RUMAH PUISI, RUMAH DI TELAPAK DUA GUNUNG


Ahda Imran

Selepas Kota Padangpanjang, di Kanagarian Ai Angek Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat, terdapatlah setumpak tanah di atas ketinggian yang terletak di pertemuan telapak Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Di situlah letaknya Rumah Puisi. Menyendiri dikelilingi areal kebun, persawahan, dan sebuah jalan kecil menurun berbatu menuju jalan besar yang menikung. Yang disebut Rumah Puisi itu adalah sebuah bangunan yang terbilang megah dan nyaman. Nyaris seluruh bagian depan dan sampingnya berdinding kaca sehingga apa yang terdapat di dalam gedung itu, yakni ruang diskusi dan perpustakaan, dan semua kegiatannya bisa tampak dari luar.

Beberapa meter dari Rumah Puisi terdapat sebuah rumah dengan dua kamar yang nyaman. Rumah itu diperuntukkan bagi sastrawan tamu (writer residence) yang merupakan salah satu program dari Rumah Puisi. Selama satu bulan, sastrawan dipersilakan tinggal di situ untuk berkarya, seperti novelis Ahmad Tohari dan penyair D. Zawawi Imron yang telah berada sebulan di situ sebagai sastrawan tamu. Tak jauh dari rumah sastrawan juga terdapat sebuah musala yang sejuk dengan bagian dinding yang ditempeli baliho besar puisi Taufiq Ismail, “Ada Sajadah Panjang”. Sementara di dinding samping rumah sastrawan juga menempel baliho lainnya, masih dengan puisi Taufiq Ismail, “Dua Gunung Kepadaku Bicara”.

Inilah Rumah Puisi yang memang dibangun penyair Dr. (HC) Taufiq Ismail. Sebuah tempat yang bermula muncul dari niatan Taufiq Ismail yang mungkin agak terasa subjektif, yakni untuk menyimpan koleksi buku-bukunya yang berjumlah 6.000 judul agar masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai wujud rasa tanggung jawab pada kemajuan kampung halamannya. Terutama bagi anak-anak muda di daerah-daerah di Sumatra Barat yang aksesnya pada buku tidaklah semudah mereka yang ada di kota-kora besar di Pulau Jawa.

Akan tetapi, niatan penyair yang selama sepuluh tahun (1998-2008) begitu militan mengakrabkan karya sastra pada guru dan siswa di seluruh Indonesia sejak 1998 itu, kemudian berkembang lebih dari sekadar menjadikan tempat tersebut sebagai perpustakaan, bentuk sumbangsihnya pada kampung halaman. Apalagi, sekaligus demi romantisme menghabiskan hari-hari di masa tua seperti halnya Ajip Rosidi yang membuat rumah peristirahatan dan gedung perpustakaan di Pabelan Magelang, Jawa Tengah.

“Apakah ini bentuknya seperti perpustakaan tempat buku disimpan begitu saja? Itu memang bermanfaat, tetapi boleh dikatakan peminat datang pergi, meminjam mengembalikan. Nah, ketika itu kami di majalah sastra Horison sedang melakukan kegiatan besar dalam memperkenalkan karya sastra pada guru dan siswa. Jadi tempat ini akan menjadi tempat kegiatan pelatihan guru-guru dan siswa, penggunaan akses buku di perpustakaan yang nanti akan terbentuklah apresiasi sastra,” tutur Taufiq Ismail menjelaskan dalam percakapan kami malam itu (9/1) di Rumah Puisi.

Rumah Puisi yang terbilang megah ini, termasuk untuk ukuran sebuah galeri seni rupa di Jakarta atau Bandung sekalipun, mulai dibangun 20 Februari 2008. Dan hingga Desember 2008 bisa dikatakan seluruh bagian kompleks Rumah Puisi ini telah rampung, kecuali palanta (pendopo) yang rencananya akan berada di antara musala dan rumah sastrawan. Selain menghadirkan dua sastrawan tamu, selama Desember 2008 kemarin, Rumah Puisi telah memulai programnya dengan pelatihan guru bahasa dan sastra Indonesia yang datang dari sejumlah kabupaten/kota di Sumatra Barat, juga pertemuan Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) se-Sumatra Barat, dan silaturahmi dengan sastrawan se-Sumatra Barat.

Dari seluruh sasaran yang diandaikan, terkesan Rumah Puisi lebih berkonsentrasi pada guru-guru dan siswa. Dengan kata lain, Rumah Puisi tetaplah menjadi bagian yang tak bisa disendirikan dari militansi Taufiq Ismail, bersama sejumlah sastrawan di majalah Horison yang dikomandoinya untuk meningkatkan minat baca guru-guru dan siswa pada karya sastra.

Bentuk militansi ini, misalnya, bisa dilihat dengan angka bagaimana selama sepuluh tahun Taufiq Ismail dan tim redaktur majalah Horison telah menggulirkan sepuluh program gerakan membawa sastra ke 213 SMA di 164 kota di 31 provinsi; membawa 113 sastrawan dan 11 aktor untuk membaca karya sastra dan berdiskusi dengan siswa dan guru; melatih 2.000 guru dalam program membaca, menulis, dan apresiasi sastra (MMAS); selama 11 tahun menyalurkan karya siswa dan guru dalam sisipan Kakilangit Majalah Horison; menerbitkan 8 antologi puisi, cerpen, fragmen, novel, serta, serta esai yang dikirimkan ke 4.500 perpustakaan SMA; membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia.

**

MENATAP Rumah Puisi di antara dua telapak gunung yang menjulang megah dan panorama alam Minangkabau yang elok itu, adalah menatap sebuah kerja besar dalam manajemen pengelolaannya ke depan sehingga tempat itu kelak tidak hanya akan menyerupai “kastil” yang terasing dari perkembangan sastra Indonesia. Dari mulai manajemen program, mengelola jaringan, hingga, ini yang penting, pembiayaan operasionalnya. Tentu saja seluruhnya ini telah dipikirkan jauh-jauh oleh Taufiq Ismail.

Taufiq Ismail menjelaskan bagaimana pembangunan Rumah Puisi ini berasal dari kocek pribadinya ketika ia mendapat Hadiah Sastra dari Habibie Centre senilai 25.000 dolar Amerika Serikat (dipotong pajak Rp 200 juta), ditambah bantuan dari anaknya Bram Ismail. Ihwal sumber pendanaan operasional bagi kelangsungan program Rumah Puisi mendatang, ia lebih menekankan pada strategi bagaimana hendaknya lebih dulu Rumah Puisi bisa rampung dan mulai membuat program. Rumah Puisi dan program- program yang telah berjalan itulah yang akan menjadi bekal untuk mencari sumber pendanaan.

“Kami memilih langkah mendirikan dulu Rumah Puisi, setelah itu membuat program dan rencana. Kemudian kita ‘jual’ rencana itu,” ujarnya seraya juga membayangkan betapa banyak sandungannya ke arah itu.

Namun yang tak kalah penting bagi Rumah Puisi mendatang tampaknya adalah bagaimana tempat yang “mewah” itu dikelola oleh tim manajemen pengelolaan. Bahkan, kelak inilah tulang punggung yang akan menentukan makna kehadiran Rumah Puisi, baik bagi perkembangan sastra di Sumatra Barat maupun di Indonesia. Tak hanya merancang program dalam konteks apresiasi sastra bagi dunia pendidikan, tetapi juga program bagi perkembangan sastra itu sendiri. Itu hanya bisa dimulai dengan melakukan inventarisasi komunitas-komunitas sastra yang ada di Sumatra Barat sehingga mereka bisa merasa memiliki Rumah Puisi.

Dalam percakapan bersama penyair Gus Tf dan Iyut Fitra di Payakumbuh, keduanya menyambut baik kehadiran Rumah Puisi. Namun keduanya melihat sampai sejauh ini Rumah Puisi belum menyentuh secara keseluruhan komunitas sastra yang ada di Sumatra Barat. ” Untuk program ke depan Rumah Puisi harus melakukan inventarisasi komunitas-komunitas sastra di Sumatra Barat ketimbang membuat program sendiri. Jangan sampai sastrawan Sumatra Barat hanya jadi penonton dan tamu. Mereka harus dilibatkan dan menjadi bagian di dalamnya,” ujar Iyut Fitra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 24 Januari 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s