TAMAN BUDAYA BALI, SEBUAH PERCONTOHAN


Eka Fendri Putra

Sebuah patung Kumbakarna berukuran tinggi sekitar lima meter, hasil sentuhan tangan terampil seniman I Wayan Nyungkal asal Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar, menjadi salah satu hiasan halaman Taman Budaya Denpasar. Kehadiran patung Kumbakarna tersebut sekaligus menjadikan Taman Budaya Bali sebagai sebuah percontohan bagaimana sebaiknya sebuah taman budaya dibangun yang sesuai dengan impian para seniman.

Artinya taman budaya Bali itu dibangun memang untuk menyalurkan aspirasi para seniman tentang bentuk-bentuk seni budaya busantara yang perlu dihidupkan di situ. Padahal di kebanyakan taman budaya yang ada di tempat lain di tanah air, taman budaya dibangun terkesan tanpa konsep, dibangun tanpa mengawinkan ide-ide artistik para seniman yang ada di daerah itu, sehingga kebanyakan taman budaya di tanah air sekarang ini tidak memilki agenda yang jelas, agenda yang tidak saja mengangkat karya seni budaya seniman setempat. Kenyataan itu berbeda dengan Taman Budaya Bali yang selalu dipadatkan dengan sejumlah agenda yang jelas dengan tujuan mengangkat citra seniman Bali.

Tampilnya karya seni patung Kumbakarna berukuran besar yang ada di Taman Budaya Bali juga sekaligus melambangkan kesetiaan kepada Nusa dan Bangsa. patung itu merupakan salah satu elemen taman yang penataannya dilakukan secara apik, disamping tujuh panggung pementasan, yang sanggup menampung seluruh aktivitas Pesta Kesenian Bali (PKB), aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata. Taman Budaya Denpasar (TBD) tempat berlangsungnya PKB selama 32 tahun berturut-turut, digagas budayawan, Prof Dr Ida Bagus Mantra (alm), yang juga mantan Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Gubernur Bali.

Taman Budaya yang berlokasi di jantung kota Denpasar dibangun di atas lahan seluas 6,5 hektar dilengkapi sejumlah fasilitas yang pembangunannya rampung tahun 1978 bertepatan dengan digelarnya PKB yang pertama.
Selama 32 kali pelaksanaan PKB, aktivitas seni tahun yang digelar secara berkesinambungan seluruhnya mengambil lokasi di kawasan Taman Budaya, tutur Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dr Ida Bagus Sedhawa, SE M.SI. Taman Budaya yang kini menjadi tempat bergengsi, karena sembilan grup kesenian mancanegara dan 12 grup kesenian dari berbagai daerah di Indonesia dan ratusan sekaa dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali pentas di tempat tersebut selama PKB berlangsung, 12 Juni-10 Juli 2010.

PKB kali ini mengangkat tema “Sudamala” (Mendalami Kemurnian Nurani) dijadwalkan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dihadiri sejumlah Menteri kabinet Indonesia bersatu.

Lima agenda PKB meliputi pawai budaya, pagelaran, perlombaan, saresehan serta pameran industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Kelima agenda PKB tersebut telah dipersiapkan secara matang yang mengacu pada nilai budaya yang diformulasi dalam tema “payung Sudamala”.

Selama PKB diisi dengan 180 kali pementasan, berlangsung pada pagi hari, siang, sore hingga malam hari. Pementasan kesenian bersifat tradisi dibawakan duta seni dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali berlangsung pada pagi hingga siang hari.

Sedangkan kesenian hasil pengembangan dan unggulan dipentaskan pada sore hingga malam hari. Kegiatan itu diharapkan mampu menghibur masyarakat dan mengarahkan hal-hal yang positif bagi para murid dan siswa dalam mengisi liburan panjang. Semua itu diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap pengembangan dan pelestarian nilai-nilai budaya, sekaligus membangkit ekonomi masyarakat setempat.

Akar budaya bangsa
Pesta Kesenian Bali dengan lima agenda utama itu mengacu pada keragaman akar budaya bangsa, dengan membuka diri terhadap grup-grup kesenian dari seluruh daerah di Indonesia maupun mancanegara untuk ikut serta memeriahkan pesta para seniman di Pulau Dewata.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika sejak dini telah mengingatkan panitia PKB agar melakukan seleksi yang ketat terhadap tim-tim kesenian dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Hal itu dimaksudkan jangan sampai ada tim kesenian luar Bali, termasuk yang berkolaborasi dengan masyarakat setempat menampilkan suguhan seni yang bertentangan dengan akar budaya bangsa Indonesia.

PKB telah menjadi kebanggaan masyarakat Bali untuk menunjukkan kemampuan dan kebolehan para seniman dalam menggali, melestarikan dan mengembangkan seni budaya setempat.

TBD yang dilengkapi panggung terbuka Ardha Candra berkapasitas 8.000 penonton, dan enam panggung lainnya dengan kapasitas lebih kecil, padat dengan jadwal pentas selama sebulan PKB berlangsung.

Mengingat padatnya pementasan di Taman Budaya, sejumlah pementasan PKB dialihkan ke panggung dan ggedung milik Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang lokasinya bersebelahan dengan Taman Budaya.

Pengalihan beberapa pementasan dari Taman Budaya ke ISI menurut Ida Bagus Sedhawa untuk mengantisipasi padatnya penonton di Taman Budaya. Pementasan yang dipindahkan antara lain parade angklung, parade Baleganjur iringan fragmentari dan pemutaran film dokumenter.

Demikian pula pementasan pada tujuh panggung di Taman Budaya diatur sedemikian rupa sesuai jenis pagelaran. Pementasan sendratari, lagu daerah Bali dan gong kebyar mengambil tempat di panggung terbuka Ardha Candra yang berkapasitas 8.000 penonton.

Sementara pementasan skala lebih kecil seperti Calonarang, topeng Prembon, wayang, arja dan jenis kesenian lainnya dalam skala kecil dipentaskan di panggung Ayodya, Ratna Kanda, angsoka maupun gedung Ksiarnawa Taman Budaya Denpasar.

Gedung Ksiarnawa, merupakan salah satu fasilitas TBD yang berfungsi sebagai tempat pementasasn di lantai dua dan tempat penyelenggaraan pameran di lantai satu.

Gedung yang dibangun tahun 1978 ketika PKB pertama digelar, sudah pernah direhabilitas dengan penataan tempat duduk sedemikian rupa, sehingga penonton dapat menikmati jalannya pementasan secara nyaman.

Taman Budaya juga memiliki fasilitas penunjang antara lain, wantilan yang juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan berkapasitas 600 penonton, dilengkapi ruang untuk berias seniman serta peturasan (WC).

Sementara tidak jauh dari wantilan berdiri bangunan wisma seniman yang dilengkapi sejumlah kamar tidur yang diperuntukkan bagi seniman dari delapan kabupaten yang membutuhkan fasilitas tersebut.

Di bagian timur Taman Budaya atau di pintu keluar terdapat Balai Kambang sebagai tempat istirahat, yang dikitari dengan telaga (kolam) dengan aneka jenis tanaman bunga-bungaan. Semua itu menjadi satu kesatuan yang saling terkait satu sama lain yang dikonsep oleh Ida Bagus Mantra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Suara Karya (Jakarta), 19 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s