AKMR DAN MASA DEPAN KESENIAN RIAU


Marhalim Zaini

Sastrawan dan Berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau

Lahir, tumbuh, dan berkembangnya kesenian dalam kehidupan masyarakat kita, sangat diyakini selama ini terkait erat dengan kegiatan adat, tradisi, maupun keagamaan yang terwarisi turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat meresepsi dan mengapresiasi bentuk-bentuk kesenian secara organis dan alamiah. Kesenian hadir beriringan dengan proses berkehidupan itu sendiri. Sehingga, sesungguhnya kehidupan kesenian pun tak dapat lepas dari bagaimana cara masyarakat menjalani kehidupannya sehari-hari. Apalagi, manusia-manusia sebagai individu yang terhimpun dalam komunitas bernama “masyarakat” itu, memiliki dasar keinginan yang sama untuk “melakukan” kegiatan kesenian, baik sebagai senimannya maupun penikmat. Sebab seni, kata Desmond Morris, adalah salah satu prilaku estetis (aesthetic behavior) yang dimiliki oleh setiap manusia. Artinya, dalam kondisi apa pun itu, seni tak bisa terlepas dari kehidupan manusia itu sendiri. Dan menjadi benarlah pernyataan banyak pakar seni kita bahwa kesenian adalah penjelmaan atau manifestasi dari ekspresi sosio-kultural masyarakat pencipta, sekaligus penikmatnya.

Namun, perubahan zaman yang tak terelakkan kemudian meniscayakan terjadinya perubahan-perubahan struktur sosial, nilai-nilai kutural, yang otomatis juga merubah pandangan masyarakat terhadap kesenian itu sendiri. Terutama tentu, pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kesenian dalam memenuhi fungsi dan perannya terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Bentuk kesenian tradisional yang konvensional, sudah tidak lagi dapat menampung berbagai kegelisahan zaman yang bergerak cepat dengan tabiatnya sendiri. Dunia modern, bahkan lagi dunia post-modern, hadir bergegas di depan mata kita sebagai sosoknya yang demikian memikat dan menggoda. Ada tawaran struktur nilai lain (yang mengintervensi dan seolah memaksa) dari yang global dan plural dalam ranah dunia multikulturalisme. Maka sudah pasti ada tuntutan-tuntutan kreativitas lain yang turut menyertainya. Lalu, bagaimanakah nasib kesenian kita dalam dunia yang semacam itu?

Di Riau, pada kenyataannya, kesenian sedang tergagap-gagap menghadapi fenomena sosial semacam ini. Kehidupan kesenian tradisional kita yang memang demikian rapuh infrastrukturnya, kian tersumbatlah ruang artikulasinya, bahkan menyempitlah rongga pernafasannya. Boleh dikata, tak ada kesenian tradisional kita kini yang betul-betul dapat hidup “sehat” berdampingan dengan masyarakat penikmatnya, bahkan di rumah pemiliknya sendiri. Jika tampak ada upaya-upaya dari berbagai elemen masyarakat (perorangan atau lembaga) untuk “menempatkan” atau “mencari tempat” hidup seni tradisi kita, itu pun belum secara sepenuhnya berhasil. Malah, kecenderungan yang muncul justru “menempatkannya” di posisi yang keliru. Semisal, seni tradisi hanya terkesan jadi “atribut” dari seremoni-seremoni kebudayaan kita saja. Seni tradisi, bahkan terkesan “dijual” untuk kepentingan-kepentingan tertentu, tanpa benar-benar menunjukkan kepedulian yang tinggi dan serius atas hidupnya, sekaligus atas hidup pekerja seni (seniman) yang menghidupinya.

Sementara, kesenian modern kita, seperti terombang-ambing gamang oleh kekuatan gelombang besar wacana seni kontemporer yang terus mendera. Wacana itu, seolah bergerak di luar “tubuh” kesenian kita. Ia memang datang. Datang bagai asap hutan terbakar yang menyerang dari berbagai arah. Tapi, sebagaimana asap, kedatangannya justru seolah mengganggu “kesehatan” kesenian kita. Belum tampak dengan demikian intensif pergerakan kesenian Riau untuk masuk dalam konstelasi wacana besar itu, ikut ambil bagian dengan memberi kontribusi-kontribusi kreatif-produktif. Bukan tersebab potensi pekerja seninya (sebab Riau memiliki cukup banyak seniman berpotensi dan berprestasi), akan tetapi lebih disebabkan oleh infrastruktur kesenian kita yang memang lemah. Infrastruktur tak cuma dimaknai sekedar tempat pertunjukan dengan segala perlengkapannya atau sekedar minimnya dana untuk dunia kesenian, tapi juga jaringan kerja kreatif, lalu lintas wacana, peran dan fungsi kelembagaan seni, problem apresiasi, dan pentingnya peran pendidikan seni kita. Hal yang paling permukaan, mari kita tengok realitasnya: bahwa pementasan-pementasan seni pertunjukan (teater, tari, musik) lebih banyak bersifat insidental atau aksidental, bukan karena memang hendak menampilkan capaian-capaian baru. Setahun sekali pun, belum bisa dijamin akan terjadi peristiwa pertunjukan “berkualitas” di Riau ini. Pameran seni rupa masih sangat-sangat jarang. Apalagi seni multimedia (film dan fotografi misalnya) masih jadi “dunia asing.” Genre seni yang saya sebut terakhir ini, agaknya akan jauh lebih memiliki banyak tantangan untuk berkembang cepat dibanding dunia seni pertunjukan yang memang telah cukup akrab di lingkungan masyarakat kita.

Ihwal Pendidikan Seni Kita
Lalu, dalam kondisi serupa itu, saya kira salah satu upaya yang paling ideal dapat dilakukan untuk menjawab tantangan sekaligus membangun masa depan kesenian kita yang lebih terukur adalah dengan masuk ke ranah pendidikan formal. Terukur, karena selain dunia pendidikan memang diselenggarakan secara sistematis, menawarkan program-program reguler yang terjaga kontinuitasnya dalam bentuk kurikulum dengan jangka waktu berjenjang, juga dapat “mengawal” perkembangan proses kreatif dan pemahaman kesenian secara lebih terarah dari generasi ke generasi dengan orientasi melahirkan profesionalisme di bidang seni. Profesional baik sebagai akademisi maupun sebagai seniman. Dalam konteks pendidikan seni ini, ada dua jalur yang sesuai dengan capaiannya masing-masing. Jalur formal seperti sekolah kejuruan seni dan sekolah tinggi seni, yang mengarah pada profesionalisme seni, dan jalur non-formal seperti sanggar, kursus/pelatihan, atau lembaga/komunitas kesenian, atau pendidikan seni di sekolah-sekolah umum (SD, SLTP, dan SMU) yang lebih mengarah pada pemanfaatan kegiatan seni untuk menumbuhkan kemampuan apresiasi seni dan budaya peserta didik.

Persoalannya kemudian adalah, pendidikan seni di jalur formal (dan juga non-formal) belum mendapatkan “tempat yang seimbang” dibanding dengan lembaga pendidikan formal di bidang non-seni. Ini problem klasik tentang paradigma dan persepsi masyarakat memandang dunia seni itu sendiri, yang ironisnya juga diamini oleh para pengambil kebijakan di bidang pendidikan kita. Pendidikan seni di sekolah-sekolah umum misalnya, tak lebih sekedar jadi kegiatan rekreatif. Setelah penat mengikuti mata pelajaran “serius” lalu disegarkan oleh “kegiatan” seni. Tujuan pendidikan seni yang tertera dalam kurikulum (GBPP 1994) untuk “mengembangkan kemampuan apresiasi dan berkarya kreatif” tentu akan sulit untuk digapai jika arah pembangunan bangsa ini juga tak memungkinkan tersedianya infrastruktur proses belajar-mengajar kesenian yang memadai; mulai dari kurikulum dan sistem pendidikan, sarana prasarana, tenaga pendidik, dan lain-lain.

Hari ini, khusunya sekolah-sekolah di Riau, sesungguhnya telah mulai menyadari betapa kurangnya infrastruktur itu, terutama tenaga pendidik yang profesional. Terbukti, dari sejumlah pengalaman saya melihat dan mendengar (langsung dan tak langsung), tenaga pendidik seni di sekolah-sekolah umum itu ditempati oleh guru-guru dari bidang study yang lain. Beberapa guru bahkan sempat datang pada saya, baik dalam sebuah sesi seminar dan workshop maupun secara pribadi, yang mengeluhkan prihal ini. Guru-guru ini—karena rasa tanggungjawabnya yang besar sementara kemampuannya yang minim—justru berniat privat pada saya tentang seluk-beluk pengajaran dunia teater baik secara teori maupun praktek. Dan akhirnya, supaya lebih efektif, saya menawarkan solusi untuk “memperbantukan” mahasiswa saya di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) sebagai pendampingnya. Bahkan berbagai permintaan dari banyak sekolah umum di sejumlah daerah Riau kepada AKMR untuk mengirimkan alumninya, adalah sebuah kenyataan lain. Kenyataan bahwa, lembaga pendidikan tinggi seni macam AKMR kian dibutuhkan.

Namun begitu, satu hal penting lain yang perlu diluruskan di sini adalah bahwa pendidikan seni itu bukanlah pendidikan instan yang hasilnya dapat segera diketahui. Banyak persepsi semacam ini yang tumbuh di masyarakat kita tersebab minimnya pemahaman dan apresiasi mereka terhadap kesenian. Selain bahwa masyarakat kita juga, telah demikian terbawa arus pragmatisme yang lebih menganut paham efisiensi waktu dan biaya. Padahal, dalam pendidikan seni, mengutip Sofyan Salam (Guru Besar Universitas Negeri Makassar), “diperlukan pemberian pengalaman estetik yang lama dan intensif untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Diakui bahwa pendidikan seni efektif untuk mengembangkan kepekaan rasa estetik dan kekreatifan.” Tapi harus diakui pula, demikian Sofyan menulis, bahwa “pendidikan seni bersifat pendidikan jangka panjang. Karena itu, dalam konteks jangka pendek, ia dinilai tidak efisien karena (seolah) hasil yang dicapai tak sebanding dengan waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan.” Dan rasanya, saya juga harus mengutip kalimat lain dari Sofyan yang bagus ini, “saya menyadari bahwa tidak mudah untuk menumbuhkan apresiasi terhadap pendidikan seni di tengah cengkeraman “pola pemikiran otak-kiri” dalam lingkungan system pendidikan formal kita dewasa ini. Tetapi, upaya penumbuhan apresiasi itu harus dilakukan. Tak ada jalan lain.”(2005).

AKMR Menjadi STSR
Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) yang berdiri sejak tahun 2002, saat ini adalah satu-satunya perguruan tinggi seni swasta di Sumatera. Saya kira, tekad dan semangat sejumlah budayawan/seniman kita yang tertanam ketika dulu perencanaan awal berdirinya kampus yang bertempat di kompleks Bandar Serai ini, adalah untuk turut membangun infrastruktur dunia kesenian (di) Riau. Jasa dan sumbangsih pemikiran para budayawan/seniman ini, tentu tak boleh begitu saja diabaikan. Berbagai tuntutan dari berbagai tantangan yang saya sebutkan di awal tulisan ini, tentu telah lama menjadi pemikiran bersama, untuk kemudian secara bersama pula mencari solusinya. Menjadi gerakan dan tindakan yang sangat tepat ketika salah satu pilihannya adalah membangun/mendirikan sebuah perguruan tinggi seni di Riau. Lembaga pendidikan, setakat ini, masih tetap dipercaya dan diyakini sebagai sebuah ruang yang paling mungkin melahirkan manusia-manusia berbudaya dan berperadaban. “Sebab pendidikan merupakan bagian dari proses pembudayan itu sendiri” (Tilaar, 1999).

Tuntutan yang paling realistik, hemat saya, berdirinya AKMR tak cuma ikut mewujudkan “mimpi” Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu, akan tetapi adalah bagaimana kontribusi konkretnya terhadap gerak perkembangan kesenian di Riau kini dan masa mendatang. Artinya, peran dan fungsi strategis sebuah perguruan tinggi seni di sebuah daerah macam Riau, dengan sumber kekayaan khazanah kesenian lokal yang melimpah, dan beriringan dengan pesatnya pembangunan industri serta serbuan urbanisasi, disadari menjadi kekuatan sekaligus penyeimbang tersendiri bagi sehatnya “ruang spiritualitas” negeri ini.

Mari kita tengok, bagaimana peran dan fungsi Institut Seni Indonesia (ISI) baik di Yogyakarta, Denpasar, dan Surakarta. Juga peran dan fungsi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung dan Padang Panjang. Masing-masing perguruan tinggi seni itu seolah jadi “gerbang” masuk yang “mengawal” berbagai pergerakan kesenian di daerahnya. Kebutuhan berdirinya ISI Yogyakarta misalnya, ketika “menyatukan” sejumlah akademi seni dari berbagai genre, adalah hendak “menampung” melimpahnya dunia kreativitas para seniman, baik tradisi maupun modern. Jadi, ia muncul dari kesadaran bahwa dunia kreativitas yang “liar” itu harus juga diimbangi dengan dunia akademis yang teoritik dan sistematik. Bukan pula berarti bahwa “keliaran” itu kemudian dikerangkeng oleh penjara-penjara akademis, tapi justru memberi laluan yang luas terhadap proses pengembangannya. Kritikus pun diharapkan lahir dari sini, meski target lain juga dapat dicapai, melahirkan “seniman yang sarjana” dan “sarjana yang seniman.” Begitu pula halnya ISI Denpasar. Kita sangat tahu, bagaimana dunia kesenian bergerak dengan demikian dinamis di Bali. Seni tradisi dan seni modern seolah sama kuatnya, tarik-ulur mengurai simpul-simpul estetikanya masing-masing. ISI Surakarta saya kira juga tak jauh berbeda, bagaimana perannya ikut menjadi salah satu pusat kreativitas seni yang unggul. Demikian pula STSI Bandung dan STSI Padang Panjang (keduanya kini sedang berupaya merubah statusnya jadi ISI) adalah lembaga pendidikan tinggi seni yang tak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kesenian di daerahnya masing-masing. Saya kira, masih demikian banyak pula perguruan tinggi seni swasta di seluruh pelosok Indonesia yang turut aktif dan konsisten memberi kontribusi konkret. Lalu, bagaimana dengan AKMR?

Secara obyektif, saya berani dan optimis mengatakan, jika AKMR terus secara serius melakukan pembenahan-pembenahan infrastruktur (internal dan eksternal), maka “kerja” yang sekian tahun ini dilakukan (sejak berdiri), akan mampu “menjaga” langkah perkembangan kesenian kita menuju capaian yang diharapkan di masa mendatang. Tentu, langkah yang seiring dan saling melengkapi, sinergi dan bekerjasama, dengan program-program lembaga-lembaga kesenian non-formal yang ada di Riau, juga peran serta pemerintah daerah. Pembenahan internal, adalah terutama bagaimana kelengkapan sarana-prasarana sebagai syarat mutlak dalam menunjang keberhasilan pendidikan terus ditingkatkan. Gedung kampus yang terbatas, yang kini masih “memakai” dua unit bangunan (Purna MTQ) di kompleks Bandar Serai, tak mungkin lagi dapat “menampung” secara lebih maksimal dan representatif segala aktivitas proses perkuliahan di AKMR. Apalagi, kini AKMR sedang menuju peningkatan statusnya menjadi STSR (Sekolah Tinggi Seni Riau), dari D3 menuju S-1, yang tentu saja kian banyak kelengkapan dan kebutuahan perkuliahan yang mesti disiapkan. Kebutuhan utama sarana—dan ini sesungguhnya menjadi kebutuhan primer bagi kampus seni yang memfokuskan dirinya pada seni pertunjukan—adalah tersedianya panggung pertunjukan bagi tiap-tiap jurusan (Teater, Tari, dan Musik). AKMR belum memiliki panggung yang representatif. Dan ini jadi problem serius yang dihadapi selama ini, baik dalam proses perkuliahan praktek yang hampir saban hari membutuhkan media panggung, maupun kebutuhan pentas apresiasi. Ini, tentu saja belum lagi berbagai kebutuhan lain macam peralatan laboratorium seni, dan sebagainya.

Pembenahan internal lain yang tampak terus dilakukan kini adalah dengan “menyekolahkan” para dosen pengajarnya ke jenjang lebih tinggi di berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia. Tentu ini program yang memang wajib dilakukan untuk memenuhi standar pendidikan kampus yang berkualitas, sehingga juga dapat memenuhi standar penilaian akreditasi. Kesadaran atau paradigma masyarakat kita yang belum menganggap bahwa pendidikan kesenian sama pentingnya dengan pendidikan di cabang ilmu yang lain, secara tidak langsung membuat minat orang untuk masuk sekolah atau kuliah di dunia kesenian menjadi minim. Maka, memang akhirnya boleh dikata cukup sulit mencari tenaga pengajar yang jebolan dari perguruan tinggi seni, baik S1 apalagi S2. Ditambah lagi, nampaknya beasiswa-beasiswa yang tersedia kini, baik dari swasta maupun dari pemerintah sendiri, belum menyentuh kepada jurusan pendidikan seni. Bolehlah ditengok, misalnya, ketika pengumuman pemberian beasiswa di media massa (terutama beasiswa pemerintah daerah), jurusan seni tidak tertera di sana. Padahal support finansial sangat diperlukan, tak hanya untuk membantu biaya praktek kesenian yang cukup tinggi, juga sesungguhnya dapat memberi image bahwa pemerintah memang peduli dengan kemajuan pendidikan seni di masyarakatnya.

Sementara pembenahan eksternal, meliputi berbagai kerja membangun jaringan dan kerjasama dengan stakeholder, di dalam maupun luar Riau, dengan swasta atau pemerintah, berupa material maupun non-material, yang dapat memperluas akses dan laluan untuk perkembangan kampus ke depan. Kerja ini, secara bertahap telah dilakukan oleh AKMR. Untuk non-materi misalnya melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi negeri macam ISI Yogyakarta, dan juga STSI Padang Panjang, baik bersifat akademis maupun non-akademis. Atau juga kerjasama dengan berbagai komunitas seni di dalam dan di luar Riau. Untuk yang bersifat materi, saya kira respon dan apresiasi selama ini dari sejumlah pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten, atau juga dari pihak swasta, telah cukup menunjukkan bahwa AKMR mendapat dukungan yang kuat. Meski mungkin, di sejumlah pihak belum dapat secara reguler mengulurkan bantuannya. Namun, hal yang mungkin patut diketahui oleh berbagai pihak, bahwa AKMR adalah sebuah kampus. Bukan sebuah sanggar. Otomatis, logikanya, kebutuhan kampus jauh lebih besar dari pada sanggar misalnya. Atau mestinya jauh lebih besar juga dari pada dana sejumlah kegiatan-kegiatan kesenian tahunan atau insidental di Riau. Dan saya kira, jika kita secara bersama memang telah komitmen untuk turut membangun dunia pendidikan seni kita, juga terkait membangun dan mengawal gerak perkembangan kesenian kita ke depan, pun turut meretas salah satu jalan menuju visi-misi 2020, maka tentu mari lihatlah AKMR sebagai milik bersama, dan membangunnya secara bersama-sama pula.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.sagangonline.com.

Iklan

2 responses to “AKMR DAN MASA DEPAN KESENIAN RIAU

    • Silakan Anda mengunjungi Kampus AKMR di Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Searai/purna MTQ), Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau, telepon 0761 858710.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s