GERAKAN SASTRA KAMPUS DI CIREBON


Edeng Syamsul Ma’arif
Cerpenis, Anggota Peneliti pada Center for Empowering Society and Cultural Studies Cirebon

Sastra, sepanjang sejarah sastra di Cirebon, tidak dilahirkan dari dunia kampus. Fakultas sastra, meski sebenarnya hanya ada satu kampus berisi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dengan jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia serta pendidikan bahasa dan sastra Inggris, menjadi pangkal persoalan. Fakultas ini tidak mampu melahirkan mahasiswa yang memiliki gagasan cemerlang dan serius untuk mengurusi persoalan kebudayaan di tingkat lokal sekalipun.

Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi terhadap persoalan yang mendera sastra kampus di Cirebon, ada beberapa soal yang dapat dikemukakan sebagai identifikasi dan menjadi perbincangan bersama.

Pertama, dunia sastra oleh mahasiswa, pengajar sastra, dan peminat sastra dalam kampus belum dipahami dan diyakini sebagai kebutuhan penting masing-masing pribadi. Tidak ada kesadaran bahwa sastra adalah aktivitas individual yang harus diimplementasikan di hadapan publik. Sastra masih dipahami sebatas teori dan tidak berupaya membuka ruang gerak sosialisasi lebih lebar. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya kelompok dan pertemuan sastra secara simultan yang tumbuh dari kampus.

Aktivitas sastra baru ditunjukkan oleh momen kepanitiaan tertentu, semacam lomba baca puisi, cerita pendek, monolog, atau sarasehan sastra. Adapun aktivitas yang lebih intensif, seperti diskusi berkala untuk menggagas, memperbincangkan karya tertentu, atau melahirkan ide-ide, tidak pernah terjadi. Karena itu, upaya sosialisasi sastra dipahami sebatas perayaan yang bersifat seremonial dan tidak menyentuh persoalan paling mendasar, yaitu penguatan individu dan pembelajaran terhadap publik.

Sastra, seperti dikatakan Budi Darma, telanjur dianggap sepotong dunia yang tidak berintegrasi dengan realitas. Sastra adalah sastra, teori sastra adalah teori sastra, sejarah sastra adalah sejarah sastra, dan sastra perbandingan adalah sastra perbandingan. Kita sering lupa bahwa dari segi apa pun kita melihatnya, tidak lain sastra adalah abstraksi kehidupan (Harmonium, 1995:146).

Melahirkan karya sastra adalah kreativitas mentransformasikan kehidupan. Maka, profesionalisme kepengarangan bersifat terbuka. Prasyarat untuk menjadi pengarang adalah kemampuan untuk menghayati realitas. Dengan demikian, siapa pun, tanpa terikat pangkat, jabatan, dan pendidikan, dapat menjadi pengarang, penyair, dan dramawan. Bohemian Chairil Anwar, dokter hewan Taufik Ismail, dan doktor sastra Sapardi Djoko Damono dapat menjadi penyair. Arsitek merangkap pastor YB Mangunwijaya dan sarjana hukum Putu Wijaya juga sama-sama dapat menjadi pengarang. Dramawan juga demikian. Peran media massa

Kedua, kapabilitas pengajar sastra di kampus di Cirebon sangat pantas dipertanyakan. Seberapa jauh kemampuan dosen menguasai teori sastra? Bagaimana konstruksi pikirnya tentang sastra? Empiriknya? Apakah mereka hanya menyampaikan setumpuk teori untuk dibaca dan dicerna para mahasiswa? Setelah itu, mereka merasa tugasnya selesai ketika keluar dari ruang mengajar tanpa memiliki beban melahirkan ide-ide untuk mengaplikasikan teori itu?
Apakah setumpuk teori tersebut menjadi materi yang tepat dan benar-benar dibutuhkan mahasiswa dan realitas sosialnya? Jika demikian adanya, bukankah teori-teori tersebut dapat dengan mudah digantikan oleh kaset berisi monolog tentang teori sastra untuk diperdengarkan di depan kelas?

Sastra tidak cukup diajarkan, lebih-lebih dengan memutar kaset berisi setumpuk teori di ruang kelas. Ia juga harus dilakukan dan digerakkan, baik secara pribadi, kelompok, maupun melibatkan masyarakat luas. Jika pengajar sastra berpikir bahwa dirinya hanya bertugas menyampaikan teori, sebenarnya ia sedang melakukan pembunuhan karakter terhadap sastra.

Ketiga, media massa di Cirebon sesungguhnya cukup akomodatif terhadap aktivitas sastra. Hal itu dibuktikan dengan disediakannya lembar khusus untuk tema kebudayaan (puisi, cerpen, dan esai). Namun, tidak dapat dimungkiri, ruang yang disediakan sampai hari ini belum digarap serius oleh pengelolanya. Ditambah, lembaga media massa itu tidak memberikan penghargaan yang cukup layak bagi para penulis. Apa yang hendak kita bayangkan jika sebuah tulisan yang dimuat di media massa Cirebon, baik esai, puisi, maupun cerpen, paling tinggi dihargai Rp 50.000?

Tanpa bermaksud mengedepankan kalkulasi untung rugi, besaran penghargaan tersebut sangat memprihatinkan, bahkan tidak masuk akal. Dengan kata lain, media massa di Cirebon tidak dapat menghargai intelektualitas secara proporsional. Padahal, jika melihat kemajuan manajemen yang begitu pesat, sesungguhnya media massa di Cirebon sangat mampu memberikan penghargaan yang layak. Akibatnya, tulisan-tulisan yang dimuat pun -mungkin karena rendahnya penghargaan atau kapabilitas penulisnya yang tidak berkelas- tidak menunjukkan kualitas baik. Koleksi buku sastra

Hal lain yang cukup mengerikan, kampus-kampus di Cirebon hampir tidak memiliki koleksi buku sebagai pembanding perpustakaan internal untuk memperkaya khazanah keilmuan, terutama koleksi buku-buku sastra. Padahal, kemungkinan untuk menjalin kerja sama dengan penerbit sangat terbuka. Persentase kelulusan pada akhirnya tidak berbanding lurus dengan bobot keilmuan yang didapat.

Keempat, harus ada kesadaran masyarakat kampus yang ditumbuhkan secara tegas untuk membuka ruang lain sebagai bentuk akomodasi sastra secara serius. Kantong-kantong kebudayaan dalam berbagai bentuk, semacam klub diskusi dan komunitas sastra, menjadi kebutuhan mendesak untuk ditumbuhkan. Meski hampir setiap kampus di Cirebon memiliki komunitas seni, seperti teater, tari, ataupun musik, mereka tidak tergerak untuk mengarahkan niatnya menggeluti sastra.

Sastra masih menjadi sesuatu yang eksklusif, bahkan dijauhi oleh masyarakatnya sendiri. Komunitas teater di Cirebon, misalnya, tidak pernah membuka ruang secara sungguh-sungguh bagi sastra untuk berkembang. Ini dibuktikan dengan tidak adanya divisi sastra di setiap kelompok teater di Cirebon. Tak seorang penulis pun, ternyata, dilahirkan dari komunitas-komunitas itu. Aktivitas sastra yang berlangsung saat ini masih bersifat sempalan individu yang merasa gagasannya tentang sastra tidak diakomodasi kelompoknya. Atau, lebih parah, para penggagas atau pendiri kelompok itu tidak pernah mengagendakan sastra sebagai bagian dari aktivitas mereka.

Pada akhirnya semua itu harus dikembalikan pada motivasi masyarakat kampus yang bersangkutan. Apakah mereka dapat mengambil contoh aktivitas sastra yang berlangsung pada masyarakat kampus lain di luar Cirebon atau hendak memimpikan sastra tumbuh dan berkembang oleh desakan mukjizat dari langit?

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas (Jakarta), 27 Desember 2008.

2 responses to “GERAKAN SASTRA KAMPUS DI CIREBON

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s