GELIAT PENULISAN SASTRA DARI NEGERI SHOHIBUL KITA


Joni Lis Efendi

Penulis dan Peminat Sastra, Tinggal di Pekanbaru

Pembicaraan dalam esai ini tidak berniatkan semata untuk membuka nostalgia lama. Kembali ke masa 200 tahun silam, di saat-saat jayanya dinamika kesusastraan di ranah Melayu, terutama di pusat kerajaan Melayu, Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat, yang hanya berupa pulau kecil yang kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang Barat Pulau Bintan, Kepulauan Riau, menyimpan tapak kegemilangan sastra Melayu. Sapardi Djoko Damono menyebutkan nama Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji, Hamzah Fansyuri yang karya-karyanya menjadi tonggak dasar bagi kesastraan Indonesia modern.

Pada awal abad ke-19, sastra Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat. Ketika itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia. Bukan hanya bangsawan dan sastrawan yang melakukan kegiatan tulis-menulis, siapa saja boleh terlibat. Kerajaan sepenuhnya membiayai untuk perlengkapan seperti kertas dan pena serta mendirikan percetakan untuk menerbitka karya-karya. Perpustakaan didirikan, buku-buku banyak diterbitkan. Orang biasa yang tak berpangkat dan berstatus putra mahkota pun banyak yang menulis. Tersebutlah semua orang yang tinggal di Penyengat terlibat aktif berkarya. Kaum nelayan dan perempuan menulis banyak karangan. Sebuah buku Perkawinan Penduduk Penyengat dikarang oleh seorang nelayan bernama Encik Abdullah diterbitkan pada tahun 1902.

Dukungan penerbitan karya sastra sangat terbantu dengan didirikannya percetakan Mathba’atul Riauwiyah dan Mathba‘atul Al Ahmadi pada tahun 1890-an. Percetakan turut mempercepat banyak hasil karya yang ditulis penulis Melayu sekaligus memperluas penyebaran buku. Sebagai ciri umum dari kegiatan bersastra selalu ditopang dengan keberadaan sebuah komunitas penulis. Hal ini juga dijumpai pada permulaan geliat sastra Melayu dengan hadirnya Rusdiyah Klab, yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang intelektual dan sastrawan Melayu. Komunitas ini dibentuk sebagai forum bersama untuk mengembangkan sastra Melayu. Fungsi dan perannya sama dengan komunitas penulisan yang ada saat ini. Mereka juga mencetak karya anggotanya. Sehingga semakin semarak dunia tulis-menulis di kerajaan Melayu Riau.

Sejumlah sastrawan Melayu lahir dari klab ini. Salah satunya adalah pengarang Raja Haji Ahmad Engku Tua, putera tertua Raja Haji Fisabillilah. Raja Haji Ahmad Engku Tua menulis banyak syair yang di antaranya adalah Syair Engku Puteri dan Syair Perang Johor serta membuat kerangka awal buku Tuhfat An-Nafis yang penulisannya dilanjutkan oleh puteranya Raja Ali Haji.

Perkembangan dan kemajuan sastra Melayu ketika itu mendorong pemerintah Belanda menjadikan Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah Indonesia sejak tahun 1865. Namun ketika mulai berkecamuknya perang melawan penjajahan Belanda di Penyengat, perkembangan sastra Melayu mulai surut dan mencapai titik terendah ketika tahun 1911 Belanda menguasai pulau itu. Setelah penaklukan itu, banyak sastrawan dan penulis yang meninggalkan Penyengat untuk pindah ke Singapura dan Malaysia. Dalam perkembangan selanjutnya, Singapura menjadi pusat penulisan dan penerbitan karya sastra Melayu.

Beriringan dengan masa Raja Ali Haji, ada dua orang ulama pengarang yang begitu berpengaruh di Riau daratan, yakni Tuan Guru Abdurrahman Siddiq (Mufti Kerajaan Inderagiri Hilir) yang menulis 8 buah kitab dan Haji Abdurrahman Ya’kub (guru madrasah Sungai Gergaji Inderagiri Hilir) yang menulis 3 buah kitab. Semarak kesusatraan Riau daratan lebih didominasi dengan sastra lisan seperti randai, bakaba, cerita rakyat, cerita jenaka, syair, satir, pepatah-petitih dan pantun yang hampir dijumpai di daerah Kampar, Rengat, Kuansing, Siak, Bengkalis sampai ke sungai Rokan. Sosok sastrawan lisan yang cukup terkenal pada masanya seperti Yong Dolah dari Bengkalis dan Ganti di sepanjang Sungai Rokan. Sebagian saja dari sastra lisan tersebut yang dapat ditemukan dalam bentuk tulisan berupa manuskrip dan tambo.

Fase penting dari perkembangan sastra Riau daratan dengan lahirnya karya-karya Soeman Hs pada tahun 1930-1940-an. Soeman Hs mewakili eksistensi kesusastraan Riau pada awal-awal angkatan Balai Pustaka. Karya Soeman Hs bisa dikata sebagai permulaan kebangkitan sastra Riau. Sampai sekarang kita masih bisa menikmati karya satra Soeman Hs; Mencari Pencuri Anak Perawan, Kasih tak Terlerai, Tebusan Darah, Percobaan Setia dan kumpulan cerita jenaka Teman Bergelut yang semua itu dibukukan dengan baik oleh Balai Pustaka, beberapa diantaranya sudah dicetak ulang. Dalam catatan sejarah kesusastraan Riau, hampir dapat dikata hanya sosok Soeman Hs yang mewakili Riau pada permulaan perkembangan sastra Indonesia. Dan, kumpulan cerita jenakanya Teman Bergelut dinyatakan sebagai pioner genre cerita pendek Indonesia.

Selanjutnya kita menjumpai angkatan Tengku Nazir yang telah membukukan cerita rakyat Riau pada tahun 1960-an. Pengarang Riau pada angkatan ini ada Tenas Effendi, Johan Sarifuddin dan Wan Saleh Tamin (pengumpul Tambo Kesukuan). Generasi ini disebut sebagai generasi BPKD (Badan Pembina Kesenian Daerah Riau) sebab karya-karya mereka diterbitkan oleh badan tersebut.

Setelah generasi BPKD, ada generasi seangkatan dengan Ibrahim Sattah dan Sutardji Calzoum Bachri yang mulai terkenal sejak tahun 1970-an. Sastrawan Riau yang segenerasi dengan mereka adalah Hasan Junus, BM Syamsuddin, Idrus Tintin, Edi Ruslan Pe Amanriza, Taufik Efendi Aria dan Syamsul Bachri Judin. Bahkan, sampai awal milenium ketiga ini sebagian dari mereka masih menunjukkan karya dan tetap membawa nama besarnya. Jujur saja, pada angkatan inilah nama Riau begitu masyur dalam peta sastra Indonesia. Prof Dr Sapardi Djoko Damono, guru besar Sastra UI, memuji penyair Sutardji Calzoum Bachri sebagai seorang sastrawan besar Riau yang telah memberikan sumbangan cukup besar terhadap sastra Indonesia mutakhir. Sutardji Calzoum Bachri mengakui ingin mengembalikan kata kepada mantra.

Pada dekade pertama awal milenium ketiga, bermunculan sastrawan dan penulis muda di Bumi Lancang Kuning. Hal ini tidak terlepas dari dukungan media dalam mempublikasikan karya-karya mereka. Kegiatan tulis-menulis akan mati suri ketika tidak ada media untuk menerbitkannya. Beriringan dengan makin semaraknya penulisan di Riau, tumbuh dan muncul beberapa komunitas penulisan. Fenomena ini baik dan membahagiakan. Mereka lahir, tumbuh dan berkembang dengan kemandirian dan idealisme masing-masing. Sebenarnya hal itu baik.

Namun dalam perkembangan lebih lanjut, adanya niatan pemerintah untuk memberikan perhatian bagi para pengiat sastra di Riau akan memberikan percepatan yang baik. Tentu dalam batasan-batasan tidak mengurusi isi dan idealisme para sastrawan dan penulis tersebut. Di negara-negara maju telah makhluknya, bahkan kerajaan Melayu Riau juga telah melakukannya dan berhasil menyemarakan dunia penulisan sastra waktu itu. Apakah itu akan berulang lagi pada zaman kita ini?

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Riau Pos (Pekanbaru), 30 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s