PRAMOEDYA BANGGA JADI ANGGOTA LEKRA


Hidup Mati Penulis & Karyanya (21)

A. Kohar Ibrahim

HARMING 2 Desember 2007. Harming kata jadian Hari Minggu. Iya. Memang iya. Bahkan detik ini, aku mulai kalimat untuk naskah ke-21 ini dengan kata bikinan Pramoedya itu. Sebutir dari sekian kata-kata yang disiar Lentera ? ruang kebudayaan koran Bintang Timur di Jalan Hayamwuruk Jakarta, di mana dia mewujudkan Kekuasaan-nya secara kongkret dan kreatif sebagai Pengelola. Di ruang sempit percetakan lantai dasar ? bukannya di lantai pertama yang ruangnya cukup luas. Ruang sekretariat sekaligus Redaksi Bintang Timur pimpinan Tom Anwar dan S. Tachsin. Cahya Lentera Pram masih terang hingga sekarang.
Iya. Memang iya. Seperti diakuinya sendiri, Pramoedya Sang Pujangga Besar Indonesia itu, bukan saja tidak merasa malu apa pula merasa bersalah karena dikenal sebagai anggota Lekra. Apa lagi aku. Yang ketika pertama kali ketemu langsung dengannya di Bintang Timur sebagai sang pemula. Dan ketika untuk pertama kalinya aku diundang jadi peserta Sidang Pleno Lembaga Sastra Indonesia (Lestra) bulan September 1963 di Surabaya, aku hanya sebagai anggota saja, sedangkan Pram sebagai salah seorang
Pengurus Pusat Lestra sekaligus Lekra. Apalagi dalam aktivitas keorganisasian, baik di Lestra maupun Lekra, aku bukan penggiat untuk turut menjadikan Lekra sekalian lembaga-lembaganya akhirnya diumumkan menjadi gerakan kebudayaan Indonesia yang besar dengan 500.000 anggotanya. Jelasnya: aku bukan penggi at yang telah berjasa menjadi Lekra organisasi kebudayaan yang didirikan 17 Agustus 1950 itu menjadi salah satu organisasi kebudayaan yang besar, di samping organisasi-organisasi kebudayaan lainnya seperti LKN dan Lesbumi. Kegiatan utamaku pada masa paruh pertama tahun 60-an itu tertumpu pada aktivitas-kreativitas tulis-menulis dan bidang penerbitan. Selain sebagai reporter, juga turut serta mengelola ruang kebudayaan di HR Minggu dan penerbitan Majalah Sastra dan Seni Zaman Baru. Ringkas-jelasnya: aku jadi anggota Lestra/Lekra karena aktivitas-kreativitas sebagai penulis-jurnalis. Bermula dari koran Bintang Timur, di ruang remajanya, lantas mengisi ruang sastranya ? di edisi harian maupun edisi mingguannya: Bintang Minggu. Atau Bintang Timur edisi Harming. Di Jalan Hayam Wuruk. Lantas jadi reporter di HR/HRM. Masing-masing dipimpin oleh Naibaho dan HR Bandaharo. Sedangkan di Zaman Baru, di bawah pimpinan Rivai Apin dan S. Anantaguna.
Oleh karena itu, ketika ditanya untuk konfirmasi, apakah benar aku ini salah seorang ?aktivis? Lekra seperti yang disiar oleh seorang wartawan majalah kondang dalam wawancaranya dengan seorang yang memang mengaku bukan anggota Lekra, aku hanya mesem-mesem doang.
Batinku: ?Asbun aje lo!?
Iya. Sang wartawan yang katanya dari media serius lagi kondang itu, dalam prakteknya ternyata tidak melihat soal yang jadi persoalannya secara hakiki dan obyektif, melainkan secara subyektif dan melaksanakan semboyan ?politik adalah panglima?: boss-nya. Demi kepentingan atau hanya menguntungkan posisi Boss.
Ketika suara dering telpon menggema teriring tanya: ?Kohar, apakah Wartawan itu sudah menghubungi kau juga?? Dan ketika aku bilang ?nggak.? Sang penelponku itu menyatakan keheranannya.
Batinku: ?Itu juga pertanda arogansi kekuasaan: tingkat bawah?.
Dengan ini, aku hanya ingin mengulang bilang penegasanku bahwa aku bukan aktivis Lekra dalam artian sebagai orang yang secara organisatoris aktip melakukan pembangunan lembaga kebudayaan itu. Dalam kenyataannya aku bukan orang macam Kuslan Budiman, Kusni Sulang dan apalagi macam Setiawan Hs ? mereka yang begitu berjasa mendirikan Lekra di Jawa Tengah, sebelum ditingkat pusatkan ke Jakarta atau dikirim ke luar negeri.
Walaupun demikian, baik ketika periode 60-an, bahkan sampai pada upaya pemusnahannya oleh rezim militer OrBa bersama kaum Manikebuisnya, bahkan hingga detik ini, aku tidak merasa menyesal menjadi anggota Lestra/Lekra. Seperti juga yang dinyatakan Pramoedya Ananta Toer dalam makalahnya ?Maaf, Atas Nama Pengalaman? (1991).
?Dalam percakapan pribadi beberapa pejabat menyayangkan keanggotaanku pada LEKRA. Jadi menurut gambaran Orde Baru, LEKRA adalah organisasi kejahatan. Sampai sekarang pun aku tak pernah menyesal menerima pengangkatan sebagai anggota pleno LEKRA kemudian diangkat jadi wakil ketua Lembaga Sastra. Malahan aku bangga mendapat kehormatan sebesar itu, yang takkan diperoleh oleh setiap orang, dan tidak mengurangi kebanggaanku sekiranya benar ia organisasi mantel PKI. Semua itu lewat, tetapi belum menjadi sejarah, karena sebagai proses belum menjadi kebulatan sinthetik.? (Arena N° 7 Th 1992).
Perihal benar-tidaknya bahwa Lekra itu adalah organisasi ?mantel? PKI, orang pertamanya, yakni Sekretaris Umum Lekra Joebaar Ajoeb telah menapiknya dengan argumentasi yang meyakinkan dan dengan nalar yang cerah. Bahwa tak ada satu pun kekuatan orsospol yang berhasil ?mem-PKI-kan? Lekra, kecuali pen-cap-an yang diberikan oleh OrBa dan kaum Manikebuis. Sedangkan mengenai tuduhan sebagai orang kiri dan seniman yang memihak, Pram dengan jujur mengaku: ?Saya memang kiri, ndak perlu dituduh itu. Saya berpihak pada rakyat, itu kiri. Kalau berpihak pada kekuasaan, itu kanan.? (Wawancara dengan SAS Edisi 42 Th 1994 in Majalah Kreasi N° 24 Th 1995).
Dan soal ideologi? Sang penginterview mengajukan pertanyaan, bahwa: ?Itu artinya, anada menganut ajaran Komunisme, Marxisme??
?Itu yang menuduh, tahu tidak Komunisme, Marxisme, Leninisme atau cuma ngawur-ngawur saja?? Jawab sekaligus tanya balik Pramoedya. Karena, memang benar bahwa Sosialisme, Komunisme atau juga yang disebut-sebut sebagai Marxisme dan Leninisme bukan perihal yang spele atau gampang. Lanjut Pram menegaskan, bahwa: ?Itu ilmu, tidak mudah mempelajari itu. Referensi seluruh buku yang ada, ndak setiap orang bisa mengerti, bahkan tidak setiap sarjana bisa, ndak semudah itu.?
?Kalau ngomong komunis komunis gampang saja…,? tegas Pram melanjutkan dengan dengan tajam: ?Tapi tahu nggak apa yang diomongkannya? Dan waktu tim Kejakgung kemari untuk menginterogasi, saya minta diadili, apa salah saya sebenarnya. Dan saya minta dibantu ahli hukum dari negara netral yang tahu betul tentang Komunisme, Marxisme dan sebagainya. Ini supaya saya, sebagai terdakwa yang tidak tahu itu (Komunis, Marxisme, Leninisme, red.) dan diputuskan oleh hakim yang juga tidak tahu itu.?
Tuding dan tantangan Pram itu jitu sekali! Ke arah rezim militer OrBa dan perangkat institusi kekuasaan terorisnya, termasuk para jaksa, sarjana dan kalangan budayawannya macam Manikbu. Dalam manifestasi aksi teror mereka terhadap kaum yang mereka jadikan musuhnya, yang dengan sewenang-wenang diberi cap terlibat pemberontakan ?G30S/PKI?, kaum atheis, komunis. Yang kesemuanya tak lain tak bukan kecuali sebagai corong propaganda hitam yang berkiblat ke Washington ? pusat adikuasa kaum nekolim dalam maraknya api Perang Dingin. Dalam percaturan politik skala dunia, Washington lah tempat yang jadi titik pusat Sang Panglima Politik tertinggi yang di-abdi.
Dahsyatnya! Perwujudan atau manifestasi aksi teror ideologis-politis itu bukan hanya terhadap PKI dan organisasi-organisasi massa yang dianggap sebagai ?mantel?nya, macam Pemuda Rakyat, Gerwani, SOBSI, BTI, BNI, HSI, CGMI, IPPI dan LEKRA saja. Melainkan juga terhadap kaum nasionalis dan kaum demokrat Indonesia lainnya. Yang jumlahnya cukup dahsyat: berjuta-juta jiwa manusia ? dari Ibukota Jakarta sampai kota-kota besar dan kecil lainnya bahkan sampai ke pelosok rimba serta pedesaan Indonesia!
Semua itu adalah manifestasi aksi Teror Putih yang semata-mata untuk merebut kekuasaan politik, untuk menegakkan singgasana kekuasaan yang mengapung di telaga darah, keringat dan air mata rakyat yang dijadikan tumbalnya!
Jika disimak-ingat kenyataan itu, adakah manusia yang namanya benar-benar manusia lagi sehat dan waras yang masih mau membantah betapa kekejian ber-panglima-kan politik militeris fasis yang selaras kepentingan kaum kolonialis-neo-kolonialis dan imperialis seperti yang dipraktekkan di bumi Nusantara ini?
Dan soal yang jadi persoalan besar bangsa ini, sampai detik ini pun rupanya masih belum juga dimengerti oleh sementara orang, termasuk oleh Wartawan dalam wawancararanya dengan Sarjana yang pakar bahasa pula, tersebutkan di atas.
Dan gugatan seorang Pramoedya pun tantangannya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diajukan sekian tahun lalu bahkan sampai matinya, masih juga belum terjawabkan: Siapa sesungguhnya yang takut mengungkapkan kebenaran dan menegakkan keadilan di Negara Hukum ini?
Iya. Saya ingin menggaris-bawahi, bahwasanya manifestasi aksi terorisme yang amat keji itu adalah berupa fitnah sarat dusta sekaligus pemberian cap sewenang-wenang: terlibat Kudeta ?G30S/PKI? dan penganut ideologi Komunisme (Marxisme, Leninisme, Stalinisme). Karena, dalam kenyataannya tidak seperti yang dituduhkan oleh penguasa OrBa dan Manikebu. Jangankan yang jutaan orang tertuduh dari massa rakyat ? wong cilik atau kaum marhaen dan bagian masyarakat lainnya ? bahkan yang formil jadi anggota PKI sendiri belum tentu benar-benar menguasai ideologi yang dinyatan penguasa sebagai yang terlarang. Bukankah dalam soal ideologi terlarang tersebut, bahkan oleh para pemimpin PKI sendiri sudah diakui akan adanya kelemahan mereka sendiri? Betapa tidak, terbukti buku yang disebut orang sebagai ?Bibel?nya kaum Komunis berjudul ?Das Kapital? Karl Marx, tak pernah dikaji para anggota PKI, paling-paling oleh para kader tinggi atau kader pusatnya. Dalam bahasa asli atau bahasa asingnya.
Coba tunjukkan, kapan mereka mempelajarinya? Dan kaum buruh dan kaum nelayan dan kaum tani yang dipedesaan atau ujung gunung? Jangankan mengkajinya, melihat saja pun Kitab Kapital itu mereka tak pernah! Lagi pula, bukankah dalam versi bahasa Indonesianya baru setelah 80 tahun berdirinya PKI dan baru setelah 40 tahun berdirinya OrBa diterbitkan di Jakarta! Oleh salah seorang eks-tapol dan seorang sahabat Pramoedya Ananta Toer bernama Oei Hai Djun.
Sebagai anekdot, dalam soal ideologi yang dinyatakan terlarang oleh OrBa itu, beberapa tahun lalu saya pernah bilang: ?Hehehe…jangankan pengarang macam dramawan Utuy Tatang Sontani, Sobron Aidit saja pun belum tentu pernah baca Das Kapital. Dan ternyata memang benar. Malah anekdot tersebut ditambah bumbunya oleh sang adik: Asahan Aidit dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo baru-baru ini. Bahwa yang dikaji dipraktekkan Sobron Aidit adalah ajaran Dale Carnegie: How to Win Friends and Influence People? !
Menyimak baris kata-kata Asahan berkenaan dengan abang Sabar-nya itu, aku mesem-mesem nyaris ngakak, lantaran kontan terkenang sang pengarang yang juga terkenal sebagai anggota Seniman Senen, pun yang doyan masakan enak-enak, termasuk kegemarannya akan kepala ikan besar! Dan aku tak bisa melupakannya, kanrena antara lain, dialah di samping Aziz Akbar, yang jadi pendukung utama pengelolaan penerbitan ?pers alternatip? kami, seperti Kreasi dan Arena itu. Sobron Aidit memang penulis yang produktip, selain prosa dan puisi serta esai juga seorang jurnalis sejak awal mula kegiatan tulis-menulisnya. Namun, dalam soal-soal teori atau literatur yang mengandung faham yang diharamkan oleh rezim Orba dan kaum Manikebuis, yang diungkapkan Asahan Aidit itu bisa jadi bahan renungan. Lebih jauh, dari pengakuannya sendiri, putera dari keluarga Muslim yang abangnya sendiri menyandang nama asli Achmad (DN Aidit), pada masa lansianya ia melaksanakan hak azasinya secara bebas merdeka, yakni beralih menjadi penganut agama Kristen.
Dan contoh seorang Sobron Aidit dengan anutan ideologi atau ajaran spiritualitanya itu bukan hal yang unik! Dan begitu juga mereka yang disebut kader Partai dari daerah sampai Pusat. Tidak semuanya atheis, kebanyakan theis (Islam, Kristen, Hinduis dan lainnya lagi). Kalau kader-kadernya saja begitu, bagaimana pula kaum yang tergolong hanya sebagai simpatisan? Apa pula para anggota dan simpatisan lainnya ? kaum wong cilik lainnya. Mana mereka faham akan isi Das Kapital atau Komunisme dengan segala variasi isme-isme-nya?
Akan tetapi, begitulah, kenyataannya. Dalam prahara Teror Putih yang dilancarkan kaum militer fasis OrBa, bukan seorang dua orang dan atau tujuh orang, melainkan berjuta-juta orang jadi korban pembantaian dan penindasan lainnya hanya dengan tuduhan sebagai yang terlibat Kudeta Komunis atau terlibat ?G30S/PKI? ! Padahal mereka tidak berdosa apa-apa dan tanpa adanya pengadilan untuk mengalami atau menderita segala kekejian itu.
Tragis dan teramat tragisnya yang dahsyat itu, memang, seperti kata Pramoedya, dapat disimpulkan baik yang tertuduh maupun penuduh sesungguhnya tidak mengerti apa yang dituduhkan itu.
Dan manifestasi aksi adab-budaya kampungan OrBa-Manikbuis itu telah begitu membudaya selama berdasa-dasa-warsa. Terutama sekali selagi sang penguasa amat berjaya, pun sesudah sang kepalanya lengser, hingga dewasa ini. Sebagai bukti, bahwa bahaya laten atau terorisme ala OrBa memang masih latent sekali. Di mana sementara orang dari kalangan rendah sampai tinggi, bahkan pemegang kekuasaan, masih terus menakut-nakuti orang dan masih ketakutan akan adanya hantu yang mereka rekayasa sendiri.Hantu yang mengancam kepentingan atau kemapanan mereka sendiri, sudah tentu!

KIRANYA perlu dipahami beberapa hal. Bahwa pengutaraanku mengenai kelemahan di bidang teori dan ideologi bahkan di kalangan kaum komunis sendiri; pun perihal kekurang-tahuan atau malah tak mengerti apa-apa akan teori-ideologi Komunisme di kalangan masyarakat itu, bukanlah untuk memandang rendah pihak yang jadi korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan kekuasaan OrBa. Aku hanya ingin menggarisbawahi opini Pramoedya, bahwa untuk memahami isme macam Komunisme itu tidak gampang segampang uang dibayangkan orang. Untuk itu diperlukan pengetahuan umum tertentu, termasuk yang bersifat kesejarahan. Diperlukan kemauan yang keras untuk menstudi literature yang cukup banyak jumlahnya. Diperlukan selain tenaga, juga waktu dan biaya. Belum lagi faktor penghalang dari kekuatan reaksioner anti-komunis ? baik pada zaman kolonial maupun sesudah diproklamirkannya kemerdekaan; baik dari lembaga resmi maupun non-resmi.
Selain soal kemiskinan pengetahuan maupun materi, juga faktor ruang dan waktu. Seperti pada masa perjuangan untuk perwujudan aspirasi revolusinya di bawah PBR/Pangti/Presiden Sukarno. Pasalnya yang jadi soal adalah tingkat kesulitan ekonomi yang luarbiasa, tingkat pendidikan yang masih rendah. Sementara kiprah berupa kerja kobar amat dituntut oleh situasi perpolitikan saat itu. Di mana rongrongan kaum reaksioner yang berkolaborasi dengan kekuatan nekolim begitu luar biasa. Terbukti dari terjadinya rangkaian peristiwa dari pergolakan kekerasan bersenjata di pusat maupun di daerah. Mulai dari awal tahun 50-an dengan Peristiwa Penodongan Meriam ke Istana Negara oleh kaum ?17 Oktobris? pimpinan Jenderal Nasution; Peristiwa Cikini (upaya pembunuhan Presiden Sukanro dengan pelemparan granat); pemberontakan Dewan Dewan Militer dan pemberontakan-pemberontakan DI/TII, PRRI dan PERMESTA yang kesemuanya didukung oleh kaum nekolim pimpinan kaum nekolim AS.
Oleh sebab itu, perhatian bukannya tertumpu pada upaya pengkajian teori dan ideologi, melainkan pada apa yang disebut masa itu ?kerja kobar? pengorganisasian dan mobilisasi massa rakyat untuk mendukung garis politik Bung Karno dalam perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan yang penuh dan menuju terciptanya masyarakat adil dan makmur. Atau yang disebut pula: terciptanya masyarakat sosialis ala Indonesia. Maka dari itu, ketika itu, dalam rangka memahami situasi dan kondisi masyarakat serta peta perpolitikan, orang lebih cenderung mengkaji pedato atau ajaran Bung Karno ? seperti Manipol-Usdek dan kitab Di Bawah Bendera Revolusi.
Maka dari itulah pula, dalam kaitannya dengan teori revolusioner, pada kenyataannya pengetahuan orang baru pada taraf pengetahuan yang sepotong-sepotong belaka. Begitu juga dalam soal teori yang lebih khusus, seperti soal estetika dan aliran yang ramai dihebohkan ? seperti antara lain soal konsepsi ?realisme sosialis? dengan ragam macam versinya. Jika ditinjau sampai pada medio 60-an, taraf pengertian untuk semua itu kiranya bisa dikatakan masih sangat centang perenang. Kalau tidak mau dikatakan kebanyakan orang hanya ikut-ikutan saja. Tercermin dalam forum-forum diskusi teori, kebanyakan perserta ?lazim?nya bilang: ?Saya sih setuju saja dengan uraian Bung Anu atau Zus Ani….? Semata-mata lantaran tidak bisa mengajukan opini secara kritis, lantaran keterbatasan pengetahuan atau kelang kaan referensi yang diperlukan.
Namun demikian, dalam aktivitas-kreativitas kebudayaan, dalam kerja kobar, pun termasuk manifestasi aksi menerapkan garis politik Bung Karno ? seperti perjuangan penumpasan pemberontakan reaksioner dan provokasi kaum nekolim Inggris dengan proyek Malaysianya serta perjuangan Pembebasan Irian Barat, kami merasa cukup bangga bisa turut aktip ambil bagian. Seperti yang dicontohkan oleh Pramoedya Ananta Toer sendiri. Selain oleh para pekerja kebudayaan rakyat lainnya, para seniman, pengarang atau penyair. Seperti Sibarani, Bandaharo, Zubir AA dan Agam Wispi.
Dari cerpenis Zubir AA sang penulis-jurnalis asal Medan dan mati di balik trali besi rezim militer fasis Orba, kita bisa simak percikan api perjuangan melawan pemberontakan kaum reaksioner dalam buku kumpulan cerpennya ?Berpacu Matahari?, yang rencana kulitmukanya aku yang bikin. Sedangkan dari Agam Wispi sang Kolonel Angkatan Laut Republik Indonesia itu, ada dua buah sajaknya yang cukup menarik, yang saya edit untuk Majalah Kreasi N° 9 1991, masing-masing berjudul Tinoor (baca: Tino?or) dan Pertemuan Di Danau.

Tinoor

Oleh: Agam Wispi

para lelaki sudah pergi
atau mati
yang kembali ketinggalan hati
di tanah seberang di kota ramai
pulangnya tak berarti

kami yang meromok tinggal di sini
tak lagi bisa bersedih
dulu dari jaman kompeni
para lelaki sudah pergi
atau mati

maka minumlah saguar, abang
selagi singgah di sini dan gunung akan didaki
pandanglah lembah menjemput lautan
sebelum Menado ditinggalkan, mari bersenang
mari bersenang ? walau dilupakan

(Tondano, 8 April 1964)

Pertemuan Di Danau

Oleh : Agam Wispi

danau putih
sajakpun putih
di Toba tenggelam sepenggal kasih

sampan telungkup
aku berenang megap-megap
ke tepi
tapi menang apalah arti
kalau indah hanya seperti buih

acap mesiu mengantarku ke danau Maninjau
dan kenangan melayah ke duniaku yang hijau
sungguh, danau tiada lagi putih seremaja dahulu
dan kebahagiaan hanya tergenggam bagi yang tahu

jip mendaki dan menyusur danau Sentani
Kota Baru meraih jauh, kami berlari-lari
betapapun becermin rimbun daun dan akar berjuntai
kemenangan yang remaja, padamu juga hari-tua melambai

sampai aku di danau paling utara
Tondano, dukamu tak bisa kulupa
para lelaki tak pulang, entah mengapa aku terkenang
pahlawan kebahagiaan mati di tanah buangan: Ali Archam

dan di sini, diantar perjuangan yang pedih
danau Batur, kubu dari lahar dan abu menyembur
para turis kagum berpura sedih
tapi rakyat itu dengan tangannya yang perkasa
jalan bergandengan dan berjanji
meski mengantar mayat ke kubur

(Kintamani, 26 April 1964)

Iya. Memang iya. Aku bukan saja tidak malu menjadi anggota Lembaga Sastra Indonesia (Lekra), melainkan juga merasa bangga. Karena betah mendapat apresiasi selayaknya dalam aktivitas-kreativitas tulis-menulis dan publisis, juga berada di dalam barisan para pekerja kebudayaan rakyat yang setengah juta jumlahnya tersebar di seluruh Indonesia; bangga berada di barisan panjang para seniman dan sastrawan serta penyair yang berpihak. Memihak perjuangan untuk mewujudkan Kemerdekaan yang penuh dan turut serta melakukan pembinaan Bangsa yang Modern.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di newsgroups: gmane.culture.media.mediacare, 3 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s