ADAKAH SASTRA DI MOJOKERTO?


Jabbar Abdullah
Pegiat Komunitas Lembah Pring Biro Mojokerto dan Komunitas Sastra Mojokerto dan Forasamo

Jujur saja, sebenarnya judul di atas agak riskan jika dimunculkan ke permukaan. Namun, “keriskanan” itu akan sedikit berkurang manakala para pemerhati dan pelaku sastra di Mojokerto benar-benar mengetahui nasib sastra di Mojokerto yang mengalami “kesuwungan” dalam sisi aktifitasnya. Dalam catatan penulis, aktifitas sastra paling mutakhir di Mojokerto terjadi 2 bulan lalu (21/3), yakni saat komunitas Rabo Sore dari Universitas Negeri Surabaya yang menggelar workshop Kepenulisan Sastra yang bertempat di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto, itupun dikhususkan untuk para guru Bahasa Indonesia saja. Padahal kalau dirunut kembali ke belakang, aktifitas sastra di Mojokerto semenjak menginjak tahun 2009 “nyaris tak terdengar”.

Mengawali evaluasi gerak sastra di Mojokerto, ada satu renungan menarik dari seorang kawan bernama Hadi Sucipto ketika “bertemu” dengan penulis di facebook. Cak Cip (panggilan akrab Hadi Sucipto), teringat ucapan kawannya dari Desa Temulus-Randublatung-Blora namanya Pak Rukito. Ucapan kawannya itu dikirimkan ke kotak pesan saya, “Kita perlu membumikan teks tentang kesederhanaan, kemandirian, kejujuran, kerja kolektif dan keberanian… atau harus ada yang diperbuat demi masa depan? Maka sebelum hari ini berakhir, haruskah ada yang tinggal menjadi kenangan atau hanya jejak masa..?” begitu bunyi pesannya.

Pesan dari Cak Cip yang mengutip perkataan dari Pak Rukito di atas agaknya relevan dengan kondisi sastra di Mojokerto yang redup tapi tak mati. Seperti yang penulis katakan di awal, bahwa aktivitas sastra di Mojokerto selama tahun 2009 memang nyaris tidak ada gaungnya. Kalaupun ada, maka tak kurang dan tak lebih hanya sekadar “ide”. Nah, jawaban atas pertanyaan di sekitar gerak sastra atau gerak seni-budaya Mojokerto pada umumnya pada awal tahun 2009 agaknya dapat dilacak melalui peristiwa sarasehan sastra yang bertema Menapak Jejak Si Binatang Jalang, seminggu yang lalu atau tepatnya pada tanggal 2 Mei 2009. Di sini penulis hendak menegaskan, bahwa pengadaan acara diskusi sastra tersebut oleh Komunitas Sastra Mojokerto (penyelenggara) dimaksudkan untuk ”menguji” seberapa besar apresiasi umat kebudayaan Mojokerto (terutama kaum sastra) terhadap kegiatan sastra dan sekaligus juga ingin membuktikan seberapa kuat ”denyut” sastra itu sendiri di Mojokerto.

Terkait dengan ”ide” di atas, muncul lagi pertanyaan, adakah wadah untuk menampung ide kreatif para seniman tersebut? Jika yang menjadi wadah adalah sebuah lembaga semacam Dewan Kesenian, maka pertanyaannya, sejauhmana Dewan Kesenian tersebut mampu menjalankan peran dan fungsinya secara kongkrit? Jawabannya tentu saja tidak semudah berkata-kata. Namun apapun jawabannya, sepatutnya antara seniman dengan Dewan Kesenian, sebelum saling bersepakat untuk berjalan bersama-sama membangun kesenian dan kebudayaan, hendaknya saling bertemu untuk menjaring aspirasi serta menyatukan visi-misi terkait dengan gerak berkesenian dan gerak berkebudayaan. Menurut penulis, bagian terpenting dari itu semua adalah kesadaran untuk menjaga sikap steril (tidak condong kemana-mana) agar tidak melahirkan kecemburuan. Sikap steril juga dibutuhkan untuk menjaga lahirnya ”prasangka” atau ”stempel” bahwa ”ini” dan ”itu” adalah milik …..? Satu hal yang juga patut menjadi bahan pertimbangan adalah sudah saatnya mereorientasi gerak berkesenian, dari individual menuju kolektifitas (baca: pengabdian) dengan senantiasa berpijak pada asas manfaat.

Alhamdulillah. Akhirnya kegelisahan itu terjawab dengan berduyun-duyunnya apresiator dari segala lini seni-budaya – baik dari seniman tradisi, perupa, seniman teater maupun dari pegiat sastra sendiri –, bahkan acara diskusi lesehan itu dibuka langsung oleh Bapak Afandi selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Mojokerto. Menariknya lagi, beliau bersama beberapa jajarannya, Pak Rejo dan Pak Budi, turut larut dalam kegayengan sarasehan sastra yang secara bersamaan juga menyajikan pentas monolog oleh Dian Sulaturrahman dari Teater Institut Surabaya serta musikalisasi puisi. Acara yang dimoderatori oleh Cak Chamim Kohari (Penyair Pesantren) dan berdurasi hampir 3 jam-an tersebut mengundang dua nara sumber, masing-masing adalah Fahrudin Nasrulloh (Cerpenis dan Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang) dan Didik Wahyudi (Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya).

Dalam diskusi tersebut, terjadi dialektika yang menarik antara dua nara sumber dengan para apresiatornya terkait dengan ”mengenang” yang lampau. Fahrudin Nasrulloh, dengan makalahnya yang berjudul “Hari-hari Akhir Si Binatang Jalang”, dengan tegas mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang baru dari peristiwa mengenang. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apa yang bisa disumbangsihkan oleh penyair dalam arus besar sastra Indonesia saat ini, terlebih saat berjalan beriringan dengan arus perpolitikan yang arusnya juga tak kalah besar, bahkan bisa jadi lebih mengerikan, lanjut Fahrudin, Cerpenis asal Jombang. Nara sumber lainnya, Didik Wahyudi, selaras dengan makalahnya yang berjudul ”Vox ‘45” menambahkan, dalam kondisi seperti ini penyair dituntut meluangkan waktunya untuk turut memperhatikan (paling tidak) kondisi politik di tempat mereka berproses kreatif. Karena lingkungan secara tidak langsung turut memberikan warna dalam karya yang dilahirkannya. Yang sempat menjadi pro-kontra terkait dengan politik adalah apakah seorang seniman juga harus berpolitik (seniman politik) atau cukup hanya berperan sebagai kritikus saja melalui karya-karyanya? Atau bikin partai seniman?

Adapun tamu lainnya yang hadir adalah Cak Edy Karya (Pimp. Ludruk Karya Budaya), Pak Koesen LD (Perupa dan Pengasuh Padepokan Bumi Pakarti Aji, Pacet), Hadi Sucipto (Perupa dan Guru SMAN I Gondang) dan istri, Ibu Umi Salamah (Guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Kota Mojokerto), Aming Aminoeddin dan AF Tuasikal (Penyair Surabaya), Timur Budi Raja (Penyair asal Sumenep), Saiful Bakri (Penyair Buruh dan Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto), M. Misbach (Biro Teater Dewan Kesenian Kota Mojokerto), Bagus Mahayasa bersama beberapa anggota LAF, HMP Bahtra STKIP PGRI Jombang dan Komunitas Teater Ringin Conthong Jombang, Inswiardi (Pegiat teater), santri dan santriwati Ponpes Darul Falah Jeruk Macan-Gedeg, Suliadi (Komunitas Umpak Songo), Komunitas Sastra Pondok Kopi (Kiki Efendi, Jr Dosomuko dan Dadang Ari Murtono), Akhmad Fathoni (Komunitas Arek Japan), Komunitas Lembah Biru, Galuh Mutiaraningratri (siswi SMAN 3 Kota Mojokerto) serta Pak Djito (Pengasuh Padepokan Akar Mojo, Pacet). Nyaris semua tamu (terutama penyair) yang hadir sangat antusias untuk berekspresi dengan membacakan puisi Chairil Anwar dan beberapa karya puisi mereka sendiri. Baca puisi bersama itu semakin lengkap ketika Komunitas Musik Country Girilaja dengan Lidhie Art Forum berkolaborasi memusikalisasikan puisinya Charil Anwar yang berjudul Persetujuan Dengan Bung Karno (dilantunkan oleh Buyung Akhirul Akbar) dan Kesabaran yang disuarakan oleh Gandis Uka.

Rasanya tidak berlebihan jika penulis mengabadikan acara diskusi sastra sederhana namun sarat makna itu dalam satu kalimat, yaitu malam seribu sastra. Pada malam itu juga terbuktikan bahwa ada sastra di Mojokerto. Sebagai penutup, penulis akan mengutip ujaran seorang guru ngaji yang selalu mengawali kegiatan ngajinya dengan berucap, “Ketika datang sebuah kebenaran (dari arah manapun), maka yang terjadi dua hal, yaitu ketersinggungan dan ketersentuhan.”

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Radar Mojokerto (Mojokerto), 10 Mei 2009 dan Kompasiana (Kompas, Jakarta), 15 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s