PENYAIR DAN INSTITUSI JALANAN


Binhad Nurrohmat
Penyair dan Esais

Penyair tak lahir dari rahim langit. Ia tumbuh dari bumi tempat lingkungan masyarakat dan tradisi hidup serta membentuknya. Setiap penyair niscaya merupakan produk dari suatu mata rantai historis panjang penuh lekuk kelindan sehingga biografi kepenyairan melekat pada dan (melalui penelusuran yang gigih dan tekun) bisa diuraijelaskan dari latar masyarakat dan tradisi yang melingkupinya. Lain kata, penyair tak menyembul dari kekosongan, melainkan anak kultural yang lahir dari persetubuhan dengan masyarakat dan tradisi.

Di negeri mana pun tak ada sekolah resmi untuk mencetak penyair, meski sebagian besar penyair modern Indonesia adalah manusia sekolahan yang terdidik formal secara intelektual yang di antaranya ada yang cemerlang maupun berantakan prestasi sekolah formalnya. Penyair tumbuh dan hidup di luar semua sistem sosial formal maupun informal. Tak ada organisasi yang menghimpun para penyair yang benar-benar punya kekuatan riil.

Dalam KTP tak dikenal jenis pekerjaan sebagai penyair. Penyair bekerja tanpa ijazah dan jadi sejenis profesi “ilegal”. Bisa dikatakan secara ekstrem bahwa kategori sosiologis penyair serupa gelandangan dan orang gila. Paradoksnya, penyair kerap disebut sebagai hati nurani bangsa, benteng moral kultural termurni, simbol kedalaman menghayati dunia, bahkan legislative of the world. Apakah ini basa-basi kultural belaka?

Dalam banyak kasus, penyair serupa institusi jalanan yang menanamkan pandangan atau nilai melalui pengaruh puisinya yang populer atau hidup di masyarakat yang menyuarakan pandangan atau nilai sosial-politik, religius, maupun kedalaman perasaan cinta yang mampu menjadi suara atau artikulasi kolektif masyarakat untuk mengucapkan dirinya karena puisi itu bisa mewakili perasaan dan pikiran kolektif mereka.

Penyair berada di dalam dan sekaligus di luar masyarakat dan tradisi, seperti bertukar tangkap dengan lepas. Penyair hidup dalam kubangan anomali atau ambiguitas sosial yang ganjil dan rawan. Dalam banyak kasus, penyair ditempatkan sebagai sekutu atau seteru bagi masyarakat dan tradisi. Penyair kerap diagungkan seperti suara yang mengembuskan kekudusan dan keluhuran atau dinajiskan serupa bisikan dari kegelapan sebagaimana tafsir yang menempatkan penyair sebagai kaum penempuh jalan kesesatan.

Penyair seperti tumbuh dan hidup di luar semua sistem sosial formal maupun informal itu merupakan suatu gambaran simbolik bagi eksistensinya yang cenderung di luar cengkeraman mainstream, “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”, mangkir dari kejamakan, atau “berada di atas angin”. Maka jangan heran bila penyair Indonesia berkeliling dunia berkali-kali dengan memanggul nama bangsanya namun tanpa lembaga resmi masyarakat dan negaranya yang mendukung, mengantar kepergian, maupun menyambut kepulangannya.

Secara sosial, penyair seperti makhluk abnormal sehingga masyarakat yang melahirkannya cenderung canggung menerima kehadirannya secara wajar. Di alam masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, mengerahkan sepenuh tenaga dan waktu demi menulis puisi dinilai sebagai tindakan mubazir dan ahistoris. Masa keluhuran kepujanggaan sudah hilang.

Lantaran bernasib sebagai komunitas minoritas dalam kepungan keramaian dunia sosial yang serba material, penyair cenderung menjadi individu soliter dan sensitif yang lebih merasa nyaman berinteraksi dengan sesama kaumnya dan tak jarang menempuh kehidupan “ganjil” yang sulit dimengerti oleh cara pandang konvensional. Latar sosiopsikologis semacam ini turut membentuk citra sosial penyair di mata masyarakat sebagai makhluk asosial dan individualis yang membangun dunia sendiri di lorong kesunyian yang kerap romantik.

Kata orang, menulis puisi itu maksimal energi dan minimal ekonomi. Akan tetapi, meski tak ada jaminan sosial ekonominya, sosok penyair terus lahir dari masa ke masa. Walau banyak sudah bukti sejarah penyair hidupnya merana, tak sedikit yang ngotot ingin menjadi penyair. Para penyair begitu peduli dunia puisi, meski masyarakat tak menginginkannya, apalagi memesannya. Para penyair tak henti menulis puisi secara berdarah-darah, tak kenal kompromi, serta sarat perasaan sakral.

***

Penyair tak lahir secara murni-natural seperti semak belukar. Dalam riwayat kepenyairan modern Indonesia, muncul para “guru” yang membina para penyair. Mereka bukan pendidik berbaju batik yang memeriksa pekerjaan rumah dalam kelas, di antara mereka terjalin hubungan akrab antara pencipta dan apresiator tanpa papan tulis. Bagi para penyair, mereka menjadi “pembaca pertama yang terpercaya” yang layak diperhitungkan “mutu” apresiasinya sebelum puisi dihadirkan ke khalayak luas. Tentu, corak atau pandangan perpuisian sang guru sedikit-banyak membentuk pandangan perpuisian mereka.

Pada dekade 1970 sampai awal-awal dekade 1990-an, Saini KM setia mengapresiasi puisi penyair yang mengasah diri di rubrik “Pertemuan Kecil” HU Pikiran Rakyat Bandung. Saini KM mengawal satu generasi penyair yang menjadi sebagian jajaran depan di ruang perpuisian modern Indonesia pada dekade 1980 hingga dekade 1990-an, misalnya, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahda Imran, Cecep Syamsul Hari, Juniarso Ridwan, Ahmad Syubbanuddin Alwy, dan Soni Farid Maulana. Demikian juga Umbu Landu Paranggi yang mengasuh sejumlah penyair yang menempa diri di Yogyakarta pada dekade 1970 seperti Linus Suryadi A.G. dan Emha Ainun Nadjib serta sejumlah penyair yang mengolah diri di Bali pada dekade 1990-an, contohnya, Warih Wisatsana dan Raudal Tanjung Banua.

Para guru penyair itu adalah kaum volunter kebudayaan dalam perpuisian. Mereka merupakan representasi masyarakat yang ikhlas mengayomi penyair dalam belantara sosial yang apatis pada eksistensi puisi dan kepenyairan. Setidaknya mereka memberi dasar moral, motivasi, kepercayaan diri, atau spirit kepada para penyair sehingga berdaya dan tabah menghadapi kerasnya dunia. Kelak, dalam perkembangannya, anak-anak sang guru itu menempuh jalan kepenyairannya sendiri, keluar dari pandangan perpuisian sang guru atau mengembangkannya sebagai sebuah pijakan perpuisiannya.

***

Penyair tak bisa sepenuhnya dicetak oleh masyarakat atau murni membentuk dirinya sendiri. Sesungguhnya penyair dilahirkan dan sekaligus melahirkan dirinya sendiri. Masyarakat, tradisi, dan para guru itu kemudian menjadi sebuah latar di belakang para penyair yang meski jauh tak bisa diceraikannya sama sekali atau malah sebaliknya.

Sejauh apa pun penyair mengelana tetap berada di bumi yang sama, yaitu dunia yang dihuni dan dihidupi oleh nilai kolektif masyarakatnya dan diregulasi oleh kekuasaan bernama negara. Apa yang tersemat dalam puisi merupakan produk dari pergumulan penyair dengan dunia yang melingkupinya dan pendar puisi berakar dari api pergumulan itu, untuk mengamini atau menyubversinya, bukan sebagai ketaklukan atau makar, melainkan upaya menjaga “kemurnian” suara individu di tengah serbuan injeksi maupun represi nilai yang secara kolektif cenderung tak disadari sepenuhnya. Sikap inilah yang memungkinkan penyair menyerap suara zaman yang kerap dibungkam tangan kepentingan dominasi atau hegemoni nilai masyarakat atau negara yang mengaramkan kesadaran secara massif.

Sikap penyair berjarak dengan dunia merupakan sebatas etos yang membuatnya dalam posisi bisa memandang dunia lebih jernih dan substil, sebab sesungguhnya penyair berada di dalam dunia dan mustahil hengkang darinya. Sebagai institusi jalanan, penyair berupaya menjaga suaranya tak bertekuk lutut menghadapi kuasa nilai yang dibentuk oleh institusi masyarakat dan negara yang cenderung beku namun kerap memaksa, penyair sebagai institusi jalanan bukanlah personifikasi yang menjadi ruang pelarian penyair lantaran tergusur oleh nilai yang lain.

Hakikinya, penyair tak bisa menjadi Malin Kundang sepenuhnya terhadap semua itu, melainkan sebatas menjaga jarak atau bertarik-ulur dengan dunia yang melingkupinya yang bersemayam dan menggeliat di dalam dan di luar dirinya, seperti sepasang kekasih yang kadang bertengkar hebat dan kadang pula berpelukan mesra.

Sejumlah mitos kepenyairan yang masih hidup dalam benak masyarakat merupakan refleksi keberakaran historis puisi dan penyair dalam kehidupan mereka. Betapa banyak pejuang kehilangan nyawa pada masa Perang Kemerdekaan terlupakan, tetapi “Si Binatang Jalang” Chairil Anwar terus hidup dalam kepala banyak orang lantaran kepenyairan dan bait puisi “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Ya, guratan puisi bisa terus berdaya setara tindakan pahlawan besar yang tak lekang dalam kenangan banyak orang, bahkan hingga jauh setelah tubuh penyair musnah ditelan tanah permakaman umum….

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 2 Agustus 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s