MENGGAGAS SASTRA BERTIPIKAL MADURA


Atiqurrahman

Eskapisme kultural tengah melanda susastra Madura. Hal tersebut tampak dari keseragaman eksplorasi karya-karya yang diciptakan. Lacur yang terjadi, sastrawan-sastrawan Madura tak menyadarinya. Timbul tanda tanya: bagaimana nasib susastra Madura selanjutnya?

Marilah simak bersama. Dasawarsa terakhir susastra Madura dijumbuhi karya-karya yang bertipikal pesantren. Kreatornya kebanyakan alumni-alumni pesantren. Tema yang diangkat adalah problem keagamaan, misalnya, hubungan manusia dengan Tuhan, cinta pada Tuhan, dan keinginan bersatu dengan Tuhan. Selain tema tersebut, praktis tak ada tema lain yang coba dieksplorasi oleh sastrawan-sastrawan Madura.

Mengapa hal tersebut terjadi? Mungkin semangat jaman membentuk kondisi demikian. Mungkin ada kesepahaman tentang “apa itu sastra, agama, dan sastra-agama”? Mungkin juga, keseragaman ini dilatarbelakangi oleh kesuksesan sastrawan-sastrawan pendahulu yang memokuskan problem karyanya pada wilayah yang kudus tersebut. Dari deretan sastrawan-sastrawan Madura yang bisa dikatakan sukses meniti karir sebagai sastrawan dapat disebutkan. Misalnya, Jamal D. Rahman, Abdul Hadi W. M. dan Kuswaidi Syafi’i. Secara keseluruhan karya-karya mereka mengeksplorasi persoalan-persoalan yang bertumpu pada nilai religius dan perasaan religuitas.

Namun demikian, hal yang patut dikhawatirkan dalam perkembangan susastra Madura selanjutnya adalah situasi ekologi susastranya. Di atas telah disinggung, tak ada karya-karya susastra Madura selain yang bertemakan keagamaan. Dalam pengamatan penulis, hanya segelintir—untuk tidak dikatakan tak ada—sastrawan yang mencoba ruang alternatif selain dari eksplorasi ketiga penyair tersebut di atas. Adapun sastrawan Madura yang menjajal eksplorasi karyanya tidak pada wilayah keagamaan adalah Timur Budi Raja yang memaksimalkan tema puisinya pada wacana intelektual dan Ahmad Faishal yang puisinya berpusar pada dua tema, kematian dan sejarah.

Sepintas lalu, gejala keseragaman tema itu tak menimbulkan tanda tanya jika melihat kenyataan Madura sebagai salah satu kawasan pesantren dengan masyarakat santrinya. Justru sebaliknya, hal tersebut merupakan isyarat positif. Karya sastra tak pernah hadir dalam kekosongan. Karya sastra, bagaimanapun juga, membutuhkan sebuah latar. Secara personal, sastrawan yang mempunyai pijakan regional yang jelas dapat mengongkretkan dan mentransliterasikan tranpransi kata, kalimat dan wacana. Tekstual yang dihasilkan kerapkali berhasil merengkuh keutuhan karya.

Akan tetapi keseragaman eksplorasi tema, gaya dan bentuk pada sebuah ekologi susastra bukan berarti kepaduan, keselarasan atau keunikan. Keseragaman eksplorasi, yang salah satunya dapat dilihat dari tematik karya, merupakan gejala eskapisme kultural dalam susastra di tempat bersangkutan. Pengertian eskapisme kultural di sini merunjuk pada kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan kultural yang kompleks dengan mencari hiburan dan ketentraman di dalam khayalan atau situasi rekaan (fiktif) yang diyakini si pengarang.

Jika hendak mendapatkan gejala eskapisme kultural dalam susastra, kita dapat mengetahui dengan cara memerikan karya-karya yang dihasilkan, baik dalam antologi atau yang dimuat media massa. Dari situ dapat dilihat kecenderungan eksplorasi gaya, tema dan bentuk karya sebagai situasi rekaan si pengarang. Sedang dalam menentukan adanya eskapisme atau hanya kecenderungan sastrawan yang dilatarbelakangi semangat jaman tersangkut masalah keragaman eksplorasi karya-karya. Keberagaman ini sejalan dengan pola kultur yang bersifat kompleks. Jadi, ketiadaan aneka tema pada karya-karya pada suatu ekologi sastra berarti pengingkaran atau penyimpangan (pengarang) terhadap kompleksitas problema kultur setempat sebagai latar karyanya.

Dalam susastra Madura eskapisme kultural muncul dalam wujud keseragaman tematik karya-karya yang berkutat pada problem teologi. Fenomena ini merupakan sinyalemen buruk bagi perkembangan susastra Madura. Soalnya, satrawan Madura tampak obsesif pada agama (tertentu) sebagai realitas pokok di Madura. Pengingkaran atas kultur Madura yang kompleks mengaburkan panilaian para pembaca, terutama pembaca luar Madura. Tentu, pembaca dapat menangkap kejanggalan ini. Madura adalah wilayah kebudayaan. Sebagai wilayah budaya agama merupakan satu diantara sistem-sistem budaya yang lain, sosial, hukum, sejarah, bahasa, sastra dsb.

Untuk itu, dibutuhkan susastra Madura yang tak sekedar berkonsentrasi pada tema keagamaan. Akan tetapi susastra yang dapat mereduksi keutuhan lingkungan kultural Madura yang khas. Hal ini dapat dilakukan dengan mengeksploitasi bahasa, folklor, sosial, adat, politik, sejarah dsb.

Sastra Madura sangat membutuhkan karya-karya yang bertipikal Madura. Sastra bertipikal Madura bisa diproyeksiakan dengan mengeksplorasi: (1) bahasa/ikon khas Madura, (2) problem sosial Madura, (3) sejarah Madura, (4) folklor Madura dan (4) lanskap Madura.

Dalam khasana susastra Madura tematik puisi yang diusung Timur Budi Raja berada di luar kecenderungan sastrawan-sastrawan Madura. Tekstual sajak-sajaknya berkutat pada tema intelektual. Akan tetapi dalam pengkategorian ilmu sastra, tema intelektual tak berada dalam kekhasan. Intelektual bersifat universal. Tidak khas. Jadi sajak-sajak Timur berada di luar susastra Madura yang Khas itu. Ada juga penulis-penulis dari luar Madura yang mencoba memotret lanskap dan situasi sosial Madura, misalnya S. Yoga dan Mardi Luhung. Sayang, sajak-sajak mereka berhenti pada wilayah wacana, sekedar reportase. Belum merengkuh transparansi peristiwa-peristiwa kemaduraan.

Semestinya, tematik sastra yang diolah adalah problem kultur Madura yang kompleks itu. Tidak terjebak pada satu sub sistem budaya. Pemaksimalannya dipusatkan pada strategi tekstual lewat kata, frasa, klausa, kalimat, wacana dan ikon-ikon yang khas Madura. Eksplorasi yang mengarah pada kekhasan lokal Madura adalah sajak-sajak Ahmad Faishal dalam antologi Saronen Makrifat (2004). Walaupun ornamen tekstualnya terpusat pada tema kematian dan sejarah. Tapi keberhasilan Faishal mengongkritkan transparasi kata membuat kejernihan puitikanya menjadi khas.

Pamekasan, 5 Januari 2009.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Surabaya Post (Surabaya), Sabtu, 24 Januari 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s