SILUET BUNGA PUSTAKA BANYUMAS


Yosi Muhaemin

Menjadi bagian dari perkembangan sastra di wilayah Banyumas adalah kebanggaan tersendiri bagi komunitas sastra Bunga Pustaka. Komunitas yang didirikan 7 Juli 2007 ini dapat disejajarkan dengan komunitas lain, seperti Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) di Purwokerto dan komunitas Gethek di Ajibarang. Meskipun tidak go internasional semacam Gethek (komunitasnya Edi Romadhon), Bunga Pustaka telah berperan melahirkan sastrawan-sastrawan muda yang hingga kini masih eksis di dunianya, seperti Arif Hidayat, Abdul Aziz Rasjid, Yosi M Giri, Restu Kurniawan, Inneke Eko, Dwi Setiyaningsih, Doni S Piningit, Aditya Wepe, Karyati, dan beberapa nama lain.

Pada tahun 2008, Bunga Pustaka bergerak mengembangkan kesusastraan pada sekolah-sekolah menengah di Banyumas dengan menyelenggarakan pelatihan penulisan dan bedah karya sastra. Sastrawan-sastrawan lokal yang ada di wilayah Banyumas pun digaet untuk berbicara langsung di hadapan siswa. Inilah yang berbeda dengan model Sastrawan Bicara Siswa Bertanya ala sastrawan Horison. Hal yang paling penting untuk dicatat jika kesusastraan hendak dimajukan ialah dokumentasi sastra penerbitan buku yang dilakukan oleh Bunga Pustaka.

Dokumentasi dan Tradisi Kritik
Dalam genre puisi, Bunga Pustaka menerbitkan beberapa buku, di antaranya: Syair-Syair Fajar (2007), Diorama Cinta (2008), dan Ketika Cinta Menengadah Doa (2009). Dalam genre prosa fiksi, di antaranya: Hani In Memories (2008), Lovinesha (2010), dan Cermin Jiwa (2010). Selain itu, Bunga Pustaka juga menerbitkan buletin Bupus yang memuat karya-karya sastrawan di wilayah Banyumas, baik nama-nama lama maupun nama-nama yang tergolong baru.
Namun demikian, di antara judul buku di atas, hanya Syair-Syair Fajar sajalah yang baru mendapat sentuhan apresiatif dan kritik dari esais Abdul Aziz Rasjid yang terpublikasi di buletin Littera (TBJT) dan Radar Banyumas. Hal ini mengimplikasikan bahwa Bunga Pustaka belum memiliki kesadaran yang penuh untuk membangkitkan tradisi kritik di Banyumas.

Dokumentasi dan tradisi kritik adalah dua aspek penting bagi usaha pengembangan kesusastraan. Nama Chairil Anwar tidak akan sebesar sekarang jika H.B. Jassin tidak ikut mengoyak-koyak karyanya di hadapan karya sastrawan lain. Iwan Simatupang pun demikian, tidak akan diketahui masyarakat Indonesia jika Dami N. Toha tidak mengeluarkan hasil kritikannya. Di sinilah, perlunya dokumentasi utuh dari para sastrawan Banyumas dan melahirkan kritik yang ilmiah, agar karya sastra tidak sekedar diproduksi secara massal belaka.

Peta Dokumentasi Sastra Banyumas
Setelah buku kumpulan puisi Melacak Jejak, tahun 1995 terbit buku Serayu yang dimotori komunitas Kancah Budaya Merdeka. Namun buku-buku tersebut hanya tersimpan di perpustakaan tanpa pernah dibicarakan lebih lanjut dalam forum-forum diskusi sastra. Adapun buku puisi Kata di Padang Tanya karya penyair Bambang Set yang terbit 1997 telah melahirkan dua skripsi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Namun demikian, hasil penelitian itu pun lagi-lagi hanya tersimpan di perpustakaan saja. Bahkan, ketika penulis bertanya langsung kepada penyairnya, ia tidak mengetahui kalau karyanya telah diapresiasi. Maka menjadi wajar, jika para penyair Banyumas sebenarnya kehilangan penilaian kritis yang sebenarnya dapat membantu mereka untuk mengembangkan konsep estetis dan estetika karya selanjutnya.

Nasib penyair Dharmadi sedikit beruntung, dengan bukunya Jejak Sajak yang terbit 2008 Dharmadi mendapat masukan-masukan kritis di antaranya melalui bedah di FISIP Universitas Jendral Soedirman dan Dewan Kesenian Kudus. Ditambah lagi, Dharmadi kini bermukim di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang ikut menopang eksistensinya dalam konstalasi sastra Indonesia.

Dokumentasi yang tidak kalah pentingnya selain yang diterbitkan dalam bentuk buku, ialah manuskrip. Banyak di antara sastrawan Banyumas angkatan 70-an hingga 80-an yang masih menyimpan hasil karyanya sendiri tanpa mempublikasikannya kepada masyarakat. Sebagai ‘anak-anak rohani’ sastrawan (meminjam istilah Pram), harusnya karya-karya itu dibebaskan untuk dibaca khalayak. Hal ini sekaligus PR yang harus diselesaikan oleh komunitas Bunga Pustaka dalam usianya yang belia, sebagai komunitas yang dibentengi oleh kalangan akademisi sastra yang nyata-nyata ‘paham’ konsep dan metode pengembangan sastra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://yosimgiri.blogspot.com, 15 Juli 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s