MEMBANGUN KEMBALI LKN, LEKRA, DAN LAIN-LAIN


Hardi
Pelukis/Budayawan, Berdomisili di Jakarta

Sebelum menuliskan gagasan saya tentang kemungkinan dibangunnya kembali lembaga kebudayaan oleh masing-masing partai politik yang dianggap besar seperti sekarang ini, saya terlebih dulu membaca buku Prahara Budaya yang disusun oleh Taufiq Ismail dan DS Mulyanto almarhum, saya agak miris dibuatnya. Jangan-jangan bila lembaga kebudayaan baru yang dibangun partai politik kita nanti justru semakin memecah belah persatuan bangsa, padahal tujuan saya justru untuk meredam atau setengah mengeliminir kekuatan satgas partai yang cenderung militeristik dan gampang melakukan kekerasan.

Namun, setelah saya renungkan, ternyata paradigma yang berkembang masa itu dan sekarang sudah mengalami perbedaan besar. Hal itu dikarenakan pada era dulu, seluruh dunia sedang gandrung akan ideologi besar dan masyarakat dunia sedang terperangkap perang dingin yang baru habis setelah kekalahan Uni Soviet dan matinya komunisme.

Zaman sekarang, masyarakat telah menanggalkan baju ideologi besar, menjadi demokratis, pluralistik, kendati ada penajaman ideologi dalam kelompok agama yang sebagian kecil radikal.

Faktor lain adalah terjadinya konflik wacana antara lembaga kebudayaan yang satu dan yang lain khususnya antara kelompok Lekra dan Manikebu waktu itu. Alangkah menggelikannya bila hal tersebut masih berlaku hingga sekarang sebagai paradigma. Kendati dalam dunia politik muncul stigma baru yang bertindak sebagai lawan kekuasaan seperti kelompok pro statusquo, kelompok Orde Baru, militer, namun jargon politik tadi tak menyentuh wilayah kesenian sama sekali.

Memang banyak teman saya khususnya sastrawan masuk orpol seperti Ikranegara, Leon Agusta, Toety Heraty, Slamet Sukirnanto, Sides dalam PAN. Namun, mereka tidak membangun lembaga Kebudayaan. Di PDI-P ada pelukis Reny Hugeng, Guruh Soekarno Putra sedangkan di PKB ada penyair Mustafa Bisri, Zamawi Imron, Danarto, dan lain-lain, namun yaitu mereka secara formal sama sekali tidak menghidupkan lagi semacam Lesbumi atau LKN. Justru di PRD walau partai kecil, konon memiliki kelompok Taring Padi (saya tidak tahu pasti, mereka apa sebagai onderbouw-nya PRD atau independen?). Sebagian teman menyebut mereka radikal seperti Lekra.

***

Kalau kita baca buku Prahara Budaya, sebetulnya perang wacana di masa tahun 1960-an itu sebagian besar berasal dari perbedaan pandangan berkesenian dari kelompok Lekra dan kelompok Manikebu. Dalam sarang kesenian mereka sesungguhnya sahabat baik. Seperti Pramudya Ananta Toer dengan HB Yassin, Pramudya dengan Bokor Hutasuhut, yang nyaris menjadi persoalan pribadi menyangkut konsistensi sebagai orang revolusioner atau bukan. Hutasuhut menyerang Pramudya dengan logika serta fakta yang akurat. Pramudya demikian pula. Ia dengan cerdik menangkis serangan kenapa ia tersesat menjadi pemikir liberal, namun ia sadar kembali setelah mempelajari Manipol. Kenapa ia menerima tawaran Sticusa Belanda untuk berkunjung ke Nederland, sementara Bung Karno menolak berkunjung ke Nederland, bila Irian Barat belum kembali ke pangkuan Republik. Sebagai manusia yang telah berjarak dengan waktu dan suasana, saya menilai Hutasuhut benar dan Pramudya juga benar. Masing masing dengan alasan.

Memang kaum Lekra juga melahirkan puisi buruk, kendati mereka memiliki tiga tinggi: tinggi ideologi, tinggi artistik, dan tinggi organisasi. Di samping itu mereka masih memiliki tiga baik: baik bekerja, baik moral, dan baik belajar. Doktrin ini diperuntukkan Lekra dan anak organisasi yang berbasis di seni tradisional ataupun seni modern.

Kalau kita baca salah satu puisi Sitor Situmorang, seorang anggota LKN misalnya, untuk sekarang kita bisa terpingkal dibuatnya.

Aksi Boikot
Kepada Pembela AMPAI
Sitor Situmorang
Saya boikot film-film AS
Untuk si korban imperialis
Saya boikot film-film AS
Untuk Vietnam Selatan
Saya boikot film-film AS
Karena intervensinya terhadap kemerdekaan Asia
dst.
Jakarta, 3-7-1964

Atau ini:
Kepalaku Marxis Diriku Leninis
Sobron Aidit
Bagaimana kau bisa menang
Kau tenaga bayaran, kecil tipis kempis
Sedang aku dari darah kesadaran
Dada kepalaku Marxis
Diriku Leninis
Berpadu dalam satu deretan
Harian Harian Rakyat 21 April 62

Tetapi, pada masa Orde Baru setelah PKI dihancurkan, penindasan terhadap orang Lekra dan beberapa anggota LKN luar biasa dahsyatnya. Mereka dibuang ke Pulau Buru, disiksa di luar batas kemanusiaan. Toh penderitaan mereka ternyata tidak mematahkan nyali berkesenian. Pramudya bagi saya adalah simbol cinta Allah SWT kepada umatnya. Doa di saat disiksa dikabulkanNya. Kini seluruh toko buku memajang karya Pramudya dengan bangga, sementara lawan politiknya dulu, di rak toko buku melompong alias tidak kreatif.

***

Anehnya perdebatan ideologi seperti di dunia sastra di kalangan senirupa sepertinya tidak terjadi apa-apa. Secara ideologis barangkali mereka seorang Marxis, tetapi bagi pelukis ideologi hanyalah sesuatu yang bisa ditanggalkan begitu saja. Affandi, Sudjojono (Lekra/PKI ) begitu gampang melepas keanggotaan partai karena urusan kawin lagi. Pelukis Hendra Gunawan (Lekra) melukis dengan warna manis biasa, justru selera kaum borju. Memang ia melukis Pengantin Revolusi, namun judul revolusi bisa saja diganti kata “bahagia”, “pesta”, atau apa saja.

Hanya saja konon para pelukis Lekra, LKN, yang tergabung dalam pelukis rakyat memiliki kehidupan yang lebih baik. Mereka mendapatkan order dari pemerintah untuk membangun monumen serta patung selamat datang, patung pembebasan, diorama Monas, dan lain-lain yang lumayan menyuburkan kehidupan dapur mereka. Bung Karno juga seorang maesenas senirupa yang besar. Koleksinya ribuan, diambil dari pelukis lokal maupun dunia.

Ada anekdot di kalangan seniman TIM. Kalau sastrawan menggerombol, yang dibicarakan pasti sastra, kemudian politik. Tetapi, kalau pelukis menggerombol, yang dibicarakan pasti lukisan temannya yang jelek, kemudian gongnya pasti wanita atau seks.

Perbedaan yang hakiki itulah yang membikin sastrawan secara frontal menghadapi ideologi dan kekuasaan. Maka dalam buku Prahara Budaya yang terbit tahun 1995, isinya polemik intelektual antara Lekra dan Manikebu yang dalam hal ini diwakili oleh sastrawan. Buku tersebut kurang menarik simpati ketika tahun 1995 terbit, karena sepertinya ia mewakili kekuasaan dengan menindas lawan politik yang sudah tidak berdaya. Namun, untuk sekarang bila cover diubah dan dicetak lebih baik dari segi teknis, maka masyarakat bisa membaca dengan jernih, sebuah episode sejarah kesenian yang memanifestasikan wacana sebagai dinamika pemikiran. Sungguh menarik bila Mas Taufiq dan Pramudya, menggelar lagi sebuah seminar dalam rangka silaturahmi budaya serta melibatkan generasi reformasi yang lebih dingin melihat situasi masa lalu dan sekarang.

Jerih payah Mas Taufiq dan DS Mulyanto almarhum niscaya akan memberikan suatu telaah yang indah, di saat sekarang ini perilaku kekerasan menjadi santapan sehari-hari justru setelah kita mampu menumbangkan rezim yang dianggap buruk.

***

Alasan yang mendasar bagi saya untuk hadirnya lagi lembaga kebudayaan partai, dikarenakan para elite politik kita yang berasal dari partai 80 % manusia satu dimensi. Mereka politikus karbitan dan penderita trauma kekuasaan yang parah. Para pemain baru di gelanggang politik kita adalah elite yang tak mengalami proses perjuangan yang sejati. Mereka politikus yang ketiban hadiah dari mahasiswa. Para wakil rakyat kita bukan para pemikir yang dikenal oleh publik intelektual. Mereka hanya fasih bicara satu jurusan, yaitu kekuasaan. Di luar itu mereka kosong ilmu, bahkan ilmu agama pun yang begitu luas dan agung dikempeskan menjadi ilmu kekuasaan sesaat.

Setiap partai besar memproduksi Satgas, mereka berperilaku bak tentara, berseragam dan bagi wacana negara modern dan demokratis mereka adalah “tentara dalam tentara”. Ini sungguh berbahaya bila dibiarkan, salah-salah akan menjadi angkatan kelima seperti produk PKI atau samurai pada zaman damio atau ke shogunan di era sebelum restorasi Meiji di Jepang.

Barangkali dengan munculnya lembaga kebudayaan dengan citra baru serta belajar kesalahan dari masa lalu, maka lembaga kebudayaan partai kita ini bisa sebagai alternatif pemberdayaan manusia Indonesia secara kultural, lewat aktivitas kesenian daerah atau modern. Kantong kebudayaan dengan dasar nir ideologi besar, melainkan ideologi kemanusiaan dan perdamaian akan menggiring setapak demi setapak kultur kekerasan menghilang di wajah reformasi ini.

Di era tahun 1960-an, lembaga kebudayaan partai tumbuh subur seperti Lekra (PKI ), LKN (PNI), Lesbi (Partindo), Lesbumi (NU), Laksmi (PSII), Leksi (PERTI), LKKI (Partai Katolik), ISBM (Muhamadiyah). Suasana waktu itu kira-kira mirip sekarang, di mana terjadi turbolensi di berbagai sektor kehidupan.

Dulu seniman tidak bisa untuk netral, harus berpihak. Tetapi, mereka hanya berpihak kepada partai. Kini seniman saatnya untuk tidak netral. Mereka harus berpihak kepada perdamaian dan kemanusiaan walaupun lewat sebuah wacana partai. Tumbuh suburnya partai tanpa diimbangi suatu penalaran kultural akan memproduksi kader berdarah dingin, yang menghalalkan segala cara. Krisis yang kita alami sekarang adalah salah satunya disebabkan oleh tercerabutnya manusia dari akar budayanya (bukan jargon), sehingga demokratisasi diterjemahkan sebagai kebebasan tanpa batas. Reformasi diterjemahkan sebagai pergantian individu dalam menyetubuhi kekuasaan sementara sistemnya masih berinduk Orde Baru lengkap dengan KKN-nya.

Untuk itulah seniman tidak terus bertopang dagu atau para pelukis terus menerus menikmati boomingnya. Bahan baku seniman untuk menghidupkan lembaga kebudayaan melimpah ruah. Ideologi besar telah mampus. Isu perdamaian dan kemanusiaan serta cinta telah melambai-lambai untuk kita dekap dalam pelukan. Depolitisasi Orde Baru sudah remuk. Akankah kita masih berpegang pada trauma-trauma berpolitik? Dampingilah politisi satu dimensi, biar mereka tidak cakar-cakaran. Bila ini terlaksana, Insya Allah disintegrasi akan melunak. Pemberdayaan budaya tidak cukup dengan talk show di televisi, tetapi bisa lewat reognya PDI-P, gambusnya PKB, kelompok vokal Partai Kristen Kasih Bangsa, pembacaan puisinya PAN, lukisan penyadaran PRD, Artis Safari Golkar, dan lain-lain. Saya yakin, bahwa yang saya tulis ini bukan pepesan kosong tetapi suatu kebenaran. Insya Allah, Amin.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas (Jakarta), 4 Februari 2001.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s