MEMOAR HALIM HD


Halim HD
Networker Kebudayaan

1: Memandang Yogyakarta Dari Kampung
Tahun 1968 saya memasuki Yogyakarta . Suatu kota yang selama hampir setahun menjadi bahan pembicaraan beberapa teman SMP, ketika kami memasuki kelas 3 SMPN III Serang, pada tahun 1967: mau ke mana setelah lulus. Saya tidak terlalu peduli. Bagi saya yang sebenarnya malas untuk sekolah, dan lebih senang mancing di tambak, sungai atau ke laut, adu jago, sesekali berjudi kiu-kiu dan rolet, mencuri buah-buahan terutama mangga di kebun orang di luar kota, maen layang-layang, di samping membantu ayah dan ibu saya. Membantu ayah saya, adalah kewajiban keluarga, kewajiban seorang anak untuk terlibat ke dalam kegiatan profesi orangtua, perdagangan. Dan yang terpenting bagi saya, dengan membantu itu saya mendapatkan uang. Dan dengan uang yang saya kumpulkan itu saya bisa jalan-jalan ke mana saja. Jalan-jalan ke luar kota adalah impian saya. Dalam bayangan dan impian saya, pergi ke Bandung dan Bogor, kedua kota besar yang selalu menjadi impian dan obrolan orang-orang Serang-Banten; sementara Jakarta, boleh dikatakan selalu saya kunjungi; setiap tahun minimal 3-4 kali saya ke ibukota – bergiliran dengan kakak saya sejak saya masih di Sekolah Rakyat (SR) Mardi Yuwana – mengantar beras atau bahan makanan dan uang untuk nenek. Jakarta membuat saya selalu antusias dengan bayangan melihat dunia hiburan dan naik trem dari Olimo (nama sebuah gedung di simpang tiga jalan Hayam Wuruk dengan jalan Mangga Besar), lalu ke Glodog, Kotta, Stasiun Beos, keliling ke Senen, Gunung Sahari, Pasar Baru, dan setelah puas kembali ke rumah nenek saya di Mangga Besar 3, (dulu namanya gang Areng, diganti jadi gang Rambutan dan terakhir Mangga Besar 3).

Walaupun suasana hati saya tidak berminat ke Yogyakarta, tapi hampir boleh dikatakan setiap minggu saya mendengar obrolan tentang Yogyakarta . Kota yang memiliki kraton, terkenal karena gudegnya, dianggap dan disebut “ kota pelajar”. Dan ada sebuah nama yang juga selalu jadi bahan obrolan, “Affandi”, pelukis, yang konon bisa membuat lingkaran atau bulatan sama persis seperti kita membuatnya dari alat ukur yang disebut jangka. Affandi jadi buah bibir orang kampung di sebuah kota kecil dan mitos yang tak lepas dari obrolan, yang sesungguhnya kami hanya mengetahui dari gambar-gambar di majalah atau kalender. Jika teman-teman saya bicara tentang Yogyakarta, saya mendengarkan tanpa minat yang besar, walaupun saya pernah pergi, mampir dari perjalanan ke Malang bersama kakak saya.
Malang juga kota yang saya senangi karena cuaca dan banyak pepohonan yang besar-besar. Tapi aneh kenapa pula begitu banyak orang ingin ke Gunung Kawi berombongan, dan saya pernah ke sana bersama rombongan kampung yang menyewa bis. Katanya di sana siapa saja bisa meminta “sesuatu”. Tapi, Borobudur , menjadi favorit saya, juga beberapa candi lainnya seperti Prambanan. Dan aneh, kenapa orang senang gudeg, yang rasanya membuat saya cepat kenyang. Tapi, saya senang ayam goreng “mBok Berek” di Kalasan, yang saya cicipi dan makan dengan lahap ketika rombongan kami singgah sehabis dari Prambaban. Yaa, saya senang dengan candi-candi. Mungkin karena itu saya tertarik untuk ngobrol tentang Yogyakarta .

Tapi, yang membuat saya ke Yogyakarta sesungguhnya desakan kakak saya. Sebenarnya saya ingin melanjutkan SMA ke Jakarta . Jakarta bagi saya kota favorit. Pertama, karena nenek, ibu ayah memanjakan saya, selalu memberi uang. Dan Jakarta juga dekat dengan Serang, kota kelahiran saya, hanya sekitar 4 jam – waktu itu – dengan bis “Subur” atau “Damri”, atau naik Suberben lebih cepat lagi, dari Bungur atau Petekoan, di sekitar daerah Angke. Jadi, kalau kekurangan uang, dengan gampang saya bisa pulang kampung. Di samping itu saya juga mengenal semua sopir bis dan suberben; dan mereka juga mengenal orangtua saya. Jadi kalau tidak ada uang untuk ongkos gampang saja, bayar di rumah. Saya senang Jakarta juga karena banyak famili, kerabat kami, juga kenalan. Jadi saya bisa dolan ke mana saja. Yogyakarta ? Yaaah, saya tahu namanya dan banyak disebut sebagai “ kota pelajar”, ini dan itu. Tapi, siapa yang saya kenal di kota itu, dan agak jauh juga. Jakarta , yaaa, Jakarta menjadi impian saya untuk sekolah dan dolan.

Tapi, kakak saya tidak setuju, dan nampaknya dia membaca pikiran saya: Jakarta- Serang terlalu dekat. “Nanti terlalu sering pulang kampung”, tuding kakak saya. “Dan”, katanya, “ paling-paling di Jakarta cuma mau dolan, dan sekolahmu bisa terganggu”, tandasnya. Perdebatan itu berlangsung beberapa bulan, dan saya bersikukuh untuk ke Jakarta , kota impian semua warga di nusantara. Dan bagi saya, Jakarta untuk memuaskan mata saya, mata anak kampug di sebuah kota kecil yang ingin benar nonton pelem (film) yang kian bebas masuk dan beredar, setelah di jaman Bung Karno yang penuh dengan kontrol. Sementara teve hitam putih sudah kian membosankan; paling-paling film “Bonanza”; dan bioskop di kota kelahiran saya, “Merdeka” (nama semula “Royal” lalu diganti lagi menjadi “Tri Karya”) dan “Sampurna” (diganti menjadi “Trimurti” yang bersebelahan dengan bola sodok, biliar, dekat rumah dan toko rempah-rempah pakde saya di Gang Rendah) dan selalu mengulang film-film dari India . Saya memang masih senang nonton Charlie Chaplin, bintang favorit saya, dan sesekali nonton film nasional yang saya senangi seperti “Heboh” dan “Jenderal Kancil”, bintangnya Achmad Albar. Sementara itu di Jakarta saya dengar sudah banyak film dari Hong Kong , film silat. Ingat, saya itu penggemar cerita silat Kho Ping Hoo dan terjemahan oleh Gan K.L., OKT, disamping komik silat roman Tiga Negeri seperti Sie Jin Kwie, Sie Teng San, Hwan Lee Hwa – kalau tidak salah goresan Siaw Tik kwie – dan komik serial Mahabhrata, Ramayana dan Sitti Gahara karangan R. A, Kosasih.. Tentu saja saya senang dengan buku sastera, tapi yang paling saya senangi biografi dan sejarah. Dan film yang ingin saya lihat adalah film-film Amerika! Amerika. Yaaa, Amerika dengan Elvis Presley yang selama ini hanya didengar lewat piringan hitam milik kakak saya, musiknya, Rock n Roll! Juga John Wayne. Sebenarnya di kota kelahiran saya juga film Amerika diputar. Tapi jarang, hanya sesekali. Dan menurut teman se kampung saya, Yan (Lie Hong Jun) yang berpengalaman di Kota (kami menyebut Jakarta dengan “Kota”, yang mungkin identik dengan “Kotta”, daerah stasiun Beos dan sekitarnya, pusat perkantoran dan perdagangan, dekat dengan Glodog) bisa memilih film apa saja, dan jangan khawatir batasan umur, bisa masuk asal bisa membayar penjaganya. Dan, di Jakarta filmnya pasti Cinemascope, layar lebar dan pasti full color. Kalau mendengar kata “cinemascope” dan “full color”, rasanya saya sudah seperti kena gegar, terguncang, dan adrenalin saya menjompak-jompak. Di kota kami jarang film berwarna dan layar lebar; hanya sesekali setelah tahun 1965.

2: Kios Koran & Buku Loakan
Jakarta tinggal impian. Kakak saya dan ibu terutama, mendorong saya untuk ke Yogyakarta . Kata ibu saya, di Yogyakarta enak. Hidup murah dan orangnya ramah-ramah. Jadi, suatu sore ketika saya sedang main rolet telur di bawah pohon petai cina di lingkungan RT lain, ijen dengan bandar tua yang kepalanya botak ditutupi pecis, yang selalu gemetar melawan saya, tiba-tiba pundak saya digamit dan saya berpaling, kakak saya sudah berdiri di belakang saya, dan menyampaikan kabar dari ibu: “pulang, mamah menunggu”. Di teras rumah, ibu saya sedang ngobrol, dan lalu mengajak saya masuk ke dalam, dan di ruang tamu sebuah tas besar warna coklat telah tersedia dan nampak terisi penuh, dan sebuah map berisi ijasah, rapor, surat jalan, surat keterangan kelakuan baik. Ibu saya menyampaikan kepada saya, bahwa sore ini juga saya mesti ke Jakarta, lalu besoknya ke Yogyakarta untuk mendaftar di sebuah SMA. Sudah tersedia sebuah tiket bis malam Bumi Amqa (baca Bumi Amsya, perusahaan milik KKO, Korps Komando sekarang marinir; sedangkan bis malama Pemuda Express dibawah naungan RPKAD, diganti jadi Kopassandha, sekarang Kopassus). Sore itu juga saya ke Jakarta dengan suberben (mungkin kata ini berasal dari “Sub(-)urban” sejenis kendaraan di Amerika yang sudah dimodifikasi untuk kendaraan umum; biasanya merek General Motor dan Chevrolet) dan bermalam di rumah nenek saya. Besoknya, menjelang makan siang teman lama saya, Hendra (Yo Tek Hoo), datang, juga dari Serang, ternyata dia juga mau ke Yogyakarta . Kami kongko tentang Yogyakarta yang lamat-lamat hanya sedikit saya ketahui ketika pergi ke Borobudur setahun lebih sebelumnya. Sekitar jam 14.00 dengan becak kami ke kantor bis malam Bumi Amqa di pojokan antara jalan Gajah Mada dan jalan Alaydrus. Kantor bis malam ini tak jauh dari rumah nenek saya. Ternyata, beberapa teman lainnya juga sudah ada di kantor bis malam itu; kakaknya Hendra, Tek Hien, dan teman lama dari Cilegon, Seno (Syen Syen), juga teman saya se kampung tapi beda kelas sosial, Dodo (Ong Hian Jien), yang kakeknya punya rumah besar, kuno, megah di Senen dan di jalan Raden Saleh.

Antara 13-14 jam perjalanan dari Jakarta , tibalah saya di Yogyakarta , di Selatan Tugu, jalan Pangeran Mangkubumi. Kantor bis malam berseberangan dengan kantor koran Kedaulatan Rakyat. Pagi itu, di kantor itu sudah menunggu 2 orang teman kakak saya, Thio Siong Hu dan Tan Tiong Han, menjemput, dan lalu kami naik becak menuju Bumijo Lor, melalui Gowongan Lor kearah Barat. Saya masuki rumah kontrakan teman-teman kakak saya dengan nomor DJ. 3/372-A yang nampak tua, kumuh, temaram, dan sumpek. DJ, singkatan dari Djetis dalam ejaan lama. Itulah wilayah di mana saya tinggal selama 20 bulan, lalu pindah ke rumah kost, dan lalu pindah lagi – ikut pemilik pengelola kost, Oom An – ke jalan Bumijo 14, depan DPU (Dinas Pekerjaan Umum) bersebelahan dengan percetakan Suyadi, dan terakhir pindah lagi mengikuti Oom An ke Penumping, sebelah Barat SD Kanisius.

Di Bumijo yang membosankan itu, membuat saya lebih banyak pergi ke luar: nonton film, sehari bisa dua tiga kali, dan dolan ke syoping senter, dari kantor Pos Besar ke arah Timur, tempat buku loakan atau ke sekitar Purosani, dan Gondomanan seberang klenteng. Sebagai penggemar buku sejak di kampung, lingkungan itu membuat saya betah dan berusaha membeli satu dua buku setiap minggunya, terutama novel yang saya minati. Dalam setahun, diantara buku yang saya bawa dari kampung, terkumpul seratusan judul dan puluhan majalah kebudayaan dan sastera. Nah, bioskop dan lingkungan buku dan kiosk koran yang menghibur saya, diantara rasa bosan dengan jenis makanan, yang membuat saya harus mencari warung makan Padang yang masih jarang di Yogyakarta . Kiosk koran dan kiosk buku loakan menjadi tempat saya bermain dan mencari bahan bacaan atas anjuran pak Rusdi, guru saya di SMA, yang memberitahu kepada saya, jika saya senang cerpen dan kupasan sastera bacalah majalah Horison dan beberapa majalah lainnya yang pernah terbit seperti Sastera, Budaya, Indonesia, dan lalu saya mengenal juga Budaya Jaya.

Yang paling menarik dari lingkungan kiosk koran dan buku loakan itu, saya selalu melihat beberapa sosok yang nampak rada kumal, ada juga yang agak lumayan rapi, dan yang paling jelas, rambutnya panjang, gondrong melintasi bahu. Saya pikir, mereka seniman atau sasterawan. Dan mereka juga sering saya lihat nongkrong di kiosk koran di sebuah taman sebelah Utara Hotel Garuda; kalau malam mereka nongkrong di bawah perpustakaan umum Yogyakarta , seberang Hotel Garuda. Rumah kontrakan yang kumuh dan teman-teman kakak saya lebih banyak main gitar dengan lagu-lagu pop, membuat saya bosan dan lebih banyak keluar malam, menyusuri malioboro dan mampir ke Seni Sono, melihat pameran lukisan atau pementasan drama, seperti yang dianjurkan oleh pak Rusdi, guru sastera dan Antropologi saya. Menonton drama bagi saya, menjadi hiburan dan sesuatu yang mengingatkan saya di kampung kami, Mangga Dua, yang selalu didatangi grup Lenong, Tanjidor dan Wayang Golek dari Tangerang, Bekasi, Karawang dan Cikande. Saya tidak cukup mengerti dengan tontonan drama itu. Tapi, saya nonton saja. Dan itulah juga yang mengantarkan saya untuk sesekali nyelonong ke jalan Cikini, ke Taman Ismail Marzuki (TIM), jika saya pulang kampung mampir ke Jakarta dan diajak menginap di rumah kakek teman saya, Dodo dan Wiwiek (Ong Hian Wiek) yang kakeknya punya rumah di jalan Raden Saleh, Jakarta. Dunia kesenian dan seniman menjadi tontonan dari jauh, dengan jarak sambil saya membayangkan, apa yang mereka kerjakan, dalam tanda tanya terus menerus. Tapi, satu hal yang menurut saya “merasa dekat” dengan mereka adalah dunia menulis. Mungkin karena saya senang membaca koran dan buku-buku sastera. Dan mulai dari situ, sesekali saya mencoba menulis “puisi” (diantara tanda petik!) yang saya kirimkan ke mading (majalah dinding) di sekolah saya. Dan saya agak bangga ketika “puisi” saya dua tiga kali dimuat di madding, dan sesekali menulis “cerpen”, yang juga dimuat. Ada keberanian untuk menulis, dan mulailah menulis terus. Tapi juga dengan penuh keraguan. Suasana hati seperti itu jika saya membaca puisi-puisi pada kumpulan buku puisi atau pada ruang puisi di koran atau majalah, rasanya “puisi” yang saya tulis seperti rengekan, cengeng, dangkal. Tapi, ada sesuatu yang membuat saya mulai dengan kontinyuitas yang rada ajeg, membuat catatan seperti yang dianjurkan oleh beberapa guru saya dan juga ayah saya, yang selalu bilang, “setiap orang bisa khilaf dan lupa, catat apa yang kamu pikirkan”. Saya mencatat apa saja setelah saya membaca buku, koran, majalah sebagai bagian dari kegiatan waktu luang, sama seperti saya mencatat yang saya lihat, saya tonton, misalnya sehabis menonton film atau drama, semuanya saya catat dalam sebuah buku yang saya bikin sendiri – sepertti yang dianjurkan oleh ayah saya – bundelan kertas buram ukuran kuarto yang saya potong dua dan saya jahit. Sejenis buku harian. Dan pekerjaan mencatat yang paling menarik adalah mencatat istilah-istilah yang saya dapatkan dari majalah, koran dan buku yang saya anggap bisa digunakan, dipraktekan di depan teman-teman sekelas pada waktu ngobrol, khususnya untuk di kampung halaman, agar dianggap “anak sekolahan”, atau dalam korespondensi. Yaaa, sejenis snobisme dan ekshibisionis anak remaja. Dalam soal istilah-istilah itu, sesekali saya dapat sindiran dari orang-orang di kampung angkatan kakak saya yang menganggap saya sok. Tapi, saya nggak peduli. Soalnya, banyak juga yang kagum. Dan saya senang itu. Rupanya, sekolah ada gunanya juga, paling nggak untuk pamer istilah!

3: Bulaksumur, Kampus Biru
Waktu berlalu. Dan saya lulus dari SMA I Institut Indonesia , dan mendaftar ke beberapa perguruan tinggi: UGM, IKIP Sanata Dharma dan IKIP Negeri. Aneh bin ajaib, dan saya bingung karena saya lulus testing di beberapa fakultas dan jurusan. Padahal, saya lulus dari SMA dengan nilai pas-pasan, dan itupun lantaran ditolong oleh seorang-dua guru yang akrab, yang menganggap saya punya pengetahuan umum yang luas, sejarah yang bagus, sastera yang baik, antropologi yang bagus, dan jeblog di mata pelajaran lainnya. Saya agak bingung memilih. Akhirnya, saya memilih Fakultas Filsafat UGM, setelah berdebat dengan kakak saya yang – bukan hanya meminta – menyuruh saya masuk ke Fakultas Ekonomi atau Hukum. “Kalau kamu lulus dari Fakultas Hukum atau Ekonomi, gampang cari pekerjaan”, katanya. “Perusahaan tempat saya bekerja, siap menampung”, lanjutnya. Kakak saya bekerja di perusahaan pelayaran internasional; dia lulusan AMI (Akademi Maritim Indonesia) Jakarta, jurusan Administrasi Pelabuhan, generasi awal dari pendidikan sejenis dan dari akademi maritim pertama yang ada di Indonesia.

Tapi, saya sudah mengambil keputusan. Saya memilih Fakultas Filsafat mungkin karena pengaruh buku Mr. Pringgodigdo, “Dari Socrates Sampai Soekarno”, sebuah buku dengan sampul hijau pupus dan abu-abu, yang pertama kali saya baca ketika saya masih di Sekolah Rakyat Mardi Yuwana di Serang, dan saya bawa ke Yogyakarta . Dalam bayangan saya, waaah, kalau masuk ke Fakultas Filsafat, tentunya nanti saya bisa jadi “negarawan” atau “pemikir”. Bayangan seperti itu sebenarnya timbul tenggelam diantara keinginan untuk masuk ke salah satu fakultas di Universitas Indonesia (UI) di Jakarta , FISIP yang baru 1-2 tahun membuka jurusan “Kriminologi”. Saya pikir dengan naïf, jurusan ini menarik, dan saya membayangkan bisa menjadi detektip, seperti dalam novel serial detektip Sherlock Holmes atau Hercule Poirot karangan Agatha Christie koleksi kakak saya yang saya lahap ketika SR dan SMP. Dan tentu saja keinginan ke Jakarta selalu masih menggelitik saya. Dan kembali “proposal’ saya dengan asumsi bahwa saya bisa ikut membantu ayah pada waktu liburan ditolak oleh kakak saya; dan ibu saya menganjurkan untuk tetap di Yogyakarta . Karena kakak saya menolak “proposal” saya, maka saya menolak “instruksinya”, dan mengambil keputusan, yang sebelumnya saya minta restu kepada ibu saya. Dan ibu saya selalu bilang: “Soal sekolah urusan kamu, masa depan kamu. Saya cuma orang desa, dan cuma bisa kasih biaya”. Dana saya Tanya kepada ayah saya. Ayah saya balik bertanya, “menurtut mamahmu gimana?”.

Saya sering merasa dalam hidup saya selalu diiringi oleh berkah terselubung: masuk ke Fakultas Filsafat UGM, dan saya berkenalan dengan beberapa orang yang membuat saya segan, hormat, dan juga perasaan minder: beberapa mahasiswa baru itu adalah penulis cerpen, penyair yang sering saya baca di koran Pelopor Yogya, diantaranya Kusuma Teja yang nama aslinya Lalu Kusumaningrat, dan satu lagi Emha Ainun Najib dalam daftar mahasiswa yang diterima, namun tidak mendaftar ulang. Kusumateja, berasal dari Lombok , menjadi teman akrab, dan ada beberapa senior saya yang juga selalu menulis. Menjadi teman mereka, bagi saya, membuat saya betah dalam perbincangan tentang buku dan karya sastera. Lama kelamaan, kami membentuk kelompok penggemar sastera.; saling tukar pinjam buku dan juga membacakan karya sendiri, dan kegiatan sastera lainnya. Dan itu dimulai oleh Rizal Siregar, seorang aktivis pers kampus, yang memulai dengan pembacaan puisi di bawah 7 (tujuh) pohon cemara di halaman Selatan gedung pusat UGM. Rizal yang well organized dan dikepalanya banyak gagasan mendatangkan Darmanto Jt., Abdul Hadi WM, Umbu Landu Paranggi, Peter Hagul, Ashadi Siregar dan sejumlah penyair lainnya dan banyak orang-orang sastera, teater dan jurnalis datang ke kampus UGM di Bulaksumur, serta ratusan mahasiswa. Hari itu, nampaknya menjadi hari penting di lingkungan UGM, dan 1-2 hari kemudian media lokal serta Jakarta menulis kegiatan itu. Fakultas Filsafat jadi perbincangan. Dan dan beberapa bulan sebelumnya ketika POSMA (pekan orientasi studi mahasiswa) dengan tradisi karnaval keliling sebagian kota Yogyakarta , dan mahasiswa Fakultas Filsafat membuat “Keranda Demokrasi: Sudah Mati”. Lagi-lagi Rizal Siregar sebagai pencetus ide itu dibantu mahasiswa filsafat lainnya. Beberapa hari kemudian koran yang berpengaruh di Indonesia, Indonesia Raya yangb identik dengan Mochtar Lubis itu memuat berita dan fotonya, juga mingguan “Mahasiwa”, koran yang didirikan oleh Rachman Toleng, salah satu dedengkot PSI di Bandung memuat dua halaman penuh.

Fakultas Filsafat yang mahasiswanya hanya beberapa gelintir itu dalam tenggang waktu setahun-dua menjadi bahan pembicaraan dikalangan aktivis dan kesenian di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta, Semarang karena kegiatan sasteranya yang menurut koran Kedaulatan Rakyat dianggap “lebih sastera” ketimbang Fakultas Sastera karena kegiatan sastera yang setiap bulannya diadakan di bawah “Cemara Tujuh”. Di samping itu, hampir setiap dua minggu sekali ada diskusi yang diselenggarakan oleh “Forum Dialog” Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM dengan mengundang pembicara dosen-dosen kritis di lingkungan UGM, guru besar tamu seperti Prof. C. A. van Peursen, Prof. Verhaar, Prof. Jeuken, DR. Magnis Suseno – dengan tema kajian tentang filsafat, kebudayaan dan agama dalam konteks perkembangan masyarakat. Dan “Forum Dialog” yang didirikan oleh senior saya, mas Damarjati Supajar, mas Sunarto, bang Iwan Nussyirwan Jamal dan bang Husnan Aksa, lantaran kesibukan mereka menyerahkan kepada saya sebagai koordinator tim kerja penyelenggaraan forum itu. Fakultas Filsafat yang mahasiswanya hanya puluhan orang itu dan dengan berbagai media yang dibentuknya, seperti “Forum Dialog”, Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat (BPMFF) UGM, majalah “Universum”, dan jangan kaget, ada sekitar 4-5 mading dan bulletin!! Mading ini sebagai praktek menulis dan sejenis “dinding demokrasi”: siapa yang punya gagasan, dan tidak setuju dengan gagasan lainnya bisa membuat mading, dan juga buletin (lebih tepatnya selebaran atau pamflet yang setiap minggu beredar walaupun dalam tiras yang terbatas), dan fasilitasnya disediakan oleh BPMFF dan didukung oleh dekan.

Tentu saja kegiatan bukan hanya di Fakultas Filsafat. Fakultas Sastera misalnya walaupun hanya sesekali, menjadi wilayah pertemuan yang menarik, juga karena banyak yang cantik, sama seperti Fakultas Psikologi! Dolan dan diskusi di kedua fakultas itu membuat saya dan beberapa teman selalu bersemangat. Dan biasanya pertemuan, diskusi atau sekedar kongko menjadi wilayah pertukaran informasi, dan kami dari Fakultas Filsafat selalu ditanya oleh aktivis dari fakultas lain: “Apa lagi kegiatan kalian, jangan lupa mengundang kami”. Ada sejenis rasa bangga, dan sekaligus menjadi tantangan bagi kami. Kegiatan sastera berjalan terus, dan melebar ke berbagai fakultas lainnya. Di antara itu, tentu saja Gelanggang Mahasiswa yang menjadi salah satu ruang yang enak untuk bertemu, diskusi dan menerima rekan-rekan mahasiswa dari kampus lainnya. Di samping itu, Gelanggang Mahasiswa juga menjadi markas Teater Gama. Di sini saya menikmati betul; menikmati sambil belajar bagaimana menonton melalui latihan mereka yang intensif, dan sekaligus sebagai upaya untuk memahami dunia teater dari pelaku utamanya.

Yang menarik dari Teater Gama ini adalah pembahasan naskah yang intensif sebelum latihan rutin dan pementasan. Dan sebuah lakon tidak cukup hanya dipanggungkan sekali, juga sebuah lakon tidak cukup hanya disutradarai oleh hanya seorang. Sebuah grup teater yang terbuka kepada gagasan, pendapat dan opini, dan di dalam proses selalu mengundang orang lain untuk melihat dan mendiskusikannya. Lakon “Aduh” Putu Wijaya misalnya, belasan kali dalam 3 tahun saya menyaksikannya di Yogyakarta, Semarang, Jakarta yang dipanggungkan oleh Teater Gama, dengan sutradara yang berbeda-beda: Suharyoso, Landung Rusyanto Simatupang, Abdul Wachid, dan tak bosan-bosannya lakon yang rasanya dekat dengan lingkungana kita, tentang orang-orang yang hanya bicara, bicara dan bicara sementara korban menjadi terlupakan. Dari Teater Gama, salah satu grup yang sampai sekarang yang memberikan inspirasi kepada saya di dalam memandang proses teater, di samping Bengkel Teater-nya Rendra.

Sekretariat Dewan Mahasiswa (DEMA) UGM juga di Gelanggang Mahasiaswa. Saya sering ngobrol dengan mereka. Mungkin karena selalu bertemu dan mereka tahu saya punya kegiatan sastera, DEMA meminta saya membuat buku kumpulan puisi. Saya sodorkan proposal, dan mereka setuju untuk membuat kumpulan puisi penyair dari UGM dan luar-UGM. Jadilah Bulaksumur-Maliobor o yang dieditori oleh Linus Suryadi Ag., Slamet Riyadi dan saya sendiri. Disain sampul oleh Sitti Adiyati (salah seorang perupa penanda tangan Black September, dan Gerakan Senirupa Baru Indonesia ) dan dicetak offset di Gajah Mada University Press, yang membuat Pater Dick Hartoko memberi pujian: baru kali ini melihat buku puisi mahasiswa dicetak serius. Karena biasanya stensilan. Dan sekretaris majalah “Basis”, B Rahmanto, menulis resensi di majalahnya. Tahun berikutnya, kembali DEMA UGM meminta saya untuk menyelenggarakan penerbitan buku sastera, dan saya memilih salah seorang anggota PSK (Persada Studi Klub) yang kebetulan mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, Bambang Indra Basuki (adiknya mas Kuntowijoyo) , dan terbitlah “Perburuan” dengan disain sampul oleh Bonyong Munie Ardi, juga dari Gerakan Senirupa Baru Indonesia dan penanda tangan Black September. Tapi, ada gagasan saya yang tidak terwujud. Karena situasi di lingkungan DEMA UGM nampaknya buyar, dan sikon politik deras menggerus fokus rencana kerja sastera. Waktu itu saya menyusun proposal untuk menerbitkan kumpulan kritik sastera dan kesenian dari berbagai penulis, dan rektor UGM waktu itu, pak Sukaji Ranuwiharjo menyetujuinya, dan menyarankan sebagai konsultannnya pak Umar Kayam.

Di Gelanggang Mahasiswa juga saya mendapatkan pengalaman baik dalam pergaulan dengan sesama aktivis dan dunia kesenian dari lingkungan kampus UGM maupun kampus lainnya, yang pergaulannya demikian akrab, satu dengan lainnya saling mengenal, dan informasi demikian intensif melalui komunikasi personal. Sementara itu gagasan bisa ditimba melalui diskusi dan dialog. Dan karena kebutuhan untuk memahami situasi dan kondisi lingkungan yang lebih luas, sementara kondisi sosial politik semakin membuat rejim Orde Baru percaya diri untuk melakukan kontrol dan represi, pada sisi lainnya lembaga mahasiswa nampaknya setelah Malari 1974 masuk ke dalam sikap untuk kembali mengambil ancang-ancang dan menunggu momentum. Tapi DEMA UGM melempem. Untuk itu beberapa aktivis mengambil inisiatif membentuk “Kelompok Diskusi Sabtu” (KDS), seperti Hotman M. Siahaan, Toyibi, Saur Hutabarat, B. Aritonang, Zulyaden, Riyadi Gunawan, Rizal Siregar, Amir Effendi Siregar, Slamet Riyadi, Achmad Luqman, Fanani, dan beberapa mahasiswa lainnya, yang setiap hari Sabtu jam 10.00-13.00 berkumpul dan mendiskusikan situasi dan kondisi sosial politik mutahir. Saya ditunjuk sebagai koordinator divisi kajian sosial budaya; sementara teman-teman lainnya pada divisi sosial ekonomi, sosial politik, sosial tehnologi. Setiap divisi berkaitan dengan kata kunci “sosial” dan beranggotakan sebanyak 4-5 orang. KDS dibentuk, karena para aktivis menganggap Dewan Mahasiswa (DEMA) impoten, tidak lagi menampung aspirasi mahasiswa. Pada waktu itu ada kecurigaan di kalangan aktivis yang menganggap DEMA UGM mendapatkan tekanan dari militer, atau mereka memang “bermain mata” dengan serdadu.. KDS dengan inisiatif aktivis dan mendapat dukungan dari rektor UGM, memberikan kesempatan untuk dialog, diskusi, dan pada setiap acara rektorat KDS selalu diundang. Tapi yang paling menarik, kegiatan “mimbar bebas” di boulevard Bulaksumur: sebuah mimbar dengan sebuah megaphone yang sudah disediakan, siapa saja boleh ngomong apa saja. Dan dalam sekejap, biasanya ratusan, kadang mencapai seribu atau lebih mahasiswa berkumpul. Beberapa demonstrasi 1976-77-78 dimulai dari sini; berkumpulnya para mahasiswa dari berbagai kampus, seperti IAIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia dan IKIP Negeri bergabung dengan mahasiswa UGM. Tapi Gelanggang Mahasiswa juga bukan hanya markasnya Teater Gama, KDS dan sejumlah unit kegiatan mahasiswa, juga markasnya koran mahasiswa Gajah Mada, Gelora Mahasiswa (GEMA) yang dianggap kritis dan pernah tajuk rencananya “blok hitam” karena ada sensor atau tekanan dari luar kampus.

Gelanggang Mahasiswa sudah pasti menjadi ruang bagi siapa saja yang punya gagasan untuk menyelenggarakan kegiatan. Di Gelanggang ini pula saya menyaksikan beberapa kali pameran senirupa – di samping pertunjukan teater, musik, pembacaan puisi, musikalisasi, woksyop sastera – dari rekan-rekan mahasiswa ASRI-Gampingan yang bekerjasama dengan mahasiswa Arsitektur. Dan beberapa kali pameran itu menambah jalinan yang kuat antara mahasiswa ASRI-Gampingan dengan UGM-Bulaksumur, diantara hubungan personal yang lebih dulu terjalin. Dan satu hal lagi yang juga perlu dicatat, seperti yang pernah dikerjakankan oleh pak Sudarso Sp, MA, dan saya pernah menyaksikannya, tentang pameran senirupa (tapi yang dominan senilukis) melalui kerjasama antara ASRI-Gampingan dengan perpustakaan UGM: setiap tahun dua kali pameran, masing-masing selama 5-6 bulan, lalu diganti dengan karya lainnya. Dan karya-karya itu dipajang di ruang-ruang baca perpustakaan UGM, gedung SEKIP IV, lantai 1-2.

4: Malioboro, Universitas Terbuka
Jalinan personal itulah yang selalu menciptakan beragam gagasan dan rancangan untuk membuat berbagai kegiatan di dalam maupun di luar kampus. Dan jalinan itu tentu saja bukan hanya di lingkungan Gelanggang Mahasiswa atau kampus UGM dan kampus-kampus lainnya.

Dan jalinan itu juga dikarenakan ruang perkotaan yang masih enak untuk dilalui dengan jalan kaki dan sepeda, dan pada sisi lainnya populasi penghuni serta kendaraan bermotor di Yogyakarta yang tidak sepadat seperti sekarang ini, membuat siapa saja pada tahun 1970-an, merasa enak jika menyusuri jalan-jalan Yogyakarta yang masih dipenuhi oleh pepohonan asem, mahoni dan flamboyant. Dan salah satu ruas jalan yang paling menjadi bagian pembicaraan siapa saja jika bicara tentang Yogyakarta adalah Malioboro. Akhirnya saya kesengsem dengan Malioboro setelah 1-2 tahun mukim di Yogyakarta , dan menjadi “warga Malioboro”, khususnya kehidupan malamnya. Saya memang senang dengan kehidupan malam, suasana yang membawa saya ke dalam berbagai kemungkinan, sambil mendengarkan obrolan berbagai warga dari lapisan dan profesi yang beragam. Di antara yang beragam itu, kalangan kesenian menjadi perhatian saya. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendengarkan pemikiran mereka membuat saya berusaha untuk menyapa mereka, dan satu persatu saya mengenal melalui “komunikasi rokok”, dan sesekali saya traktir di warung wedangan atau lesehan gudeg yang mulai saya senangi. Dalam keakraban dan tanpa beban tema, obrolan mengalir, dan perkenalan itu membawa saya ke dalam kegiatan sastera. Sebagai pembaca – itulah yang selalu saya sampaikan jika mereka bertanya, apakah saya menulis – dan mereka mulai mengajak saya ke dalam lingkaran diskusi PSK (Persada Studi Klub). Jaringan kehidupan personal kian meluas dan saya makin asyik, dan dari situ muncul keberanian untuk menulis artikel. Tapi tidak untuk media di Yogyakarta . Masih merasa minder. Jakarta , Bandung dan Surabaya yang saya jagjagi. Dan satu dua teman tahu saya menulis artikel, juga puisi (tanpa tanda petik!). Setelah agak lama mengenal mereka, barulah saya berani menulis di media Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat, Masa Kini, Berita nasional, Minggu Pagi dan sejumlah majalah dan koran kampus.

Saya menikmasti benar hubungan sosial itu, dan setiap minggu mengikuti kegiatan diskusi PSK dari satu rumah ke rumah lainnya; yang paling sering digunakan rumahnya Suwarno Pragolapati, seorang penyair-cerpenis seneior PSK yang sudah masuk tingkatan “Sabana”, di belakang pasar Sentul. Kadang-kadang pertemuan sesudah Isya di warung wedangan di dalam pasar Kranggan, yang tak jauh dari rumah kost saya di Bumijo, atau di halaman Seni Sono. Dari PSK jalinan sosial kian terbuka, dan satu dua mahasiswa senirupa saya kenal, dan saya mengunjungi kampus mereka di Gampingan.

Malioboro, yaa, Malioboro, ruang publik yang menjadi “Universitas Terbuka” bagi kalangan seniman, akademisi, jurnalis atau siapa saja, adalah ruang yang terbuka untuk berbagai kemungkinan dalam proses berkenalan dan belajar dengan dan dari siapa saja, dari penulis sastera, perupa, musik serta teater, dan tentu saja menikmati kehidupan kaum perempuan yang ramah pada tengah malam terasa lebih nikmat. Lama kelamaan, saya merasa tidak betah tinggal di kamar pada malam hari sebelum saya menikmati malam di Malioboro; selalu saja ada sesuatu yang ingin saya dengar dan saya perbincangkan. Maka memilih ruang yang rentangnya sekitar satu kilo meter lebih itu untuk menemui seseorang, seperti saya memasuki “ruang kuliah” tanpa presensi dan tanpa SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan); hanya dengan bekal uang ala kadarnya dan beberapa batang rokok, masuklah saya ke dalam arus pemikiran yang simpang siur. Dan saya, dengan sadar benar memasuki itu, dan berusaha untuk tidak sekedar mendengar tapi mendengarkan. Saya pikir, saya butuh benar fondasi, dan fondamen itu perlu saya gali melalui bahan bacaan, diskusi dan dialog, dan mencatat dan mencatat setelah saya mendengarkan apa saja yang menarik. Dan sebagian dari obrolan itu menjadi satu dua artikel dalam seminggu yang bisa saya kirim ke KR atau Berita Nasional atau Masa Kini yang kebetulan redakturnya saya kenal, mas Hajid Hamzah, Linus Suryadi Ag., dan Emha Ainun Najib, atau media lain di Jakarta.

Mas Hajid Hamzah, redaktur KR – nama populer Kedaulatan Rakyat – salah seorang yang selalu menanyakan kepada saya atau penulis lainnya yang baru menapak: apa yang sedang ditulis, dan kapan mau didkirim. Sosok yang selalu serius dan selalu memberikan dorongan, mendiskusikan setiap masalah kesenian, dan tentu saja rubrik senibudaya yang diasuhnya terbuka bagi penulis, yang merasa bangga ditawarkan kemungkinan untuk dimuat. Dan suatu hari, bersama Emha Ainun Najib, Rahini “Ray” Ridwan, Simon Hate dan Linus Suryadi Ag., kami berkunjung ke kantor mas Hajid. Kami ngobrol, dan membincangkan posisi dan kondisi Dewan Kesenian Yogyakarta (DKY) yang nampaknya “mati segan hidup tak mau”, yang sedang mengalami kekosongan kegiatan, dan terasa “ada sesuatu” yang tidak jelas. Dari perbincangan itu, lalu mas Hajid menyodorkan gagasan untuk polemik. “Bagaimana kalau kalian menulis dan saya akan beri ruang khusus”, katanya. Beberapa hari kemudian muncul tulisan Rahini, dan dibalas oleh Linus, dan lalu Emha, lalu saya dan bermunculan tulisan dari pak Bagong Kussudiarja, Bakdi Soemanto, dan beberapa dedengkot lainnya, yang selama 2-3 bulan “polemik rekayasa” mas Hajid itu menghiasai KR, dan disambut media lainnya, yang kesemuanya menggugat posisi dan kondisi DKY serta arah kehidupan kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta.
Hasil polemik ini berupa dialog terbuka dengan mengundang seniman dari berbagai disiplin, diantaranya datang pak Affandi, pak Sapto Hudoyo, mas Amri Yahya, Ibu Suliantoro Sulaiman, bang Ashadi Siregar, pak Bagong Kussudiarja, kritikus senirupa pak Sudarmaji dan duaratusan lebih seniman dan jurnalis memadati Seni Sono, diantaranya juga walikota Yogyakarta, Sujono AY. Dialog itu atas prakarsa Sanggarbambu. Konklusi yang diambil dari dialog itu, diantaranya membentuk tim untuk revitalisasi DKY. Saya diminta untuk masuk ke dalam DKY. Tapi saya mengelak, juga Emha. Saya pikir, saya lebih bebas dengan cara-cara “bergerilya” yang selama ini saya kerjakan, tanpa ikatan instsitusi. Dan saya masih nyantol-tol dan kesengsem dengan apa yang dikatakan oleh mas Willy dan bang Ashadi, “kantong-kantong kebudayaan” dan “subversif kebudayaan” membutuhklan praktek-praktek dalam bentuk komunitas alternatif.

Berkaitan dengan Sanggarbambu itu saya punya cerita. Tahun 1974-75 Linus mengajak saya, Rahini dan Simon dolan ke Sanggarbambu yang memang sudah sering saya dengar, dan pernah sesekali dolan sekedar mampir ngombe. Kali ini Linus mengajak untuk bagaimana ikut membantu Sanggarbambu untuk menunjang kegiatan internalnya. Sanggarbambu sedang berusaha melakukan revitalisasi diri. Ketika saya sampai di sana ketemu mas Supono Pr. ngobrol sebentar, dan melihat Emha, Deded Er. Moerad, Untung Basuki dan beberapa remaja lainnya sedang merancang kegiatan musikalisasi puisi, juga di situ nongkrong Ebiet, santrinya Emha yang celingus mojok di sudut ruangan. Dan ada seorang remaja ramah dengan wajah campuran antara Korea-Jepang- Cina dan logatnya pesisir Utara, ternyata kelahiran Tegal, suka senyum, Dadang Christanto namanya, yang waktu itu nyantrik di Sanggarbambu, tapi lebih banyak tugasnya seperti “pak bon”, rajin bersih-bersih, dan sigap kalau diminta tolong untuk membeli rokok misalnya. Setelah latihan musikalisasi, kami mendiskusikan kemungkinan penerbitan majalah, dan beberapa agenda kegiatan rutin Sanggarbambu lainnya, seperti diskusi kesenian, latihan teater, latihan musikalisasi, dan tentu saja kegiatan senirupa yang menjadi kurikulum utama Sanggarbambu, dan silat Bangau Putih yang diberikan oleh mas Fajar Suharno dan Max Palar yang datang dua bulan sekali dari Bogor. Dan saya diminta untuk membantu penyelenggaraan diskusi mingguan sebagai usaha pengembangan wawasan cantrik Sanggarbambu, disamping ikut tim redaksi. Majalah terbit dengan stensilan dengan cara kerja keroyokan, dari redaksi sampai memutar mesin stensil, menjilid, memotong serta mengedarkannya. Modalnya sebuah mesin tik Brother milik Sanggarbambu dan kepunyaan Linus, ditambah beberapa rim kertas duplikator serta sekotak sheet. Bonyong ikut mengisi ilustrasi, dan beberapa perupa lainnya. Dan mendapatkan sambutan hangat. Berjalan sampai dengan 6 edisi. Setelah itu, mandek. Dari pertemuan rutin di Sanggarbambu itu, dan adanya polemik, ada lontaran gagasan, bagaimana kalau diselenggarakan dialog. Emha dan saya diminta sebagai moderator. Sound system kami dapat bantuan dari walikota, dan penganan-minuman dari mas Amrih Yahya, yang waktu itu sedang naik daun sebagai perupa batik, yang mondar mandir pameran ke Jakarta , Australia dan tentu saja Timur Tengah dengan karyanya batik abstrak dan kaligrafi.

Kegiatan berjalan mulus, dan Sanggarbambu menjadi salah satu tempat ampiran bagi teman-teman, bukan hanya senirupa, tapi juga penyair, penulis, teater, musik dan jurnalis. Diskusi berjalan dengan intensitas yang bagus, dan bahan-bahan diambil dari artikel yang aktual di koran dan majalah. Kegiatan bukan hanya aktifitas internal Sanggarbambu saja, juga mengembangkan jaringan melalui kunjungan pertunjukan teater dan musikalisasi puisi ke Surabaya , Malang . Yang menarik, kegiatan itu juga nampaknya menggugah kalangan senior Sanggarbambu. Mas Danarto, mas Sunarto Pr dan beberapa dedengkot Sanggarbambu yang mukim di Jakarta dan kota-kota lainnya datang berkunjung setiap bulan silih berganti, dan kedatangan mereka dimanpaatkan untuk dialog dengan para cantrik.
Yang menarik dari Sanggarbambu dalam konteks kehidupan kesenian di Yogyakarta , menurut saya, sebuah komunitas yang nampaknya berpijak dari sejarah sosial lingkungannya dengan pola padepokan-pesantren yang mendasarkan diri kepada pembentukan karakter cantriknya melalui proses pendidikan informal. Setiap cantrik mesti memahami lingkungan sosialnya, dan mesti pula piawai secara teknis. Dan gagasan dibentuk dari pengalaman keseharian. Dan Sanggarbambu dalam konteks sejarah sosial politik di Yogyakarta pada periode tahun 1950-an dan memasuki tahun 1960-an, diantara gemuruh pertumbuhan nasionalisme yang demikian kuat, ditambah pertarungan berbagai ideologi dengan latar belakang agama, sosialisme, komunisme dan nasionalisme, nampak Sanggarbambu berusaha “melepaskan diri” dari pengaruh itu. Saya membayangkan, pada dekade itu pastilah Sanggarbambu tenggelam diantara hiruk pikuk dan gemuruh aktifitas organisasi kebudayaan seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, dekat dengan PKI), Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia, dekat dengan NU, Nahdlatul Ulama) dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional, dekat dengan PNI). Dan ketenggelamannnya itu justeru membuat dirinya menelusupi relung-relung kehidupan yang membentuk karakter warga komunitasnya.

Berbeda dengan PSK atau Persada (Persatuan Sasterawan Muda) dimana bang Umbu Landu Paranggi menjadi pengayom dan sesekali memberikan isyarat situasi dan kondisi sosial politik, Sanggarbambu nampaknya berusaha untuk menghindari. Diskusi kesenian di lingkungan Sanggarbambu yang lama kelamaan mau tidak mau mengaitkan masalah-masdalah sosial politik mutahir, nampaknya membuat beberapa senior yang ada di Jakarta merasa gerah. Kabar itu saya dengar dari Emha, katanya, nanti Sanggarbambu jadi kelompok diskusi politik. Saya jadi rikuh juga. Sebagai penanggungjawab kegiatan diskusi, bagi saya jika kita bicara tentang kesenian, yaa mau nggak mau mesti bicara juga soal sejarah, masalah sosial, politik dan kondisi ekonomi. Kesenian bukan sesuatu yang lahir, tumbuh dan berkembang di dalam ruang kosong. Secara pribadi, saya berusahaa untuk memberikan materi yang sesuai dengan konteks jaman, makanya saya ambilkan artikel darin kora Kompas, jurnal Prisma, majalah kebudayaan Basis dan makalah-makalah yang saya anggap baik utnuk para cantrik Sanggarbambu. Kadang-kadang saya juga mengundang seseorang untuk bicara. Setahu saya, para cantriknya sendiri nggak merasa ada sesuatu yang kritis dan krisis. Semuanya berjalan lancar. Kecemasan dan kegerahan itu nampaknya, lagi-lagi saya dengar dari Emha dan Linus, ada kaitannya dengan posisi beberapa senior Sanggarbambu yang punya proyek di Jakarta . Saya kurang tahu benar atau tidaknya. Yang jelas, dan agak pasti saya mengurangi kegiatan diskusi, dan saya menganjurkan kepada cantrik Sanggarbambu untuk mencari bahan sendiri dan belajar membentuk kelompok diskusi.

Juga di Malioboro – bukan hanya di kampus – saya merasa perbincangan seputar situasi dan kondisi sosial politik dengan hangat saya dengar, dan bahkan lebih terasa aktual. Misalnya pertarungan antara Jenderal Sumitro “Gendut” yang didukung kelompok Bappenas dengan kelompok Ali Murtopo dengan CSIS menjelang Malari 1974. dan mereka nampak berusaha untuk meyakini kampus agar mahasiswa mendukung mereka. Tapi yang terpenting lagi bukan hanya informasi tentang sosial politik yang terasa membuat pikiran jadi waswas. Lebih dari itu, Malioboro sebagai “Universitas Terbuka” membuat saya mendapatkan berbagai hal yang sangat inspiratif dari arus pemikiran yang dilontarkan misalnya oleh mas Willy (Rendra) tentang “Kantong-Kantong Kebudayaan” sebagai bentuk alternatif diantara arus formalisme dan institusionalisasi berbagai jenis kegiatan dan ritual politik yang diselenggarakan oleh rejim Orba. Seiring dengan apa yang dinyatakan dan secara konkrit dikerjakan oleh mas Willy bersama komunitas Bengkel Teater. Dan tulisan bang Ashadi Siregar di koran Sinar Harapan tentang “Perlunya Subversif Kebudayaan” membuat saya terus menerus berpikir dan mendapat isyarat, yang pada tahun-tahun berikutnya makin saya yakini sebagai bekal untuk menapak dan memetakan masalah di dalam berbagai kegiatan senibudaya. Ajaib rasanya, “Subversif”, kata itu memukau saya diantara penuh dengan tanda tanya dan juga waswas, dan dorongan sejenis heroisme: ada sesuatu yang perlu dikerjakan di luar kerangka institusi yang ada, dan ada sesuatu yang perlu terus menerus dirancanag dan dikerjakan dalam berbagai bentuk komunitas yang kecil-kecil dalam kapasitas yang dimiliki, tanpa ketergantungan, bersifat setara, dan menolak segala jenis tabu yang berbau tudingan politik dari rejim.
Dari Malioboro sebagai “Universitas Terbuka” itu saya juga mengenal berbagai grup teater, seperti Stemka (Studi Teater Mahasiswa Katholik), Teater Alam, dan puluhan grup lainnya yang masing-masing berbasis di lingkungan kampung mereka. Tentu saja Bengkel Teater, yang memang identik dengan Yogyakarta . Dari pekenalan itulah saya berusaha untuk mengunjungi sanggar mereka, dan melihat latihannya. Dari kunjungan ke sanggar-sanggar teater itu lalu terpercik pikiran untuk membuat Arisan Teater. Gagasan ini terlontar ketika diskusi di SMA Santa Maria – B. Rahmanto mengajar di sana – dan dilanjutkan ke sanggar Teater Alam, Azwar AN menampung gagasan itu, dan kami menunjuk Noor WA sebagai koordinator, dan Slamet Riyadi, Emha, Linus dan saya sebagai tim evaluasi. Dan jalanlah gagasan itu ke dalam bentuk di mana setiap minggu secara bergilir beberapa grup menyajikan apa yang menjadi prosesnya, dan pada sisi lain ada grup yang menjadi fasilitator. Menarik, proses kerja itu demikian sederhananya, tanpa proposal, semuanya didasarkan kepada saling kepercayaan, dan kampung demi kampung di mana sanggar atau kelompok teater memiliki basis sosialnya menyediakan diri. Intensitas pergaulan ini berjalan hampir setahun, dan media lokal mendukung dengan pemberitaan, dan yang menarik juga adalah banyak kalangan teater kampus juga ikut terlibat. Tapi anda jangan membayangkan bahwa pementasan itu sebagai sesuatu pemanggungan yang “utuh”, sajian yang “sudah jadi”. Semuanya dalam bentuk sajian pencarian. Jadi banyak sekali grup yang sedang proses menyajikan apa yang dikerjakan mereka, dan acara setelah 3-5 grup “manggung” diadakan diskusi. Pengalaman ini, bagi saya, memberikan inspirasi yang konkrit, di mana warga kampung terlibat, dan banyak warga kampung yang menyajikan teh, kopi, gorengan, rebusan dan sebagainya; dan ada yanag meminjami kursi, meja, tikar, tenda yang mereka miliki. Ibarat ikan dan laut, kegiatan itu menyatu padu ke dalam proses sosial kebudayaan melalui teater.

Berjalan hampir setahun, Arisan Teater yang setiap bulan di evaluasi, dan merancang kerja berikutnya. Pada suatu hari, saya mendengar bahwa Noor WA “dicopot” oleh Azwar AN, dan digantikan oleh Merit Hindra tanpa kesepakatan jaringan kerja Arisan Teater. Saya datangi Noor WA , yang dengan emosional membeberkan, dan menyatakan diri mundur dari Arisan Teater. Dari obrolan sana sini, lalu saya dapatkan informasi bahwa Azwar AN ingin “menggiring” Arisan Teater ke dalam Karsa (Koordinator Artis Safari) yang dekat dengan Golkar. Mendengar informasi itu, saya menulis di koran Bernas – nama populer untuk Berita Nasional. Tulisan saya masuk, dan Azwar AN marah besar. Tapi banyak teman-teman setuju dan mendukung saya. Dari pertemuan berikutnya, saya dan teman-teman bersepakat untuk menolak Karsa, dan Arisan Teater tetap jalan, tanpa Azwar AN yang semula salah seorang inisiator, “dipecat” oleh teman-teman Arisan Teater. Seingat saya, rentetan kerja “Arisan Teater” mempunyai dampak positip berupa – kalau tidak salah namanya – Festival Teater Pelajar Yogyakarta yang disponsori oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dan dari situ lahirlah beberapa orang aktor handal, dan bermunculan demikian banyak grup teater, hampir-hampir setiap sekolah menengah lanjutan atas memiliki grup teater. Dan tentu saja, banyak orang teater yang terlibat di dalamnya sebagai pelatih atau sutradara.

Dari dunia menulis memasuki ruang teater sebagai partisipan dan organizer, tapi sastera tetap saya ikuti secara intensif melalui kegiatan PSK yang diasuh oleh bang Umbu Landu Paranggi yang membuat saya terbuka, bahwa kegiatan sastera tidaklah sepenuhnya mesti berada di suatu ruangan resmi, dan justeru sastera mestilah memasuki ruang sosial yang longgar dan akrab, di mana saja bisa diciptakan peristiwa sastera yang bersifat dialogis; dan sastera bukanlah sesuatu yang elitis. Ketika banyak orang berbicara tentang tiadanya apresiasi sastera di dalam masyarakat, PSK bersama bang Umbu Landu Paranggi menyusuri jalan dari kampung satu ke kampung lainnya, dari satu kampus ke satu teras dan ruang tamu dalam acara pembacaan puisi, musikalisasi dan diskusi yang intim. Saya mendapatkan inspirasi: titik temu tema kerja antara sastera dan teater bersatu padu dalam ruang social yang memang mesti dibentuk oleh pelaku. Pengalaman ini memberikan inspirasi kepada saya pada langkah berikutnya dalam praktek-praktek kebudayaan selama bertahun-tahun, sampai saya pindah-pulang ke Banten dan lalu ke Solo.

Jika kita memasuki ruang “Universitas Terbuka” Malioboro, tentu bagi siapa saja yang mengenal dunia kesenian akan juga memasuki salah satu “Fakultasnya”, yakni Seni Sono, sebuah gedung tua yang masih rapijali, dan di situ pula banyak diselenggarakan pameran senirupa dan pertunjukan teater, di samping sesekali diskusi kesenian. Melalui “Fakultas” Seni Sono itulah saya banyak mengenal perupa, khususnya perupa muda, seperti Bonyong Munni Ardie, FX. Harsono, Narsen Afatara, Untung Murdiyanto, Hardi, Sitti Adiyati, Ronald Manulang, Haris Purnomo, Dede Eri Supria, Gendut Riyanto dan puluhan lainnya, yang sedang gelisah dalam pencarian jatidiri melalui karya mereka. Merekalah dan teman-temannya dari ITB Bandung yang masuk ke dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) Indonesia dan PIPA (Seni Rupa Kepribadian Apa) yang menguncang jagat senirupa Indonesia.

Saya merasa bahwa salah satu apresiasi saya terhadap masalah sosial, politik dan kebudayaan umumnya, rasanya sangat dibantu oleh dan melalui karya-karya perupa dan obrolan di “Universitas Terbuka” Malioboro dibandingkan dengan lingkungan kampus. Masalah-masalah aktual yang dinyatakan oleh kalangan perupa kerapkali membuat saya ter/di-guncang oleh sajian bentuk atau karya, yang membuat saya bukan hanya ketawa ngakak seperti karya Gendut Riyanto, “Kamar Seorang Remaja”, Ronald Manulang yang membuat “Kursi Miring”, juga permenungan yang membuat saya gelisah dan dicekam oleh sejumlah tanda tanya dan gugatan. Karya Haris Purnomo dengan bayi-bayi yang berserakan membuat saya jijik, takut dan prihatin. Sementara Bonyong yang karyanya monumental dengan mesin tik di atas sebuah meja yang diguyur cat hijau, rasanya membuat saya seperti dalam bayang-bayang – menurut tafsiran saya – tentang dunia jurnalisme, tulis-menulis dan mimbar akademis dalam cengkeraman militer.

Dan Haris Purnomo dengan gerakan Seni Rupa Kepribadian Apa yang bagaikan suatu orkestrasi sosial-politik ditengah jalan, suatu pertunjukan yang bukan main dahsyaatnya. Baru kali itu saya menyaksikan senirupa berada di tengah jalan, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang biasanya saya merasa senirupa berada di dalam gedung, museum, galeri dan ruang tamu. Dunia visual yang kian kuat di dalam ruang perkotaan yang seiring dengan laju pembangunan ekonomi Repelita tahap kedua. Dunia disain lambat tapi pasti menjadi suatu profesi dan wilayah yang penuh dengan kemungkinan pembentukan citra yang dimanfaatkan oleh kekuatan politik ekonomi industri untuk menggiring warga atau siapa saja ke dalam berbagai pola konsumsi. Pada sisi lainnya sebagai daya ungkap citra politik melalui iklahn politis-ideologis pembangunan tentang sosok Suharto. Yang menarik, gugatan itu juga datang dari para perupa yang dengan bernas dalam gagasan serta perwujudan yang membuat saya memandang realitas keseharian menjadi tidak tunggal, beragam perspektif, dan sangat impresif. Sisi lainnya yang saya alami dan hal itu menjebol dan membubarkan dinding pikiran saya tentang posisi senirupa: bukan sesuatu yang “adiluhung”, dan senirupa bukan hanya senilukis. De-sakralsiasi menjadi sangat menarik, seperti juga saya mendapatkan makna bahwa semua proses pembangunan dan kebudayaan bukanlah sesuatu yang tidak bisa digugat dan tidak hanya satu jalan. Ada beragam perspektif, pandangan yang bisa digunakan untuk meneropong dan menguak realitas dan wujud kebudayaan. Dan hal itu bisa dijasdikan sebagai bekal untuk memandang arus yang muncul dari “Barat” yang dalam beberapa tahun terakhir itu tentang “The End of Ideology”, dan di lingkungan Indonesia sedang menancapkan ideologi-tunggal yang dikendalikan oleh penguasa.

Bayang-bayang pemahaman saya tentang senirupa yang semula dihantarkan senilukis Affandi, Basuki Abdullah, Dullah, Sudarso, Hendra Gunawan, Sujoyono melalui kalender dan majalah, kini berganti kepada perupa muda yang sedang menggelegak. Mungkin hal ini karena rasa sejamanv dan berbagai gugatana yang dil;ontarkan oleh para perupa yang sangat inspiratif; suatu jaman ketika rejim Orba memasuki periode kedua rencana politik pembangunannya yang terus menerus dengan yakin dan represif menggelontorkan berbagai tekanan atas nama stabilitas nasional, sementara kue pembangunan yang diharapkan bisa menciptakan kemakmuran, tak kunjung ter/di-bagi dalam prinsip keadilan sosial. Hanya segelintir orang saja yang menikmatinya. Kongkalikong antara konglomerat yang baru muncul dengan korporasi militer dan MNC (Multi National Corporation) berjalan dengan intensif, dan kota berubah ke dalam berbagai bentuk tatanan yang lebih gemebyar akibat rangsangan ekonomi: iklan mulai bertebaran di mana-mana, seiring juga dengan slogan, iklan politik-ideologis pembangunan yanag menyatakan dirinya sukses, berhasil. Namun, semakin dinyatakan “sukses”, semakin banyak orang ragu kepada keberhasilan pembangunan. Sementara di pedesaan dengan massa mengambang (floating mass) – partai dan organaisasi sosial di luar pemerintah tidak boleh ada di pedesaan, harus dan hanya di tingkat kecamatan atau khususnya perkotaan – yang berjalan memasuki sepuluh tahun dibanjiri oleh teve, hiburan kota , kontrol militer terhadap kegiatan sosial dan indoktrinasi politik dan ekonomi: konsumerisme ekonomi dan politik kian intensif memasuki wilayah akar kebudayaan nusantara. Semua ruang sosial dibentuk melalui indoktrinasi politik ekonomi, life style, gaya hidup dan pola konsumtif sebagai bagian dari pengalihan arus politik dan ideologis, agar warga lebih mementingkan tubuh dan selera perut.

Perbincangan atau tepatnya gugatan terhadap kondisi itu juga banyak saya dengar di lingkungan Bengkel Teater. Ruang tamu rumah mas Willy menjadi ruang kuliah dan diskusi yang sangat menarik dengan kedatangan berbagai figur inspiratif, dari Rama Mangunwijaya, arsitek mas Robby Sularto, pak Umar Kayam, Arief Budiman dan puluhan lainnya yang setiap bulan dua kali diskusi yang membuat kepala saya penuh dengan informasi dan gagasan yang simpang siur, yang perlu saya catat, endapkan, dan mencari kemungkinan untuk peluang praktek secara mikro.

Begitu banyak masalah diantara gegap gempita pembangunan dan rasanya saya terguncang-guncang, terombang ambing seperti perahu yang terombang ambing oleh gelombang jaman, dan rasanya seperti menapakan kaki tapi mengambang. Saya berusaha bertanya-tanya ke dalam diri, kemana arah, dan apa yang akan saya kerjakan berikutnya. Tak ada jawaban yang pasti, seperti suatu “penyakit” yang tidak bisa saya diagnosa dan juga tak cukup jelas menduga apa “penyakit” yang saya derita, dan ada apa di dalam kepala saya, tubuh saya. Tak ada jawaban yang tuntas. Sementara itu desakan akibat suasana, tepatnya jaman yang begitu cepat melintas seperti juga informasi intrik politik yang membuat perut saya mual yang setiap hari saya dengar diberbagai ruang sosial, dan lagi-lagi jaman yang deras menderu membuat saya seperti oleng gemoleng, mendhem kahanan. Dan ruang kuliah makin membosankan karena hanya mencatat apa yang dikatakan oleh dosen, dan hanya seorang-dua dosen yang bisa diskusi dan dialog, sementara banyak dosen muda yang justeru angkuh hanya untuk menutupi ketidakpercayaan dirinya, dan secara formal juga nilai kuliah saya tidak terlalu baik; saya bukan mahasiswa yang lumayan baik untuk sebuah perkuliahan yang membutuhkan jawaban yang tepat atau persis seperti yang dikatakan oleh seorang dosen.

Dan suatu hari, setelah beberapa hari tak pulang ke tempat kost, saya ngendon di “Sanggarbambu” dengan beberapa teman menyiapkan majalah, dan sebelum rampung kami sempat menghadiri – kalau tidak salah malam Minggu awal September 1977 – pembukaan pameran PIPA yang mengguncangkan itu, dan malam Senin pameran itu ditutup oleh polisi dengan alasan “pornografi” pada karya Gendut Riyanto yang menggambarkan ruang remaja dan di dalam laci mejanya terdapat sebuah majalah “porno”. Senin sore, ketika saya sedang mengetik di “Sanggarbambu” seorang teman kost, Andri, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, muncul dari lorong gang dengan Honda CB 100 warna merah, nongol di depan “Sanggarbambu”, dan mendekat kepada saya berbisik: “Oom An minta saya pulang ke tempat kost”. Saya agak kaget. Andri tak menjelaskan lebih lanjut pesan Oom An. Saya punya feeling jelek. Dan oom An sudah menunggu di depan kost, dan ketika saya turun dari boncengan motor, Oom An menggandeng, merangkul saya, mengajak ke dalam dan memberitahu, ibu saya meninggal beberapa hari yang lalu. Adik saya berusaha mencari ke fakultas, Gelanggang Mahasiswa, ke rumah mas Don, kakaknya Linus di jalan Sangaji, selain tempat kost, tapi tak bertemu. Adik saya meninggalkan surat , uang dan telegram yang sudah dibacanya.

Sore itu juga saya di antar Eddy dan Nuryanto, ke stasiun mencari tiket. Dapat tiket kereta BIMA (Biru Malam), kembali ke tempat kost, menyiapkan pakaian ala kadarnya. Dan minta tolong Andri untuk menyampaikan kabar duka dan kepulangan saya ke Serang kepada teman-teman di “Sanggarbambu”. Sekitar jam 20.00 di stasiun Emha dan mas Supono Pr sudah menunggu, menemani saya di stasiun Tugu dan mengantar ke kereta BIMA. Tapi, kondektur BIMA yang rapijali dengan jas, dasi dan celana gelap, menolak saya sebelum kaki menapak tangga gerbong kereta yang nampak mewah itu, walaupun saya punya tiket, karena saya tidak pakai kemeja, sepatu, dan saya cuma pakai celana blue jin belel yang lusuh dan sebuah ransel kumal. Dengan ramah kondektur bilang, uang tiket akan dikembalikan, dan seorang staf perempuan kereta BIMA mengantar saya untuk mengambil uang. Tak ada pilihan lain, tak ada kereta lainnya menuju ke Jakarta , semuanya sudah berangkat, dan pilihan ke Bandung . Dari Bandung, Selasa pagi saya dengan bis “Merdeka” ke Serang, kota kelahiran saya, dan di kampung nampak terasa duka, para tetangga menyambut saya, mengantar saya ke rumah kami yang sudah penuh sesak oleh kerabat dari berbagai kota dan tetangga. Tak sempat saya melihat wajah ibu saya. Upacara penutupan peti jenazah sudah berlangsung sehari sebelumnya. Ayah saya menggamit, mengajak ke lantai dua. Bertanya kepada saya, “apakah saya mau mengikuti tata cara, adat? Ini hanya untuk ibumu”, katanya. Saya manggut.

5: Post Scriptum
Seingat saya tentang kampung kelahiran dan jika saya mengenangnya, rasanya saya harus beryukur, bahwa saya dilahirkan di sebuah kampung yang membuat saya bisa berpikir dengan cara yang lebih longgar – dan orangtua yang membebaskan saya untuk “meyakini” apa saja asal dipikir matang-matang – di antara berbagai upacara adat yang beragam serta “ke-tidak-taklid- an” sosial, moral dan kepercayaan yang saling berkelindan dengan toleransi, gotong royong yang tak pernah surut, serta berbagai hal. Di antara itu semuanya, satu cap yang ditabalkan kepada kami: orang-orang luar menyebut kampung kami “Mangga Dua kalinya kecil tapi banyak buayanya”. Setiap orang, apalagi yang tidak tinggal di kampung Mangga Dua tentu saja punya perspektif sendiri. Nenek saya yang tinggal di Jakarta sejak pos revolusi – sekitar 1948-49 – sudah lama tahu, katanya, “sejak sebelum jaman Jepang kampung Mangga Dua memang punya julukan banyak buayanya”. Dan warga kampung, jika ada orang luar yang menyebut itu, hanya ketawa ketiwi santai, senyum simpul dan bahkan cenderung merasa bangga. Itulah yang mereka miliki di antara tumpukan bon hutang, kreditan harian yang bertahun-tahun baru lunas, apalagi yang mesti dibanggakan, kecuali stempel sosial yang sementara kelompok sosial lain khususnya elite kota menganggap negatif, bagi penghuni kampung yang hidup dengan cara mereka, merupakan suatu legitimasi kehadiran mereka sebagai komunitas.

Dan saya, hidup diantara simpang siur tatanan nilai itu diantara anggota masyarakat yang beragam yang datang dari berbagai daerah yang membawa latar belakang sosial budaya dan bertemu serta bermukim di suatu wilayah tengah: antara stasiun, terminal bis dan pasar kota Serang; wilayah pelintasan yang mempertemukan berbagai latar belakang kehidupan. Sebuah kampung yang dulunya lebih tepat dianggap “kebon luas”.yang dilintasi sebuah sungai kecil yang digunakan untuk membuang limbah rumah tangga, hajat besar, tapi juga tempat anak-anak bermain dan mancing lele dan belut. Dan satu persatu rumah hunian yang semula semi permanen menjadi kian baik, dan beberapa industri makanan yang dikelola beberapa keluarga; beberapa keluarga lainnya dikenal sebagai tukang kayu yang piawai, bengkel sepeda yang kondang, dan teknisi motor dan mobil yang waktu itu masih mewah. Dan, ini salah satu yang saya anggap penting: banyak senimannya, yaaa, seniman musik, jagoan kroncong, itulah salah satu kenapa kampung kami disebut tempat “buaya” berkumpul karena para “buaya kroncong” dari berbagai daerah, seperti Tangerang, Bekasi, Karawang dan bahkan Jakarta jika mau ketemu dengan rekan sesama profesinya, mereka datang ke Mangga Dua. Dan mereka, bukan hanya piawai dalam kroncong, juga Gambang Kromong, Cokek, dan semuanya berarti dekat dengan Lenong. Juga grup band, setelah tahun 1960-an, ketika “Koes Bersaudara” kondang, dan anak-anak muda memainkan gitar dengan senandung lagu-lagu pop jaman itu, seiring sebelumnya Rock n Roll dengan Elvis Presley yang juga membawa life style dalam bentuk celana jengki (yankee), rambut dan cara jalan serta senyum manis dan sepatu putih kulit sintetis dengan merek (bunyinya) Embisi, yang berujung lancip dan berhak agak tinggi.

Dalam soal pandang memandang wilayah budaya lain, orang kampung selalu punya lenso lidah yang lincah, entah dari mana kata-kata bisa meluncur menjadi semacam senjata bagi mereka untuk menyatakan diri, bahwa mereka “lebih baik” dari orang lain; atau sebagai “counter”. Itu yang penting bagi mereka diantara tekanan hidup yang pas-pasan dan sekaligus siaga diri untuk jor-joran jika rejeki nompok datang. Gaya hidup dengan cara menunjukan bahwa dirinya juga bisa dan mampu dilakukan oleh warga kampung, sama seperti mereka juga bisa menilai orang lain dengan tudingan “orang Jawa itu nggak taat, kurang Islam”, dan “pelit dan jorok”. “Perempuannya kalau kencing berdiri. Lihat saja itu yang jual jamu, kencing nggak cebok”, kata mereka. “Orang Batak itu suka makan orang”. “Hat-hati, mereka preman, apalagi dari Medan ”. “Orang Dayak suka motong kepala orang”, kata tetangga. “Aah, Cina Medan, pasti tukang cipoa!” Maksudnya tukang tipu. “Cina Medan itu spekulan, smokelan (penyelundup) barang-barang gelap”. “Dasar Arab lu!” itu umpatan untuk mereka yang kikir, dan memandang orang hanya dari kepentingannya saja. “Oo, perempuan Kuntien ( Pontianak ) yaa”. Ini sinisme untuk perempuan Cina dari Kalimantan Barat yang dianggap gampangan. Bisa dipanggil! “Hati-hati, Bugis tuuh, ditikem lu nanti”. Orang Serang-Banten tidak bisa membedakan mana Bugis, Makassar atau Mandar. Semua yang datang dari Sulawesi Selatan dianggap Bugis. “Betingkah lu, kayak Manado !” Artinya orang yang suka perlente tapi rumahnya berantakan. Di mata orang Serang, khususnya kampung kami, orang Manado itu cuma bisa pesta, dansa dansi, berpakaian necis, walaupun di rumah nggak ada beras! “Sapa tuuh, dari Karawang atau Indramayu?” Tanya seorang anak muda kepada temannya yang membawa seorang perempuan muda. Itu artinya, “apa bisa dipake”. Di benak laki-laki di kampung kami, Karawang dan Indramayu adalah wilayah dimana seks bisa didapat dengan gampang, dibeli dengan murah meriah. Konstruksi sosial sejenis ini dan lainnya bukan ciptaan mereka. Mereka, atau tepatnya kami, juga dapat dari wilayah lain yang kami comot seperti pemulung, dan di kampung kami kumpulkan dan daur ulang melalui obrolan waktu senggang. Sesungguhnyalah warga kampung Mangga Dua adalah “pemulung budaya” yang dengan “kreatif” mengolah kembali apa yang kami comot dari sana sini dan menjadikan bahan bagi kami untuk “melihat” orang lain, sekaligus memperolok diri sendiri. Itulah makanya sinisme itu lebih banyak ditujukan kepada tetangga sendiri sambil santai dan ngakak bareng.

Streotipe memang selalu ada dan muncul dari lingkungan warga dan komunitas mana saja. Di kampung tempat kelahiran saya yang mempunyai perbendaharaan lumayan kaya untuk menuding dan sekaligus memperolok orang lain berdasarkan sinisme etnis atau ras, betapapun “nasionalisme Bung Karno” sering jadi bahan pembicaraan di lingkungan kami. Tapi “nasionalisme” yang identik dengan Bung Karno itu tak ada kaitannya dengan apa yang ada diujung lidah yang perlu dan bisa disemburkan sebagai bagian dari hidup keseharian di lingkungann komunitas yang longgar dalam tatanan nilainya. “Nasionalisme Bung Karno” hanya menjadi sejenis stempel bagi warga kampung yang memang butuh benar sosok yang dibayangkan (imagined) sebagai bahan obrolan waktu ronda atau nongkrong di warung; sekedar diujung lidah, tanpa pengaruh apapun.

Warga kampung Mangga Dua memang pengagum BK, begitu biasa mereka menyingkat nama Bung Karno yang dianggap “sakti”. “BK kan nggak mempan ditembak”, kata mereka mengenang peristiwa Cikini, Jakarta, dan dengan sejumlah tempelan “mitos”, “legenda” dan cem-macem pengkultusan lainnya. Dalam soal politik warga kampung memang tidak kalah dibandingkan dengan “orang sekolahan” atau warga komunitas lain yang selalu mengejek kami sebagai “warga kampung yang banyak buayanya”; kami punya perspektif dan opini tersendiri, mengikuti perkembangan jaman melalui Koran dan radio, dan yang terpenting dari warung tempat nongkrong, dan dari situ kami membangun citra diri sebagai warga. Dan juga, satu hal yang sering membuat kami disegani, karena banyak dedengkot politisi lokal sering datang ke kampung kami, seperti pak Antawijaya, muridnya Tan Malaka, punya pengikut, dan organisasi sosial Bapperki keluar masuk ke wilayah kami. Partai Murba dan PARI yang didirikan oleh Tan Malaka cabang Serang-Banten sekretariatnya di kampung kami. Dan ditambah lagi beberapa sosok yang dianggap kiyai-jawara atau jawara-kiyai kondang suka nongkrong di kampung kelahiran saya. Naah, soal ini yang sering membuat kampung kami disegani lantaran kunjungan dedengkot politisi dan kiyai-jawara atau sebaliknya yang hilir mudik. Dan banyak di antara mereka yang ngendon di kampung seberang sungai; punya isteri kedua.

Walaupun rata-rata warga kampung Mangga Dua bukan atau tidak masuk ke dalam kelas menengah atas, tapi seleranya bolehlah; minimal selera yang dibayangkan dan dicoba jika ada rejeki nomplok dan kerap dilampiaskan secara jor-joran sebagai usaha untuk mendongkrak citra dengan cara menikmati makanan dan sikap ekshibisionisme: sebut saja restoran mana yang kondang di Kotta, Glodog, Prinsen Park (Taman Sari), Pasar Baru, Senen, dan bahkan yang namanya “nasi goreng HI” (Hotel Indonesia) – semuanya di Jakarta – mereka rambah, seperti mereka juga menapak lantai demi lantai dan mencoba eskalator, tangga berjalan yang membuat kami senang dan bingung (karena pakai sandal jepit!) di “Sarinah” yang waktu itu menjadi idaman siapa saja kalau ke ibukota. Dan kami menambah perbendaharaan jtempat di Jakarta : jalan Thamrin!

Untuk mendongkrak citra sosial banyak cara: tanyakan kepada semua warga di seluruh kabupaten (sekarang propinsi) Banten di mana tempat nenggak alkohol yang paling bebas dan berkualitas. Semua orang akan menunjuk kampung Mangga Dua. Bukan karena di kampung itu ada pabrik minuman alkohol. Tapi, jenis dan kualitas apapun selalu beredar, datang dari pelabuhan, bisa Tanjung Priok, bisa juga dari Merak, dan bukan tidak mungkin dari Lampung, barang smokelan dari Singapura, seperti “Bols”, “Black & White”, “Johny Walker” dan belasan merek lainnya. Tentu saja bikinan lokal, seperti cap “Nori”, “Anoman”, dan sebagainya menjadi bagian keseharian. Ingat, itu semuanya di Mangga Dua Dalam! Yaaa, Mangga Dua Dalam!! Dan Mangga Dua Luar, adalah barisan rumah dan toko, kelas sosial yang lebih tinggi, yang selalu mencibir dengana sinisme sosial tetangganya yang hanya selemparan batu., hanya di batasi jalan Mangga Dua dengan deretan pepohonan Kedondong Lanang – yang kami ambil ghetahnya untuk lem – dan pepohonan Mangga, yang dianggap cuma bisa bikin ribut dan foya-foya! Itulah juga kenapa kampung Mangga Dua identik dengan “buaya”: tukang minum, atau wilayah minum yang paling bebas di seluruh wilayah Banten yang kondang sebagai wilayah Islam. Dan jika bicara tentang Islam tentu orang bicara juga tentang puasa. Dan bulan puasa, jangan coba-coba makan di jalan di Serang atau seluruh wilayah Banten waktu itu. Kepala bisa bonyok dikeroyok! Minimal ditempeleng. Tapi, hanya di Mangga Dua Dalam yang bisa bebas. Dan pada bulan puasa jadilah Mangga Dua Dalam sebagai wilayah pasar ceplak, dengan ratusan warung yang datang dari mana saja memadati lorong-lorong dan ada juga rumah warga yang mendadak jadi rumah makan. Yaaa, pasar ceplak, sebuah pasar yang hanya setahun sekali, dan nama pasar itu mungkin dari bunyi lidah ketika mengunyah, yang menjadi favorit bagi mereka yang kurang taat, tapi sekaligus juga sebagai persiapan tambahan ekonomi untuk lebaran bagi warga dan pedagang makanan. Dan pada bulan puasa juga perjudian nampak di hamper semua lahan terbuka, namun dalam kelas yanag lebih rendah.

Tidak lengkap rasanya jika bicara tentang sebutan kampung kami tanpa menyebut dunia perjudian. Mangga Dua jadi sejenis “enclave” khusus di daerah Banten dalam soal minum dan perjudian dari jenis permainan kartu ceki atau cekiyan, kiu-kiu, domino, portiwan (forty one), bakarat (baccarat), capsah, rolet, dadu, sigolak, mahyong, adu jago, adu jengkerik. Hidup, bagi warga kampung kami, semuanya bisa dijudikan, seperti perjudian nasib siapa saja yang hari ini punya sepeda atau arloji mentereng besok bisa lenyap digadaikan atau dijual; hari ini rumah memiliki mebel mewah yang nampak warnanya norak atau radio atau tape recorder, dan dalam dua hari kemudian bisa terbang entah ke mana. Segala sesuatu menjadi pertaruhan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan yang penuh dengan spekulasi. Maka watak yang terbentuk adalah bagaimana membaca cuaca hidup keseharian dengan cara mengamati siapa yang datang. “ Ada perkutut”, informasi itu beredar dengan cepat. Artinya ada “orang baru” yang mau mencari lawan judi, maka perangkap disiapkan, dan bila perlu modal digabungkan jika memang lawan judi itu membawa modal besar. Menarik, jika tiada lawan-luar, “orang baru”, mereka bertarung sesama mereka, dan jika ada “perkutut” mereka sapukan, mengikatkan diri ke dalam ‘persatuan” untuk menyembelih lawan yang hasilnya bisa dipakai untuk mengisi rumah, menyisihkan untuk modal berikutnya, dan sebagiannya untuk foya-foya selama semalam-dua sebagai bagian dari ritual kemenangan. Dan jenis perjudian ini bukan hanya itu saja. Olahraga seperti badminton, pingpong, sepakbola, basket, pokoknya segala sesuatun yang bisa membuat mereka masuk ke dalam sistuasi di mana adrenalin terus meninggi dan selalu dalam tegangan untuk memastikan, apakah dirinya menang atau kalah. Bukan soal menang atau kalah. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana masuk ke dalam ritual spekulatif yang membuat mereka merasa ada di dalam lingkungannya. Jadi, jangan heran kemarin seseorang berpakaian perlente, lusa kemudian hanya sarungan, dan nongkrong sambil menunggu jatah rokok atau makanan, atau mungkin ada orderan untuk sekedar menjadi tukang kocok kartu. Tentu saja sisi lain untuk menunjang hidup bukan hanya itu. Informasi peredaran barang yang datang dari pelabuhan, barang smokelan, salah satu bagian dari dunia spekulasi yang bisa membuat hidup terus bergairah. Dan hidup terus berputar dengan intensitas yang kian membumbung dan perputaran uang kian besar, dan bermunculan generasi berikutnya yang kian piawai dan besar modalnya.ditandai dengan cara berpakaian yang gonta ganti dan parfum yang bukan lagi aude cologne murahan, tapi sudah bermacam merek seiring dengan perkembangan industri pakaian dan dunia mode yang kian pesat selaju dengan pembangunan yang mereka lihat di teve, majalah dan show room toko.

Dan di kepala saya begitu banyak ungkapan sinisme sosial dan gaya hidup yang saya bawa ke Yogyakarta ketika lulus dari SMP, dan sekaligus juga mengemban sejenis chauvinisme lokal. Ingatan itu terus menggelayuti saya. Waktu dan pertemuan sosial nampaknya punya caranya sendiri memupus streotipe tentang berbagai etnis dan ras melalui pergaulan. Di Yogyakartalah saya bertemu dengan teman-teman Batak yang saya anggap “aneh”, kok lemah lembut, kok ada Dayak yang santun dan ramah, kenapa pula orang Bugis itu bisa kongko dengan intens, dan ada Arab yang juga suka nraktir, dan begitu banyak teman Jawa yang rajin sholad. Dalam pergaulan sehar-hari di lingkungan sekolah (dan juga kampus setelah lulus SMA) saya dibikin kagum oleh cara mereka, teman-temanku dari Bugis, Makassar, Dayak, Ambon, Padang-Minang, Batak, Lampung, Palembang , dalam berbahasa Indonesia ! Sebagai warga kampung dengan multi bahasa – Melayu Cina, Sunda Banten dan Jawa Banten – walaupun suka membaca, praktek bahasa Indonesia boleh dikatakan jarang, bahkan di sekolah kami biasanya pakai saling silang bahasa lokal itu, yang selalu ditegur oleh guru saya di SR dan SMP. Kecuali tentu saja dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membosankan.

Bahasa Indonesia merekalah yang membuat saya menjadi harus berpikir ulang, dan menilai kembali, memupus sedikit demi sedikit ingatan yang saya bawa dari kampung, di samping cara mereka ketika berhadapan dengan saya. Perkenalan dan pergaulan sosial di ruang-ruang publik Yogyakarta makin membuat saya – antara sadar atau tidak – ingatan yang dulu menjadi “senjata sosial” warga kampung, menjadi beban, dan kerap menjadi kecemasan sendiri: jangan-jangan saya hanya warga dari komunitas yang “kalah” yang berusaha mempertahankan dan mempersenjatai diri melalui sinisme etnis dan ras. Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh ayah saya: hidupmu tergantung kepada lidahmu. Ayah yang rasional dan selalu mengajak saya untuk “jangan percayai dan katakan sesuatu sebelum kamu tahu” sesungguhnya bekal yang baik ketika saya tinggal di Yogyakarta.: saya bertemu langsung dengan berbagai warga dari berbagai suku, sub-tenis dan ras yang kesemuanya membuyarkan kerangka pikiran streotipe, prasangka yang saya serap ketika hidup di kampung kelahiran.

Tapi itu bukan berarti di Yogyakarta saya tidak menemukan dan mendapatkan cara berpikir atau perspektif yang sama dengan di kampung saya. Orang Yogyakarta umumnya yang begitu bangga dengan sejarah dan tradisinya, ditambah dengan kolonialisme yang membentuk mereka dalam anggapan “adiluhung” untuk dirinya sendiri, sejenis narsisme dan ekshibisionisme budaya, membuat saya jadi kikuk jika mencoba berbahasa Jawa (dan hal itu sampai sekarang!!). Banyak warung langganan saya selalu ketawa dan bilang “wagu” bahasa Jawa saya. Bisa jadi mereka benar. Ini soal dialek dan logat; lidah yang beda. Tapi ada juga yang “kagum” setelah mereka tahu saya dari Banten, dan menganggap saya “memiliki sesuatu”, sejenis “mejik”, yang kata mereka “wong mBanten” masih kuat “ begituannya”. Itulah juga streotipe yang ditabalkan kepada diri saya sebagai “wong mBanten”, yang juga datang dari kenalan atau teman kongko dadakan yang ketemu di warung dari etnis atau suku lain. Teman pergaulan saya yang beraneka latar belakang budaya dan sejarah sosial itu juga sesungguhnya punya beban seperti saya; mereka dan saya dan siapa saja adalah pewaris dari masa lampau yang tak bisa ditolak; dan hanya bisa ditelusuri mana yang memang pantas untuk disimpan, dan mana pula yang mesti dipendam dan tak diucapkan. Toleransi dibutuhkan diantara keberagaman budaya. Jika tidak, kita hanya saling tuding dan menganggap diri paling baik, yang bisa berujung kepada saling badik.

Yogyakarta yang kian berkembang tentu saja seiring dengan pertumbuhan ekonomi cara rejim Orba yang sedang memompa pasar dan menjerat konsumen. Dan toko-toko di Yogyakarta kian padat dan meriah dan kunjungan konsumen kian meninggi dan itu membutuhkan benar wilayah parkir dan pengamaman toko dan warung. Disinilah soal yang kerap membuat Yogyakarta tegang: ruang menjadi wilayah ekonomi dengan intensitas yang tinggi dan itu berkaitan dengan penguasaan oleh sekelompok warga, dan tak jarang kelompok itu saling bersitegang dan bertarung. Diantara itu, tentu saja pertarungan bisa merembet ke latar belakang etnis: Jawa tarung dengan Batak, Batak dengan Lampung, Lampung dengan Jawa, Medan dengan Bugis-Makassar. Tak semua bentrok etnis itu karena rebutan ruang ekonomi. Bisa juga lantaran pacaran, ketersinggungan karena ucapan, salah paham. Tapi, yang jelas, ketika saya di Yogyakarta saya mendengar dan menyaksikan konflik yang berulang kali yang entah dikarenakan apa, tapi berkembang kearah konflik suku. Ituilah resiko keberagaman tanpa pemahaman mendalam dan hanya membawa diri sendiri dan tiadanya toleransi. Konflik etnis bisa terjadi di mana saja. Itu sebuah resiko dari sebuah bangsa yang merangkum ribuan etnis dan sub-tenis dalam suatu rentang geografi yang hampir sama bentangannya dari London sampai Siberia, dan berusaha untuk memiliki cita-cita tentang “Indonesia” yang masih diraba-raba diantara belitan masalah yang tak pernah surut setiap harinya diantara himpitan iklan ekonomi dan iklan politik pembangunan yang bisa menggeser orientassi siapa saja demi mempertahankan hidup.

Dan Yogyakarta yang memiliki mosaik kehidupan sosial dan budaya yang beragam, seperti sebuah kolam besar pertemuan – melting pot – dengan keberagaman ikan yang datang dari berbagai penjuru nusantara dan antar bangsa yang saling seliwer dan pada sisi lainnya arus pemikiran demikian padat dan intensif, menjadi berkah bagi saya yang sedang menapak, mencari “sesuatu” yang saya sendiri belum terbayangkan, apa sesungguhnya yang ingin saya tuju dan raih.. Tapi, diantara mosaik yang semula hanya sebuah kampung yang satu dengan lainnya warga saling kenal dan tahu benar kocek dan “celana dalamnya” masing-masing warga, kini saya bukan hanya berhadapan tapi juga sekaligus “ngojai”, merenangi kolam pergaulan yang lebih luas yang kedalamannya serta arusnya terus menderas bersama topan perubahan yang di bawa oleh media massa cetakan dan elektronika teve yang makin intensif memasuki ruang-ruang tamu dan personal. Tapi, melalui hubungan personal yang beragam yang saya serap yang membawa latar belakang masing-masing etnis, sub-suku dan ras, dan dari situ saya berusaha memahami kedalaman kolam pertemuan makna arus serta keluasan “Indonesia-Yogyakart a” atau “Yogyakarta-Indonesi a”

Mengingat apa yang pernah saya alami di Yogyakarta selalu menjadi sejenis berkah yang saya terima diantara berbagai jenis kerepotan hidup keseharian yang saya hadapi sebagai konsekuensi logis seorang perantau, pejalan yang merintis dan berusaha untuk meyakini, diantara keraguan dan skeptisisme yang terus menggelayuti diri tentang bentangan makna “Indonesia” melalui Yogyakarta. Dan kini, jika saya merenungi pengalaman pertemuan dan meresapkannya, diantara lintasan perjalanan-pertemua n saya dengan geografi budaya lainnya di bentangan nusantara, rasanya saya mesti bersyukur bahwa saya sempat singgah dan bermukim selama 9 tahun 8 bulan, dan sampai sekarang masih beberapa kali dalam setahun mengunjungi Yogyakarta – yang sudah tak nikmat lagi untuk jalan santai, dan Malioboro bukan lagi “Universitas Terbuka” tapi wilayah perdagangan yang sumpek dan impersonal – serta kontak yang masih berjalan dengan banyak teman lama dan baru, dan selalu saya mendapatkan isyarat tentang sebuah negeri yang terus berubah, dan saya berusaha memahami, betapapun ketidakjelasan makna “Indonesia” dalam perspektif saya. Dan untuk itulah, saya kira, pencarian memang mesti terus dilakukan; mengais dari yang lampau, menguak ruang kemungkinan masa yang akan datang.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.beritamusi.com, 26 Agustus 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s