BENANG MERAH KUATKAN KOMUNITAS


Gejolak komunitas anak muda di sebuah kota menjadi bagian penting catatan kebudayaan. Sebab, aktivitasnya melahirkan pemikiran-pemikiran baru untuk berekspresi. Komunitas mempertemukan para individu-individu berdiskusi, mencari ide dan berkolaborasi dalam merancang aktivitas itu.
Namun di kota ini, seni termasuk wadahnya merupakan patahan dari wadah berkesenian sebelumnya. Ia tak memiliki kesinambungan dan hanya perkumpulan yang dinaungi untuk sesaat.

Hal itu dipresentasikan Adin (komunitas sastra Hysteria), Diah Widhi dan Damar Adi (komunitas video Importal) dalam diskusi hasil “Magang Nusantara” Yayasan Kelola di Ruang 103 Fakultas Ilmu Budaya Undip. Peluang magang para pegiat seni Semarang dari Yayasan Kelola berlangsung Oktober-Desember 2009 ditangkap oleh ketiga seniman muda itu untuk mempertahankan komunitasnya.

Jumat (29/1) malam itu, Adin mengungkap kepedulian pemuda Bandung akan sejarah kota. Upaya pemetaan komunitas di Bandung telah diarsipkan secara massif oleh Commonroom, baik melalui teks maupun verbal dengan membuat kelompok belajar sejarah yang diikuti berbagai komunitas anak muda, yaitu Bandung Oral History. Ada pula Nu Substance, sebuah kegiatan mendukung perkembangan seni elektronik dan kultur media melalui serangkaian kegiatan berupa pameran, workshop, dan konser musik.

Commonroom merupakan komunitas yang peduli terhadap perkembangan budaya kotanya. Ia menjadi ruang alternatif yang mencari benang merah berbagai komunitas seni rupa, musik, kesenian tradisional, video, dan lainnya untuk mempertemukan beragam komunitas dan terlahir lah karya-karya kolaboratif.

Ya, komunitas ini mulai menjadikan pemetaan itu sebagai rekan strategic sejak 2008. Menyadari hal itu, Adin bercita-cita tercipta kondisi sama di Kota ATLAS ini. Sebab fakta menunjukkan selama ini komunitas yang tampak di Semarang seakan timbul dan tenggelam tiba-tiba.

Damar semula merasakan tak enaknya makan gaji buta selama magang di Jiffest Jakarta. Sebab sebagai asisten manajer, dia hanya disibukkan beberapa hari menjelang even. Namun dari situ, dia merasakan gejolak perjuangan berhadapan dengan LSF ketika ingin mempublikasikan sebuah film pada khalayak. Kesediaan Dewan Kesenian Jakarta dalam menyokong kegiatan Jifest saat workshop ingin dirasakan pula di sini.  (Garna R, Rima M-56)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka (Semarang), 1 Februari 2010.

One response to “BENANG MERAH KUATKAN KOMUNITAS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s