PERKEMBANGAN APRESIASI SASTRA DI KUNINGAN


Nirwanto Ki S. Hendrowinoto
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya

Seiring dengan geliat zaman, sebagai kota wisata, Kuningan, Jawa Barat, ternyata dari dulu sampai sekarang, tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Khususnya, apresiasi sastra di sekolah dan secara umum, tumbuh begitu subur dan membuahkan pekerja seni yang cukup berbobot.

Perkembangan apresiasi sastra di kota Kuningan lahir dari sebuah kesadaran berkotemplasi bukan sekadar rekayasa. Kegiatan itu ditandai dengan begitu banyaknya acara sastra yang muncul bak jamur di musim hujan. Penggalangan kesadaran akan pentingnya kegiatan sastra dibangun secara konstruktif oleh para guru bahasa. Begitupun, melalui sarana media Radio – apresiasi sastra, antara pembacaan puisi, cerpen dan dialog budaya merupakan agenda program yang telah tersusun secara apresiatif.

Salah satu tokoh seniman muda, Wawan Hermawan Jr – merupakan ujung tombak dalam menggerakan roda mobilisasi sastra di kota kelahirannya. Awalnya, Wawan lahir dari komunitas sebagai seorang jurnalistik di Harian Terbit dan redaktur Kuningan Pos yang terbit secara jeg di kotanya. Kini, penanggung jawab radio Buana Asri yang aktif menyutradarai teater, dan ”bidan” dalam kegiatan sastra di Kuningan, baru-baru ini (Sabtu, 3/5) menggelar acara akbar di kota Kuningan.

Rantai acara apresiasi sastra dikaitkan dengan isu aktual sebagai hari Pendidikan Nasional – peduli akan pendidikan. Tidaklah salah, jika pada acara tersebut menyedot pengunjung di Aula yang cukup besar dan disiarkan secara langsung lewat Radio Buana Asri, sebagai aset Pemda Kuningan, Jabar. Siaran live yang menyita waktu hampir tiga jam, paling tidak memberikan bobot, betapa pentingnya sastra bagi kehidupan manusia – meski di kota kecil seperti Kuningan, Jabar.

Topik kajian kali ini – bedah buku cerita pendek bertajuk Pengantin Agung karya Adji Subela yang diterbitkan Gria Media Prima, Jakarta. Kumpulan Cerpen yang pernah dimuat di harian Terbit dan Sinar Harapan ini, dihadiri para siswa sekolah, guru bahasa dan mahasiswa/i. Tidak ketinggalan Ketua Dewan Kesenian Kuningan, Udi Kartamarna dan Wakil Kepala Dinas Pendidikan Kuningan, Rosliadi hadir bersama tokoh ormas lainnya. Sebagai pembicara/ pembedah dalam apresiasi bedah buku tersebut, penulis sendiri (red- Nirwanto Ki S. Hendrowinoto).

Bakat Alam dan Intelektualisme
Setiap individu, pada dasarnya memiliki bakat alam. Bakat itu dapat berkembang, jika proses kreatif diasah dan senantiasa ditempa dengan baik. Ibarat mata pisau yang akan menjadi lebih tajam jika selalu dipakai dan diasah. Artinya, seseorang akan menjadi lebih berkembang dengan bakat alam yang dimilikinya, jika ia tidak hanya menggunakan filosofi sebagai gudang semata, tempat penampungan ilmu pengetahuan. Tetapi, secara sadar elanvital yang mendasari sebagai pabrik–dalam proses pencerahan itu sangat penting sekali.

Jika keduanya berjalan secara sinergi, niscaya bakat alam dan intelektualisme menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Satu kesatuan itu meminjam istilah Penyair Subagio Sastrowardoyo yang pernah menulis buku tentang Bakat Alam dan Intelektualisme adalah keterpaduan, kesengajaan dan keinginan untuk memahami makna diri. Bakat alam bisa bertumbuh jika manusia sadar akan ”talenta”-nya. Tanpa memahami akan talenta atau karunia yang diberikan sang Khalik pada diri seseorang, niscaya unsur pemaksaan tidak akan melahirkan sebuah kreativitas yang baik.

Adji Subela secara apresiatif telah pandai membaca koran sejak di sekolah taman kanak-kanak. Ia kemudian mengenal buku-buku sastra saat di bangku sekolah dasar. Ketertarikan dan minatnya terhadap bacaan mempengaruhi keinginannya untuk menjadi seorang jurnalistik. Banyak sastrawan yang lahir dari seorang jurnalistik, misalnya – Mochtar Lubis, Remy Silado dan segudang nama lainnya.

Sebagai seorang jurnalis, ia seringkali menemui kegelisan kreativitas. Aliansi ini menciptakan teror-teror baru yang ada pada dirinya. Memang, pada waktu menjalankan kerja sebagai kuli tinta, kesadaran menulis puisi, cerita fiksi – cerpen atau novel/roman, tidak pernah terpikirkan. Kalaupun harus ada baru pada batasan sebuah ‘harapan’- belum sampai pada manifestasi.

Penulis antologi cerpen Pengantin Agung keburu sadar bahwa dirinya memiliki potensi untuk mengembangkan bakat alamnya. Apalagi, pada usia yang sudah 52 tahun – Adji masih memilih hidup sendirian. Artinya, hari-harinya dilewati dengan batasan ”kesepian” sebagai individu yang dipenuhi dengan tekanan psikologis.

Oleh karenanya, tokoh dalam cerpennya selalu terlihat gelisah. Seperti yang digambarkan dalam cerpen Pengantin Agung, konflik individu yang beda dalam konteks budaya, dan tradisi yang menekan ketika sebuah perkawinan dianggap sakral–ternyata hanya sekadar memenuhi hajat hidup. Sedangkan, pasangan suami-istri yang melihat realitas sebagai realitas budaya, hanya tertawa.

Dialog Budaya
Dalam mengembangkan wacana apresiasi sastra di kota Kuningan, muncul bakat-bakat seniman berusia muda yang potensial. Konstruksi dialog budaya yang terjadi begitu tajam dan menukik, meski banyak pertanyaan yang sederhana kerap mewarnai acara apresiasi sastra–khusus dalam bedah buku. Namun, tak jarang pula dijumpai dialog yang cukup memberi tekanan terhadap nilai-nilai sastra itu sendiri.

Seperti yang dituturkan Roesliadi, bahwa dalam perkembangan sekarang–siswa bukan hanya mengejar angka-angka, melainkan sudah masuk dalam takaran, apresiasi dan substansi dari manfaat sastra itu sendiri. Karena nilai-nilai sastra dapat membangun harkat dan martabat seseorang, sehingga menjadi manusia yang berbudaya harus membaca banyak karya sastra.

Tantangan itu juga lahir dari kesadaran para guru yang tidak sekadar mengajar karena tuntutan kurikulum, melainkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Apresiasi sastra tidak boleh mandeg karena keterbatasan waktu. Sebab itu, siswa seharusnya diwajibkan membaca buku-buku sastra dan sekaligus melakukan dialog budaya. Dengan begitu, apresiasi sastra akan terus berkembang.

Wacana seperti ini untuk mengatasi krisis pengajaran sastra di sekolah yang boleh dibilang sangat minim sekali, termasuk buku-buku sastra di sekolah yang jumlahnya juga sangat terbatas dan minim. Ini pun merupakan tembok yang sukar untuk ditembus, karena bangsa kita masih menganggap urusan ”perut” jauh lebih penting, daripada bicara sastra yang hidupnya di awang-awang.

Sebuah anggapan yang salah dan konyol, tetapi inilah realitas kehidupan. Sastra masih sangat jauh dari kebutuhan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di sekolah. Namun, di kota Kuningan, apresiasi sastra maju dengan pesat. Pentas kesenian tidak pernah sepi, seperti di wilayah Sangkan Urip yang tidak pernah kurang pengunjung karena air murni yang alami mengalir dari kaki gunung dapat mengguyur wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dialog budaya merupakan agenda yang terus dijadwalkan hingga sekarang, dalam bentuk pergelaran, apresiasi dan semua saluran dari sarana yang ada – kata Wawan Hermawan Jr yang ternyata masih ada yang peduli terhadap kegiatan semacam ini, meski harus memerlukan kesetiaan dan pengorbanan – termasuk untuk biaya operasional. Selamat berapresiasi, kota Kuningan.

Tulisan ini pernah dipubikasikan di Harian Sinar Harapan (Jakarta), Sabtu, 31 Mei 2003.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s