SENI BANYUMAS MENYAPA DUNIA: BINCANG-BINCANG DENGAN BAMBANG SET


Bambang Set adalah seorang seniman kelahiran Purwokerto, Banyumas dan saat ini ia menjadi ketua Dewan Kesenian Banyumas untuk periode 2003-2008. Sebagai seorang seniman ia adalah sosok penuh vitalitas dan panjang napas. Aktivitas keseniannya terentang sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Sementara bidang seni yang digelutinya pun sangat bervariasi, mulai dari teater, seni rupa, sastra, dan sastra radio. Terakhir, ia bereksperimentasi melalui kesenian tradisional.

Salah satu hasil dari eksperimentasinya dalam seni tradisi adalah Cagenjring. kesenian ini merupakan paduan dari tiga kesenian tradisional yaitu kentungan, rebana, dan calung. Bersama kelompok ini ia melanglang jauh hingga ke Malaysia dan pada tahun 2007 kemarin diundang dalam World Drum Festival di Cekoslovakia.

Saat ini ia pun tengah sibuk mempersiapkan pertunjukkan Cagenjring yang akan dipentaskan pada hari ulang tahun Banyumas April nanti. Tidak seperti pentas sebelumnya, pentas yang tengah ia siapkan kali ini melibatkan dua ratus lima puluh orang. Sebuah pertunjukkan yang kolosal.

Di tengah kesibukannya mempersiapkan pementasan dan aktivitasnya sebagai ketua Dewan Kesenian Banyumas, Bambang Set menyempatkan waktu untuk berbicang-bincang dengan Badruddin Emce dan Irfan Zaki ibrahim dari Cangkir.

Sejak kapan anda aktif dalam kegiatan kesenian di Banyumas?

Sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Awalnya saya mendirikan sanggar, namanya sanggar 911 untuk aktivitas anak-anak gedongan, anak-anak elit, anak-anak jetset, tapi jetsetnya Purwokerto. Mereka kumpul-kumpul bikin sanggar seni, ada lukis, sandiwara radio, teater. Pada tahun 1971, sanggar 911 pentas untuk pertama kali dan membawakan naskah berjudul Prabu Salya dengan sutradara Ismail dari teater Muslim Jogja..

Anak-anak elit yang seperti apa?

Anaknya Danrem, Polwil, Residen, dan lain-lain. Pokoknya anak-anak jetset lah

Apa yang membuat mereka tertarik?

Ya seperti itu. Seni itu kan bukan hanya milik orang miskin.

Jangan-jangan bapak juga dari kalangan elit?

Ha-ha-ha bukan, saya justru bukan dari kalangan elit. Saya dari kalangan biasa-biasa saja. Rumah saya dulu di Jalan Gatot Subroto Purwokerto. Kemudian tahun 1973 saya mengembangkan sastra radio di radio Rosana.

Itu bersama anak-anak sanggar 911?

O bukan. Waktu itu mereka sudah bubar. Tahun 1973-1976 saya di radio Rosana dan mendirikan sanggar Rosana. Kemudian pada tahun yang sama saya dirikan juga sanggar pelukis muda Purwokerto. Salah satu anggotanya Edi Nur yang sekarang terkenal sebagai pelukis kaca, Didi Waluyo, Agus Untung, pelukis-pelukis yang sekarang tinggal di Jakarta.

Dari sastra radio ke seni lukis apa latar belakang Anda?

Waktu itu, tahun 1973 kan seni rupa Purwokerto itu masih sepi, kalah dengan Sokaraja yang memang basik tradisionalnya lebih kuat. Nah ini sebenarnya ada persaingan. Kita ingin menyaingi Sokaraja. Masa sih seperti itu seperti itu saja. Berangkat dari itu dan karena usia muda, kita belum berpikir tentang apa-apa. Karena itulah pelukis muda Purwokerto ingin mendirikan sanggar. Kami sempat pameran di Cilacap, Jogja, Purwokerto. Kemudian pada kurun waktu itu juga saya bersama Didi Wahyu, sekarang wartawan Suara Merdeka Wahyu Wendoko, pokoknya para wartawan senior, dan Niken Pratiwi, novelis nama aslinya Muji Manto, mendirikan Sanggar Mira.

Kali ini sanggar apa lagi pak?

Teater. Di situ saya bertemu Saeran, Saeran Samsudi. Yang sekarang juga masih aktif.

Kabarnya Anda juga menulis puisi?

Ya itu perjalanan yang lain. Tahun 1974 saya menulis puisi pertama dimuat di Sinar Harapan. Karena di situ (di teater itu) waktu itu juga ada bermacam-macam aktivitas. Saya mendirikan komunitas penulis muda Purwokerto. Aktivitasnya kebanyakan menulis puisi. Mereka banyak yang menulis puisi dan saya ikut-ikutan menulis dan berhasil di muat di Sinar Harapan. Itu tahun 1974. Setelah itu, tahun 1977 saya masuk IKJ. Dulu LPKJ. Saya ambil akademi teater. Saya bolak-balik Jakarta – Purwokerto untuk mengelola teater 77. Itu mulai 1977 sampai 1982. Dari tahun 1977-1982 saya mulai menggarap naskah-naskah serius seperti Wot Atawa Jembatan, Mega-mega, karya Asrul Sani, Kemul juga karya Asrul Sani. Ada sekitar 13 produksi.

Dipentaskan di mana saja?

Saya keliling Jawa Tengah. Waktu itu saya bawakan topeng. Nah, setelah itu saya kembali lagi ke radio untuk mengembangkan sastra radio. Kemudian tahun 1995 saya mengadakan pemecahan rekor baca puisi terlama sekitar 50 jam. Bersama sekitar sembilan pembaca puisi termasuk di antaranya Sudi Romadlon, Bambang Wadoro, Surya Esa, dan teman-teman lain.

Itu di mana?

Di gedung Suteja. Purwokerto

Dari cerita Anda, kelihatannya tahun-tahun dulu lebih marak dari tahun-tahun sekarang.

Ya. Ya betul. Waktu itu saya pentas tiga belas kali hampir penuh terus.

Itu kenapa?

Sebenarnya dari segi kuantitas mungkin lebih banyak masa-masa sekarang. Tapi kalau waktu dulu kami memakai pola lama. Sekarang barangkali lebih banyak yang instan, teater instan. Ya artinya bahwa untuk menjadi pemain kita harus banyak belajar. Olah vokal, akting, dan sebagainya.

Dari perjalanan yang panjang itu apa yang membuat Anda begitu yakin terhadap dunia kesenian?

Banyumas ini saya pikir potensi keseniannya luar biasa ini harus diangkat. Kita harus memberi motivasi pada mereka.

Potensi Banyumas yang luar biasa itu mencangkup apa saja?

Saya kira sudah banyak kita buktikan. Kesenian rakyat itu dihargai di negeri orang. cagenjring itu dapat standing ovation berkali-kali bahkan menjadi penampil terbaik. Ini coba kalo yang garap beberapa teman yang memang punya skill ke arah itu. Ini kan bicara tentang sebuah forum bersama. Kita hanya membuat satu produk, selanjutnya silakan digarap. Ternyata sekarang pemerintah Banyumas sudah mulai bagus, dalam artian memberikan aspresiasi terhadap cagenjring. Melalui dinas pariwisata dan kebudayaan, kesenian ini dijadikan ikon seni kolosal yang nanti akan dipentaskan setelah upacara hari jadi Banyumas tanggal 6 April. Nah, kemudian teman-teman ini juga menciptakan lagu-lagu baru dan teman-teman SMKI juga mulai serius menggarap ini. Ya artinya kan seni ini masih bisa dikembangkan, barangkali oleh orang-orang yang mungkin punya wawasan lebih luas dari pada para penciptanya. Rencananya nanti saya sendiri juga akan membuat jalan dulu hingga akhirnya itu bisa menjadi satu genre baru dalam wilayah kesenian. Kalo masyarakat belum memainkannya kan artinya belum. Jadi kita terus menerus mengenalkannya, kita tidak akan patah semangat. Karena mungkin seratus tahun lagi cagenjring akan bisa menjadi satu kesenian rakyat. Kalau sekarang kita bicara kentongan itu nanti diklaim oleh Purbalingga dan Jawa Barat. Kemudian calung juga diperdebatkan oleh Cilacap, tetapi kalau cagenjring ini kan memang karya orang Banyumas, seni yang dibuat oleh orang-orang Banyutmas. Dan itu sudah dihargai oleh masyarakat dunia.

Biasanya dalam seni tradisional ada semacam pakem?

Gini jadi kalau lihat pakem, seratus tahun yang akan datang anak cucu kita barangkali akan menganggap bahwa apa yang kita lakukan sekarang ini dijalankan sesuai dengan pakem. Kita jangan bicara ini tradisional, ini bukan. Jangan pedulikan itu. Tapi seratus tahun yang akan datang akan menjadi sebuah kesenian yang memang mungkin harus dilestarikan atau dibagaimanakan kan gitu….kita kan harus berbuat sesuatu. Setiap satu abad tercipta apa, tercipta apa. Seratus tahun yang akan datang kita akan sangat kaya dengan khasanah senii. Sekarang proses-proses kreatif yang dilakukan oleh teman-teman SMKI, termasuk siswanya, hanya untuk ujian akhir. Setelah itu selesai. Tidak dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat Banyumas itu mengerti ini tari apa..ini tari apa. Inikan nantinya akan menjadi aset kesenian. Tentu saja prosesnya berbeda dengan zaman dahulu yang harus bertapa dan sebagainya. Jauh berbeda.

Jadi semacam penciptaan baru?.

Ya. Jangan takut untuk mencipta dan menyebarluaskan. Jangan takut untuk keluar dari pakem. Sudahlah, kalau ini terus menerus kita tularkan kepada masyarakat dan masyarakat paham betul dengan apa yang kita ciptakan, itu sah menjadi kesenian rakyat. Tapi kalau hanya dimainkan sekali dan oleh teman-teman sendiri serta tidak disebarluaskan, ya hanya menjadi milik desa saja. Tapi kalau hanya sendiri ya bukan kesenian rakyat. Kesenian rakyat ya kesenian yang diketahui rakyat. Dasarnya kesenian rakyat ya rakyat harus tahu. Nah sekarang kan kita mulai memainkan cagenjring dengan keliling ke mana-mana. Ke kampus ke mana, bahkan ke luar negeri, kemudian di Jakarta juga kita mainkan. Itu pun belum sah kalau rakyat Banyumas belum tahu. Yang penting nanti kita festivalkan. Tahun 2008 kita rencanakan festival cagenjring dengan terlebih dahulu diawali cagenjring masal. Otomatis teman-teman yang terlibat ini kan jadi tahu musiknya seperti apa, lagunya seperti apa.

Bagaimana kalau kesenian Banyumas secara keseluruhan?

Kesenian itu kan banyak. Tapi, saya berharap tumbuh kesadaran dari masyarakat Banyumas besar, ingat wilayah Banyumas besar, bahwa Banyumas merupakan sentra kebudayaan di Indonesia. kita memiliki kekhasan, kita punya bahasa sendiri, memiliki adat istiadat sendiri, punya kesenian sendiri, ya kita harus bangga terhadap semua itu dan harus kita angkat beramai-ramai. Jangan sampai kita justru bangga terhadap kesenian lain. Kita harus bangga karena dikarunia gusti Allah sebuah sentra budaya tersendiri. Seperti di Bali kan kita bisa melihat bagaimana masyarakatnya begitu mencintai kebudayaan. Kita tidak perlu memperdebatkan apakah ini produk pariwisata atau bukan. Tidak perlu yang seperti itu. Yang penting adalah bagaimana kesenian ini bisa berjalan dengan baik, berkembang terus.

Dukungan dari Pemerintah daerah?

Hubungan dengan pemda baik. Kita saling mengkritisi. Kita juga dapat support finansial dari pemda. Pada masa lalu kita mungkin hanya mendapat anggaran sebesar 9 juta dan kemudian pada masa saya naik menjadi 100 juta, terus naik lagi menjadi 150 juta dan turun lagi menjadi 100 juta lagi. Kita bukan melihat jumlahnya, tapi itu kan untuk rakyat. Idealnya itu masing-masing kecamatan mendapat anggaran sebanyak 5 juta agar mereka bisa lebih fokus. Sekarang per kecamatan masih hanya 2 juta. Sebetulnya kalau bicara anggaran DKKB itu sedikit. Justru yang banyak itu disparbud. Ya kita tahu disparbud itu anggarannya untuk apa saja kan kelihatan. Itu mungkin di atas satu milyar, DKKB paling hanya seratus juta.

Tentang infrastruktur?

Sekarang kita lagi ramai-ramai membahas DED (Detail Engineering Desaign) untuk gedung kesenian Suteja. Nanti kita akan melakukan studi banding agar gedung Suteja ini menjadi lebih representatif. Itu khusus untuk gedung kesenian karena di sini belum ada gedung kesenian yang representatif, kalau pun ada barangkali agak mahal. Nanti gedung Suteja bisa dibuat dua lantai atau tiga lantai. Ada ruang untuk pameran, tempat pertunjukan teater sendiri, barangkali juga bisa dibuat ruang untuk barang kerajinan. Sekarang kita sudah masuk DED-nya, barangkali tahun ini sudah ada anggaran untuk DED. Dan mungkin tahun depan baru dimulai pembangunannya. Tapi, itu tergantung bupatinya. Ya tergantung pemda. Tapi sekarang sudah ada DED, kalau tidak dilanjutkan kan sayang.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://buletincangkir.wordpress.com, 18 September 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s