SASTRA, ULAMA, DAN PESANTREN


Soni Farid Maulana

Dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, kedudukan seni dan budaya mempunyai peran yang cukup penting di dalamnya. Berkaitan dengan itu, tak aneh kalau para ulama zaman dulu begitu luas pengetahuannya. Ia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu seni dan budaya. Berkaitan dengan itu, kehidupan sastra di dunia pesantren bukan merupakan barang baru. Dibacakannya Kasidah Barzanji yang berkisah tentang keagungan Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu contoh dari sekian karya sastra yang ditulis kalangan ulama pada zamannya.

Sementara itu, di dunia pesantren tradisional, kisah-kisah tentang para nabi dan para sahabatnya, pelajaran tentang haram, halal, dan keimanan, dilantunkan dalam nadoman. Lirik-lirik nadoman itu sendiri ditulis dalam bentuk puisi. Siapa lagi yang menulis lirik demikian itu, kalau bukan kalangan ulama, dan kalangan santri yang luas ilmu pengetahuannya. Baik mengenai pengetahuan bahasa, maupun pengetahuan umum lainnya.

Penyair Acep Zamzam Noor mengatakan hal itu dalam diksusi yang mengangkat tema “Kehidupan Sastra di Pesantren”, yang digelar Rabithah Ma’ahidil Islam (Asosiasi Pondok Pesantren) Jawa Barat bekerja sama dengan Panitia Pameran Buku 2009, Rabu (4/2) di Landmark Convention Hall, Jln. Braga No. 129 Bandung. Pameran buku itu dibuka secara resmi oleh Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada, yang dalam kesempatan tersebut antara lain menganjurkan agar budaya baca buku terus ditingkatkan dalam kehidupan masyarakat.

Kebangkitan sastra pesantren dewasa ini terasa denyutnya, menurut penyair Acep Zamzam Noor, antara lain bisa dilihat pada bermunculannya sastrawan-sastrawan santri yang menulis karya sastra dengan sungguh-sungguh. Hal itu misalnya bisa kita lihat pada sejumlah karya yang ditulis oleh penyair Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, dan A. Mustofa Bistri, yang kemudian disusul dengan hadirnya Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abdidah El-Khaliqie, Hamdy Salad, dan Jamal D. Rachman.

Puisi yang ditulis ulama K.H. A. Mustofa Bisri bisa kita baca seperti ini, yang dipetik dari puisinya yang diberi judul Syahadat yang ditulis pada 1988: Inilah kesaksianku/Inilah pernyataanku/Inilah ikrarku//La ilaaha illa Llah/Tak ada yang boleh memperhambaku: kecuali Allah/Tapi nafsu terus memperhambaku//.

Puisi yang ditulis sepanjang tujuh belas bait itu berisikan kritik terhadap manusia yang dengan mudah mengucapkan syahadat, beriman kepada Allah SWT, tapi dalam perbuatannya sehari-hari tidak mencerminkan hal itu. Pada satu sisi manusia tahu bahwa melakukan tindak pidana korupsi itu merupakan sebuah perbuatan dosa, demikian juga dalam berzina. Tetapi perbuatan itu sering kali dilakukannya. Sebagai contoh, terkuaknya berbagai kasus tindak pidana korupsi dan perselingkuhan yang dilakukan oknum anggota DPR, belum lagi yang dilakukan anggota masyarakat, atau pejabat lainnya. Pendek kata, kritik yang dilontarkan A. Mustofa Bisri dalam puisinya itu juga mengarah kepada dirinya sendiri, yang termasuk ke dalam golongan kaum ulama. Jangan-jangan apa yang dilakukan ulama, dalam hal ini dirinya sendiri dalam melakukan perbuatan baik itu di hatinya terselip ingin dipuji orang. Jika ada niat yang demikian maka ibadahnya tidak tulus.

Puisi lainnya ditulis seorang santri dan juga belakangan dikenal sebagai ulama, Kiai D. Zawawi Imron adalah seperti kutipan ini: Membuka kulit nagasari/Isinya bukan pisang madu/tapi mayat anak gembala/Yang berseruling seriap senja//Membuang kulit nagasari/seorang nakhoda memungutnya/dan merobeknya jadi dua/separuh buat peta/separuh buat bendera kapalnya//.

Puisi yang ditulisnya ini penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak hanya secara estetik, tetapi juga secara filosofis. Di dunia pesantren, mengolah kata dan belajar tata bahasa, atau belajar ilmu tentang ungkapan itu soal yang biasa. Kepandaian D. Zawawi Imron semacam itu adalah hasil dari pendalamannya mengolah bahasa di dunia pesantren.

Lepas dari persoalan tersebut, sebelum Emha, kita sudah mengenal Djamil Suherman, Fudoli Zaini, Kuntowijoyo, dan Hamka. Dalam perkembangan lebih lanjut, karya sastra yang bernapaskan Islam, tidak hanya ditulis kalangan santri yang bermukim di pesantren atau yang sudah keluar dari pesantren, tetapi juga ditulis mereka yang benar-benar punya minat untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman secara sungguh-sungguh. Apa yang ditulis para sastrawan yang tergabung dalam organisasi Forum Lingkar Pena adalah sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa sastra Indonesia bernapaskan Islam terus tumbuh dengan warna yang berbeda dari zaman ke zamannya.

“Sebelum Forum Lingkar Pena lahir, Abdul Hadi W.M. dan kawan-kawannya pernah pula mencetuskan gerakan sastra sufisme yang tumbuh dengan amat suburnya pada 1980-an,” ujar Acep Zamzam Noor.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pondok Pesantren Jawa Barat, K.H. Abdul Chobir mengatakan, bangkitnya sastra pesantren yang ditulis ka-langan santri atau ulama seperti K.H. Mustafa Bisri patut kita sambut mengingat nilai-nilai yang dikandungnya banyak memberikan hikmah kepada para pembacanya.

“Berkaitan dengan itu, mari kita jaga tradisi kehidupan sastra di pesantren yang memang bukan merupakan barang baru. Mengapa kita harus menumbuhkembangkan kehidupan sastra di pesantren, antara lain karena nilai-nilai yang dikandung dalam karya sastra yang bernapaskan Islam itu memberikan pelajaran yang cukup baik untuk kita renungkan dalam menghadapi arus globalisasi nilai-nilai yang cenderung hedonistik dan menjauh dari nilai-nilai religius!” kata K.H. Abdul Chobir, yang sehari-harinya tinggal di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.
**

APA yang dikatakan penyair Acep Zamzam Noor dan K.H. Abdul Chobir, yang akrab dipanggil Mas Chobir ini memang tidak salah. Dalam sebuah esainya yang diberi judul “Menikmati Syiiran Kiai-kiai”, K.H. A. Mustafa Bisri mengatakan, “Bersyair-syair saya kira memang merupakan salah satu tradisi pesantren. Atau katakanlah secara khusus, tradisi para kiai atau ulama. Meskipun pada umumnya, bersyair-syair bagi mereka hanyalah selingan. Inilah warisan para pendahulu mereka.”

Apa yang dikatakan Mustafa Bisri dalam esainya itu pada satu sisi menggarisbawahi apa yang dikatakan Acep Zamzam Noor, apalagi bila kita merujuk pada zaman yang lebih jauh, misalnya pada zaman Jalaluddin Rumi, Attar, Hafiz, atau Sana’i, para penyair Persia Klasik yang notabene dikenal juga sebagai para ulama yang zuhud. Sementara Indonesia kita bisa merujuk pada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, atau pada zaman yang lebih dekat lagi dengan kita, ayahnya K.H. A. Mustafa Bisri, K.H. Bisri Mustofa juga menulis syair dalam huruf pegon (Sunda-Jawa).

Di Tatar Sunda, meski dalam bentuk dangding. Penghulu Haji Hasan Mustapa menulis juga sejumlah puisi dalam huruf pegon (Sunda-Arab). Hingga kini, menurut Ajip Rosidi, dalam sebuah esainya, Hasan Mustapa telah menulis lebih dari 10.000 bait dangding, yang di dalamnya banyak mengungkap persoalan-persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan lingkungan, dan alam. Tak jarang dalam dangding yang ditulis itu banyak pula mengkritik perilaku manusia itu sendiri, yang mengaku-ngaku beriman kepada Allah SWT, padahal dalam praktiknya jauh dari apa yang diakunya itu.

Kini, dunia kreativitas itu masih terus ditulis para santri dan ulama. Kita patut menyambutnya agar nilai-nilai kehidupan tetap terjaga.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 8 Februari 2009.

Iklan

One response to “SASTRA, ULAMA, DAN PESANTREN

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s