MENGGAIRAHKAN SASTRA


Halim Mubary

Peminat Sastra dan Dosen STAI Al-Azizyah Samalanga, Bireuen

SATU teks dapat “bicara” bila menawarkan sesuatu, sehingga tumbuhnya nilai estetika resepsi menaburi bilik-bilik hati pembacanya. Estitika resepsi yang dimulai akhir tahun 1960-an, sebenarnya secara metodologis berusaha memulai arah baru dalam studi sastra, mengingat adanya pandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari, terutama dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Sebab teks sastra yang sudah diterbitkan, sudah menjadi hak pembaca menentukan baik atau buruknya.

Estetika resepsi dapat dikatakan sebagai penyelidikan teks sastra dengan dasar reaksi pembaca yang riil. Memperhatikan watak sastrawi sebuah teks, sebuah hipotesis kerja diambil berdasarkan sejauh manakah pembaca memutuskan apakah suatu teks sastra dianggap bermutu sastra atau tidak (Stierle: 1975). Dulu, pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an, semangat untuk mengadili teks sastra semacam ini pernah menggeliat di Aceh. Sejumlah organisasi sastra seperti Dewan Kesenian Aceh, dan Dewan Kesenian Banda Aceh, pernah menggelar Pengadilan Seni”, baik terhadap puisi maupun prosa. Tim dewan penguji, di hadapan penonton, karya sastra ‘dikuliti’. Plus minus, dan cita rasa dibahas secara detail untuk menangkap makna instrinsik empiris penulisnya.

“Pengadilan Seni Sastra” menjadi daya pikat tersendiri. Ini telah membuat jagad sastra kita bergairah dalam mencari momentum keterpinggirannya. Para penggiat dan pekerja sastra di Aceh, juga giat meningkatkan potensi dirinya, dan taman budaya menjadi resort paling favorit bagi seniman dan sastraan ketika itu. Aktivitas seni, seperti baca puisi, baca cerpen, pementasan teater, pameran lukisan, seni tari dan lainhnya begitu bergairah di taman seniman itu. Inilah yang sekarang sudah meredup dan seperti dilupakansastrawan di Aceh.

Setidak tiga sebab membuat gairah sastra Aceh mati. Pertama, meninggalnya sejumlah sastrawan senior Aceh, beberapa di antaranyanya memilih hijrah ke luar Aceh. Kedua, hilangnya diskusi public tentang sastra ini, bisa jadi juga lantaran di Banda Aceh sejak awal 2000-an, sudah berdiri sejumlah komunitas sastra seperti Lapena, Tikar Pandan, Aliansi Sastrawan Aceh, Forum Lingkar Pena, dan beberapa lainnya. Sehingga komunitas sastra ini lebih menekankan pengkajian dan bedah sastra di komunitasnya masing-masing. Ketiga, dengan hadirnya BRR NAD-Nias pasca-smong akhir 2004 lalu, di mana lembaga ini secara periodic turut mendanai penerbitan buku-buku sastra di Aceh, baik prosa maupun puisi. Sehingga sejumlah komunitas sastra di Aceh, banyak yang menjalin kerjasama dengan lembaga itu untuk menerbitkan buku-buku sastra.

Fenomena itu yang sekarang perlu dipikirkan oleh peminat sastra di Aceh. Menggeliat sastra di Aceh, termasuk menyiasati penerbitan buku-buku sastra yang dihasilkan oleh penulis-penulis Aceh nantinya. Untuk menggairahkan jagad sastra kita, perlu memperbanyak pegelaran even-even sastra, pertemuan dan diskusi sastra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh), 5 April 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s