CATATAN DARI FESTIVAL MUSIKALISASI PUISI INDONESIA


Furqon Lapoa
Pembina Kelompok Musikalisasi Puisi Khitari dan Ketua Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Walaupun tidak sepopuler baca puisi, musikalisasi puisi sesungguhnya bukan “barang baru” di Indonesia, demikian juga Sulawesi Tenggara. Tahun silam misalnya, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara menyelenggarakan pelatihan musikalisasi puisi bagi para siswa dari beberapa sekolah di Kota Kendari, mendatangkan instruktur dari Jakarta, AGS Arya Dipayana. Kegiatan pelatihan tersebut diakhiri dengan semacam lomba antarpeserta, yang dimenangi oleh siswa peserta pelatihan utusan dari Madrasah Aliyah Ummushabri, Kendari.

Olah kreatif anak-anak yang menjuarai musikalisasi itu tidak berhenti ketika pelatihan usai. Mereka kemudian membentuk kelompok musikalisasi puisi Khitari, dan melanjutkan proses kreatif melagukan puisi di bawah bimbingan Syaifuddin Gani, Arif Relano Oba, dan saya. Kelompok yang belum lama terbentuk ini antara lain pernah tampil pada Prosesi Seni Malam Jumat Teater Sendiri pada Oktober 2007. Bulan November, Khitari diundang tampil pada lomba musikalisasi puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa. Sayang sekali, kesempatan untuk tampil pada ajang nasional itu gagal diraih gara-gara kesibukan sebagian personilnya yang dalam waktu hampir bersamaan mengikuti pekan olah rada dan seni antar pesantren se-Indonesia di Kalimantan. Padahal, sebagian personil lain sudah berangkat ke Jakarta.

Pada bulan April 2008, penyair Syaifuddin Gani selaku Koordinator Musikalisasi Puisi Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara menerima undangan dari Komunitas Sanggar Matahari untuk mengikuti Festival Musikalisasi Puisi tingkat Nasional – dirangkaikan dengan rapat koordinasi Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) di Jakarta, akhir Mei lalu. Tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan, pekerja seni musikalisasi puisi (yang masih terbatas jumlahnya) sepakat menunjuk Khitari untuk ikut berpartisipasi festival musikalisasi puisi nasional tersebut.

Penunjukan tersebut dimungkinkan mengingat Khitari bisa disebut sebagai satu-satunya kelompok seni yang mengkhususkan diri dalam musikalisasi puisi. Kelompok Khitari pulalah yang siap untuk berangkat dengan segala resiko. Kesiapan menanggung “resiko” (menguras saku untuk biaya transportasi pulang pergi, misalnya) adalah hal penting, mengingat kegiatan-kegiatan kesenian di provinsi ini masih dipandang sebelah mata – kecuali kegiatan-kegiatan kesenian dengan dana proyek. Dewan kesenian yang di daerah lain menjadi naungan dan pengayom bagi kreativitas para seniman, sudah lama tak terdengar aktivitasnya di sini.

Setelah melakukan proses latihan selama lebih kurang satu bulan, Khitari dengan personil Furqon Lapoa, Arif Relano Oba, Nur Khairah, Dilla, Irfan, memutuskan berangkat. Seperti sudah diduga sebelumnya, para personil Khitari harus merogoh “saku” sendiri karena hingga hari pemberangkatan, belum ada satu pun sponsor yang bersedia memberikan bantuan. Bantuan memang datang dari Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara dan Badan Pariwisata Sulawesi Tenggara, tetapi jumlahnya tidaklah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan biaya transportasi.

Akan tetapi, minimnya dana bukanlah sesuatu yang harus disikapi secara cengeng. Sebab, selain telah menerima undangan ikut berpartisipasi, juga kami terpacu untuk membuktikan kepada khalayak nasional bahwa Kendari bukan hanya bisa terkenal karena aksi demonstrasi-anarkhisnya (akhir Maret lalu), tetapi juga oleh geliat seninya, antara lain musikalisasi puisi. Dan, tanpa sikap ‘nekad’, kesenian memang tidak akan maju. Karena, sekali lagi, sudah jadi rahasia umum, dunia Kesenian (dengan huruf kapital!) masih kurang dilirik, baik pemerintah maupun perusahaan-perusahaan swasta yang biasa mensponsori kegiatan hiburan dan olahraga.

Akibat kekurangan dana pulalah, maka kami tidak bisa berangkat berombongan, tetapi ‘dicicil’. Nur Khairah dan Dilla berangkat pada 22 Mei 2008, Irfan dan saya berangkat pada 23 Mei 2008, sementara Arif Relano Oba menyusul pada 24 Mei 2008. Meski berangkat secara terpisah, peruntungan masih mempertemukan kami di Wisma Pemuda dan Olahraga Cibubur, Jakarta.

Pemberangkatan yang terpisah tersebut berimbas pada tidak maksimalnya mengikuti rangkaian Rapat Koordinasi, sebab acara berlangsung pada tanggal 22-26 Mei 2008. Meski begitu, tentu ada yang dapat diraih dalam acara tersebut. Di antaranya saja, latihan bersama (musikalisasi puisi) yang dihadiri oleh perwakilan dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jambi, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara, yang didampingi oleh Deavies Sanggar Matahari.

Dalam sesi latihan bersama itu menentukan komunitas yang layak untuk tampil di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Dan terpilihlah Khitari sebagai penyaji pertama (24 Mei 2008, jam 20.00 WIB) dengan membawakan musikalisasi puisi “Rinduku Pulang” karya Abd. Razak Abadi, dan mendapat respon yang baik dari penonton. Acara itu antara lain dihadiri oleh Kepala Kantor Pusat Bahasa, di samping sejumlah seniman dari berbagai daerah. Sehabis pertunjukan musikalisasi puisi Khitari dari Kendari, di akhir acara salah seorang penonton berkomentar, “Penampilan Khitari memiliki warna sendiri, garapan musik berbeda dengan penyaji lain, dan kostumnya yang etnis banget.”

Adapun Rapat Koordinasi Nasional Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) antara lain memutuskan pembentukan Kompi di tingkat propinsi dan kabupaten/kota, sementara Kompi pusat berkedudukan di wilayah Jabotabek. Di samping itu, rakornas juga menghasilkah sejumlah program, di antaranya: (1) membentuk kantong-kantong/sanggar-sanggar musikalisasi puisi Indonesia, (2) mengadakan pelatihan, workshop, bengkel calon penyuluh dan juri musikalisai puisi, (3) mengadakan festival musikalisasi secara berjenjang mulai kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional, (4) mengadakan konser dan pentas keliling musikalisasi puisi, dan (5) mengadakan kerja sama lintas daerah.

Hasil Rakornas KOMPI ini dirumuskan pada 25 Mei 2008 bertempat di gedung Kementerian Pemuda dan Olah Raga, Cibubur, dengan susunan tim perumus: Agus R. Sarjono, Ratun Untoro, Suyadi San, Hasan Al Banna, Nukman, Ali Syamsuddin Arsi, dan Bucek Hijazie. Untuk mengisi kekosongan kepengurusan di Sulawesi Tenggara, Kompi Pusat menunjuk saya sebagai Ketua Kompi Provinsi Sulawesi Tenggara. Tentu saja, bagi saya, penunjukan ini menuntut tanggung jawab yang tidak mudah. Sebab musikalisasi puisi belumlah begitu memasyarakat dan masih dinikmati oleh kalangan tertentu. Tidak seperti musik komersial, misalnya Peter Pan, Kangen Band dan lain-lain.

Begitulah. Meski bisa mengikuti seluruh rangkaian acara dan saling berbagi ilmu dengan peserta dari daerah lain, tetapi sebagaimana keberangkatan, lagi-lagi kepulangan saya dan kawan-kawan mengalami masalah kurangnya dana. Hingga tulisan ini dikirimkan ke Kendari Pos, saya masih terkatung-katung di Yogyakarta, satu orang di Makasar, sedang tiga orang lagi alhamdulillah telah sampai di Kendari. Namun, mudah-mudahan peristiwa semacam ini tidaklah mengurangi spirit untuk memajukan dunia kesenian di Sulawesi Tenggara, khususnya musikalisasi puisi.
Tabik.

Yogyakarta, 5 Juni 2008

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://kendaripos.co.id, lalu di http://sastra-pesantren.blogspot.com, 1 September 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s