BERHIMPUN DEMI BACAAN ANAK


Anda ingin bisa atau hobi menulis cerita anak? Komunitas penulis bacaan anak (PBA) mungkin bisa menjadi wadah berkumpul dengan teman seminat untuk saling belajar. “Sejak 10 April 2003 kami berhimpun,” jelas Ali Muakhir, salah satu pendiri PBA.

Komunitas PBA mencoba menghadirkan bacaan anak yang berkualitas. Untuk itu, mereka rajin melakukan kaderisasi penulis baru. “Saya tak merasa tersaingi, justru bangga jika ada member yang berhasil membuat buku bagus,” komentar Ryu Tri yang bergabung di PBA sejak tiga tahun silam.

Pengkaderan itu dilakukan di milis, dan juga saat kopi darat. Siapapun yang serius berupaya niscaya dapat memanfaatkan seluruh materi yang dibeberkan para senior perbukuan cerita anak. “Beberapa anggota pasif malah pernah mengabarkan berhasil menerbitkan buku hanya dengan menyimak tips yang bertebaran di milis penulisbacaana-nak@yahoogroups.com,” paparnya.

Sejak tahun lalu, komunitas PBA mulai aktif kopi darat. Mereka berkumpul dua kali sepanjang tahun 2009 untuk membekali sesama anggota. “Buku anak itu sangat sensitif jadi penulisnya tak boleh sembarangan menerbitkan naskah-nya,” urai Ali, peraih rekor MURI sebagai penulis buku anak paling produktif.

Saling berbagi Tujuan yang benar, lanjut Ali, tak akan tercapai jika cara penulisannya tidak betul. Untuk itulah komunitas PBA saling berbagi pengalaman. “Milis kami beranggotakan calon penulis, calon ilustrator, dan penerbit,” katanya.

Tak heran jika milis ini disesaki lebih dari 1000 anggota. Mereka disodori per-
mintaan naskah datang silih berganti menempel di papan pengumuman milis. “Jadi, milis bukan hanya tempat untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga sumber informasi penerbitan buku,” imbuh Iwok Abqari, penulis Sepeda Ontel Kinanti dan Misteri Lemari Terkunci.

Iwok sudah menulis lebih dari 20 buku anak dan remaja. Ia merasa makin produktif setelah bergabung dengan komunitas PBA dua tahun silam. “Tahun 2010 ini, paling cepat Maret, kami akan adakan pertemuan besar-besaran sekaligus memecut produktivitas anggota agar bisa ikut dalam launching bersama 1000 judul buku,” kata Ali.

Seberapa besar sebetulnya pasar buku anak? Aji mengatakan 60 persen omzet pameran disumbang oleh buku bacaan anak. “Orang tua biasanya mendulukan bacaan anak ketimbang untuk dirinya dan akan selalu ada orang tua baru yang mencarikan buku untuk bacaan anaknya,” Ali memberi alasan.

Menjadi penengah

Komunitas PBA berawal dari milis penulisbacaananak@yahoogroups.com. Ali Muakhir dan Benny Rhamdani merupakan para pendirinya. Membernya berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan juga dari luar negeri. “Antusiasme anggota tampak di pertemuan perdana di Bandung pada April 2009 dan helatan kedua di Jakarta bulan September 2009,” kata Ali.

Komunitas PBA ada bukan saja untuk mewadahi anggotanya. Mereka berhimpun juga demi melindungi pembaca cilik. “Kami pernah mengimbau beberapa penerbit lantaran buku-bukunya kami dapati membuat bingung anak,” ucap Ali.

Di antaranya merupakan buku kisah-
kisah nabi. Salah satu penerbit mencoba menggambarkan sosok nabi dengan wujud manusia yang putih bercahaya. “Anak-anak justru takut melihatnya, mengira itu setan,” kata penulis buku bacaan anak yang mendirikan konsultan penerbitan, Line Publishing.

Di buku lain, nabi diceritakan menggembala domba. Di ilustrasinya tergambar kawanan domba namun ada satu domba yang berbeda warnanya. “Nah, anak-anak menyangka domba yang satu itu adalah nabi,” ungkap Ali yang juga koordinator PBA.

Kendati penulis buku tersebut bukan anggota milis penulis bacaan anak, komunitas tetap bergerak. Mereka meminta penerbit untuk menarik buku-buku tersebut dari pasar. “Kami bersyukur penerbitnya bisa memahami dan mengubah ilustrasi ceritanya,” ujar Ali lega.

Jembatan

Di samping itu, komunitas penulis bacaan anak berupaya menjembatani persoalan yang dihadapi anggotanya dengan penerbit. Beberapa waktu lalu, misalnya, enam anggota sekaligus nas-kahnya dimuat bersamaan di dua media yang berbeda. “Kami sarankan agar mereka mengambil honor di satu media saja dan tidak lagi mengirim naskah ke lebih dari satu media,” cetus Ali.

Langkah tersebut merupakan jurus paling aman menurut komunitas penulis bacaan anak. Sebab, pihak media terkadang tidak ketat memperhatikan prakondisi yang dicantumkan pengirim naskah. “Keenam anggota tadi mengirimkan naskahnya ke media lain setelah enam bulan tidak dimuat dan ternyata dimuat bersamaan,” papar Ali. (Reiny Dwinanda)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika (Jakarta), 2 Januari 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s