MAJELIS SASTRA BANDUNG


Matdon
Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Kota Bandung memiliki banyak penyair muda potensial untuk melahirkan karya, sebagian mereka berkarya dengan cara bergerilya. Sebagian berhasil menembus dunia kepenyairan, namun sebagian besar gerilya para penyair muda ini tidak terlalu menggembirakan.

Banyak sebab, salah satu penyebabnya ialah ruang-ruang diskusi sastra yang sempat hidup pada tahun 80-90-an menjadi redup. Pun ketika menginjak tahun 2000-an, meski banyak komunitas yang mencoba eksis, tapi banyak yang mati suri.

Adalah penggiat sastra seperti Dedy Koral, Aendra Medita, Hermana HMT, Hanief, Ayi Kurnia, dan Yusef Muldiyana sepakat untuk mendirikan Majelis Sastra Bandung (MSB), dan melakukan aktivitas “Pengajian Sastra” dengan cita-cita menggali kembali gairah para penyair muda Bandung, menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi yang pernah hidup beberapa waktu lalu.

Sebagaimana sebuah majelis (tempat duduk mencari ilmu), – katakanlah pengajian sastra menjadi tempat para penyair mengkaji ilmu dan pengetahuan tentang sastra yang di dalamnya meliputi puisi, novel, cerpen, teater, flm, musik dll.

Diakui atau tidak, selama ini para penyair muda kurang membaca karya orang lain, terlalu puas dengan satu kali berkarya, jarang mendiskusikan karya mereka, meskipun kini ada ruang teknologi yang begitu mudah untuk diakses baik dalam bentuk blog atau milis, jejaring Facebook dll, tapi semuanya itu tidak bisa mengalahkan ruang konvensional – bertatap muka – dialog.

Pada 25 januari 2009, bertempat di Gedung Indonesia Menggugat Bandung Jl. Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, merupakan Launching MSB, diiawali dengan diskusi tentang “’Tradisi Sastra di Jawa Barat” menampilkan pembicara Hawe Setiawan dan Soni Farid Maulana.

Beberapa penyair “menghidupkan” Majelis ini, sebagian ada juga yang mempertanyakan dan meragukan keberadaan MSB, bahkan ada yang menuding MSB dibiayai oleh Partai Politik dan “diutus” pemerintah untuk memasuki wilayah sastra melalui para penggiatnya.

Entahlah, mungkin karena kepengurusan MSB memakai nama yang tak lazim dalam sebuah komunitas sastra. Di kepengurusan MSB ada Dewan Taqnin yang dipegang oleh Aendra H. Medita, Dewan Syuro Yusef Muldiyana dan Dedy Koral, Dewan Tanfidz Hermana HMT dan Hanief, sedangkan saya sebagai Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung.

Istilah itu sebenarnya sama saja dengan Dewan penasehat, Dewan Musyawarah, Dewan pelaksana dan Ketua Umum.

Dari acara pengajian sastra, MSB sangat berharap para penyair muda mau berdarah-darah secara serius dan tidak pernah berhenti untuk berkarya, sebab seorang manusia akan diakui eksistensinya dengan berkarya.

Sebulan sekali MSB membahas-mendiskusikan karya para penyair muda, dipandu oleh para penyair yang lebih dulu mengenal dunia sastra, seperti Soni Farid Maulana, Hawe Setiawan, Syafrina Noorman, Imam Abda, Ahda Imran, Irfan Hidayatullah, Eriyanti Nurmala Dewi, Nenden Lilis Aisyah, Septiawan Santana, Anwar, Yopi Setia Umbara, Herri Maja Kelana, Anwar Kholid, Acep Zamzam Noor, dibantu beberapa anggota Forum Lingkar Pena (FLP) seperti seperti Adew Habtsa, Teni Indah, Ratna Ningsih dan Noel Saga. Pengajian Sastra ini terus berlangsung dengan aman, tertib dan sentosa.

Di antara hingar bingarnya sinisme dan cibiran terhadap MSB, akhirnya terbit juga antologi ini dengan kesederhanaan yang sangat sederhana. Sehingga kami bisa berkata bahwa MSB adalah sebuah lembaga kebudayaan (khususnya sastra) nirlaba, mengembangkan kesenian, penerbitan, penelitian, dokumentasi, dan wadah kreativitas tanpa dipengaruhi partai politik.

Terimakasih kepada semua rekan yang telah membantu MSB. Spesial terimakasih untuk Muhammad Safari Firdaus yang kerap hadir dan turut menghangatkan setiap pengajian, Ihung Chianda yang selalu mendukung moral MSB, kawan-kawan penyair yang sabar ikut memilih dan menyunting persiapan buku puisi ini seperti Wida Sireum Hideung, Semi Ikra Anggara, Hawe Setiawan, Adew Habtsa. Hanya Allah Swt yang akan mebalas kebaikan kalian.

Selamat berkarya kepada kawan-kawan penyair, ingat fatwa Majelis Sastra Bandung “Jangan pernah bercita-cita menjadi orang terkenal dalam berkarya. Sebab barang siapa yang berkarya – membuat puisi – karena ingin terkenal, maka Falyatabawwa Mak’adahu Minannar – bersiap siaplah masuk api neraka, artinya bersiap-siaplah untuk kecewa karena ternyata tidak terkenal”.

Berkaryalah dengan hati iklhlas!!

Bandung, Januari 2010

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://pengajiansastra.wordpress.com, 11 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s