SEKITAR PROSES KREATIF SONI FARID MAULANA


Soni Farid Maulana

1
Perkenalan saya dengan puisi cukup panjang ceritanya. Bermula dari kebiasaan almarhumah Oneng Rohana, nenek saya tercinta, yang kerap kali membawa saya ke berbagai tempat acara tembang sunda cianjuran, di Kota Tasikmalaya, kota kelahiran saya. Saat itu, saya masih kanak-kanak, sejak belum masuk sekolah dasar (SD) hingga duduk di Kelas I-D SMP Negeri II Tasikmalaya, pada tahun 1976 lalu.

Pada zamannya, almarhumah nenek saya dikenal sebagai guru tembang sunda cianjuran. Ketika ia tengah mengajar murid-murid kesayangannya, atau ketika ia tengah menembang dalam acara yang lain, saya kerap tertidur dipangkuannya. Waktu bergulir. Ketika saya mulai bisa membaca dan menulis, lebih tepatnya ketika duduk di bangku SD Sukasari I, Tasikmalaya, saya sering disuruh oleh nenek saya membaca teks tembang sunda cianjuran dari buku-buku yang sudah sobek, kemudian nenek saya menyalinnya kembali di buku yang baru dengan tulisan tangannya sendiri berdasar pada teks yang saya baca.

Dalam pandangan saya, ketika teks tembang sunda cianjuran tidak dilantunkan, teks tersebut lebih dan tidak kurang serupa dengan lirik-lirik puisi, yang ditulis dengan hukum-hukum tertentu. Setiap larik dalam teks tersebut terikat oleh jumlah suku kata, rima, dan tema. Banyak kalangan mengatakan jenis puisi yang demikian dalam sastra Sunda disebut dangding. Salah seorang penyair Sunda kenamaan yang menulis dangding adalah Hasan Mustapa.

Ada pun perkenalan saya dengan puisi modern, dalam hal ini yang ditulis dalam bahasa Indonesia, saya mulai mengenalnya ketika duduk di bangku SMP Negeri II Tasikmalaya. Saat itu, Ibu Ira, guru pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, mengajarkan di depan kelas tentang pantun yang kemudian berlanjut pada puisi Amir Hamzah dan Chairil Anwar di bulan-bulan berikutnya. Saya mulai tertarik dengan puisi, saat Ibu Ira membacakan puisi Amir Hamzah berjudul Padamu Jua di depan kelas. Pada pertemuan berikutnya saya disuruh membaca puisi Doa, masih karya Amir Hamzah di depan kelas. Konon kata Ibu Ira pada saat itu, suara saya cukup bagus. Lalu ia memberi saran kepada saya untuk membaca puisi dari buku-buku puisi yang ada di perpustakaan sekolah.

Buku puisi yang pertamakali saya baca ketika duduk di bangku SMP adalah Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. Selain itu pada saat itu, saya sudah mulai berkenalan dengan Permadi Betarakusuma dan Rachmat Budiman. Keduanya aktivis teater di Tasikmalaya. Saya sering pula diajak oleh kedua orang tersebut untuk membaca puisi di acara-acara lomba baca puisi, atau di acara-acara yang mereka selenggarakan sendiri bersama kelompoknya masing-masing. Rachmat Budiman yang anggota Teater Epos pimpinan Bambang Arayana Sambas membuat kelompok sendiri di Sindang Sari, Pasar Pancasila Tasikmalaya, dan Permadi yang anggota Teater Prasasti Tasikmalaya, juga mempunyai kelompok sendiri. Permadi mendirikan komunitas Gotongroyong Sastra Tasik (GST). Semua komunitas seni yang saya sebutkan barusan, tentu saja sekarang sudah bubar.

Kepada kedua orang tersebut, khususnya, kepada Permadi Betarakusumah saya sering memperlihatkan puisi yang saya tulis. Keduanya sering mengkritik habis. Setelah itu saya merasa frustasi, dan mengakui dengan jujur kepada keduanya bahwa saya tidak berbakat menulis puisi. Sejumlah puisi yang saya tulis saat itu saya bakar, dan saya tidak lagi berani memperlihatkan puisi-puisi saya kepada keduanya ketika saya mulai menulis puisi yang lain. Waktu bergulir.

Ketika nenek saya meninggal dunia pada tahun 1976, saat itu saya duduk di bangku SMP Negerei II Tasikmalaya Kelas I-D, kwartal kedua, saya gelisah bukan kepalang. Saya seperti kehilangan pegangan. Dalam rasa kehilangan itu, malamnya sepulang dari pekuburan saya menulis dua buah puisi, masing-masing berjudul Kamar dan Di Pemakaman. Gaya pengucapan kedua puisi tersebut saya akui dengan jujur banyak dipengaruhi oleh gaya pengucapan Chairil Anwar yang liris itu. Adanya pengaruh yang demikian besar pada masa-masa awal kepenyairan saya, tidak akan saya tolak atau saya pungkiri. Saya kira itu wajar. Kedua puisi tersebut kemudian saya himpun dalam antologi puisi Pemetik Bintang (1976-1986). Buku terbut diterbitkan oleh PT Buku Kiblat Utama pada Oktober 2008.

Selanjutnya ketika saya duduk di bangku SMA Pancasila, Tasikmalaya, guru bahasa dan sastra Indonesia, Ibu Aisyah namanya memperkenalkan saya pada buku Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono. Ketertarikan saya terhadap puisi kian menjadi-jadi. Saat itu, tahun 1980, sahabat saya Permadi Betarakusuma menyarakan kepada saya untuk mengirimkan sejumlah puisi yang saya tulis ke HU Pikiran Rakyat. Di Koran ini, penyair Saini KM mengasuh rubrik puisi, yang diberi nama Pertemuan Kecil.

Lewat rubrik Pertemuan Kecil saya mulai mengenal nama penyair Acep Zamzam Noor dan Beni Setia, selain Juniarso Ridwan dan Yessi Anwar. Saya pun mencoba mengirimkan sejumlah puisi ke media tersebut. Hasilnya banyak yang ditolak. Dari bulan Januari 1980 mengirim puisi secara terus-menerus baru dimuat pada bulan September 1980, entah kiriman yang keberapa. Setelah itu lantas di muat di Majalah Gadis, Hai, dan Majalah Puteri yang rubrik puisinya diasuh oleh penyair Taufiq Ismail.

2
Pada tahun 1982 saya mengembara ke Bandung, kuliah di Jurusan Teater Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Di Bandung saya ikut menginap di rumah kontrakan penyair Acep Zamzam Noor, yang saat itu mengontrak sebuah kamar di Jalan Titiran 27 Bandung. Di tempat Acep ini saya mulai mengenal sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair Abdul Hadi WM, Wing Kardjo, Goenawan Momahad, Sutardji Calzoum Bachri, Saini KM dan Rendra. Koleksi buku-buku puisi Acep cukup lengkap. Di samping itu, di tempat Acep ini, saya mulai pula mengenal Majalah Sastra Horison, Basis dan Budaya Jaya.

Di Bandung wawasan saya tentang apa dan bagaimana puisi mulai berkembang setelah saya kenal langsung dengan penyair Saini KM, terutama dengan penyair Wing Kardjo almarhum yang sering saya temui di Cabang PT Pustaka Jaya yang berkantor di dekat Pasar Palasari, Jln. Banteng Bandung. Saat itu saya sering membeli buku puisi ke tempat tersebut. Di tempat inilah saya sering dikritik oleh Wing Kardjo setiap saya memperlihatkan puisi yang saya tulis. Di tempat ini pula Wing Kardjo memberi buku kepada saya tentang Puisi Prancis Modern yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, selain itu menyarankan pula membeli kumpulan puisi Parsi Klasik yang diterjemahkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono. Sejak itu saya mulai tertarik dengan gaya pengucapan puisi Prancis Modern yang surealistik, dan simbolik itu, seperti apa yan ditulis oleh Charles Baudelaire dan Arthur Rimbaud. Demikian pula dengan puisi-puisi liris religius dari Rumi, Attar, dan Sana’i.

Saya mencoba nulis, hasilnya saya ditertawakan Wing Kardjo. Lalu ia memberikan arahan bagaimana mengopersikan sebuah majas, metafora, atau simbol, baik dalam tataran semantik maupun sintaksis. Sayangnya, pertemuan saya dengan Wing Kardjo sangat singkat, karena Wing Kardjo keburu menyusul Ajip Rosidi ke Jepang, ngajar di sana. Meski pun demikian setiap pulang ke Bandung selalu mengontak saya, bicara soal puisi.

Pada tahun-tahun berikutnya saya tidak hanya mengirimkan puisi untuk dipublikasikan di Pertemuan Kecil yang seringkali dikritik oleh Saini KM, tetapi juga mencoba mengirimkan puisi ke HU Berita Buana yang lembaran puisinya diasuh oleh penyair Abdul Hadi WM. Hasilnya, puisi yang tidak dimuat oleh Saini KM dimuat oleh Abdul Hadi WM. Hal itu menanamkan sebuah keyakinan kepada saya, bahwa dimuat dan tidak dimuatnya sebuah puisi pada satu sisi bukan hanya ditentukan oleh bagus dan tidak bagusnya puisi, tetapi juga sangat ditentukan oleh selera redaksi sebagai penguasa rubrik.

Pada tahun 1986, setelah sering memublikasikan puisi di HU Berita Buana, untuk pertamakalinya saya diundang oleh DKJ untuk membacakan sejumlah puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dalam forum Temu Budaya 1986. Selanjutnya saya berkali-kali diundang DKJ untuk membacakan puisi yang saya tulis di TIM, Jakarta. Selain satu panggung dengan penyair Beni Setia dan Acep Zamzam Noor, saya pernah pula sepanggung dengan penyair Nirwan Dewanto.

Sejak puisi saya banyak dipublikasikan di berbagai media masa cetak pada saat itu, dan sejak diundang baca puisi dalam forum Puisi Indonesia 1987 yang digelar oleh DKJ banyak kalangan mengatakan bahwa saya termasuk salah seorang penyair Indonesia saat ini, yang muncul pada tahun 1980-an. O, ya, selain dipublikasikan di HU Pikiran Rakyat, dan HU Berita Buana, juga dipublikasikan di HU Pelita yang rubrik sastranya pada saat itu diasuh oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri. Selain itu juga dipublikasikan di Majalah Sastra Horison, yang rubrik puisinya pada saat itu juga diasuh oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri. Media massa lainnya yang pernah memuat puisi saya dewasa ini adalah HURepublika, HU Kompas, dan HU Koran Tempo.

Dalam perjalanan lebih lanjut sebagai penyair, saya segenerasi dengan penyair Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliany, Nirwan Dewanto, Agus R. Sardjono, Jamal D. Rahman, Isbedy Setiawan, Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Nurullah, dan Ook Nugroho untuk menyebut sejumlah nama. Selanjutnya, penyair Rendra pernah pula mengundang saya untuk membacakan sejumlah puisi yang saya tulis di Bengkel Teater Rendra, di Cipayung-Depok, Jawa Barat pada tahun 1989, sebelum saya pergi ke Filipina mengikuti acara South East Asian Writers Conference IV di Queezon City Filipina. Saat itu saya pergi antara lain bersama cerpenis Leila S. Chudori, penyair Dorothea Rosa Herliani, dan Arie MP Tamba, dengan ketua rombongan novelis Mochtar Lubis. Inilah pengalaman pertama saya naik pesawat terbang, menegangkan.

Sejak itu, saya berkali-kali diundang mengikuti berbagai forum puisi, baik berskala nasional maupun internasional, seperti forum Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999), Festival Puisi Internasional Indonesia yang diselenggarakan oleh penyair Rendra di Bandung (2002). dan International Literary Biennale: Living Together 2005 di Bandung, yang diselenggarakan oleh Teater Utan Kayu, Jakarta, dan beberapa forum lainnya yang terlalu panjang untuk saya sebutkan. Semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa saya manusia biasa.

3
Berdasar pada pengalaman semacam itu, kini saya semakin yakin bahwa menulis puisi tidak bisa asal-asalan tanpa kita memahami dan mengerti inti pengalaman yang hendak kita ekspresikan dalam puisi yang kita tulis, yang bentuk pengucapannya berbagai-bagai itu. Bentuk pengucapan dalam konteks yang demikian hanyalah wadah atau semacam rumah yang hendak kita isi. Yang paling utama adalah bagaimana mengolah dan mengomunikasikan pengalaman puitik itu kepada publik, meski pada sisi yang lain ada juga yang mengatakan bahwa menulis puisi untuk puisi itu sendiri, dan bukan untuk yang lainnya.

Pada sisi yang lain adakalanya saya sering tertawa pula menyaksikan sejumlah orang yang merasa diri jadi kritikus, bahwa ia bisa mengkritik puisi orang lain dengan habis-habisan. Sementara itu puisi yang ditulisnya sendiri berantakan, tidak mengerti majas pertentangan misalnya. Munculnya kritik semacam ini pada satu sisi membuat saya tidak percaya pada kritik sastra, khususnya kritik puisi. Lainnya kalau kritik itu ditulis oleh penyair Goenawan Mohamad, misalnya, selain pikirannya cerdas, juga puisinya hebat. Berkait dengan hal tersebut, dua bulan sebelum meninggal dunia, penyair Wing Kardjo, saya, dan pelukis Rudy Pranadja bercakap-cakap di sebuah café di kawasan Dago, Bandung. Wing Kardjo berkata demikian:

“Sekarang selain juru kritik, makin banyak penyair yang merangkap profesinya menjadi juru komentar. Tentu itu haknya, dan kalau kita diam saja, pengalaman mengatakan seolah-olah juru komentar itu saja yang benar pikirannya, dan diam tak sama artinya emas,” kata Wing Kardjo sambil tertawa ngakak. Saya sependapat dengan apa yang dikatakannya itu.

Kembali kepada proses kreatif, benar seperti apa yang dikatakan Rendra bahwa seorang penyair tidak bisa menulis puisi dari ruang yang kosong, mengkhayal-khayalkan seakan-akan apa yang dialaminya itu benar-benar terjadi dalam hidupnya. Puisi yang demikian akan terasa tanpa greget, apalagi berupaya untuk berumit-rumit dalam mengekspresikan pengalaman batinnya itu.

Kehadiran Rendra dalam perjalanan kepenyairan saya pada saat itu memberikan pengaruh yang demikian besar pada pola pandang dan wawasan saya tentang puisi naratif, persoalan sosial, dan juga tentang teater. Rendra sering ngajak dialog, terutama jika lagi berkunjung di Bandung. Bahkan sering pula saya diundang ke Depok, nginap di sana. Jadi secara langsung atau tidak langsung kepenyairan saya pada satu sisi dibentuk oleh hasil pergaulan saya dengan para penyair tersebut di atas yang hingga kini saya hormati, termasuk dengan Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri. Sungguh beruntung saya bisa mengenal orang-orang hebat yang baik budi itu.

Apa yang dibicarakan mereka tentang puisi saya renungkan hingga akhirnya saya memahami dengan sungguh-sungguh bahwa menulis puisi ternyata sukar adanya. Apa sebab? Karena menulis puisi bukan sekedar merangkai-rangkai kata, membuat metafor atau majas dalam tataran sintaksis maupun semantik dan sebagainya. Yang menentukan adalah seberapa jauh kita sanggup atau mampu mengolah dan menyajikan pengalaman batin kita yang personal itu sebening kristal. Dalam konteks inilah saya masih terus berupaya untuk hadir menulis puisi mencapai kesempurnaan.

Keinginan semacam ini saya kira keinginan banyak penyair. Dan apa yang saya capai selama ini belum seberapa dan belum apa-apa. Karena itu, ada rasa malu yang luar biasa meluap di dalam diri saya, ketika penyair Cecep Syamsul Hari yang malang melintang itu meminta saya menulis proses kreatif untuk Majalah Sastra Horison. Apa pun saya mengucapkan terimakasih kepada Majalah Sastra Horison yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk ditampilkan di lembaran Kakilangit. Semoga pembaca tidak kecewa, karena saya bukan penyair istimewa, tidak pula melahirkan gaya ucap baru. Saya penyair biasa, orang biasa.

4
Setelah dihitung-hitung, sejak tahun 1976-2009 saya menulis puisi, ternyata puisi yang saya tulis tidak lebih dan tidak kurang sebanyak 400 buah puisi. Sebagian besar sudah terdokumentasikan dalam bentuk buku. Dari sejumlah itu, saya merasa bahwa puisi yang saya tulis banyak yang gagal dari pada yang berhasil. Di antara yang berhasil dan saya suka, sebuah puisi yang sering saya bawakan dalam berbagai acara baca puisi adalah puisi di bawah ini, yang ditulis selama 1987-1989.

BINTANG MATI

duduk di bangku kayu,menghayati
sorot matamu yang kelam oleh kabut dukacita
aku temukan bintang mati
bintang yang dulu berpijar dalam langit jiwaku
aku temukan kembali – begitu hitam dan gosong
dan kau menjerit, terpisah dari cintaku.

dengarkan aku bicara,suaraku
bagai ketenangan air sungai bagai keheningan
batu-batu dasar kali melepas bau segar tumbuhan
bila hari kembang:
suaraku membangun kehidupan yang porak-poranda
oleh gempa peradaban. Ya kutahu kota yang gemerlap
menyesatkan rohanimu dari jalanku
hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu
rasa gula terperas dari tebu jiwaku. Reguklah
biar jiwamu berkilau kembali. O, bintang
yang dulu benderang dalam langit jiwaku

1987-1989

Puisi tersebut saya tulis ketika untuk kesekian kalinya saya merasa gagal dalam meraih nikmat kehidupan sebagai manusia normal mencari pasangan hidup. Alhamdulillah, rupanya Allah SWT mendengarkan doa saya. Pada tahun itu juga saya mendapatkan pasangan hidup yang mengerti dan memahami saya hingga kini. Dalam kaitan tersebut saya hendak mengatakan bahwa pengalaman hidup sekecil atau sebesar apa pun pengalaman hidup yang kerap disebut sebagai pengalaman puitik itu – adalah ruh dalam menulis puisi. Saya tidak bermaksud menguraikan puisi tersebut secara panjang lebar, selain hendak mengatakan bahwa menulis puisi memang tidak bisa asal-asalan.

Berkait dengan itu dalam pandangan saya menulis puisi adalah mengekspresikan sebentuk pengalaman dengan media kata-kata. Pengalaman yang diekspresikan itu, bisa berupa pengalaman hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan sesama maupun dengan alam. Dengan demikian dapat disimpulkan menulis puisi adalah merupakan sebuah kegiatan rohani, yang mengekspresikan hubungan manusia, dengan segala hal, baik secara fisik maupun metafisik dalam berkebudayaan.

Demikianlah saya memahami puisi dari kacamata seorang penulis puisi, yang tentunya hal itu akan berbeda dengan penyair yang lainnya. Kepenyairan saya tidak tumbuh begitu saja. Saya tumbuh dan berkembang dalam proses yang cukup panjang, yang hingga kini masih terus berkembang dan berupaya mencapai bentuk-bentuk pengucapan yang yang lain yang selama ini saya tulis.

Sebagai penutup saya ingin menyajikan sebuah puisi yang saya tulis sepulang ziarah dari tanah suci, Makkah dan Madinah pada tahun 2008 kemarin. Puisi tersebut di bawah ini:

TAHARAH

sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong
kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan
kurban. Hati yang karam ke dasar malam
betapa sulit di jangkau. Tinggal kilau mata pisau
di tanganku yang gemetar menujuMu

2008

Tulisan ini pernah dipublikasikan melalui Facebook Soni Farid Maulana, 31 Mei 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s