ACEP, “PERTEMUAN KECIL”, DAN HADIAH SASTRA


Soni Farid Maulana
Ketua Komunitas Sastra Layung Merah

Tumbuh dan berkembangnya penciptaan puisi di negeri ini, diakui atau tidak, nyatanya tidak bisa lepas dari peran penting media massa cetak, baik koran maupun majalah, yang menyediakan halamannya secara khusus untuk rubrik puisi. Rubrik tersebut biasanya diasuh oleh orang yang mempunyai perhatian serius terhadap puisi. Beberapa majalah yang hingga kini masih menyediakan rubriknya untuk puisi, antara lain majalah sastra Horison, Jurnal Kalam, Gong, dan Syir’ah.

Adapun pengasuh puisi yang dimaksud dalam tulisan ini; adalah orang yang senantiasa memberi catatan tertentu, yang mendampingi pemuatan puisi para penyair yang “diasuhnya,” entah itu tentang kritik terhadap proses kreatif penulisan puisi si penyair yang bersangkutan, atau catatan-catatan lainnya yang diandaikannya bisa memperluas cakrawala pikiran para penyair asuhannya.

Hadirnya “guru spiritual” dalam penulisan puisi, seperti Umbu Landu Paranggi yang mendirikan Persada Studi Klub pada 5 Maret 1969 di Yogyakarta, adalah pengasuh yang dimaksud oleh tulisan ini. Ia adalah redaktur seni dan budaya di Pelopor Jogya (1967-1975) yang kini bermukim di Bali. Dari tangan Umbu, ketika di Yogya “lahir” penyair berbakat, antara lain Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Suminto A. Sayuti, Ragil Suwarno Pragolapati, dan Linus Suryadi AG untuk menyebut beberapa nama. Dan di Bali saat ini, Umbu antara lain telah “melahirkan” Oka Rusmini, Warih Wisatsana, Raudal Tanjung Banua, dan Tan Lioe Ie untuk menyebut beberapa nama.

Sementara itu lewat rubrik Pertemuan Kecil (1979-1994) di H.U. Pikiran Rakyat penyair Saini K.M. antara lain “melahirkan” penyair Beni Setia, Juniarso Ridwan, Diro Aritonang Acep Zamzam Noor, Agus R. Sardjono, Nenden Lilis A, Beni R. Budiman, Ahda Imran, dan Cecep Syamsul Hari serta sejumlah penyair lainnya yang tenggelam entah ke mana; di luar periode Kuntum Mekar (1960-1964). Dalam periode ini Saini antara lain “melahirkan” penyair Sanento Yuliman, Muhammad Halim, Tb. Muhammad Achyar, dan Yuswadi Salya.

Umbu dan Saini bagi sejumlah penyair yang kini telah menemukan maqam-nya adalah “guru spiritual”, yang kehadirannya tidak bisa dimistik jadi nol. Kedudukan keduanya sama dan sebangun dengan Remy Silado, yang menghidupkan puisi mBeling di majalah Aktuil. Dari tangan Remy, antara lain “lahir” penyair Yudhistira ANM Massardi, dan Norca Marendra Massardi serta beberapa nama lainnya. Di samping itu, saya yakin masih banyak penyair-penyair lainnya dari generasi ini, yang tumbuh di luar asuhan “guru spiritual” semacam itu. Selain itu, hampir saja lupa, penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Hasif Amini pernah pula memberikan semacam catatan untuk sejumlah puisi yang dimuatnya, di sebuah harian nasional terbitan Jakarta.

**

“Jalan Menuju Rumah” (Grasindo, 2004) adalah sebuah kumpulan puisi karya penyair Acep Zamzam Noor. Pusat Bahasa dengan juri antara lain penyair Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri, memutuskan bahwa pada tahun ini (2005) kumpulan puisi tersebut layak diberi Hadiah Sastra Pusat Bahasa, dan SEA Write Award dari Raja Thailand. Dalam antologi puisinya ini kita bisa membaca sejumlah tema religius dengan berbagai variasinya, yang ditulis Acep dengan kalimat-kalimat jernih dan bersih, sehingga puisinya enak dibaca.

Nafas sufisme di dalam bukunya ini bisa kita rasakan. Di situ sang penyair berupaya sedemikian rupa menghadirkan renungan-renungan religius, yang diakibatkan oleh meluapnya rasa cinta yang demikian melimpah dan mendalam kepada Allah Swt. Nafas sufisme dalam perpuisian Indonesia sesungguhnya tidak hanya lahir dan “meledak” di tahun 1980-an, tahun-tahun awal Acep Zamzam Noor berproses kreatif di rubrik Pertemuan Kecil. Jauh sebelum itu, nafas yang demikian bisa kita pula rasakan dalam sejumlah puisi yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Hamzah Fansuri, dan Amir Hamzah.

Hanya saja berkaitan dengan itu, orang sering beranggapan secara salah dalam menanggapi dan bahkan menyikapi puisi-puisi yang bernafaskan sufisme ini, yang dinilainya sebagai “pelarian” dari dunia nyata. Dalam konteks yang demikian itu pendeknya, penyair sering dianggap dan bahkan dinilai tidak sanggup berhadapan atau melawan segala benturan nilai-nilai yang menimpa dirinya. Padahal, meluapnya rasa cinta dan renungan-renungan religius yang demikian mendalam itu, tidak ada kaitannya dengan apa yang dinamakan “pelarian” itu. Semua itu tidak lebih dan tidak kurang semata-mata sebagai ekspresi dari rasa keimanan yang tidak bisa ditahan lagi, yang secara terus-menerus ingin memurnikan jiwanya, yang secara total berserah diri kepada Yang Maha Kudus.

Secara esensial hal semacam inilah yang kita lihat dalam karya-karya penyair Acep Zamzam Noor yang hingga kini masih terus mengembangkan dirinya, dengan mengolah bentuk-bentuk pengucapan yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh dirinya.

Dalam puisinya di bawah ini, bila kita baca secara sungguh-sungguh, kita akan dibawa pada sebuah pengalaman batin yang berdarah-darah, yang begitu susah mencapai Maha Kekasih. Susah, karena aku lirik dalam puisinya ini, bukanlah aku yang terbebas dari segala dosa. Aku lirik dalam puisinya ini adalah aku yang datang kepada diriNya dengan segala dosa-dosa yang ditanggungnya, yang semua itu bisa terbebaskan bila rasa cinta yang selama ini dirindukannya itu bisa dibalas oleh Yang Maha Suci. Jika cinta si aku lirik terbalas, tentu saja ampunan dariNya akan datang seperti limpahan air bah.
Ya, di mana pun di muka bumi, baik ketika ia masih hidup maupun di akhirat kelak, orang-orang beragama pada umumnya, khususnya, bagi penganut agama-agama yang turun dari langit, pastilah sangat mengharapkan ampunanNya. Pengharapan itu adalah sebuah damba tak terkira, yang tak putus-putusnya didendangkan oleh siapa pun yang percaya akan adanya Allah Swt. jika segala kebahagiaan itu bisa datang, dalam hal ini adalah ampunanNya, maka sudah bisa dipastikan bahwa hal itu kelak menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya di akhirat kelak.

Puisinya itu, begini bunyinya: Jalan menuju rumahmu kian memanjang/ Udara berkabut dan dingin subuh/ Membungkus perbukitan. Aku menggelepar/ Di tengah salak anjing dan ringkik kuda:/ Engkau di mana? Angin mengupas lembar-lembar/ Kulitku dan terbongkarlah kesepian dari tulang-tulang/ Rusukku. Bulan semakin samar dan gemetar// Aku menyusuri pantai, menghitung lokan dan bicara/ Pada batu karang. Jalan menuju rumahmu kian lengang/ Udara semakin tiris dan langit menaburkan serbuk/ Gerimis. Aku pun mengalun bersama gelombang/ Meliuk mengikuti topan dan jumpalitan/ Bagai ikan. Tapi matamu kian tak tergambarkan// Kulit-kulit kayu, daun-daun lontar, kertas-kertas tak lagi/ Menuliskan igauanku. Semuanya beterbangan dan hangus/ Seperti putaran waktu. Kini tak ada lagi sisa/ Tak ada lagi yang tinggal pada pasir dan kelopakku/ Kian runcing dan pucat. Kembali aku bergulingan/ bagai cacing. Bersujud lama sekali// Engkau siapa? Sebab telah kutatah nisan yang indah/ Telah kutulis sajak-sajak paling sunyi// (“Jalan Menuju Rumahmu”, 1986)

**

Dalam perkembangan daya kreatifnya kemudian, tentu saja puisi yang ditulis oleh penyair yang pernah menyelesaikan kuliah di Jurusan Seni Murni FSRD ITB (1980-1987) ini, tidak hanya menulis puisi dengan tema semacam itu, yakni religius yang menjadi tema pokoknya. Tetapi juga menulis pula sejumlah puisi dengan tema yang lain, yakni cinta, kesepian, kerinduan, persoalan-persoalan sosial dengan gaya ucapnya yang khas, serta tema-tema keterasingannya ketika bermukim di Italia. Tema-tema cinta dan kesepian dengan berbagai variasinya itu antara lain terungkap dengan amat jelas dalam puisinya berjudul “Percakapan Musim Gugur,” (1993) yang salah satu baitnya berbunyi: Percakapan antara kita/ Tetesan darah dan anggur merah/ Di atas meja, wajahmu tergolek pucat/ Rambutmu menyimpan angin ribut/ Tanganmu dingin. Sebuah musim gugur/ Merontokkan hari-hariku/ Daun-daun menguning/ Bertumpuk dan membusuk/ Di dalamnya kita terkubur//

Atau dalam puisi lainnya, “Usia”, yang diakui atau tidak puisinya ini menyadarkan kita, bahwa dari hari ke hari kita senantiasa diburu oleh kematian. Isi dari puisi tersebut begini bunyinya: Sebuah pulau/ Memutih di rambut malam/ Keajaiban musim tanpa suara/ Terpahat di keheningan/ Langit tembaga// Keagungan hujan/ Dengan sulur-sulur cahayanya/ Tersimpan jauh di lautan/ Arus besar tanpa riak/ Gema tanpa sahutan/ Mengendap di kedalaman/ Waktu// Abad-abad angin/ Tahun-tahun kabut/ Malam-malam murni/ Antara kelahiran dan kejatuhan// Kita telanjang/ Menghuni pulau karang// (2002)

Paling tidak, demikianlah Acep Zamzam Noor, penyair yang berkali-kali mendapat sastra dari Pusat Bahasa dan Hadiah Sastra LBSS itu, kita kenal. Ia tidak hanya menulis puisi dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa Sunda. Sejumlah puisinya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris antara lain dimuat dalam antologi The Poets Chant (1995), Aseano (1995), In Words in Colours (1995) serta sejumlah buku lainnya seperti Secrets Need Word: Indonesian Poetry 1966-1998, yang dikerjakan oleh Prof. Dr. Harry Aveling. Sebagai penyair ia pernah mengikuti Second ASEAN Writers di Manila, Filipina (1995), Southeast Asian Writers di Kuala Lumpur, Malaysia (2001) dan Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (2004). Selamat untuk Acep atas hadiah yang diraihnya tahun ini.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 27 Juli 2005.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s