PENYENGAT, MENJADI PUSAT PERTUMBUHAN SASTRA MELAYU


Agus Sunarto

Pada awal abad ke-19 kesenian dan budaya Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat, daratan kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang di bagian Barat Pulau Bintan, Riau.

Ketika itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia yang bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga sastra Melayu berkembang pesat dan buku-buku banyak diterbitkan.

“Semua orang yang tinggal di Penyengat sangat aktif berkarya. Tidak hanya sastrawan saja yang menulis dan menerbitkan karya-karyanya tetapi rakyat jelata, nelayan dan kaum perempuan pun membuat aneka tulisan,” kata Ketua Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu Riau Pulau Penyengat, Raja Malik Hafrizal.

Dia mencontohkan sebuah buku Perkawinan Penduduk Penyengat dikarang oleh seorang nelayan bernama Encik Abdullah pada tahun 1902 sedangkan buku berjudul Kumpulan Gunawan ditulis oleh seorang perempuan bernama Khatijah Terung. Pesatnya perkembangan sastra Melayu kala itu tidak lepas dari peran kerajaan.

“Dulu kerajaan sepenuhnya menyokong kegiatan penciptaan karya seni dan budaya. Kerajaan menyediakan kertas dan pena bagi siapa saja yang hendak berkarya dan membangun percetakan untuk menerbitkan karya-karya mereka,” kata pria berambut ikal itu.

Tahun 1890-an percetakan Mathba’atul Riauwiyah dan Mathba`atul Al Ahmadi dibangun untuk menyebarluaskan karya-karya yang dihasilkan oleh putera-puteri Penyengat. Dari pulau kecil bertanah merah itu kemudian lahir banyak tokoh penulis dan sastrawan produktif yang keberadaannya di kenal luas di Semenanjung Tanah Melayu.

“Sebuah kelompok bernama Rusdiyah Klab yang beranggotakan intelektual dan sastrawan Melayu juga dibentuk sebagai forum bersama untuk mengembangkan sastra Melayu,” kata Raja Malik seraya menyayangkan saat ini gedung tempat Rusdiyah Klab beraktifitas sudah tidak bisa lagi dijumpai sisa-sisanya di Penyengat. Salah satu pengarang produktif yang dikenal pada masa itu adalah Raja Haji Ahmad Engku Tua, putera tertua Raja Haji Fisabillilah.

Raja Haji Ahmad Engku Tua menulis banyak syair yang di antaranya adalah Syair Engku Puteri dan Syair Perang Johor serta membuat kerangka tulisan buku Tuhfat An-Nafis yang pembuatanya kemudian dilanjutkan oleh puteranya Raja Ali Haji. Raja Ali Haji yang lahir di Penyengat Indera Sakti pada 1808 dan meninggal pada 1873 merupakan tokoh budaya, pujangga, ahli siasat, politikus dan ahli bahasa ketika sastra Melayu berjaya di Penyengat.

Dari goresan penanya lahir karya-karya besar seperti Gurindam XII, Bustanu`l-katibin (Kamus Bahasa Melayu), Kitab Pengetahuan Bahasa, Samratu`l-muhimmati (kitab pegangan pejabat pemerintah), Muqaddimah Fi Intizam (undang-undang), Syair Abdul Muluk, Tuhfat An-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, Syair Suluh Pegawai, Syair Siti Shianah dan Syair Sinar Gemala Mestika Alam. Keturunan Raja Ali Haji seperti Raja Haji Ahmad, Raja Saliha, Raja Safiah dan Raja Ali Kelana selanjutnya juga memberikan kontribusi penting bagi perkembangan sastra Melayu pada masa itu. Pesatnya perkembangan dan kemajuan bahasa dan sastra Melayu ketika itu juga mendorong pemerintah Belanda untuk menjadikan Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah Indonesia pada 1865.

Namun saat perang melawan Belanda mulai berkecamuk di Penyengat perkembangan sastra Melayu di kawasan itu mulai surut dan mencapai titik terendah ketika Belanda menguasai pulau itu pada 1911.

“Setelah Belanda berkuasa anggota kerajaan dan sebagian penduduknya, termasuk para satrawan dan penulis, meninggalkan Penyengat untuk berhijrah ke Singapura dan Malaysia karena tidak mau berada di bawah kekuasaan Belanda sehingga aktifitas seni pun menurun drastis,” kata Raja Malik. Sejak saat itu aktifitas penciptaan karya sastra dan seni Melayu di kawasan Segantang Lada Kepulauan Riau lantas tidak lagi terdengar gaungnya dan masa dorman itu berlangsung cukup lama.

“Karena beberapa hal perkembangan sastra dan kebudayaan Melayu di kawasan Segantang Lada dan sekitarnya memang mengalami pasang surut, namun saat ini geliatnya sudah mulai terlihat,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau H Robert Iwan Loriaux. Karya sastra seperti syair dan pantun masih menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat baik dalam pelaksanaan upacara adat maupun dalam kegiatan pemerintahan.

“Tokoh-tokoh baru juga mulai muncul. Tahun 2004 budayawan Melayu Tenas Effendi menerbitkan buku Tunjuk Ajar Melayu dan Putra Pulau Penyengat Hasan Yunus menerbitkan buku berjudul Raja Haji Fissabulillah Hanibal dari Riau,” katanya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Suara Karya (Jakarta), 20 November 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s