PERGINYA SANG SERDADU TUA


Penonton yang memadati arena pertunjukan di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta, tersihir oleh penampilan Hasyim KS, sastrawan yang penyair berambut putih itu. Dia membacakan dua cerita pendek “Paul Jones” dan “Nguyen Polam” pada acara Malam Sastra Aceh pada 12 – 13 April 2002.

Penonton spontan terkekeh, manakala Hasyim KS yang tampil dengan stelan lengan panjang yang digulung sampai siku, menirukan karakter Paul Jones, laki-laki Amerika yang menjadi tokoh sentral cerita pendek itu. Masih terbayang bagaimana Hasyim menirukan suara rem, porsneling mobil dan suara tenggorokan, ketika menenggak minuman saat membacakan Paul Jones. Masih terbayang bagaimana mimik dan suaranya, menirukan gaya bicara Paul Jones dalam logat bule, atau logat Nguyen Polam, si orang Vietnam yang sedang berkunjung ke Aceh dalam cerita pendek Nguyen Polam.

Paul Jones dan Nguyen Polam, tergolong sangat kuat melukiskan relasi dan pandangan orang asing terhadap Aceh dan juga sebaliknya. Bahwa ada sisi Aceh lain, yang sama sekali tidak sempat terpahami orang luar, termasuk bagaimana mudahnya seorang bule mendapatkan minuman Double Cat (minuman beralkohol) di kedai minuman di Aceh. Surat kabar Koran Tempo, dalam salah satu edisinya menulis bahwa cerpen Hasyim KS adalah salah satu variasi di tengah tema-tema anti kekerasan dan militerisme yang muncul dalam pembacaan puisi dan cerita pendek.

Pembacaan cerita pendek Paul Jones dan Nguyen Polan di TUK agaknya menjadi penampilan terakhir Hasyim KS. Sejak itu, hampir tak pernah terdengar lagi adanya pembacaan cerita pendek Hasyim baik di publik Aceh maupun luar Aceh, “Setelah ini, saya barangkali, akan kembali ke kampung halaman. Mengisi hari tua di sana. Toh anak-anak sudah besar, sudah bias menentukan jalan hidupnya sendiri”, kata Hasyim saat masih berada di Jakarta.

Ia tidak sedang menuliskan cerita pendek, ketika mengucapkan kata- kata tersebut. Karena waktu itu, Hasyim harus pensiun dari karyawan Serambi Indonesia. Rencana berhari tua di kampung halamannya, Lhok Paoh, Tapaktuan, benar-benar menjadi kenyataan. Tak lama setelah pensiun dari Serambi, ia berkemas untuk kembali ke tanah kelahiran. Sampai kemudian ajal menjemputnya pada hari, Selasa 13 Januari 2004 sekitar pukul 19.30 WIB.

Innalillahi waina ilaihi raji’un. Hasyim KS yang oleh koleganya digelari “Serdadu Tua” lahir di Lhok Paoh 21 Juli 1940 meninggalkan dua putra, Surya Kanta (Boy) dan Fitrah Mirja (Bob) dari istrinya, Cut Ansariah. Hasyim KS adalah salah seorang seniman modern penting di Aceh, selain menekuni sastra, puisi, dan prosa ia menulis naskah drama dan juga sesekali menjadi Aktor.
Kemahirannya menguasai Folklore Aceh, dia buktikan melalui kolom “Apit Awe” yang ditulisnya secara tetap setiap hari di salah satu sudut halaman depan surat kabar ini sejak awal penerbitannya hingga dirinya pensiun. Ketika masih di Serambi, meja kerjanya juga berada di salah satu sudut redaksi.

Hasyim KS memang tidak pernah berhenti menulis sastra. Itulah kegiatan yang ditekuninya secara otodidak. Termasuk karirnya di bidang jurnalistik ditapakinya dengan belajar secara alamiah pula. Hasyim pernah menjadi koresponden harian Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis di Banda Aceh, membantu majalah Tempo serta berbagai suratkabar lokal Aceh. Karirnya sebagai wartawan dilanjutkan sebagai wartawan Analisa Medan, kemudian beralih ke Serambi dan menjadi salah seorang yang terlibat langsung sejak awal penerbitannya.

Sebagai sastrawan, dia telah begitu banyak cerita pendek dan puisi. Karya-karyanya banyak diterbitkan dalam antologi dan diterbitkan berbagai jurnal kebudayaan bersama penyair Taufik Ismail dan LK Ara, menjadi editor antologi sastra Aceh “Seulawah”.

Satu hal yang sangat sulit dilupakan dari sosok Hasyim KS adalah sifat mengayom dan mengarahkan bakat-bakat para penulis muda. Seringkali Hasyim melampirkan catatan koreksinya terhadap puisi atau prosa yang tidak dimuat di kolom budaya Serambi ketika masih diasuhnya. Hasyim merasa perlu menyampaikan koreksi-koreksi itu sebagai perbandingan terhadap karya yang dikirimkan.

Serdadu Tua itu kini telah pergi. Ia meninggalkan banyak jasa bagi sastra modern Aceh. Sayangnya, rencana menerbitkan buku “Kumpulan Cerita Pendek” Hasyim KS, belum berhasil diwujudkan. Padahal usaha itu sudah sejak lama dirintis. Barangkali Dewan Kesenian Aceh akan mengambil alih tugas itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa- jasanya.

Berita duka kepergian Hasyim KS menghadap Sang Khalik secara berantai disebarkan oleh seniman dan kalangan jurnalis di Aceh ke mana-mana, sehingga dalam waktu singkat saja kawan-kawan seniman di Aceh, Jakarta dan luar negeri menyampaikan rasa belangsungkawa yang dalam atas kepergian penyair besar Aceh untuk selama-lamanya.

Ketika kondisi fisiknya terus menurun, kawan-kawan seniman Banda Aceh yang sedang menggelar Kutaraja Art Festival (KAF) menggalang dana untuk membantu Hasyim. Selain pada tahun 2003, Hasyim KS juga mendapat penghargaan seni dari DKA yang diserahkan saat pelaksanaan KAF.

H Sjamsul Kahar, mantan Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) mengatakan, sangat merasa kehilangan atas kepergian Hasyim KS. Selain wartawan senior, Hasyim juga seorang penyair dan sastrawan besar Aceh. “Meski karya-karyanya tidak banyak dipublikasikan, tapi dia sangat kreatif. Selain temperamental, dia juga terkenal cukup kocak dengan joke-joke segarnya. Kita sangat kehilangan atas kepergian penyair dan sastrawan Aceh itu,” kata Sjamsul kepada Serambi, tadi malam.

Hal yang sama juga dirasakan kalangan seniman Aceh dan pengurus DKA. Untuk mengenang Hasyim, DKA merencanakan akan menerbitkan buku karya sastranya dalam tahun 2004 ini. “Kami merasa kehilangan atas kepergian Hasyim KS dan menyampaikan rasa belangsungkawa mendalam. Mudah-mudahan DKA bisa menerbitkan satu buku karya sastranya yang sudah lama menjadi cita-citanya,” kata Ketua DKA, Helmi Hass penuh harap.

Selama sebulan terakhir, penyakit komplikasi Hasyim (lever, mah dan reumatik) terus memburuk. Menurut adiknya M Ali, setelah kembali ke Tapaktuan, Hasyim berobat kampung. Dua minggu terakhir, dia pernah mengatakan pada Ali, bahwa dia akan meninggal di sini (Lhok Paoh), karena di sana tempat kelahiranya. “Lon akan meuninggai di sinoe, kareuna di sinoe teumpat lon lahe,” kata Ali mengutip pernyataan Hasyim KS, sang serdadu tua itu.(fikar w. eda)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.serambinews.com, 14 Januari 2004.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s