BANGKITNYA KOMUNITAS SENI BULUNGAN


Kawasan Mahakam malam itu terbilang cukup riuh, meski tak seramai biasanya. Kebanyakan orang juga lebih memilih berada di dalam mal untuk berbuka puasa bersama keluarga dan berbelanja. Namun, di tengah-tengah rutinintas Ramadan ini, ada sesuatu yang menarik digelar di Auditorium Gelanggang Remaja Bulungan.

Memang gedung itu tak sepenuhnya terisi penonton, namun suasana interaktif langsung terasa begitu pembawa acara, pengisi acara, terus mendapat respons celetukan dari pentonton. Makanya tontonan pentas seni Islami yang berlangsung di panggung Minggu (29/8) malam itu terasa begitu hidup. Semarak berbalut syahdu.

Bagaimana tidak, suara-suara merdu mengumandangkan asma Allah kerap dilantunkan bersahut-sahutan antara penampil yang satu ke penampil yang lain. Mulai dari Nasyid-Fatia, Dhia Acapella, Cappucino Band, hingga puisi-puisi yang dibacakan banyak tokoh terkemuka dari Komunitas Seni Bulungan (KSB).

Dhia Acapella adalah salah satu penampil lagu-lagu religi Islam yang memesonakan penonton. Di tengah suasana malam Ramadan yang damai, suara merdu lima personel kelompok ini begitu merasuk ke hati. Pasalnya, Dhia Acapella terbilang kreatif menggubah lagu sehingga pas dibawakan oleh karakter acapella mereka. Mulai dari lirik yang digubah ke dalam bahasa Inggris dan Jawa sampai permainan cengkok si vokalis utama yang kadang didangdutkan.

Tak pelak kemunculan Dhia yang membawakan lebih dari tiga lagu langsung menggoyang dan mewarnai suasana dalam ruangan tersebut. Khususnya karena komunikatifnya kelima pemuda di atas panggung serta guyon-guyon ringan yang ditampilkan singkat saat mereka membawakan sebuah lagu, seperti menirukan gaya gitaris andal saat menggumamkan suara gitar dengan begitu relaks namun sangat mirip.

Penampilan Dhia adalah salah satu program dari acara Pesta Ramadan Bulungan 2010 yang diisi dengan berbagai acara dari remaja untuk remaja. Di antaranya adalah berupa musikalisasi puisi, pembacaan puisi, musik marawis, kasidah, dan nasyid, yang juga melibatkan sejumlah artis seperti Alex Komang, Clara Sinta Rendra, dan Olivia Zalianti.

“Kegiatan swadaya dan swakelola ini diharapkan akan mendorong para remaja memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil di tengah masyarakat dan terus berupaya memperbaiki diri, sehingga menjadi para profesional di bidang yang ditekuninya seperti seni tari, musik, film, teater, melukis,” kata Rainy Massardi, salah seorang koordinator acara ini saat ditemui di tengah-tengah acara.

Sementara Uki Bayu Sedjati, koordinator KSB, mengakui bahwa berubahnya zaman memengaruhi organisasi birokrasi pemerintahan DKI Jakarta Raya sehingga Gelanggang Remaja sempat mengalami kemandegan fungsi sekitar dua dasawarsa. Karena itu, KSB yang terdiri atas para penggiat tahun 70-an berniat merevitalisasi Gelanggang Remaja agar sejalan lagi dengan visi-misi Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta Raya masa itu.

Mengembalikan Fungsi Bulungan
“Remaja butuh kesempatan, lingkungan, dan wadah untuk mengekspresikan diri. Mereka sedang menjalani proses pencarian dan pematangan jati diri. Mereka mengalami masa trial and error, kondisi kejiwaan yang labil, serta kondisi jasmani dalam pertumbuhan yang membutuhkan pendampingan agar tak salah jalan.”

Selain remaja yang membawakan lagu-lagu rohani Islam, acara juga diramaikan dengan kehadiran sejumlah bintang seperti telah disebutkan di atas dan tentu saja sejumlah sastrawan senior KSB yang membawakan pembacaan puisi serta musikalisasi puisi dengan tema yang terkait soal perenungan akan manusia dan Tuhannya.

“Saya sebenarnya agak nervous karena baru pertama baca puisi, apalagi di depan senior-seniornya langsung. Makanya saya minta didampingi dan diiringi gitar supaya tidak terlalu gugup,” kata Olivia yang membacakan puisi dengan penuh penjiwaan seiring denting dawai gitar menemani lirih suaranya.

Lain lagi halnya dengan Clara Sinta Rendra yang dengan begitu fasihnya membawakan karya sang Ayah berjudul Dia di Jakarta:

Tuhan yang Maha Esa, alangkah tegangnya melihat hidup yang tergadai, fikiran yang dipabrikkan, dan masyarakat yang diternakkan‘

Begitulah lantas puisi yang dibacakan Clara terus bersambut dengan puisi oleh Dharnoto, Djodi, Rahadi Zakaria, Teguh O Wijaya, dan banyak lagi anggota KBS, hingga dibacakannya puisi oleh aktor senior Indonesia, Alex Komang.

Puisi yang dibacakan sendiri terbilang sangat beragam, mulai dari Doa karya Chairil Anwar, yang disinyalir dirilis sang penyairnya menjelang waktu ajalnya (ketika ia mulai berteriak memanggil-manggil Tuhannya) sehingga membawa kenangan untuk merenungi perjalanan Chairil. Hingga dibacakannya sebuah puisi sendu mengenai seorang teman yang tidak bisa pergi mudik ke kampung halaman pada hari Lebaran.

Acara Pesta Ramadan yang digelar mulai saat berbuka hingga larut malam ini merupakan salah satu upaya KSB memajukan kembali fungsinya. Sejak Mei 2010, KSB telah menyelenggarakan pemutaran film Indie dan diskusi dengan tema Gulungan Film Bulungan, Pesta Musik Etnik dan Eksperimental Bulungan dan pada Pesta Ramadan Bulungan -pentas seni nuansa Islami dari kelompok nasyid, marawis dan, baca puisi kelompok.

Keinginan untuk membangkitkan kembali aktivitas seni dan budaya ini juga sejalan dengan komitmen pemerintahan SBY agar ke depan perekonomian Indonesia dapat bertumpu pada pilar baru yaitu ekonomi kepariwisataan dan ekonomi kreatif. Pihak KSB berharap aktivitas yang terbuka untuk umum dan gratis ini mendapat dukungan dari komunitas seni lain maupun pengusaha sebagai bagian tanggung jawab sosial perusahaan untuk memajukan industri kreatif di Tanah Air.

“Kami juga akan menggelar Pesta Sastra Ketupat Bulungan, suatu parade sastra dan apresiasi sastra remaja dan dewasa. Baca puisi, cerpen, musikalisasi puisi di bulan September, Pesta Seni Rupa Bulungan juga akan menjadi ajang workshop, lomba, dan pameran seni rupa di bulan Oktober. Pesta Tari Klasik dan Kontemporer Bulungan akan dihelat pada November disusul Pesta Teater dan Aktor Bulungan dengan pementasan drama Mentang-Mentang dari Amerika, monolog, pantomim, serta workshop di akhir tahun,” tutur Uki. (Syifa Amori)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 5 September 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s