GELIAT SENI DI PINGGIRAN JAKARTA


Menjadi ibukota negara, Jakarta merupakan pusat segala aktivitas. Tak terkecuali aktivitas pengembangan kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan. Meski begitu, tak semua pelakunya tinggal di Jakarta. Dengan berbagai alasan, daerah penyokong macam Tangerang, Bekasi, dan Depok banyak dipilih mereka sebagai daerah hunian.

Kesamaan kawasan tempat tinggal lantas membuat orang-orang yang memiliki minat serupa untuk mengkutub. Seperti yang dilakukan sastrawan penghuni kota Depok, Jawa Barat. Mereka bahkan tak sekadar berkerumun. Rabu (30/1) lalu, mereka meluncurkan Gong Bolong, antologi para penyair Depok.

Buku tersebut memuat puisi karya sederet penyair yang tinggal di Depok, seperti A Badri AQT, Adri Darmadji Woko, Asrizal Nur, Diah Hadaning, Dianing Widya Yudhistira, Endang Supriadi, Jimmy S Johansyah, Rieke Dyah Pitaloka, Rita Zahara, dan Sihar Ramses Simatupang. Gong Bolong diterbitkan oleh Yayasan Panggung Melayu bekerjasama dengan Saung Budaya.

Terkait peluncuran Gong Bolong, kritikus sastra Maman S Mahayana punya komentar menarik tentang kiprah penyair Depok. Ia berpendapat buku tersebut dapat dipandang sebagai alat perkenalan kepada penikmat sastra tentang keberadaan penyair Depok. ”Perkenalan ini diharapkan memberi penyadaran serba-sedikit betapa sesungguhnya para penyair ini termasuk sastrawan Indonesia garda depan,” kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) itu.

Maman melihat Depok bukan sekadar wilayah penyangga Jakarta. Depok adalah wilayah yang secara kultural dapat memberi kontribusi penting bagi Jakarta, bahkan juga bagi Indonesia. ”Lewat karya-karya para seniman, tentunya.”

Tentang penerbitan Gong Bolong, Asrizal Nur selaku ketua Yayasan Panggung Melayu, angkat bicara. Tak ada polemik pusat-tepi yang coba ditimbulkannya. ”Sejumlah penyair nasional yang tinggal di Depok merasa sayang jika melulu tampil di kancah nasional maupun internasional namun tidak berkiprah di tempat tinggal sendiri,” katanya Asrizal.

Bagi Asrizal, buku itu penting untuk menggugah kesadaran budaya pemerintah kota Depok. Apalagi, selama ini pembangunan Depok dinilai teralalu berkutat pada fisik. ”Pemerintah Depok melupakan pengembangan budaya yang bernilai hingga merusak kesempatan apresiasi sastra anak muda,” kata penulis Surat Cinta kepada Marsinah (1995) yang sempat membuatnya mendekam di penjara semasa Orde Baru.

Sebanyak 20 orang muda yang mencoba konsisten di jalur sastra dan tak kurang dari 40 sastrawan kenamaan, satu barisan dengan Asrizal. Mereka punya harapan besar tentang Depok. ”Kalau saja geliat kebudayaan di Depok disokong pemerintah, dunia akan mempunyai alternatif dalam memandang Indonesia, tak cuma Bali, Yogyakarta, dan Jakarta,” kata juga Asrizal yang prihatin dengan nasib kesenian tradisional Depok.

Agar harapan besar tadi tak sebatas angan, Asrizal dkk membuka lebar pintu masuk bagi siapa saja yang berminat menggeluti sastra –dan ke depannya, kesenian lain. Saat ini saja 70 persen anggota komunitas sastrawan Depok berasal dari generasi muda. ”Tema karyanya universal. Mulai dari religi hingga dunia perburuhan,” ungkap Asrizal, peraih Anugrah Budaya Sagang, Pekan Baru (2007).

Itu tadi Depok. Bagaimana dengan Tangerang dan Bekasi yang juga wilayah buffer? Tangerang –yang dipadati oleh sekian banyak pabrik– terpantau lebih dulu menggeliat. Kini, ada Dewan Kesenian Tangerang (DKT) yang menggerakkan perkembangan kebudayaan — tanpa menutup mata peran komunitas-komunitas seni yang ada.

Sebagai pelaku sekaligus saksi sejarah budaya di Tangerang, Wowok Hesti Prabowo menuturkan perjalanan panjang hingga terbentuknya DKT. Awalnya, kegiatan berkesenian dilakukan dari rumah ke rumah berupa pembacaan puisi dan pelatihan yang dilakukan secara swadaya. Dari situ, dikenallah istilah ‘sastra buruh’. ”Kami memulainya sejak tahun 1995 dan marak di kalangan buruh peminat sastra,” jelasnya.

Dalam dua tahun, kegiatan berkesenian Wowok dan buruh pabrik Tangerang peminat sastra makin membesar. Sastrawan yang sudah punya nama pun bergandengan tangan dan membentuk Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang bermarkas di Kebun Nanas, Tangerang. ”Bersama teman-teman lainnya, kami lantas membentuk DKT pada 2002,” kenang Wowok yang sempat dua periode memimpin DKT.

Untuk bisa memiliki DKT dan mengantongi anggaran sekitar Rp 100 juta, warga Tangerang pecinta seni melakukan pendekatan ke pemerintah daerah. Wakil rakyat pun dilobi. ”Itu kami lakukan hampir satu tahun,” ungkap Wowok yang tinggal di Tangerang bersama sekitar 50 sastrawan penghias kolom budaya di media massa.

Di Bekasi sebenarnya juga ada Dewan Kesenian. Namun, dibanding Depok dan Tangerang, kegiatan seni di Bekasi sepi-sepi saja. Ironisnya, cerpenis Arie MP Tamba cuma pernah mendengar keberadaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) dan mendapatkan nomor telepon pengurusnya dari seorang sastrawan yang juga wartawan. ”Dulu saya sempat kontak pengurusnya dan mereka berjanji akan menghubungi jika ada acara. Tapi, sampai sekarang tak ada kabarnya,” tutur Arie.

Di Bekasi, Arie mengaku hanya numpang tidur. Sehari-hari, ia lebih banyak berjibaku di Jakarta. ”Setahu saya, DKB pengurusnya campuran dari pemerintah dan seniman. Mereka diberi anggaran untuk menjalankan kegiatannya.” Jadi, apa kabar, DKB? (reiny dwinanda )

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika (Jakarta), 3 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s