BERZIARAH KE TAMAN PARA PENULIS


Dari Workshop Arab Melayu dan Filologi Budpar Riau

Pada mulanya, Pulau Penyengat Indra Sakti merupakan mas kawin atau mahar Sultan Mahmud Syah (Raja Riau-Lingga) kepada permaisurinya Engku Putri atau Raja Hamidah sekitar 1801-1802. Di pulau bersejarah yang dikenal dengan taman para penulis/taman para intelektual inilah pula pengarang Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji melahirkan karya-karyanya.

Pulau Penyengat atau Taman Para Penulis ini terletak di sebelah barat Kota Tanjungpinang-Kepulauan Riau (Kepri). Jaraknya, lebih kurang 1,50 Km dari Kota Tanjungpinang atau bisa ditempuh dengan menggunakan jasa pompong selama 20 menit saja. Luasnya hanya berkisar 3,50 Km dengan wilayah berbukit-bukit. Di zaman pemerintah Sultan Mahmud Syah (1761-1812 M), pulau itu dijadikan sebagai mahar untuk meminang Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah (1801 M).

Kenapa pulau kecil milik Raja Hamidah tersebut sebagai pulau bersejarah dan dikenal dengan nama taman para penulis? Karena di sanalah aktivitas Kerajaan Riau-Lingga berlangsung dan di sana pula para penulis-penulis ternama menghasilkan karya-karyanya. Selain meninggalkan banyak sekali situs-situs sejarah, di pulau itu juga naskah-naskah kuno masih terpelihara dengan baik dan awet hingga hari ini.

Atas dasar yang kuat itulah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau mengajak seluruh peserta Workshop Arab Melayu dan Filologi, 22-25 November lalu melakukan ziarah dengan maksud dapat menyaksikan langsung peninggalan bersejarah. Jumlah peserta workshop berkisar 100 orang dan terdiri dari para pendidik dari tingkat Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA/SMK mata pelajaran Arab Melayu. Selain itu, ikut serta pula utusan Dewan Kesenian Riau (DKR), Dewan Kesenian Daerah (DKD) se-Riau dan beberapa mahasiswa Universitas Riau (Unri).

Tujuan helat yang diberi nama Penyelenggaraan Sosialisasi Pengelolaan Kekayaan Budaya Lokal Daerah atau Workhsop Arab Melayu dan Filologi tersebut adalah untuk memberikan bimbingan dan pemahaman tentang penggunaan Arab Melayu yang baik dan benar. Selain itu, memberikan pelatihan dalam penulisan Arab Melayu yang sesuai dengan kaidah baku dan benar serta memberikan bimbingan dalam menerjemahkan naskah-naskah lama yang bertuliskan Arab Melayu melalui pendekatan filologi.

“Dalam workshop ini juga kita melibatkan pakar filologi, sastrawan dan budayawan seperti Al Azhar dan sebagainya. Sebenarnya, workshop ini kita laksanakan di dua tempat berbeda yakni Pekanbaru-Riau (19-21 November) dan Pulau Penyengat-Kepri (22-25 November). Paling tidak, kita sudah memberikan pembekalan dalam pemahaman dan penerjemahan naskah-naskah beraksara Arab Melayu kepada para pendidik untuk diturunkan kepada peserta didik. Apalagi dalam naskah-naskah itu banyak sekali terdapat pengetahuan tentang sejarah, bahasa dan lainnya,” ulas Ketua Workshop Arab Melayu dan Filologi Yoserizal Zein kepada Riau Pos yang kebetulan ikut menyertai rombongan.

Pulau Penyengat Selayang Pandang

Orang Belanda di masa penjajahan menyebut Pulau Penyengat dengan nama Writing Garden (Taman Penulis) atau Taman Para Penulis. Pulau ini adalah milik resmi Engku Putri (Raja Hamidah) putri dari Raja Syahid Fisabulillah Marhum Teluk Ketapang (Raja Haji Fisabilillah) – Yang Dipertuan Muda Riau IV – yang sangat ditakuti penjajah. Sebagai putri tokoh ternama, Engku Putri juga memiliki peranan besar dalam pemerintahan kerajaan Riau. Sebab selain memegang regalia (alat-alat kebesaran kerajaan) beliau juga permaisuri Sultan Mahmud serta tangan kanan Raja Jaafar – Yang Dipertuan Muda Riau VI.

“Orang Belanda masa itu menjuluki pulau ini sebagai Writing Garden atau Taman Para Penulis. Sejak abad 18 M, negeri ini sudah kaya dengan karya tulis, apalagi abad 19 M karenanya pulau ini tertuang dalam karya RAH berjudul Bustan Al Katibin (taman para penulis),” ungkap Budayawan Riau Al Azhar kepada Riau Pos.

Sebagai pemegang regalia kerajaan, Engku Putri sangatlah menentukan dalam penabalan sultan, karena penabalan itu harus dengan regalia kerajaan. Engku putri pernah pula melakukan perjalanan ke beberapa daerah lain seperti ke Sukadana, Mempawah dan lain-lain hanya untuk mempererat tali persaudaraan antara kerajaan Riau dengan kerajaan yang dikunjunginya. Tokoh ternama dari kerajaan Riau ini mangkat di Pulau Penyengat Juli 1884.

Menurut cerita, pulau kecil di Kepulauan Riau ini sudah dikenal para pelaut sejak berabad-abad lalu. Pulau itu menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang menyediakan cukup banyak. Menurut legenda, nama “penyengat” sendiri diawali kepada pulau ini, karena suatu ketika para pelaut yang sedang mengambil air bersih di tempat tersebut diserang semacam lebah (insect) yang disebut “penyengat” hingga menimbulkan korban. Sejak peristiwa itu pulau tersebut terkenal di kalangan pelaut dan nelayan dengan sebutan Pulau Penyengat. Barulah pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di sana, pulau itu diresmikan dengan nama Pulau Penyengat Indera Sakti.

Letaknya yang sangat strategis bagi pertahanan negeri Riau yang berpusat di Ulu Sungai Riau (Riau lama). Pada abad-abad yang lalu Pulau Penyengat berkali-kali dijadikan sebagai medan pertempuran (Perang Sultan Sulaiman – Raja Kecil Siak). Bahkan tatkala terjadi perang Riau dengan Belanda (1782-1784), Pulau penyengat dijadikan pusat pertahanan utama. Benteng-benteng dengan sistem pertahanan bergaya Portugis dibangun di Pulau itu yang sisa-sisanya masih dapat dilihat hingga sekarang.

Pada 1803 Pulau Penyengat ditata dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan selanjutnya dijadikan tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga. Sementara sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada 1900 Sultan Riau-Lingga barulah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam, dan kebudayaan Melayu.

Di Pulau Penyengat terdapat banyak peninggalan Kerajaan Melayu Riau-Lingga dari makam Raja Ali Haji (RAH) Pujangga Melayu Riau yang terkenal dengan Gurindamnya, makam Raja Jaafar, dan lain-lain. Di dalam Masjid Raya Pulau Penyengat yang dibangun 1882, juga masih terdapat beberapa koleksi peninggalan sejarah seperti kitab suci Alquran yang ditulis tangan dan mimbar antik penuh ukiran. Pulau Penyengat juga memiliki pemandangan alam yang indah, baik di pantai maupun di bukit-bukitnya. Bila berkunjung ke pulau ini, langsung bisa menyaksikan perkampungan tradisional penduduk, balai adat, dan atraksi kesenian.

Sedikitnya, terdapat belasan situs sejarah seperti masjid Penyengat (Masjid Raya Sultan Siak), istana kantor, komplek makam Engku Hamidah, makam Raja Haji Fisabilillah, bekas percetakan percetakan Rusdiyah Klub, bekas gedung tabib, benteng bukit penggawa, pelabuhan satu dan dua, bekas rumah hakim, sumur putri, gedung mesiu, komplek makam Raja Jaafaar, bekas istana kedaton, benteng bukit kursi, benteng Tanjung Nibung dan balai adat.

Raja Malik, anak kandung salah seorang pewaris pulau itu Hamzah Yunus, yang juga abang kandung Sastrawan kenamaan Riau Hasan Junus menjelaskan, dari pulau inilah segala aktivitas intelektual dimulai. Tradisi tulis-menulis yang diawali usai kekalahan Riau pada perang 1782-1784 menjadi senjata untuk menyatakan perlawanan. Sejak saat itu, perlawanan senjata berganti dengan perlawanan dengan menajamkan mata pena.

Saat Belanda ingin membahasa Belanda-kan pulau ini, Raja Ali Haji (RAH) menjawabnya untuk memperkuat bahasa Melayu dengan karyanya Bustam Al-Katibin, ”Kaidah Tata Bahasa, Kitab Pengetahuan Bahasa dan Kamus Perbendaharaan Bahasa”. Bahkan pandangannya terhadap praktik politik yang buruk dari bangsa Belanda dan lainnya, RAH menuangkan dalam karyanya yang berjudul ”Samaratul Muhimah atau Etika Politik Orang Melayu” dan masih banyak lainnya.

“Kegiatan paling menonjol di pulau ini pada masa Riau-Lingga adalah aktivitas tulis-menulis. Bahkan peninggalan berharga yang masih sempat kami selamatkan adalah naskah-naskah sebab saat Sultan tidak sepaham dengan Belanda yang melakukan tekanan berat di masa itu, dengan berat hati mengajak rakyatnya meninggalkan Pulau Penyengat ini. Kemudian, penduduk kampung menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah seperti yang bisa disaksikan langsung di pulau ini,” kata Raja Malik menuturkan.

Peserta Antusias Ikuti Workshop

Peserta workshop cukup antusias saat mengikuti berbagai rangkaian acara yang dilaksanakan di pulau tersebut. Secara bersama-sama, mereka juga terlibat dalam diskusi dengan penduduk pulau, pemuka masyarakat, pembimbing yang setia menemani mereka sejak di Pekanbaru hingga ke Pulau Penyengat. Ziarah ke pulau sejarah, Taman Para Penulis tersebut membuat mereka semakin memahami bahwa di masa lalu Riau jauh lebih maju dalam hal tulis-menulis atau aktivitas intelektual. Lebih menakjubkan mereka, bahwa tradisi itu justru lahir di sebuah pulau yang bernama Pulau Penyengat.

Guru asal Dumai Lina mengatakan, dia dan peserta lain merasa sangat beruntung bisa ikut serta dalam perjalanan ke Pulau Penyengat tersebut. Pasalnya, Lina sendiri selama ini hanya mengetahui pulau bersejarah itu dari buku-buku dan cerita dari mulut ke mulut saja. Tapi setelah menyaksikan langsung, dia sangat takjub dan ingin berlama-lama di pulau itu untuk menggali berbagai pengetahuan, terutama tentulah naskah-naskah asli para penulis terbaik Riau.

“Pulau ini seakan memberikan pencerahan kepada saya dan rekan-rekan seprofesi lainnya. Kenapa tidak, pulau kecil ini ternyata menyimpan kekayaan intelektual yang berlimpah dan perlu terus dilestarikan bersama. Saya berjanji akan memberikan pengalaman serta ilmu ini kepada anak didik saya agar mereka memahami bahwa Riau pernah mencapai kejayaan di masa lalunya dan berharap mereka (peserta didik) nantinya mampu mengembalikan masa itu,” ulas perempuan berjilbab itu panjang lebar dalam mengutarakan rasa takjubnya kepada pulau tersebut.

Sementara itu Kepala Sekolah SDN 004 Limapuluh Pekanbaru Yunizar SPd menuturkan, penjelasan dan pengarahan yang didapat selama workshop sangat berharga sekali. Kenapa tidak, selama ini para pendidik tidak banyak dan terlalu minim pengetahuan terhadap kebudayaan Melayu. Bahkan mereka hanya tahu bahwa bahasa Indonesia dari bahasa Melayu Riau tapi tidak jelas asal dan perjalanan sejarahnya. Apalagi mereka kerap dihantui keraguan sebab bahasa Melayu yang mereka ketahui sangat beragam di setiap daerah baik di Riau maupun Kepulauan Riau.

Ziarah ke pulau bersejarah itu menjadi momen paling penting baginya dalam upaya menggali lebih jauh lagi tentang kejayaan masa lalu Riau untuk dikembangkan di kemudian hari, melalui peserta didik saat ini. Bayangkan saja, katanya, satu orang guru bisa mengajarkan pengetahuan ini kepada 400 siswa di sekolah dan peserta workshop berjumlah 100 orang. Nah berapa anak yang akan mengetahui tentang keunggulan Melayu di masa lalunya.

“Kita memang menyelami masa lalu. Tapi bukan berarti kita larut dalam kejayaan masa lalu melainkan menjadikannya motivasi untuk mengembangkan kebudayaan di masa mendatang. Kesadaran seperti ini perlu terus ditanamkan kepada peserta didik sehingga mereka memiliki bekal yang bisa diandalkan,” akunya penuh semangat yang diamini Guru SMAN 1 Rengat (Inhu) Dona Romadhona.

Di sana, peserta workshop juga mendengarkan membacaan ”Gurindam 12” yang dilantunkan dengan merdu. Sehingga pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang didapatkan para peserta sangat-sangat membantu mereka dalam memberikan pelajaran di muka kelas. Tidak terbayangkan, jika semakin banyak anak-anak muda yang kelak akan dewasa bangga pada dirinya sebagai orang Melayu. (Fedli Azis)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Riau Pos (Pekanbaru), 6 Desember 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s