BERKUMPUL DAN BERBAGI ILMU


Berawal ketika salah seorang sastrawan dari Banjarmasin mengikuti kongres Komunitas Sastrawan Indonesia di Kudus pada 2008 lalu, lalu Komunitas Satra Indonesia (KSI) Banjarmasin pun terbentuk.

Perwakilan dari Banjarmasin ini, kata Ketua KSI Banjarmasin, Hajriansyah, menerima mandat, agar dapat membentuk KSI Banjarmasin, sebagai wadah tempat berkumpulnya para sastrawan.

Atas persetujuan para sastrawan, KSI Banjarmasin pun terbentuk. Hingga kini, para sastrawan-sastrawan berkumpul, belajar, dan berbagi ilmu di KSI.

Setiap minggunya, bertempat di Taman Budaya Banjarmasin, anggota KSI Banjarmasin berkumpul. Masing-masing membawa hasil karyanya.

Ada yang berupa puisi atau cerpen. Setiap anggota, membaca dan dan memberikan masukan, tambahan ide, akan karya anggota KSI yang sedang dibahas.

“Masing-masing menuliskan di kertas apa yang sebaiknya ada pada cerpen atau puisi yang dibahas,” katanya.

Dengan cara ini, tambahnya para sastrawan dapat saling bertukar pikiran, apa dan bagaimana sebaiknya membuat karya sastra. Malah, tak menutup kemungkinan muncul juga ide-ide baru.

Saat ini, anggota inti dari KSI Banjarmasin ada sembilan orang. Namun, kata Hajriansyah semua sastrawan Banjarmasin, masuk dalam anggota KSI.

“Dalam pagelaran sastra, semua sastrawan Kalsel diundang dan mereka menjadi bagian dari KSI,” katanya.

Anggota inti KSI ini, kata Hajriansyah, rata-rata penulis. Kebanyakan dari mereka telah menerbitkan buku hasil karya tulisnya. Satu di antaranya sang ketua KSI Banjarmasin, Hajriansyah.

Pria yang akrab disapa Hajri ini telah membukukan ratusan karyanya, berupa puisi dalam buku antalogi puisi. Antara lain, Jejak-jejak Angin, Jejak Air, dan 79 Puisi Hajri.

Tak hanya puisi, ketua Komunitas Sastra Indonesia Banjarmasin periode (2008-2011) ini juga piawai dalam membuat cerpen (cerita pendek). Satu di antaranya termuat dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami.

Tak kalah dari karya masing-masing penulis, KSI Banjarmasin juga telah menerbitkan tiga buah buku, yakni dua buku antalogi puisi karya penyair Kalsel, yakni Puisi Lingkungan Hidup dan Konser Kecemasan, satu buku lagi kumpulan cerpen karya Nailiya Nikmah JKF yang berjudul Rindu Rumpun Ilalang.

Perkembangan sastra di Kalimantan Selatan sendiri cukup baik. Terbukti, tak hanya di Banjarmasin, KSI di luar kota Banjarmasin juga terbentuk.

KSI Banjarbaru, KSI Kotabaru, KSI Tapin, KSI Tanah Bumbu, KSI Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU) merupakan KSI yang ada di wilayah Kalsel, selain KSI Banjarmasin.

KSI yang tersebar di Kalsel ini, menurut Hajri juga telah menerbitkan buku. Selain itu, berbagai kegiatan pagelaran maupun diskusi juga diadakan.

“Perkembangannya dinamis, puluhan buku dari sastrawan Kalsel saat ini bisa ditemukan di toko-toko buku,” katanya. (mm)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.banjarmasinpost.co.id, 6 Desember 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s