AKSI ENAM SASTRAWAN JABAR DI SALIHARA


Enam sastrawan tampil pada malam itu, mempunyai gaya dan karakter masing-masing, yang kelak akan berkembang lagi di masa mendatang. para sastrawan yang tampil tidak hanya dari kalangan kampus, dalam hal ini pernah mengenyam bangku kuliah hingga tamat, tetapi ada dari kalangan pesantren, dan dari kalangan komunitas sastra itu sendiri.

ENAM sastrawan dari Jawa Barat pada Kamis (25/3) lalu, mendapat kehormatan pertama untuk mengisi acara “Forum Sastra Indonesia Hari Ini,” yang digelar oleh Komunitas Salihara di Salihara Lounge, Jln. Salihara No. 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Keenam sastrawan tersebut adalah Ahmad Faisal Imron, Anton Kurnia, Dian Hartati, Fina Sato, Nazaruddin Azhar, dan Toni Lesmana. Penampilan mereka saat membacakan puisi dan cerita pendek yang ditulisnya, cukup berkesan. Mulai dari tema sosial hingga tema religius, dikomunikasikan dengan berbagai gaya pengucapan yang dikuasainya.

“Enam sastrawan yang tampil pada malam ini merupakan pengisi pertama dalam program yang telah kami rancang selama ini. Enam sastrawan tersebut merupakan hasil kurasi Hawe Setiawan, yang juga dikenal sebagai pengamat sastra dan budaya,” ujar penyair Nirwan Dewanto dari Komunitas Salihara, dalam sambutannya, yang pada malam itu mewakili novelis Ayu Utami tengah sakit tenggorokan. Ayu adalah penanggung jawab acara tersebut.

Selain menampilkan para sastrawan dari Jawa Barat, ujar Nirwan lebih lanjut, Komunitas Salihara pada bulan-bulan mendatang akan menampilkan para sastrawan dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan beberapa daerah lainnya, yang dipilih oleh para kurator dari daerahnya masing-masing ditunjuk atau dipercaya oleh Komunitas Salihara. Tujuan diselenggarakannya acara tersebut, tiada lain Komunitas Salihara ingin turut serta menumbuhkembangkan sastra Indonesia yang ditulis oleh para sastrawannya dari generasi terkini.

Dalam kesempatan yang sama, Hawe Setiawan mengatakan, pihaknya mengalami kesulitan untuk memilih sejumlah penyair dari Jawa Barat yang tampil di Komunitas Salihara, mengingat jatah yang diberikan pihak panitia penyelenggara hanya enam orang. “Amatan saya terhadap para sastrawan di atas, merupakan hasil dialog dengan banyak pihak, selain itu saya sendiri mengamati apa dan bagaimana kiprah masing-masing sastrawan dari Jawa Barat dalam memublikasikan karya-karyanya. Beberapa yang tampil pada malam ini, seperti penyair Toni Lesmana dan Nunu Nazaruddin Azhar tidak hanya menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, tetapi juga menulis karya sastra dalam bahasa Ibu, yang mempunyai reputasi tersendiri,” ujar Hawe Setiawan, yang pada malam itu selain jadi juru bicara, juga bertindak sebagai moderator.

Dalam pandangan Hawe, keenam sastrawan tampil pada malam itu, mempunyai gaya dan karakter masing-masing, yang kelak akan berkembang lagi di masa mendatang. Selain itu, para sastrawan yang tampil tidak hanya dari kalangan kampus, dalam hal ini pernah mengenyam bangku kuliah hingga tamat, tetapi ada dari kalangan pesantren, dan dari kalangan komunitas sastra itu sendiri tumbuh dan berkembang di luar kampus, termasuk di dalamnya tidak mengenyam pendidikan di bangku kuliah.

Kecenderungan puisi yang ditulis oleh para penyair di atas, kata Hawe lebih lanjut, mengambil pola naratif yang berpijak pada tradisi lirik, terutama dengan memperdengarkan suara dari orang pertama sebagai “aku lirik.” Selain itu, di sana-sini para penyair juga menyisipkan baris-baris yang menyerupai warisan puisi lama, dalam hal ini pantun, seperti sejumlah puisi Nunu Nazaruddin Azhar, atau memungut dan menyisipkan sebagai idiom sebagaimana yang tampak pada puisi Ahmad Faisal Imron, Fina Sato, Dian Hartati, dan Toni Lesmana.

“Selain itu, alusi terhadap sejarah dalam hal ini sejarah lokal, muncul pula dalam sejumlah puisi yang mereka tulis,” jelas Hawe, yang juga dikenal sebagai budayawan Sunda.

Menyinggung soal cerita pendek, yang dalam kesempatan kali ini menampilkan penulis cerita pendek Anton Kurnia, Hawe mengatakan bahwa apa yang ditulis oleh Anton mempunyai kedalaman dan kejernihan sekaligus dalam karya yang ditulisnya. Selain itu, Hawe mengatakan bahwa di Jawa Barat lebih banyak orang yang menulis puisi daripada cerita pendek. Untuk itu, dirinya merasa lebih sulit lagi dalam mencari para penulis cerita pendek yang baik, di banding dengan para penulis puisi yang baik, yang jumlahnya hampir menyebar di beberapa daerah di Jawa Barat, seperti di Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Subang, Cirebon, Kuningan, Cianjur, dan beberapa kota lainnya.

**

LEPAS dari persoalan di atas, acara baca puisi dan cerita pendek pada alam itu dimulai dengan tampilnya penyair Ahmad Faisal Imron, yang kemudian secara berturut-turut disusul oleh Anton Kurnia, Dian Hartati, Fina Sato, Nunu Nazaruddin Azhar, dan Toni Lesmana. Masing-masing penampil diberi jatah sepuluh menit. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan diskusi, yang berlangsung selama dua jam lebih.

Tumbuh dan berkembangnya dunia puisi di Jawa Barat, sebagaimana dikatakan Nunu pada kesempatan tersebut, tidak hanya digairahkan oleh media massa cetak lokal yang membuka rubrik seni dan budaya. Akan tetapi, juga dimeriahkan dengan bertumbuhannya komunitas-komunitas sastra, yang pada umumnya didirikan oleh mereka yang mencintai puisi. Dan beberapa di antara anggotanya ada juga yang mencintai cerita pendek.

“Di Tasikmalaya, penyair Acep Zamzam Noor dengan dukungan teman-temannya mendirikan Komunitas Sanggar Sastra Tasik (SST). Anggotanya datang dan pergi. Kami menjalani kehidupan berpuisi dengan cara yang santai, tetapi serius,” ujar Nunu menjelaskan.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ahmad Faisal Imron dari Pesantren Ma`had Baitul Arqom Al-Islami, Ciparay, Bandung. Menurut Ahmad, dirinya mendirikan Komunitas Malaikat, tidak hanya bergerak dalam penulisan karya sastra saja. Akan tetapi, bergerak dalam bidang seni rupa dan bahkan main musik rock. “Apa yang kami lakukan ini, tiada lain untuk membuat diri kami lebih mengerti lagi bagaimana memahami hidup dan kehidupan. Karya-karya sastra yang kami tulis, mempunyai tema yang luas, tidak hanya soal keagamaan,” ujar Ahmad Faisal Imron, yang juga dikenal sebagai Ketua Komunitas Malaikat. Di antara sekian komunitas sastra yang tumbuh di Jawa Barat, boleh jadi Komunitas Malaikat merupakan satu-satunya komunitas seni dan budaya yang sebagian besar para anggotanya adalah penghapal Alquran.

Dalam forum tersebut terungkap pula bahwa mereka yang mengembangkan dirinya di komunitas-komunitas sastra itu, dalam belajar menulis puisi dilakukan secara otodidak, yang kemudian diperkuat dengan diskusi antarteman. Selain itu, mereka tiada lelah pula mencari kliping koran yang ada tulisannya tentang puisi. Selain itu, mereka juga membaca sejumlah kumpulan puisi dari yang dipublikasikan oleh para seniornya.

Tidak semua orang yang tergabung dalam komunitas itu, sebagaimana dikatakan Nunu dan Ahmad jadi sastrawan. Ada juga di antara mereka yang pada akhirnya jadi pembaca karya sastra. “Jadi, tidak semua orang harus jadi sastrawan. Mereka yang jadi pembaca karya sastra pun cukup membuat kami bangga,” kata Nunu menjelaskan.

Paling tidak, tampilnya enam penyair dari Jawa Barat di Komunitas Salihara, cukup disambut dengan baik oleh publik sastra di Jakarta. Selain itu, ini juga merupakan satu bukti bahwa para penulis yang tumbuh di Jawa Barat, terus bersambungan dari generasi ke generasinya. (Soni Farid Maulana)

Tulisan ini dikutip dari Harian Pikiran Rakyat (Bandung), Rabu, 31 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s