PESTA KESENIAN BALI MEMBERDAYAKAN KANTUNG-KANTUNG BUDAYA


I Made Bandem

Festival Kesenian Bali (PKB) tak dapat diingkari, telah semakin mengukuhkan eksistensi Bali sebagai daerah budaya, disamping sederet julukan lainnya. Sebuah festival pada dasarnya adalah sebuah pesta. Festival kesenian, tentu akan mempertontonkan seluruh potensi kesenian dan produk seni untuk dipresentasikan kepada publik atau masyarakat. Artinya, kesenian dan karya seni kembali atau dikembalikan pada pendukungnya, yaitu masyarakat, untuk ditonton, dinikmati, dipuji, dikritik, atau kemudian untuk dimiliki. Terdapat proses dan mekanisme partisipasi dalam bentuknya yang berlapis-lapis.

Betapapun seniman hidup di tengah masyarakat, kemudian terinspirasi, dan termotivasi oleh masyarakat ketika berkarya cipta. Adalah sebuah realitas, bahwa seniman adalah juga anggota suatu komunitas atau masyarakat, yang secara kebetulan memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mengkreasi suatu karya seni. Karena itu kesenian atau produk seni yang ideal, akan selalu berangkat dari persoalan masyarakatnya, atau persoalan kemanuasiaan secara luas, dan karena itu akan mendapatkan dukungan dari masyarakat pula.

Festival Kesenian Bali yang digagas oleh mendiang Gubernur Prof. Dr. I.B. Mantra pada tahun 1979, kini telah sampai pada penyelenggaraan yang ke-32.

Tiga puluh dua tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk melihat dan mengukur sebuah prestasi. Selama 32 kali penyelenggaraan itu, tentu saja sudah teruji dan terbukti, bahwa masyarakatlah sebagai pendukung utama. Pertanyaannya adalah, sesungguhnya seberapa jauh dan seberapa besar “partisipasi”, dalam konteks atau pengertian apapun masyarakat? Apakah masyarakat benar-benar dapat mengakses secara leluasa untuk kemudian dapat berperan, atau menikmati, memuji, mengritik, atau memiliki? Apakah potensi yang ada dalam masyarakat benar-benar memiliki peluang untuk tampil berpartisipasi? Jika dapat, bagaimanakah mekanismenya?

Sederet pertanyaan itu masih dapat ditambah, seiring dengan aspirasi yang muncul. Penyelenggara (dalam hal ini pemerintah provinsi, kabupaten/kota lewat Dinas Kebudayaan, Taman Budaya dan instansi sejenis), seniman, karya seni, dan masyarakat adalah kata kunci yang harus diurai, dijelaskan mengenai hubungannya, agar masing-masing berada pada posisi yang proporsional. Saya percaya para pemikir budaya, para seniman, para pengamat, akan selalu mengacu pada sejarah kelahiran PKB, dan terus berupaya mengaktualisasikan ide-idenya, seiring dengan perkembangan masyarakat, demi kepentingan sejumlah komponen yang ada dalam masyarakat pula. Pada dasarnya adalah, bagaimana sebuah festival dapat berfungsi sebagai ruang ekspresi secara bebas, terbuka, dan bertanggungjawab.

Fungsi Horisontal-Fungsi Vertikal
Secara sederhana, PKB memiliki fungsi dua arah, yaitu pertama fungsi horisontal dan kedua fungsi vertikal. Pada yang pertama, fungsi horisontal, mengacu pada asas pemerataan. Artinya, bagaimana penyelenggara dapat sebanyak mungkin mengakomodasi potensi kesenian dalam masyarakat untuk dapat ditampilkan dalam ruang pameran dan panggung pertunjukan. Terlebih lagi jika mengingat bahwa sebuah festival, seperti PKB, menggunakan dana masyarakat (dari APBD atas persetujuan DPRD), maka “masyarakatlah” yang pertama-tama memiliki hak mengakses, baik dalam pengertian berperan menjadi pelaku, aktor, aktris, seniman, atau sebagai pihak pertama-tama memiliki kesempatan menonton, mengritik, dan memiliki serta tentu juga berkewajiban menjaga dan mengamankan.

Persoalannya adalah bagaimana aturan mainnya? Tentu, menyangkut aturan main, harus dibicarakan bersama oleh berbagai pihak, seperti tokoh masyarakat, tokoh budaya, seniman, pemerintah (penyelenggara) sebagai fasilitator dan pengamat.

Pada fungsi yang kedua, fungsi vertikal, mengacu pada pencapaian kualitas tertentu. Pada fungsi yang kedua ini, diasumsikan bahwa “ruang festival” adalah tempat presentasi bagi karya-karya seni yang memiliki kualitas tertentu, atau semacam “ruang kulminasi” yang mementaskan atau memajang karya-karya puncak. Pencapaian kualitas atau mutu sama halnya dengan proses seleksi. Sementara itu, proses seleksi beresiko membandingkan mutu dengan parameter tertentu (tergantung tim atau dewan seleksi, atau sering disebut sebagai kurator), dan akan menggugurkan yang (dianggap) tidak/kurang bermutu.

Tentu sudah kita ketahui bersama, bahwa pada tataran seleksi merupakan persoalan yang krusial, yang seringkali mengakibatkan ketidakpuasan pada berbagai pihak. Meski hal itu adalah sebuah resiko yang niscaya terjadi, akan tetapi tetap diperlukan pemikiran yang kritis dan mekanisme serta kriteria yang dianggap proporsional dan berwatak terbuka. Keterbukaan merupakan faktor penting dalam proses semacam ini. Karena itu pula diperlukan bahan pembanding, bagaimana sebaiknya ikhwal “mutu” ini dicapai.

Namun di luar dua fungsi tersebut, terdapat fungsi yang langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu fungsi antara, berupa hiburan, pendidikan, promosi, juga media informasi. Pada dataran fungsi inilah masyarakat langsung masuk dan terlibat, serta dengan sendirinya menyeleksi mana materi yang dapat digunakan (yang berfungsi) dan mana yang tidak ada mafaatnya.

Target dan Benturan
Membicarakan fungsi, adalah juga membicarakan target capaian. Fungsi horisontal, target capaiannya adalah bagaimana sebanyak-banyaknya mengakomodasi materi pertunjukan/pameran dengan tetap tidak mengesampingkan mutu. Sementara fungsi vertikal menargetkan pertunjukan/pameran yang bermutu.

Target dan fungsi PKB seperti yang terurai di atas, sesungguhnya menyimpan potensi terjadinya benturan. Fungsi horisontal dengan sendirinya langsung berhadapan secara diametral dengan fungsi vertikal. Keduanya memiliki segmen peminat yang berbeda. Fungsi horisontal berpeluang merangkul apresian yang beragam dan meluas. Sementara vertikal, segmen peminatnya akan cenderung mengerucut, menyempit, sesuai dengan kapasitas apresiasinya.

Apakah dengan demikian PKB harus memilih salah satu kecenderungan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk menjawabnya, atau setidaknya tidak dapat begitu saja menentukan pada salah satu pilihan. Justru menjadi persoalan yang menantang untuk dicarikan solusinya, bagaimana tetap terdapat “ruang horisontal” yang mampu merangkul kreativitas banyak pihak. Dan, bagaimana pula tetap terdapat “ruang yang vertikal” agar kebutuhan estetika dan intelektualitas sebagian lapisan masyarakat dapat terpenuhi.

Profesionalisme Organisasi
Pada intinya, sesungguhnya memang tak mudah mengkreasi sebuah perhelatan kesenian yang diharapkan dapat memuaskan banyak pihak. Akan tetapi jika kita percaya, bahwa kesenian adalah juga sebuah proses, maka sebuah perhelatan festival kesenian tahunan sesungguhnya juga merupakan penggalan-penggalan proses. Dengan kata lain, terdapat tahapan proses, baik yang terjadi pada individu atau kelompok yang tidak dapat begitu saja ditampilkan dalam waktu yang ditentukan.

Dalam hal ini, organisasi merupakan nadi sebuah kerja setara PKB. Maka, organisasi macam apakah yang dibutuhkan? Secara sederhana dapat dikatakan yang dibutuhkan adalah organisasi yang profesional. Memang ikhwal profesionalisme ini perlu diurai secara rinci oleh para ahlinya. Yang terpenting adalah, bagaimana piranti organisasi yang ada dapat “menerjemahkan” ide besar PKB, juga kehendak para seniman, dan keinginan masyarakat.

Salah satu bagian penting dalam tubuh organisasi yang tidak boleh dilupakan adalah “kurator”. Mekanisme kuratorial mutlak diberlakukan dalam setiap materi atau bidang yang ingin ditampilkan. Pola kerja operasional kurator dalam PKB tentu saja spesifik, mengingat pristiwa ini berlangsung setiap tahun. Kurator pada PKB misalnya menggunakan pola kerja selama setahun, dimulai pada setiap PKB berakhir. Karena tugas mereka adalah melakukan pengamatan selama setahun, dan menentukan kriteria materi atau bentuk macam apa yang ingin ditampilkan pada PKB tahun berikutnya sesuai dengan tema yang disepakati.

Hal tersebut sekadar contoh untuk menjelaskan bahwa setiap materi perlu perencanaan yang matang dan solid. Kematangan dan soliditas hanya dapat dicapai jika jauh hari sudah dirancang. Artinya, jauh hari sudah dapat diperhitungkan faktor-faktor penghambat, atau faktor-faktor resiko, dan kemudian disiapkan segala macam antisipasi serta solusinya. Termasuk di wilayah ini adalah bagaimana menangani publikasi.

Kita tahu publikasi merupakan tulang punggung dan kunci sukses sebuah kerja. Maka organisasi juga harus profesional mengelola berbagai macam informasi bersama dengan pengelola media massa, cetak dan elektronik. Jangan sampai pawai dan pergelaran sudah dimulai, deskripsi sajian belum juga tercetak.

Pada intinya, organisasi harus matang. Kematangan organisasi merupakan indikator untuk mengukur berhasil atau tidaknya sebuah perhelatan. Hal lain yang dapat dinikmati dari oraganisasi yang matang, adalah mudahnya pertanggungjawaban, baik kepada organisasi maupun kepada masyarakat. Bukankah “manajemen kebudayaan” yang berbasis keterbukaan dapat menghindarkan dari segala macam rekayasa dan prangsangka?

Kantung Budaya
Daerah Bali dapat dikatakan kantung besar kebudayaan Bali. Di dalamnya tersimpan sejumlah besar potensi berbagai macam bentuk dan ekspresi kesenian. Belum terhitung kesenian Bali yang ada di luar daerah maupun di luar negeri. Itulah saya kira aset besar, yang sekali lagi, membutuhkan penangan dan oraganisasi yang profesional. Dalam konteks PKB yang menjadi substansinya adalah memberdayakan kantung-kantung budaya yang tersebar luas di seluruh kota/kabupaten se-Bali dan di luar Bali. Desa pakraman, sanggar seni, galery seni, museum-museum, perguruan tinggi, sekolah-sekolah, rumah-rumah seni, taman budaya, dan hotel-hotel merupakan kantung budaya yang tak ternilai potensinya.

Upaya memberdayakan kantung-kantung budaya juga dipahami sebagai salah satu solusi untuk mengatasi benturan yang terjadi antara fungsi dan kepentingan horisontal dan vertikal.

Dengan kantung-kantung budaya yang di-support, didukung fasilitasnya, masuk dalam kalender kegiatan, maka mereka akan menggerakkan seluruh potensinya dengan mempergunakan kriteria mereka masing-masing, namun tetap dalam kerangka PKB.

Akhir-akhir ini banyak anggota masyarakat secara kritis menanyakan, selama 32 tahun ini apakah hasil konkrit dari PKB? Tim Pengawas independen yang dipimpin oleh Drs. I Wayan Geria dan Prof. Dr. I Wayan Dibia mendata sejumlah hasil konkrit dari PKB yang meliputi lahirnya sendratari kolosal, tumbuhnya adi merdangga, blaganjur modern, kreasi-kreasi baru kakebyaran, sandya gita (gagitaan), musik kontemporer, makin populernya lagu-lagu pop Bali, berbagai desain kerajinan, dan terangkatnya endek sebagai busana nasional. Namun, sesungguhnya yang lebih penting dari semua itu adalah terjadinya “proses berkesenian” yang berkelanjutan.

Almarhum Prof. Dr. I.B. Mantra pada tahun 1989 ketika mengakhiri masa jabatan kedua sebagai gubernur, sangat prihatin jika PKB tidak akan dilanjutkan oleh para penggantinya. Kekhawatiran itu terjawab tuntas oleh Gubernur Prof. Dr. I.B. Oka (almarhum), Gubernur Drs. I Dewa Made Bratha, dan kini Gubernur I Made Mangku Pastika yang telah menetapkan PKB sebagai wahana, bahkan strategi untuk pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali. Diwacanakan ulang “Bali Sebagai Pusat Kebudayaan Dunia” merupakan visi PKB memasuki tataran dunia global ini. Apapun perkembangan dan perubahannya jangan lupa bahwa misi utama PKB adalah revitalisasi kesenian Bali, menghidupkan kembali kesenian dengan roh baru sesuai dengan zamannya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Bali Post (Denpasar), 25 Juli 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s