MENEGAKKAN ESTETIKA ALTERNATIF


Beni Setia
Pengarang, Tinggal di Caruban

Tulisan AF Tuasikal, “Birokratisasi Sastra Jawa Timur” (Kompas, 29/7), meski hanya menyasar puisi dan inventarisasi penyair, sebenarnya menyodok dominasi Dewan Kesenian Jawa Timur di satu sisi dan kecenderungan adanya dominasi estetika yang amat mendikte selera redaksi, kurasi antologi bersama, serta aspek kebermutuan puisi mutakhir. Sebuah gugatan yang menohok tetapi dengan beberapa salah asumsi.

Pangkal keberangkatannya kasuistik merujuk pada selera estetik puisi mutakhir, dan karenanya memakan korban bagi yang tak mengikuti pakem estetika dominan saat ini. Di titik ini, bukan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) yang salah, juga bukan para pengamal estetika dominan, yang salah justru cara menginventarisasi dan mengekspresikan estetika tandingan. Tahun terakhir ini ada gerakan “pribuminisasi” yang menentang selera postmodernism ala TUK cq jurnal BoemiPoetra. Sayang ide yang maunya multiestetik itu, dengan merangkul genre sastra buruh, sastra kiri, dan sastra Islami, hanya bagus di aspek ide tetapi gagal menghasilkan karya kualitatif bahkan, penolakan itu jadi agresi personal.

Padahal, khazanah sastra selalu menuntut ekspresi unggul dan estetika yang dieksplorasi sehingga menghasilkan karya, yang bila tidak diungkapkan demikian oleh si A, kita tidak akan menemukan orisinalitas ekspresi. Optimalisasi ketika menggali isi potensi kreativitas dan kemungkinan estetika akan menghasilkan karya yang kualitasnya sejajar dengan estetika dominan. Rendra membuktikan asumsi itu meski keunggulannya tidak terletak pada teks, melainkan pelisanan teks yang memukau. Sajak sosial Rendra benar secara fakta sosial dan ekspresif menggedor saat dilisankan di podium meski tidak berbunyi sebagai teks apabila diukur estetika media ungkap teks yang harus orisinal.

Itu bukti eksplorasi. Itu optimalisasi potensi diri sekaligus diskursus problem sosial faktual sehingga masalah semua orang menjadi masalah yang terempati dan ekspresif ketika diungkapkan dalam pelisanan teks puisi. Sejajar dengan puisi Taufik Ismail, yang meski tanpa dramatisasi, tetap mampu menyihir dengan retorika-memanfaatkan intonasi dan artikulasi. Pencapaian ekspresi Rendra itu bisa ditelusuri dari kecondongan menulis balada dan narasi dramatik, seperti terlihat dalam Blues untuk Bonie atau Kotbah dan Taufik Ismail dalam Kembalikan Indonesia Padaku.

Tidak terdidik
Institusi yang secara politik estetika tidak pernah mau memanfaatkan kuasa dalam hal mengeblok estetika dominan atau mendukung bibit estetika tandingan. Sementara itu Tjahjono Widijanto pada acara Temu Sastrawan Jatim 2009 mengeluh kesulitan dalam hal menginventarisasi karya sastrawan Jatim. Sementara dengan buku Pesta Penyair, Arief B Prasetyo (JP, 25/7) menandai suburnya penulisan puisi di Jatim.

Meski kebablasan memakai pseudoteori, dengan berasumsi itu disebabkan bahasa Jawa standar tidak pernah bisa dipakai menampung ekspresi orang Jatim yang egaliter dan tidak terdidik tradisi Jawa mataraman bukan karena bahasa Indonesia punya khazanah sastra dan referensi keilmuan yang relatif lengkap serta gampang diakses.

Dengan kata lain, yang dibutuhkan tetap totalitas berkarya, komunitas yang bisa mengintensifkan dialog yang saling mendewasakan dalam tradisi peer teaching, dan manifesto diikuti karya yang menonjol. Selain itu, dibutuhkan pula kritikus dan ahli teori yang mampu melegitimasi karya dan eksistensi komunitas. Ini sekaligus tidak bisa diproses secara terbalik. Boemipoetra membuktikan kegagalan itu. Bahkan, ikon intelektual macam Arief Budiman dan Ariel Heryanto hanya mampu memicu isu estetika alternatif, tetapi gagal menghasilkan karya mutakhir dari sastrawan yang diilhami isu sastra kontekstual. Ini berbeda dengan TUK dan kelompok studi Kalam, lebih tepatnya lingkaran Tempo.

Fenomena estetika TUK itu menarik kalau bisa menelusuri bagaimana genre puisi dan prosa mutakhir dibentuk sebelum dominan menguasai khazanah sastra Indonesia. Dan, satu perlawanan dengan memicu keberadaan beberapa estetika tandingan tanpa ada pengamatan mendalam terlebih dahulu hanya akan jadi teks caci maki, yang melahirkan pengikut mahapemberang Saut Situmorang-atraktif bikin rujak setiap hari padahal rujak mengganggu kesehatan pencernaan, kalau mengutip Sutan Takdir Alisyahbana.

Namun, apa perlunya mengugat dominasi kritikus dan determinasi (selera) kritik yang cuma melegitimasi karya tertentu apabila kita bisa melawannya dengan kesuntukan berkarya dan senyum saat mampu mempersembahkan karya otentik?

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas Edisi Jawa Timur, 29 Juli 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s