PENGGANTI KANG AJIP


Iman Budhi Santosa

SEBAGAI orang yang ikut kemringet nguri-uri kesusastraan dan kebudayaan Jawa, saya benar-benar tidak mudheng. Mengapa gagasan memberi anugerah sastra Jawa selama ini tidak mrenthul dari kalangan orang Jawa, melainkan digagas dan direalisasikan oleh seorang Ajip Rosidi, orang Sunda yang menggeluti sastra dwibahasa (Sunda dan Indonesia) melalui anugerah Rancage. Memang, semula Hadiah Rancage hanya bagi sastra Sunda, namun akhirnya toh meluas juga, menyantuni sastra Jawa dan Bali, bahkan Lampung.

Sejumlah sastrawan Jawa yang menerima Rancage, misalnya: FC Pamudji (Sumpahmu Sumpahku/novel/1994), Muryalelana (1995), Satim Kadaryono (Timbreng/novel/1996), Djaimin K (Siter Gadhing/geguritan/1997), Esmiet (Nalika Langite Obah/novel/1998), Suharmono Kasiyun (Pupus kang Pepes/novel/1999), Widodo Basuki (Layang saka Paran/geguritan/2000), Djayus Pete (Kreteg Emas Jurang Gupit/cerkak/2001), Moh Nusyahid P (2003), dan lain-lain.

Setuju tidak setuju terhadap Rancage, berhasil tidak ia mendongkrak dinamika dan prestasi sastra Jawa, tak perlu dipergunjingkan benar. Yang benar-benar mendesak dipikirkan adalah bagaimana jika Kang Ajip lelah dan berhenti ‘’ngopeni’’ sastra daerah (termasuk sastra Jawa)? Adakah komunitas sastra atau yayasan kebudayaan Jawa mau mengambil alih peran Kang Ajip? Adakah sosok dermawan di Jawa yang enteng ‘’menyedekahkan’’ sebagian harta demi melestarikan dan mendorong gerak dinamika serta prestasi sastra Jawa ke depan?

Kepada Kang Ajip, seluruh komunitas sastra Jawa patut angkat topi. Patut mengucapkan sembah nuwun sampai ke hati kepada pencipta puisi ‘’Jante Arkidam’’ ini. Apa pun namanya, seberapa besar pun maknanya, Rancage telah tercatat dan terpateri dalam sejarah sastra dan kebudayaan Jawa. Nyaris tanpa pamrih Kang Ajip telah nyengkuyung kemunculan prestasi para sastrawan Jawa, dan rela memberikan bebungah kepada mereka yang terpilih. Atau dengan kata lain, Ajip telah berhasil menjadi ‘’bapak angkat’’ yang baik, dengan menyantuni keberlangsungan hidup sastra dan sastrawan Jawa secara nyata.

Hanya, kalau dilaras, digelar digulung, Rancage yang dimotori Ajip Rosidi ini, nuwun sewu, punya sisi ‘’negatif’’ juga. Antara lain, masyarakat sastra dan kebudayaan Jawa jadi setengah bergantung kepadanya. Buktinya, sampai kini belum juga muncul seorang martir yang mencoba mengambil alih, atau meneruskan pengabdian Ajip Rosidi. Belum ada orang Jawa, atau instansi/lembaga di Jawa yang mau cucul dhuwit, memberikan hadiah secara rutin kepada para pejuang dan kreator sastra Jawa di tanah kelahirannya sendiri. Dalam arti, anugerah tersebut benar-benar berskala Jawa, meliputi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.

Sampai di sini, kita boleh saja ngumbar gagasan. Toh selama ini ketiga pemerintah provinsi yang membawahi wilayah kebudayaan Jawa (Jatim, Jateng, DIY) telah secara rutin urunan menyelenggarakan kongres bahasa dan kebudayaan Jawa; terakhir kali di Semarang. Tidak adakah greget bagi bagi para petinggi itu untuk coba mengangkat aspirasi sastra Jawa, kaitannya dengan anugerah tersebut? Di Jawa masih berkibar juga dua buah keraton (Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Solo) yang sedikit banyak masih memberikan tuah berkah pada kebudayaan Jawa. Tidak adakah grenjet dari kalangan njeron benteng itu untuk memacu prestasi sastra Jawa modern yang makin tintrim ini? Soalnya, dengan ada stimulasi ‘’kehormatan dan secuil materi’’ lewat anugerah macam Rancage, paling tidak semangat para sastrawan (mungkin) dapat diperpanjang hingga ke masa depan.

Kalau ditelisik, sesungguhnya banyak instansi/ lembaga/ sanggar/ media massa yang peduli menganugerahi prestasi sastra Jawa. Entah yang bernama Balai Penelitian Bahasa, Majalah Panyebar Semangat, sanggar Triwidha, Dewan Kesenian/Kebudayaan Provinsi maupun Kabupaten. Hanya, semua cenderung dilaksanakan secara insidental dan berkesan sangat lokal. Belum satu pun yang mencoba merengkuh karya dari seluruh kawasan yang memiliki identitas budaya Jawa; mulai Banyuwangi hingga Banyumas.

Sesulit apa pun pengumpulan karya sastra Jawa, seberat apa pun memberikan anugerah kepada kreator, agaknya bisa ditangani oleh komunitas orang Jawa sendiri. Menerbitkan karya-karya yang pernah memperoleh anugerah pun bukan masalah besar, asal saiyeg saeka kapti melaksanakan dengan sepenuh hati. Di sinilah agaknya ujian terberat bagi kalangan sastrawan Jawa. Walaupun karya mereka masih ada, satu dua koran majalah masih ada yang bersedia menyosialisasikan, tetapi untuk menghargai prestasi itu kita belum tergugah sama sekali. Sastra Jawa hanya akan jadi bahan penelitian di kampus-kampus jika hanya menunggu, tanpa diikuti menyingsingkan lengan baju.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka (Semarang), 16 Februari 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s