MENGAJARKAN ANAK JALANAN MENULIS SASTRA


David Krisna Alka
Penyair dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta , Aktivis JIMM, Ketua Al-Maun Poetry Society dan Chief of Program CMM

Mengapa harus takut pada matahari
kepalkan tangan lawan teriknya
Mengapa harus takut pada malam hari,
nyalakan lilin sebagai penerangnya.
(Syair Anak Jalanan)

Adakalanya keterbatasan sulit untuk memaklumi keinginan memacu segala bentuk kreativitas pada anak-anak jalanan. Keterbatasan itu salah satunya adalah dalam bentuk ketakmampuan dari segi materi untuk meraihnya dengan mudah. Mereka berjalan di terik matahari, dalam dingin malam, dan di tengah kegalauan negeri yang membiarkan mereka terpaksa untuk patuh terhadap keterbatasan materi tersebut.

Sebenarnya anak-anak jalanan adalah anak-anak yang kreatif. Mereka mau menggali potensi yang mereka miliki, seperti berpuisi dan bernyanyi di dalam bis kota, di tengah kemacetan kota, dan di bawah lampu merah, dan mereka memiliki pengalaman hidup yang pahit dan unik. Dalam perjalanan kehidupan mereka, kerikil-kerikil tajam yang menghadang merupakan tantangan hidup yang mau tak mau harus mereka hadapi.

Pandangan keseharian yang sudah biasa terlihat di beberapa kota besar negeri ini yaitu, nyanyian duka anak-anak jalanan. Lantunan syair lagu yang mereka nyanyikan merupakan hiburan hidup yang berusaha menyenangkan hati dengan berpuisi dan bernyanyi, terkadang hanya dengan iringan denting kumpulan tutup botol. Banyak dari mereka yang sepulang sekolah pergi mengamen untuk membiayai keperluan sekolah dan banyak juga yang tak mampu sekolah karena sanak saudara sudah tiada.

Di sisi lain, anak-anak yang berkecukupan tengah asyik membaca dan menonton film Harry Potter, tanpa memikirkan apa yang akan di makan esok hari. Suatu hari, penulis pernah mendengar syair lagu yang dilantunkan pengamen yang usianya sekitar kurang lebih berumur lima tahun. Bait pertama syair itu kira-kira berbunyi, ”Aku ingin nyanyikan lagu, lagu tentang kemunafikan dan penindasan….”

Penulis menjadi merasakan betapa puitis dan menggigit sekali syair itu dan syair yang di atas. Mengapa para sastrawan belum mengajari mereka bagaimana menulis puisi atau cerpen. Apa yang dilakukan para pengurus majalah sastra Horison pada salah satu programnya Sastrawan masuk sekolah akan lebih berarti jika difokuskan juga bagaimana sastrawan membina anak-anak jalanan untuk berkreativitas dengan menulis karya sastra.

Anak-anak jalanan lebih banyak memiliki pengalaman yang getir dan imajinasi mereka bahkan lebih tajam untuk dituangkan dalam bentuk puisi atau cerpen. Keseharian yang menantang untuk dapat bertahan hidup di kota-kota besar akan dapat mengumpulkan memori pengalaman yang unik. Untuk itu, sudah seharusnya mereka dilatih bagaimana menuangkan pengalaman tersebut dalam bentuk curahan rasa dan kata yang mendalam, diajarkan untuk menuangkannya dalam bentuk karya sastra, minimal puisi.

Banyak sudah karya-karya sastra yang mengungkap fenomena sosial mengenai penindasan terhadap rakyat kecil, tetapi jarang sekali ada pembinaan terhadap mereka untuk dapat berkarya menciptakan karya sastra. Cerpenis Hudan Hidayat pernah melakukan pembinaan seperti itu dengan mengajarkan bawahan di kantornya untuk menulis cerpen, tetapi belum banyak yang mengikuti jejak Hudan, apalagi membina anak-anak jalanan menulis karya sastra.

Selain itu, para sastrawan khususnya yang telah ”mapan” cenderung untuk lebih mengurus diri sendiri walau dalam karyanya berkisar pada persoalan kemanusiaan. Meskipun sastrawan berjuang melalui karyanya, toh tak ada salahnya apabila melakukan penggalangan aksi mengajar menulis sastra kepada anak-anak jalanan. Tidak selamanya keluh-kesah sosial harus diperjualbelikan dengan bentuk karya sastra. Akan tetapi, bagaimana pengarang berguna selamanya bagi masyarakat dengan mengkader orang-orang yang lemah supaya mampu juga berkarya walau tak harus menjadi besar seperti mereka (sastrawan).

***

Selain itu, peran negara dalam program sosial kemanusiaan yang menitikberatkan pada kesejahteraan anak-anak terlantar, baik pendidikan maupun ekonomi sudah seharusnya dilaksanakan secara konkret dan berkelanjutan. Yang sering terjadi selama ini, penyelenggara negara sering terlarut dalam persoalan politik untuk kepentingan kelompok atau golongannya dan mengabaikan program-program sosial kemanusiaan terutama bagi anak-anak terlantar.

Peran negara untuk menciptakan kader-kader bangsa yang berkualitas kiranya tidaklah sebatas memanfaatkan momen dan menjalankan rutinitas perayaan aksi sosial yang semu semata. Namun lebih dari itu, penggalangan aksi sosial kemanusiaan dan pendidikan untuk kemandirian bagi anak-anak tersebut, harus terus diupayakan tanpa kepentingan mengharapkan simpati, atau ketika pemilihan umum, untuk menambah suara dari masyarakat. Negara dan lembaga sosial yang ada, menurut Moeslim Abdurrahman (1997) tampaknya negara lebih peduli memperjuangkan hak-hak masyarakat sebagai isu as a citizen dan as a consumer daripada memperjuangkan nasib orang-orang yang menderita sebagai as a worker atau as under-class citizen.

Selanjutnya peran negara dan sastrawan dalam masalah anak jalanan ini, dengan mengutip Bourdieu, Dr. Setya Yuwana dalam buku Kesenian Rakyat dalam Hegemoni Negara (2000), dalam konteks yang sama namun fokus yang berbeda, menyatakan ada tiga ruang yang berhubungan satu dengan yang lainnya. Pertama, Medan kekuasaan (the field of power). Medan ini merupakan suatu perangkat ekonomi dan politik sebagai hasil kekuasaan yang pada akhirnya dipegang oleh kekuasaan konkret yang secara ruwet menjalankan kekuasaan tersebut. Keruwetan tersebut (interpretasi penulis) dapat dikaitkan dengan medan kekuasaan negara yang kebingungan bagaimana mengatasi ketimpangan sosial khususnya yang dialami anak-anak jalanan.

Kedua, medan sastra (literary field), suatu universum sosial di bidang estetika yang memiliki perangkat hubungannya sendiri. Ketiga, medan kebiasaan dalam penciptaan (the genesis of the producers habitus), yakni sikap yang dimiliki oleh masing-masing seniman (sastrawan), bagaimana ia berjuang menentukan posisinya berdasarkan persepsi pribadi.

Dalam hal ini, perjuangan para sastrawan tidak harus mengkonsolidasi kaum yang lemah untuk melakukan perlawanan fisik menuntut kesetaraan ekonomi kepada negara meskipun pengaruh eksternal kekuasaan negara (state power) dalam memberi ganjaran dan hukuman sulit dihindari. Lebih jauh lagi menurut Bourdieu (1993), pengaruh kekuasaan negara berbentuk dominasi atau penekanan (coercion) maupun kepemimpinan intelektual atau moral, kekuasaan itu masuk, mengatur bahkan menentukan genre sosial yang dipergelarkan berdasarkan ideologi yang mendominasi.
Akan tetapi, di bumi Indonesia yang katanya demokratis ini, rakyat tentu akan mendukung apabila para sastrawan memulai bentuk perlawanan tersebut dengan mengkonsolidasikan anak-anak jalanan untuk belajar menulis karya sastra, sebagai langkah strategis peran sastrawan dalam membantu memperbaiki nasib bangsa ini.

Meminjam bahasa sastrawan muda Saut Situmorang (2004), sebaiknya para sastrawan tidak dikesankan sebagai nabi kesepian yang sedang menghujat masyarakat sekitarnya, seakan-akan kebenaran moral yang secara tak sadar diklaim dengan semena-mena yang akhirnya membuat karya sastra tersebut gagal menjadi puitis tapi berhasil menjadi retorika. Oleh karena itu, lagu tentang kemunafikan dan penindasan yang dilantunkan oleh anak-anak jalanan itu hendaknya dapat menggugah kita semua. Amin.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Sinar Harapan (Jakarta), 6 November 2004.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s