KENALKAN SASTRA SAMBIL TAMBAL BAN


PURWOREJO – Beragam cara bisa dilakukan untuk menghargai sastra, bermacam tempat pula dipilih oleh penggiat sastra dalam menunjukkan dedikasi serta menyampaikan kritik sosial yang diembannya. Seperti yang dilakukan Kusnadi, 42, warga Cangkrep Lor RT 02 RW 05, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, enam tahun lebih mengenalkan sastra di trotoar Jl A Dahlan Purworejo.

Dedikasi Kusnadi terhadap dunia sastra mungkin belum diketahui banyak orang. Kusnadi nampaknya lebih senang kalau tidak dikenal seperti Matias Mucus (Bintang Film) yang dulu merupakan satu angkatan dengan dirinya.

Rekam jejak pendidikan Kusnadi yang terakhir yakni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jakarta juga sengaja ditutupnya rapat-rapat. Meski demikian dalam setiap latihan di trotoar, jelas sekali terlihat bahwa Kusnadi jgo dan fasih dengan seni pertunjukkan yang konon dipilihnya saat mengenyam di bangku kuliah.

Kusnadi hijarah ke Purworejo setelah sekian lama mangkal dan bergaul dengan tokoh-tokoh besar sastra di Taman Ismail Marjuki (TMII) Jakarta. Seperti menyamar, kini Kusnadi menjadi tukang tambal ban di perempatan Pandai Kluwih (Jalan A Dahlan Purworejo). Semua anak jalanan dirangkulnya dan diajaknya bermain teater di pinggir jalan.

Kusnadi yang lebih akrab di sapa Kumal ini juga sempat ditarik oleh Pusat Pengembangan Kesenian Jakarta sebagai penggiat teater tradisional sejak tahun 1983. Mengemban missi tersebut, Kusnadi hijrah ke Purworejo tahun 2000.

Ada beberapa komunitas telah dirangkul Kusnadi, diantaranya Komunitas Teater Purworejo (KTP), Teater Ilalang, Teater Asap, Teater Titik dari sanggar Arena Pentas Independen (API). Selebihnya juga sempat masuk ranak akademisi, yakni menggiatkan sastra di SMA Muhammadiyah Purworjo dan UKM Sastar Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP).

Tujuh tahun di Purworejo Kusnadi cukup menikmatinya. Dukatakan Kusnadi, bermain teater dijalanan lebih membutuhkan mental dan nyali. “Tapi itulah sastra menurut saya, tidak hanya di dunia maya (televisi) saja, sastra benar-benar nyata berada ditengah-tengah kita. Teater bisa dimainkan dimana saja, di perempatan jalan di stasiun atau di kuburan sekalipun bisa jika ada yang melihatnya,” seloroh satrawan beristri dua ini.

Banyak yarya juga yang sudah dikerjakannya, salah satunya hasil kerjasama dengan Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Jogjakarta dengan menggarap drama teater Pengakuan Herlambang yang berjudul Lelaki di simpang jalan (adaptasi dari nyanyian angsa karya sastrawan Rusia).

Dikatakan Kusnadi, sastra di Purworejo kini sudah berkembang baik, ditandai dengan banyak komunitas sastra mulai dari jalanan hingga di kalangan pendidikan. Kusnadi juga membuat terobosan dengan membuat Film sastra untuk bisa diakses di sekolah khususnya dalam mata pelajarab bahasa dan ssastra Indonesia.

Bekerjasama dengan mahasiswa UMP, selama tujuh hari, tujuh judul film diselesaikan, diantaranya yang berjudul Pengemis Profesional, Pemulung ingin Sekolah, Gepeng Berangan-angan, Pengemis Ulung, Wasiat dan Primadona Panggung.

“Tema yang diangkat yakni kritik sosial sarat pendidikan, hiburan. Pesan yang disamiakan yakni hidup tidak harus berakhir dengan putus asa, hidup memang tidak semudah yang dibayangkan. Obesesi perlu namun garis tangan (takdir) tetaplah yang menentukan,” ujar Kusnadi.

Kusnadi yang juga kepala suku komunitas Teater Titik (API) Purworejo tidak memberikan syarat berat dalam menerima anggota baru. Hanya satu syarat yang wajib dipenuhi oleh anggota yakni jauh dan bebas dari minuman keras (Miras) dan Narkoba.
“Di Purworejo memiliki teman (sebutan anak didiknya) sekitar 80 anak. Selebihnya tersebar di Jakarta, Bali, Solo dan Medan. Saya asli Jakarta, lahir tanggal 4 Juli 1966. Senang dengan teater sejak Kelas III SD. Sekolah SD Pelita Karya (Bekasi) melanjutkan di SMP Babelan (Bekasi) dan diteruskan di SMK Boedi Utomo (Boedot). Lulus sekolah saya bergaul di IKJ, dan nongkrong di Taman Ismail marjuki (TMII) Jakarta,” jelasnya merendah. (tom)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.radarjogja.co.id/, 17 Juli 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s