PERKEMBANGAN SENI ACEH DI DAERAH


Lapena (Institute for Culture and Society) Banda Aceh kembali melaksanakan diskusi rutin yang membicarakan tentang perkembangan seni Aceh di daerah Barat-Selatan-Timur. Diskusi tersebut mengundang pembicara Rosni Idham (Penyair Perempuan Indonesia dari Aceh Barat) dan Zab Bransah (Penyair yang sudah menjadi Guru di Aceh Timur). Diskusi berlangsung di Sekretariat Lapena, Lamnyong, Banda Aceh, pada Jumat (23/2).

Dalam diskusi yang dipandu Sulaiman Tripa tersebut, dihadiri oleh Mohd Harun Al Rasyid (Dosen Sastra Unsyiah yang juga Ketua Lapena, Nani Hs (Redaktur Serambi Indonesia), Wina Sw1 (Penyair), Doel CP Allisah (Penyair), Herman RN (Penulis), Fardelin Hacky (Penulis), Mutia (Guru), dan sejumlah seniman dan penulis Aceh lainnya.

Diskusi rutin tersebut, menurut Sulaiman Tripa yang juga Pengelola Diskusi Lapena, dimaksudkan untuk mendiskusikan berbagai problematika berkesenian di Aceh. “Ini rutin kita laksanakan untuk mencari berbagai masukan bagaimana mengembangkan seni, khususnya sastra Aceh, tidak hanya masalah dari Banda Aceh, tapi juga dari seluruh Aceh,” jelasnya.

Seorang Penyair Perempuan Indonesia dari pesisir Barat-Selatan Aceh, Rosni Idham, dalam kesempatan itu mengungkapkan bahwa sebuah kerinduan yang luar biasa ketika semua sastrawan Aceh bisa bertemu. “Di Aceh Barat selama ini sangat sedikit kesempatan bertemu sesama sastrawan. Perkembangan di sana, dalam enam terakhir, harus diakui memang tidak bergerak. Beberapa penyair muda di bawah saya sering mengirimkan sms berisi puisi kepada saya,” ungkap Rosni, yang dalam Pilkada yang lalu menjadi Calon Wakil Bupati.

Karya-karya tersebut, menurutnya, pada masa lalu terobati sedikit dengan adanya rubric sastra di koran lokal. Sekarang tidak ada lagi rubrik, makanya karya-karya penulis jarang dikirim ke media luar.

Masalah lainnya di daerah, menurut Rosni, adalah perhatian dari pemerhati seni yang sangat sedikit. Termasuk masalah sastra itu sendiri. “Saya penah berbicara dengan NGO dan Pemerintah, agar mendanai kegiatan di Aceh Barat, karena pada kenyataannya banyak sekali karya-karya termasuk yang pemula, tapi selama ini belum berhasil. Kalau yang masih pemula, kita bisa arahkan ke majalah-majala sekolah. Tapi yang senior, sulit karena memang di Aceh sangat kurang media,” kata Rosni, yang menambahkan bahwa di daerah, penyair sangat mengharapkan ada pendokumentasian karya, tidak perlu terlalu indah, tapi terkumpul dan itu akan nampak, agar tidak berserak.

Harian lokal Serambi Indonesia, diharapkan oleh Rosni Idham agar kembali membuka rubrik budaya. Dengan adanya rubrik itu, menurutnya, akan bisa meningkatkan gairah penulisan karya, kalau tidak sebuah karya akan hilang dengan sendirinya.

Persoalan lain di pesisir Barat-Selatan, menurut Rosni adalah tingkat sosialisasi sastra. Selama ini, yang tahu karya hanya para sastrawan semata, di luar itu, sangat sedikit yang tahu, apalagi masyarakat luas. “Ini penting, apalagi untuk meningkatkan apresiasi siswa yang belajar sastra,” katanya.

Lebih lanjut, Rosni mengatakan bahwa minat siswa sangat besar yang dinampakkan siswa saat kegiatan Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) yang dilaksanakan Lapena tahun 2006 di sepanjang Aceh Barat-Selatan. “Walau masih sangat terbatas, tapi jelas tampak minat siswa. Namn karena tidak ada wadah, semangat dan minat yang menggebu-gebu seperti itu hilang lagi,” ujarnya.

Rosni juga mengatakan, di daerah guru sastra sangat sedikit, sehingga banya guru lain yang bukan sastra, juga seringkali masuk mata pelajaran sastra. “Ada juga guru sastra yang kadangkala tak paham sastra dan sastrawan dari daerah, mungkin karena terlalu terpaku pada buku-buku teks tentang sastrawan yang sudah lebih dulu terkenal. Akhirnya, banyak sastrawan sekarang yang sudah terkenal, juga terekspose dan tercatat, semisal D Kemalawati, Ridwan Amran, Hasbi Burman, bahkan Hasyim KS, kemudian Nani Hs, Doel Cp, dan masih banyak yang lainnya. Konon lagi yang di daerah sepert Musmarwan yang baru-baru ini meluncurkan buu cerpen, Zab Bransah, Arafat Nur, MN Age, Ayi, dan sebagainya,” rincinya.

Ini penting untuk mempublikasi sastrawan-sastrawan dari daerah. “Inilah, bagaimana kebersamaan kita dan upaya yang akan kita tempuh, sehinga bibit-bibit yang sudah tumbuh dengan subur itu bisa bermakna. Harus ada yang beri pupuk, kalau ia tidak, ai akan tumbuh kerdil,” kata Rosni bertamsil.

Rosni melihat bahwa kalau seperti di Banda Aceh, hampir setiap kali ada kesempatan. Penyair baca puisi dimana-mana, selalu ada even, orang-orang akan termotivasi. Berbeda dengan di daerah yang sangat sedikit ada even, kecuali sesekali ada seperti kegiatan Sastrawan Masuk Sekolah Lapena itu.

Persoalan dana juga menjadi masalah yang klasik. Di daerah, anggaran untuk kesenian kosong. Hal ini berbeda dengan olahraga. “Pernah sekali saya adakan kegiatan seni, itu tak ada pos, sampai-sampai dilempar di pos bencana. Kalau kita mengharumkan nama daerah sekalipun, juga hampir tak ada terima kasih. Padahal Aceh barat ‘kan sangat tinggi seninya. Kalau olahraga cukup banyak malah anggarannya,” jelas Rosni.

Hal yang sama dirasakan di wilayah Timur. Menurut Penyair Aceh yang juga Guru di salah satu sekolah di Aceh Timur, Zab Bransah, kegiatan-kegiatan seni di daerah masih kecil. “Kemarin ada kegiatan Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) sudah lumayan. Dari kegiatan itu, saya sudah mengumpulkan karya penulis-penulis muda untuk dibukukan. Kendalanya memang pendanaan,” ungkap Zab Bransah.

Tujuan ke depan sama seperti yang dialami wilayah Barat-Selatan. Sama-sama membangun kembali wacana ke depan. “Komunitas-komunitas sudah kami upayakan untuk dibangun sedikit demi sedikit. Pengalaman di Aceh Timur, juga ada kami sudah membuat satu grup untuk membina seni, mulai bidang teater, sastra, lukis, tari, sudah membentuk satu grup untuk membina anak-anak mulai usia enam tahun,” kata Bransah lebih lanjut, yang menambahkan bahwa di rumah, ia sudah mengumpulkan puisi anak-anak SMA, tapi masalahnya mau diterbitkan oleh siapa, karena ini penting untuk melihat kekuatan penulis-penulis pemula.

Satu hal yang pernah ditawarkan untuk Aceh Timr adalah memperbanyak buku-buku yang mengulas tentang sastrawan Aceh untuk anak didik di sekolah-sekolah. “Jangan sampai ada penulis dan penyair dari Aceh yang sudah terkenal di luar, tapi siswa-siswa di Aceh tidak mengenalnya. Ini penting untuk membedah dan mengapreasiasikan karya agar mereka kelak tahu,” harapnya.

Mereka mengharapkan komunitas seperti Lapena dan komunitas-komunitas lain untuk bekerja keras secara bersama-sama untuk menerbitkan. “Di Aceh Timur sudah saya kumpulkan. Itu salah satu jalan untuk apresiasi. Jadi yang mereka kenal tak hanya penyair nasional. Ada penyair dari daerah yang pada kenyataan juga ada yang luar biasa,” jelasnya.

Mohd Harun Al Rasyid, yang juga hadir dalam diskusi itu mengaungkapkan, bahwa kondisi kehidupan seni di Indonesia, di mana-mana sama. “Ketika saya di Malang, saya sering diskusi dengan teman-teman dari seluruh Indonesia. Persoalannya ternyata hampir sama,” ujar Doktor lulusan Universitas Malang ini, yang mengibaratkan, seperti hidup segan mati tak mau.

Menurutnya, tidak banyak orang yang menaruh kepedulian. Karakter pendidikan juga sangat menentukan. “Kita tak seperti zaman Belanda yang harus mencintai buku. Saya kira pemerintah, sudah seyogianya memposisikan sastra pada posisi terhormat. Lihatlah di luar negeri, di mana siswa ada kewajiban untuk membaca sekian novel dalam semester pelajaran. Di tempat kita, ini belum ada,” kata Harun.

Di tempat mengajar, Universitas Syiah Kuala, Harun sudah mulai menerapkan untuk sering-sering memilih karya-karya Aceh yang kuat. “Tak semua puisi orang besar itu bagus, tak semua puisi orang daerah itu jelek,” jelasnya.

Lebih lanjut, Harun mengatakan, daerah perlu membentuk satu kelompok guru bahasa dalam sebuah wadah yang tidak mesti formal, ini untuk membina diri sendiri dan anak didik. “Karena potensi di tempat kita sangat besar. Dari wadah itu kemudian coba dibuka akses ke Pemerintah. Di samping itu, harus kita akui bahwa ada guru yang tak memahami sastra, jadi sedikit demi sedikit akan terpacu,” demikian Harun.

Sementara itu, seorang pekerja teater, Dhe’na, dalam kesempatan itu mengatakan bahwa sastrawan sudah mempersiapkan skill, membina komunikasi, tapi bagaimana dengan membangun penikmat karya. “Apresiasi juga penting, karena ini akan menjadi pemacu. Saya kira perlu digarap berbagai alat atau media untuk mendukung lahirnya dan sosialisasi sebuah karya,” katanya.

Wina Sw1 mengatakan, problematika sastra di mana-mana sama. “Cuma sekarang banyak lembaga dan komunitas untuk menerbitkan karya. Jadi menarik untuk saling berkomunikasi untuk menerbitkan semisal puisi-puisi anak Aceh Barat dan Aceh lainnya. Bisa juga tentang cerita-cerita mereka tentang segala hal, termasuk tsunami,” kata Wina yang menambahkan, bahwa kegiatan besar seperti Sastrawan Masuk Sekolah butuh dana besar, tapi bisa sebenarnya dilaksanakan kegiatan-kegiatan sederhana yang secara pelan-pelan akan bisa terbangun untuk melaksanakan kegiatan yang besar. Sastrawan juga harus lebih sering mengirimkan karyanya keluar, menurut Wina.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://lapena.multiply.com, 23 Februari 2007.

One response to “PERKEMBANGAN SENI ACEH DI DAERAH

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s