LESBUMI KEMBALI BANGKIT


Viddy A.D. Daery
Anggota Pengurus Pusat Lesbumi PB NU

Tanpa gembar-gembor, telah terselenggara kongres atau rapat kerja pengurus pusat Lesbumi (Lembaga Seni-Budaya Muslimin Indonesia) Nahdlatul Ulama di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, 25-26 Agustus lalu, yang amat heroik dan dramatis.

Lesbumi pernah berjaya ketika didirikan para seniman besar seperti Asrul Sani, Jamaluddin Malik, dan Usmar Ismail untuk membendung agresivitas Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik PKI di zaman Orde Lama. Lalu, sempat ”pingsan” lama ketika para tokoh NU lebih peduli kepada politik. Kini bangkit kembali di bawah kepemimpinan intelektual muda, Dr Ngatawi Al Zastrow.

Lesbumi modern dibangkitkan karena melihat realitas masyarakat Indonesia kiwari yang hancur jati dirinya karena hantaman budaya asing yang bertolak belakang ideologinya. Yakni, neoliberalisme yang materialistis dan ateis-kapitalistis serta neofundamentalis yang anti kearifan lokal.

Lesbumi NU ingin memperjuangkan kebudayaan jalan tengah, yakni jati diri asli Nusantara, yang sudah terbukti mempunyai kearifan lokal yang berderajat tinggi. Di tengah kemiskinan bangsa yang ditelantarkan oleh para pemimpinnya -yang tidak tertutup kemungkinan bahwa sebagian di antara para pemimpin itu dari kalangan NU- dan di tengah terombang-ambingnya pengetahuan kesejarahan bangsa, sehingga bisa diadu domba oleh kekuatan asing untuk melawan saudaranya sendiri (kasus konflik Indonesia-Malaysia), Lesbumi ingin menjadi ”think tank” bagi negara, siapa pun rezim yang berkuasa.

Realitas sejarah mengakui bahwa pada rentang waktu 1950-1960 terjadi semacam persekutuan antara kebudayaan dan partai politik (parpol). Itu ditandai oleh maraknya lembaga kebudayaan yang lahir dari perut parpol. Pada fase-fase tertentu, seni-budaya dipandang sebagai produk suatu proses politik. Artinya, ruang-ruang partai politik melahirkan suatu lembaga kesenian. Misalnya, Lekra dari rahim PKI, Lesbumi dari Partai NU, LKN dari PNI, HSBI dari Masyumi, dan lain-lain.

Lesbumi pada awalnya lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan Partai NU, saat ormas keagamaan ini menjadi partai politik pada 1960-an. Kelahiran Lesbumi di tubuh partai NU sebenarnya mengusung sebuah jargon politik yang mengidealkan adanya nilai-nilai religius dalam kesenian dan politik Indonesia.

Memang, pada masa-masa 1960-an kiprah lembaga kebudayaan NU itu luar biasa dan hampir mampu menyaingi Lekra. Tetapi, mulai periode 70-an Lesbumi seakan lenyap terempas angin modernitas. Kabar eksistensinya tidak banyak diketahui orang. Dengan kata lain, Lesbumi seakan hilang karena ditelan bumi kebudayaan Indonesia.

Buku berjudul Lesbumi, Strategi Politik Kebudayaan yang ditulis Choirotun Chisaan dan diterbitkan LKiS pada 2008 lumayan memberikan pengetahuan kiwari kepada generasi baru Indonesia karena membicarakan perjalanan panjang Lesbumi secara komprehensif dan detail, khususnya pada era 1950-1960-an sampai sekarang.

Boleh dibilang, buku itu merupakan buku pertama yang mengkaji seluk-beluk sebuah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai NU, yaitu Lesbumi, yang didirikan pada 1962. Menurut Choirotun Chisaan, kelahiran Lesbumi ditandai dengan tiga momen historis. Pertama, dikeluarkannya manifesto politik oleh Presiden Soekarno.

Kedua, pengarusutamaan Nasakom dalam tata kehidupan sosio-budaya dan politik Indonesia pada awal 1960-an. Ketiga, keberadaan Lekra (1950) yang makin menampakkan kedekatan hubungan dengan PKI, baik secara kelembagaan maupun ideologis.

Tiga momen historis itulah yang secara eksternal melatarbelakangi kelahiran Lesbumi. Di samping itu, adanya keinginan dalam tubuh NU untuk semakin meningkatkan seni-budaya ”kader-kader”-nya menjadi faktor internal lahirnya Lesbumi.

Lesbumi Kiwari
Setelah kongres di TMII, yang salah satunya mengagendakan adanya Muktamar Kebudayaan Lesbumi-NU pada awal 2011, Lesbumi akan menyusun dan mengodifikasi pemikiran-pemikiran serta kekayaan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang berprinsip ”rahmatan lil alamin”.

Lesbumi juga akan memperjuangkan adanya ”fikih kebudayaan” agar para seniman NU dan para seniman Islam tidak lagi beradu ketegangan otot dengan para kiai di pondok-pondok pesantren, sebagaimana banyak laporan yang masuk ke meja litbang kebudayaan Lesbumi maupun PB NU.

Diharapkan, Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU pada awal 2011 nanti mampu menjadi pencerah bagi mindset bangsa Indonesia dan Nusantara yang sedang jatuh terpuruk ke dalam ”kegelapan kebudayaan”.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Jawa Pos (Surabaya), Minggu, 5 September 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s