SASTRA UNTUK SEMUA


Di alun-alun Sidoarjo, Komunitas Esok menggelar tikar,menyelenggarakan perpustakaan terbuka. Menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan sastra pada warga kota.

PERKEMBANGAN sastra di Indonesia mengalami dinamika signifikan. Itu terlihat dari antusiasme generasi muda dalam menjaga keberlangsungan sastra dengan ataupun tanpa berkomunitas. Mereka mewujudkan ekspresi dalam penampilan konkret, berasal dari inspirasi-inspirasi yang mereka tangkap dari kondisi dan sudut pandang berbeda. Sastra di Indonesia pun mempunyai keberagaman bentuk dalam proses kreativitas dan pemaknaan terhadap sebuah karya.

Keberagaman pandangan dan pemahaman sastra dalam literasi merupakan upaya pelaku sastra mengembangkan budaya masa dalam masyarakat. Dengan demikian, proses peleburan sastra mengalir sejalan perkembangan wacana. Tidak hanya didominasi kesenian borjuis yang hanya mengandalkan nilai jualnya.Saat ini sastra tak hanya jadi wacana tekstual, tetapi kontekstual, mengakar pada budaya masa. Ini adalah kesempatan pelaku sastra memberikan pendekatan kepada masyarakat tentang sastra dan kebudayaan murni. Lebih sederhana dan nyata agar mampu diterima masyarakat awam sekalipun.

Dapat kita bayangkan, ketika sastra dan kebudayaan murni kembali pada masyarakat secara luas. Sastra mampu dinikmati dan masyarakat diilhami dalam tataran sederhana sampai yang kompleks. Masyarakat mempunyai dimensi sastra dan budaya yang mampu menjadi benteng dari penjajahan budaya-budaya luar. Terus menggerus dan mengubah pola pikir masyarakat, yang tanpa sadar terkondisikan.Sastra bukan lagi milik sastrawan, melainkan milik kita, milik masyarakat. Lahirlah sastra dan kebudayaan murni. Sastra tidak hanya dibicarakan dalam diskusi, seminar formal ataupun per-tunjukan-perrunjukan eksklusif. Sastra telah menjelma menjadi masyarakat itu sendiri. Maka wacana sastra akan terbangun di perkampungan, warung kopi sampai masyarakat emperan.

Dalam setiap perkembangan sastra ada rantai kerja sama simbiosis mu-tualisme yang harus terbangun antara Pemerintah, media massa, LSM, komunitas-komunitasseni dan sastra serta masyarakat. Di sinilah peranan setiap komponen untuk saling menjaga dan mendukung, melestarikan sastra dan kebudayaan Indonesia.Negara yang kaya akan kebudayaan dan suku. Kaya berbagai sudut pandang tapi satu tujuan. Pastinya kita sebagai arek Indonesia tidak ingin kecolongan.Upaya untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi penerus harus terus dilakukan. Mengembalikan muatan lokal. Namun, sebagian daerah di Indonesia menghapus muatan lokal dari kurikulum.Komunitas Esok adalah salah satu komunitas yang menangkap dinamika dan gairah sastra di masyarakat. Komunitas Esok ikut serta dalam perkembangan sastra Indonesia dengan memfasilitasi masyarakat untuk mengenal, mencintai, dan menikmati sastra secara utuh.Esok mempunyai cara sendiri yang menjadikan masyarakat merasa lebih dekat. Membicarakan sastra sampai pada performing art hasil dari kreativitas. Memberi hiburan tapi juga pengetahuan.

Melalui metode interaktif, kami melibatkan mereka secara langsung. Interaksi seperti itu dimaksudkan agar mereka juga merasakan geliat dinamika sastra dan budaya. Sama seperti yang kami rasakan, juga menjadi salah satu titik tolak ukur seberapa peduli masyarakat terhadap sastra dan budayanya sendiri. Kami meluruskan pandangan sebagian masyarakat yang menganggap sastra hanya sebatas muara kata-kata indah dan penggalan teori yang tetap menjadi kata. Padahal dalam kehidupan mereka sehari-hari, secara tidak sadar telah ter-ilhami oleh karya sastra kuno. Sastra Jawa bagi orang Jawa, dan pembelaan-pembelaan para sastrawan, dan seniman pada nasib masyarakat bawah. Karya-karya itu mampu menembus cela Istana Negara, cara yang lebih bijak daripada demonstrasi.

Komunitas Esok memang masih baru, dengan semangat kami juga” mengelola perpustakaan emperan sebagai taman baca bagi siapa saja, termasuk anak-anak di Alun-Alun Kota. Kami memberi pemahaman bagaimana membaca dan menulis yang baik, agar budaya literasi terbangun dengan baik di bawah. Maka, donasi buku yang kami dapat dari anggota lebih daripada cukup untuk memberi fasilitas taman baca, walaupun kolek-sinya masih sangat terbatas. Ini adalah jalan untuk merealisasikan upaya mencerdaskan bangsa dengan harapan kesadaran budaya massa dalam masyarakat akan terbentuk. Sayangi buku, cintai sastra! (M-4)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Media Indonesia (Jakarta), 7 Februari 2010.

One response to “SASTRA UNTUK SEMUA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s