BERSASTRA TANPA KERUTKAN DAHI


Malam telah menunjukkan pukul 21.00. Dari tempat duduknya, di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Dharmadi menikmati pembacaan puisi Rukmi Wisnu Wardhani di panggung Sastra Reboan, sambil menghirup kopi panas. Di sekelilingnya para pencinta sastra juga sama santainya. Ada yang menulis SMS di handphone-nya, merokok, atau menikmati jajanan pasar yang terhidang di depannya.

Rukmi adalah penyair kawakan dari Purwokerto, Jawa Tengah, yang juga turut membacakan karyanya di acara yang diadakan oleh Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam). “Acara seperti ini harus lebih banyak diadakan. Di mana masyarakat mengenal sastra tanpa mengerutkan dahi atau memasang mimik serius. Ini bisa menjadi alternatif panggung sastra,” ujar lelaki setengah baya ini.

Dubes Hungaria, Mihaly Illes, pun menyaksikan Sastra Reboan pada 17 September 2008 hingga akhir acara. Dubes ini memang dikenal menyukai karya sastra Indonesia. Setiap hari Minggu, Mihaly tidak melewatkan tulisan cerpen di beberapa surat kabar nasional yg terbit di Jakarta.

Sastra Reboan yang digelar sejak 30 April 2008 memang telah menjadi alternatif tersendiri bagi para pencinta sastra dengan sajian acara yang santai tapi tetap denga koridor sastra. Biasanya di awal acara tampil grup musik membawakan lagu-lagu pop, baru muncul MC yang dibawakan oleh penyair Budhi Setyawan. Biasanya didampingi cewek yang berganti-ganti.

“Untuk menambah semangat, sekaligus biar lebih kenal sastra,” kata Budhi yang sehari-hari merupakan pegawai Departemen Keuangan itu. Tercatat yang pernah menjadi pendamping ini antara lain siswi SMA, mahasiswi, asisten dosen, wartawan, hingga pekerja kantoran.

Sastra Reboan memang diadakan untuk mengakrabkan masyarakat dengan sastra. Tak mengherankan jargon yang diusung juga sederhana “Banyak Pintu Menuju Sastra”, seperti ditulis di layar latar yang dipasang setiap Rabu di akhir bulan. Uluran tangan Wapres yang dikenal punya apresiasi tinggi terhadap seni dan budaya disambut hangat oleh penggagas Sastra Reboan, Johannes Sugianto.

Awalnya memang kesan gado-gado dengan suasana pasar malam menjadi sesuatu yang aneh bagi mereka yang terbiasa menyaksikan acara sastra di Taman Ismail Marzuki (TIM), Teater Utan Kayu (TUK), atau Bentara Budaya. Ada tampilan band dengan irama pop dan rock, etnik, teater, pembacaan puisi, monolog, dan diskusi seputar komunitas sastra. Bahkan buku sastra juga dijual di meja penerima tamu yang biasanya digawangi oleh Nina Yuliana dan Setio Bardono, dua penggiat Reboan yang setia menyambut pengunjung.“Syaratnya mudah saja, penulis buku harus hadir agar terjadi interaksi dengan pembaca,” ujar Setio yang juga penyair dan cerpenis.

Suasana guyub, santai tapi serius, bisa lalu lalang menghampiri teman yang lama tak bertemu atau bernarsis diri dengan berfoto rame-rame adalah hal yang sulit dijumpai di suatu acara dengan tajuk sastra. “Tapi suasana seperti ini memang asyik. Saya yang belum pernah melihat pembacaan puisi jadi lebih mengenal seperti apa sastra itu,” ucap Siska yang bekerja di sebuah kantor di bilangan Slipi.

Sedang bagi Aulya Elyasa, penulis naskah film, penulis novel Enthirea: Pertempuran Dua Dunia, acara ini sangat menarik. “Ajang relaksasi bagi seniman, baik itu sastrawan maupun pekerja seni lainnya untuk bisa melepas gairah dalam menikmati seni dan sastra. Pertunjukan yang ditampilkan cukup edukatif untuk perkembangan sastra. Acara Reboan selain menjadi ajang ‘unjuk gigi’ para seniman, juga bagus untuk merakyatkan sastra. Satra yang berat menjadi enak untuk dinikmati dengan kemasan dan racikan yang beda”.

Menurut Elyasa, yang sering datang bersama penulis muda lainnya, pemilhan hari Rabu merupakan hal yang berat bagi mereka yang bekerja, meski ini bisa dimaklumi karena tidak mudah mendapatkan hari lain yang lebih fleksibel, semisal Jumat malam. Hal lain yang perlu ditata adalah durasi yang kadang cukup lama karena keterlambatan atau padatnya pengisi acara.

Namun, meskipun disajikan dengan ringan dan jauh dari formal, Sastra Reboan telah mampu menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang mencintai, bahkan belum mengenal sastra. Secara perlahan, acara demi acara terus ditata agar mengalir lancar, tidak terlalu padat dan enak dikunyah, tambah Dedy Tri Riyadi yang menjadi penanggung jawab acara. Karena itu, selain para ’pemula’, tampil juga para sastrawan atau seniman yang telah mempunyai jam terbang cukup tinggi seperti Akmal Nasery Basrah, Sihar Ramses Simatupang, Clara Sinta, Yonathan Raharjo, Hudan Hidayat, Akhmadun Yosi Henfanda, Dyah Hadaning, Anya Rompas, Heri Latief, Dharmadi, Mat Don, Rukmi Wisnu Wardhani, Yopi Umbara, Slamet Widodo, dan Kurnia Effendi.

Meski berlangsung tak lama, sekitar 20 menit, tapi bagi penulis seperti Doni Anggoro yang meluncurkan novelnya Chimera di Sastra Reboan, ‘panggung’ ini jelas bermanfaat sekali bagi para penulis, terutama yang ingin menjangkau langsung pembacanya. Di sini tak perlu keluar biaya, dan ini sangat berarti bagi mereka yang ingin launching tapi kurang modal. “Saya puas sekali bisa memperkenalkan Chimera lewat Sastra Reboan,” ujar Doni Anggoro yang juga penulis puisi.

Banyak pintu
Selain sajian seni dan sastra, pengunjung juga bisa menikmati camilan berupa jajanan pasar, kopi dan teh secara cuma-cuma. Biaya untuk pengadaan makanan dan minuman ini seluruhnya berasal dari saweran anggota panitia PaSar MaLam, dan sejak Juli 2008 sebagian dari pengunjung yang mengisi kotak sukarela sebagai perwujudan kebersamaan dan rasa memiliki atas Sastra Reboan.

Hanya karena kemampuan dana dari para sastrawan di daerah lain yang membuat mereka harus menunda keinginannya untuk turut mendekatkan sastra di Sastra Reboan ini. Seperti Wayan Sunarta dari Bali, Iyut Fitra (Payakumbuh) atau Saut Situmorang (Yogyakarta) yang rencananya tampil Oktober 2008 ini tapi diundur ke November 2008.

Beberapa alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tak cuma menjadi ‘tukang insinyur’ tapi juga dikenal sebagai sastrawan tergelitik juga untuk tampil. Dimotori oleh Slamet Widodo dan Nugroho Suksmanto, pada November mendatang mereka bersama Acep Zamzam Noor, Kurnia Effendi, Fajroel Rahman dan lainnya akan manggung.

Kini, gema acara ini telah menelusup hingga ke pelosok-pelosok Ibu Kota, bahkan ke daerah-daerah lain. Apalagi dengan adanya situs http://www.reboan.com dan blog http://www.pasarmalam.co.cc yang memuat berbagai kegiatan, lengkap dengan foto untuk diakes oleh mereka yang tak sempat hadir.

Bersastra memang tak perlu dengan dahi berkerut. Bisa duduk enak, menyantap kacang goreng dengan kopi mengepul sembari menyapa teman yang lama tak bersua. Karena memang banyak pintu menuju sastra. (Wedh)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Warta Kota (Jakarta), 27 Oktober 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s