bermetamorfosis menjadi Lingkaran Sastra dan Teater (LiST) pada 1994. Serangkaian kegiatan diskusi dan studi penulisan puisi (sastra umumnya) digelar secara massif. Antologi puisi Ode Kampung (Gola Gong dan Toto ST Radik) terbit 1995, disusul Mencari dan Kehilangan (Toto ST Radik) pada 1996, lantas Bebegig (Asep GP, Bagus Bageni, Bambang Q-Anees, Gola Gong, Purwo Rubiono, Tias Tatanka, dan Toto ST Radik) pada 1998. Juga meluncurkan Jurnal Sastra dan Budaya LiNGKARAN yang terbit bulanan sejak April 1997 hingga Maret 1998. Saat itu LiST sering menggandeng Gesbica IAIN SMHB dalam menjalankan kegiatannya. Juga dengan Jagat Teater dan Sastra yang didirikan Bagus Bageni dan kawan-kawan pada 1996.

Sekira tahun 1997/1998 Wan Anwar (1970-2009) dan Nandang Aradea datang ke Serang sebagai dosen muda di Universitas Tirtayasa Serang. Anwar dan Nandang mendirikan Masyarakat Seni Kafe Ide dan menggelar berbagai pertunjukan teater. Pada 2001/2002 Wan Anwar mendirikan Yayasan Imaji Indonesia dan menerbitkan antologi puisinya sendiri Sebelum Senja Selesai (Mei 2002). Selain itu pula bersama Herwan FR dan Toto ST Radik mulai Mei 2002 menerbitkan Jurnal Budaya dan Sastra Imaji yang terbit hanya dua-tiga nomor saja. Pada Desember 2006 Wan Anwar membentuk Kubah Budaya dan pada Maret 2009 menerbitkan antologi puisi Candu Rindu, yang menghimpun 21 penyair anggota Kubah Budaya.

Sementara itu di Tangerang pada 1995 lahir Roda-Roda Budaya yang dimotori Wowok Hesti Prabowo. Kiprah Roda-Roda Budaya bukan hanya di seputaran Tangerang namun meliputi Jabotabek. Roda-Roda Budaya menerbitkan antologi puisi Buruh Gugat (Wowok Hesti Prabowo, 1995), Rumah Petak (Wowok Hesti Prabowo dan Dingu Rilesta, 1996), Trotoar (menghimpun para penyair di Jabotabek, 1996), Cisadane (antologi Puisi Tangerang, 1997), Pabrik (Antologi Puisi Buruh Tangerang-Kudus, 1998). Kemudian bermunculan Komunitas Bubutan (Budaya Buruh Tangerang), Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Kebon Nanas, dan lain-lain.

Di dua lokus inilah (Serang dan Tangerang) kegiatan sastra, terutama kepenyairan, begitu marak saat itu sebagaimana maraknya kehidupan kepenyairan di Indonesia. Sementara di Pandeglang dan Cilegon benar-benar tak terdengar (hingga saat sekarang), sedangkan di Rangkasbitung, Lebak, pada 2000/2001 terbentuk Lembaga Kreasi Seni dan Budaya (LKSB) Sapulidi yang dimotori Chavchay Syaifullah dan menerbitkan Antologi Puisi Testimoni Ruang Kosong (Aeng Siloent, Chavcay Syaifullah, DC. Aryadi, Herdy Wibawa, dan Yudi Nurhadi, 2001). Tapi setelah itu LKSB Sapulidi pun tak kedengaran lagi kiprahnya.

Setelah LiST mengalami pasang dan surut, tahun 2002 saya mendirikan SanggarSastraSerang (S3) di Penancangan, sementara Gong mendirikan Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) di Ciloang. Pada 2003 S3 menerbitkan Jus Tomat Rasa Pedas (Puisi dan Cerpen Toto ST Radik) dan Sembunyi Sampai Mati (antologi puisi yang menghimpun 14 penyair muda yang tinggal di Serang, Cilegon, Lebak, dan Tangerang yang menjadi anggota S3 dan PRD, kecuali Purwo Rubiono). Tahun itu pula, Forum Kesenian Banten menerbitkan antologi puisi Dunia Wayang (Asep GP, Ibnu PS Megananda, dan Ruby Ach. Baedhawy).

Tahun 2005-2006, S3 dan Rumah Dunia menggarap Proyek Puisi 3/3 (tiga penyair tiap tiga bulan), berupa penerbitan antologi puisi, pembacaan puisi, dan diskusi. Episode pertama pada September 2005 menampilkan Herdy Wibawa (Lebak), Ibnu PS Megananda (Serang), dan Mahdiduri (Tangerang) dengan antologi dari tari senyap ke surat pemulung sampai rajahku, dibahas oleh Chavchay Syaifullah (Lebak). Episode kedua pada Desember 2005 menampilkan El Fathrah (Lebak), Roro Ayu Prasatyanti (Pandeglang), dan Sofia Dewi Safril (Serang) dengan antologi dari capung-capung menari ke suasana malam sampai rambut telah perak, dibahas oleh Wan Anwar (Serang). Episode ketiga pada Maret 2006 menampilkan Ahmad S Rumi (Pandeglang), Irwan Sofwan (Serang), dan Niduparas (Tangerang) dengan antologi dari batas waktu ke perjalanan kamar sampai kabar dari langit, dibahas oleh Iwan Gunadi (Tangerang).

Pada episode keempat, Juni 2006, proyek ini dialihkan untuk para cerpenis menampilkan Dinda Damarati (Cilegon), Ibnu Adam Aviciena (Serang), dan Ruri Setiadi (Pandeglang) dengan antologi Tiga Kisah, dibahas oleh Agus Fahri Husein (Cilegon). Lantas episode kelima baru terselenggara pada Maret 2007 menampilkan Asri Surtayati (Cilegon), Ayu Pangestu (Tangerang), dan Rayyina Fikira (Serang) dengan antologi Kulepas Mata Oteng, dibahas oleh Arip Senjaya (Serang). Episode kelima ini merupakan episode yang terakhir, karena sesudah itu tidak dilanjutkan lagi. Selain itu S3 dan Rumah Dunia juga melakukan upaya kerjasama dengan penerbit besar untuk menerbitkan antologi cerpen, di antaranya Kacamata Sidik (Senayan Abadi, 2004), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senayan Abadi, 2005), Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia, 2005), Harga Sebuah Hati (Akoer, 2006), Cinta Lelaki dan Peluru (Tiga Serangkai, 2007), dan lain-lain.

Seluruh kegiatan tersebut tentu saja melalui sebuah proses berkarya, yakni dengan program Kelas Menulis yang membahas jurnalistik dan sastra langsung ke dalam praktik menulis. Di mana karya-karya jurnalistik, cerpen, novel, dan puisi berlahiran. Di Rumah Dunia juga terselenggara perhelatan sastra dalam skala besar dengan tajuk Ode Kampung, Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara pada tahun 2006 dan 2007. Sedangkan tahun 2008, Ode Kampung diselenggarakan untuk Pertemuan Komunitas Literasi se-Nusantara. Rumah Dunia juga memiliki lini Lumbung Banten dengan program diskusi dan penerbitan tulisan-tulisan tentang Banten, di antaranya adalah penerbitan naskah teater Bicaralah Tanah karya Nandang  Aradea (2007), Kumpulan puisi Kampung Ular karya Rahmat Heldy HS (2009), dan lain-lain. Juga pembuatan media online bernama www.rumahdunia.com yang diluncurkan sejak 1 November 2009.

***

Demikianlah. Dan tampaklah dari catatan serba ringkas tersebut (tentu tak luput dari ketidakcermatan!), betapa kehidupan kesusastraan dan komunitas sastra di Banten, terutama di Serang dan Tangerang, selama 20-an tahun berjalan begitu bergairah dan sehat. Sastrawan lahir, tumbuh, hilang atau eksis seiring dengan lahir, tumbuh, hilang atau eksisnya komunitas sastra. Persoalannya kemudian, tinggal bagaimana kita, para sastrawan sendiri, termasuk juga komunitas sastranya, mengelola dan memaksimalkan seluruh potensi agar dapat memberikan peran dan sumbangan yang lebih besar lagi bagi perkembangan sastra Indonesia mutakhir, menyumbangkan karya-karya terbaik bagi pertumbuhan sastra Indonesia, bahkan turut mempengaruhi arah kecenderungan estetik dan tematiknya.

Tentu selalu ada kecemburuan, konflik kepentingan, friksi dan lain-lain, baik di dalam komunitas itu sendiri maupun antarkomunitas. Maka perlulah kiranya kita belajar kepada para petani yang begitu ikhlas, rajin, dan berkala menyiangi sepetak sawahnya dari hama rumput liar dan tutut, juga menjaganya dengan bebegig dari hama tikus dan burung, sehingga padi-padi tumbuh sehat mekar berisi dan bersyukur dengan cara merundukkan dirinya. Sebab hanya padi yang pongah mendongaklah yang sesungguhnya gabug alias kopong, kosong tak berisi.

Tabik.

*) Penancangan, 30.12.2009

Tulisan ini pernah disampaikan pada “Detik Akhir Detik Awal 2009-2010” di Rumah Dunia, Serang, 31 Desember 2009, lalu dipublikasikan di rumahdunia.com, 4 Januari 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s