KOMUNITAS SASTRA SEKOLAH


Iis Maryanti, S.Pd.
Guru SMPN 3 Kutasari dan Aktif di Komunitas Bilik Lentera Purbalingga

Kenapa siswa sekarang tidak bisa membuat puisi meskipun mereka punya potensi? Kenapa siswa sekarang tidak bisa mengarang cerpen bahkan dengan background dan pengalaman sendiri? Benarkan pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah tidak bisa membuat siswa menjadi pandai mengekspresikan diri? Pertanyaan itu menggelitik untuk dijawab. Terlebih ketika kita tahu bahwa sekarang siswa tidak bisa membuat puisi atau cerpen bahkan tidak tahu ketika ditanya mengenai alur dan konflik. Ketika dasar apresiasi sastra tidak mereka kuasai, mereka juga tidak bisa mengekspresikan potensi mereka dalam bidang sastra.

Padahal Banyumas memiliki pengarang sekelas Ahmad Tohari yang karyanya sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan juga menjadi kajian ilmiah mahasiswa di luar negeri. Purbalingga juga memiliki penyair Thomas Haryanto Soekiran yang kemampuannya juga tidak bisa diragukan lagi. Akankah budaya sastra Banyumas dan Purbalingga hanya berhenti pada orang-orang tersebut. Padahal jika ditilik lebih jauh lagi, Purbalingga memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat perkembangan sastra. Sekolah adalah salah satu tempat untuk mengembangkan potensi penyair dan pengarang muda daerah Banyumas khususnya Purbalingga.

Apresiasi Sastra
Kontribusi sekolah dalam bidang sastra sangatlah besar. Dalam apresiasi sastra, kurikulum sudah bisa memberikan kesempatan yang teramat luas bagi siswa untuk mengembangkan potensinya. Dalam pelajaran bahasa Indonesia di SMP apresiasi sastra sudah diajarkan sejak dari kelas satu. Tentu saja pelajaran apresiasi sastra itu akan terus berlanjut sampai tingkat berikutnya. Siswa SMP sudah diajarkan mengenai teori prosa, puisi juga drama. Siswa juga diajarkan untuk menganalisis cerpen, novel, drama sampai keterampilan untuk membuat dan mempresentasikannya. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa siswa tidak punya bekal untuk mengembangkan potensi mereka dalam bidang sastra.

Mengajarkan sastra di sekolah memanglah bukan suatu hal yang sulit tapi juga bukan hal yang mudah. Yang perlu diperhatikan dalam mengajarkan sastra adalah memberitahukan kepada siswa bagaimana cara mengolah rasa agar hasil karya bisa dinikmati sebagai karya yang indah. Ketika siswa diajarkan untuk membuat suatu karya, guru bisa membimbing siswa agar mereka tidak menggunakan pikiran dalam merangkai kata-kata, tapi mereka harus memakai perasaan.

Pada intinya pembelajaran apresiasi sastra bukanlah pembelajaran mengenai logika seperti matematika dan juga fisika yang harus menjawab benar dan salah. Dengam membawa paradigma bahwa mengapresiasi sastra juga ada benar dan salah sesuai dengan logika, siswa menjadi tidak percaya diri untuk berkarya. Mereka tidak bisa mengolah rasa ygan mereka punyai untuk membuat suatu karya. Kesulitan siswa dalam mengolah rasa ini yang menjadi kendala dalam mengembangkan siswa untuk bisa mengapresiasi hasil karya mereka. Padahal dunia sastra memiliki ruang yang sangat luas bagi mereka untuk mengembangkan diri.

Seandainya siswa bisa mematri konsep bahwa dalam mengapresiasi sastra tidak membutuhkan energi yang banyak untuk berpikir, siswa bisa dipastikan akan dengan sendirinya memosisikan sebagai subjek dalam pembelajaran. Sebagai contoh, ketika siswa mendapatkan tugas untuk membuat sebuah puisi mengenai sosok orang yang berjasa, bisa dipastikan mereka akan langsung mengingat sosok ibu, guru, ayah atau bahkan sopir angkutan yang dengan setia mengantarkan mereka ke sekolah. Mereka hanya perlu dibimbing untuk mencari diksi yang bagus. Akan tetapi ide dan isi tetaplah berasal dari perasaan dan gambaran mereka terhadap sosok yang digambarkan tersebut.

Hal ini akan berbeda ketika siswa disuruh untuk ‘berpikir’ mengenai kata-kata yang dirangkai untuk membentuk suatu bait-bait puisi. Dengan paradigma ‘berpikir’ mereka, kegiatan merangkai kata-kata itu akan menjadi sangat sulit. Sesulit mencari jawaban dari sebuah soal matematika yang jika tidak tahu rumusnya pasti jawabannya akan salah. Mereka akan berusaha mencari rumus untuk merangkai kata-kata sehingga menjadi sebuah puisi juga. Tentu saja hasilnya tidaklah akan memuaskan.

Dalam kenyataannya siswa memiliki potensi yang besar yang belum bisa tergali hanya karena kesalahan pandangan mereka terhadap sastra. Hal ini bisa dibuktikan bahwa ada banyak siswa yang sebenarnya memiliki hasil karya berupa puisi ataupun cerpen yang pastinya tidak terpublikasikan. Potensi-potensi tersembunyi ini akan lebih mudah terangkat manakala mereka memiliki suatu pandangan bahwa mengapresiasi sastra tidaklah sepenuhnya memerlukan potensi otak kiri mereka.

Kendala lain yang menghambat potensi siswa adalah dalam proses pembelajaran sastra, guru masih memperlakukan kajian sastra itu sebagai materi pembelajaran bukan sebagai ilmu aplikatif. Siswa akan dituntut mengerti dengan penokohan, mengenai diksi dan lainnya hanya sebatas teori yang dihafalkan. Padahal dalam kenyataannya kajian sastra tidak hanya sekadar menghafalkan teori yang ada di dalamnya, tapi bagaimana mereka bisa mengaktualisasikan ide mereka dalam sebuah karya.

Selain itu, guru masih terkungkung dalam dunia buku pegangan. Keberadaan karya sastra yang sangat banyak tidak membuat guru ikut berkembang dalam membuat apresiasi sastra secara aplikatif. Dengan pembatasan itu, guru secara tidak sadar juga membatasi pandangan siswa terhadap karya sastra. Contohnya ketika siswa menganalisis sebuah novel ‘Ketika Cinta Bertasbih’ yang terdapat dalam buku pegangan, siswa otomatis akan menganalisis sebuah cuplikan bagian dari satu karya saja. Hal itu dikarenakan dalam buku pegangan, yang dicuplik untuk pembelajaran hanyalah sebagian kecil saja.

Meskipun bisa digunakan sebagai contoh apresiasi karya, siswa akan menjadi terbatasi dengan ke’sempit’an karya sastra. Akibatnya siswa tidak mampu mengapresiasi karya dalam versi novel aslinya, terlebih ketika mereka harus dihadapkan dengan novel lainnya. Dengan keterbatasan itu siswa juga menjadi terbatasi untuk mengembangkan potensi mereka.

Alternatif
Komunitas sastra sekolah: alternatif wadah pengembangan potensi sastra siswa. Keberadaan komunitas sastra adalah suatu hal yang wajib dalam meregenerasi tokoh-tokoh sastra kita. Ketika pembelajaran sastra di sekolah tidaklah cukup memuaskan untuk mencetak siswa agar bisa mengolah rasa mereka untuk menjadi calon penyair juga pengarang, alternatif sarana untuk mengembangkan potensi siswa adalah dengan membentuk komunitas sastra di sekolah. Kita mengakui bahwa tidak semua sekolah memiliki wadah yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi sastra siswa. Di samping anggapan bahwa pelajaran sastra adalah pelajaran yang tidak menyenangkan sama sekali, keberadaan komunitas ini dianggap tidaklah terlalu diperlukan karena peminatnya tidak banyak.

Akan tetapi komunitas ini bisa dibentuk bahkan dengan beranggotakan beberapa orang siswa dan seorang pandamping yang tentu saja haruslah memiliki syarat mereka harus mencintai dunia sastra. Permasalahannya untuk membuat komunitas sastra ini bisa hidup, sangatlah diperlukan orang-orang yang berkompeten untuk menggiatkan sastra di sekolah untuk bisa menjadi sebuah budaya. Dengan modal kecintaan pada sastra, keberadaan komunitas ini bisa dijadikan suatu cikal bakal lahirnya penyair dan pengarang besar. Tentu saja hasil yang dicapai tidaklah instan, karena untuk menciptakan pengarang sekelas Ahmad Tohari dan penyair sekelas Thomas Haryanto Soekiran membutuhkan waktu yang lama.

Lepas dari keadaan itu, meskipun hanya dengan sedikit peminat dan pecinta sastra di sekolah akan ada banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari hal kecil seperti sekadar ‘ngumpul’ untuk berdiskusi mengenai hasil karya atau mengapresiasi suatu karya, mereka akan memiliki banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan mereka. Tidaklah heran seandainya dari sekadar ‘ngumpul’ itu pastikan akan terbesit suatu ide untuk mengadakan suatu kegiatan yang bisa mengaktualisasikan potensi yang mereka miliki. Guru pendamping bisa sesekali mengundang narasumber untuk berdiskusi mengenai hasil karya siswa. Bisa juga mengkaji bersama-sama hasil karya. Bahkan sampai pada kegiatan pertunjukan musikalisasi puisi ataupun pameran novel dan cerpen hasil karya siswa. Potensi sastra mereka akan lebih berkembang lagi. Dengan begitu regenerasi tokoh sastra di daerah Purbalingga dan sekitarnya bisa terwujud dan bukan hanya sebagai sebuah wacana.

Jadi bisa dipastikan dengan adanya komunitas sastra yang hidup di lingkungan sekolah, sangatlah tidak mustahil dalam sepuluh tahun ke depan akan banyak bermunculan penyair dan pengarang sekelas Ahmad Tohari dan Thomas Haryanto Soekiran.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat, 25 April 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s