HYSTERIA, DARI BULETIN KE KOMUNITAS


Tak ringan memang menjaga kelangsungan sebuah komunitas seni. Apalagi di Kota Semarang yang pernah disebut sebagai ”kuburan” seni. Tapi hal itu tampaknta tak berlaku bagi Komunitas Hysteria.

Kelompok yang beranggotakan anak-anak muda itu, beberapa waktu lalu, merayakan ulang tahunnya yang keenam. Menempati salah satu joglo di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), perayaan itu diadakan dengan sederhana lewat obrolan seputar eksitensi mereka selama ini.

”Kami hadir semula lewat buletin sastra yang terbit rutin. Setelah itu agenda kami berkembang dengan mengadakan berbagai macam acara,” jelas Yuswinardi, salah satu pendiri Hysteria.

Hysteria kemudian harus diakui sebagai salah satu komunitas yang aktif menggelar berbagai acara kesenian.

Tak hanya kegiatan yang berbau sastra, mereka juga bersentuhan dengan berbagai berbagai jenis kesenian yang lain. Sekretariat mereka di daerah Sampangan sering riuh oleh kegiatan mereka selama ini.

Tapi pertanyaan yang mengemuka kemarin adalah seberapa besar dampak kehadiran mereka bagi kesenian di Semarang. Hal itu bisa dirangkum dari pendapat beberapa hadirin malam itu.

”Hysteria telah mendapatkan posisi tersendiri dalam dunia kesenian di Semarang. Apalagi bagi penulis-penulis muda yang sering diundang di sana,” ujar Widyo Leksono, seniman teater.

Abaikan Kemasan
Sementara penulis muda, Galih Pandu Adi menambahkan, sebenarnya acara di Komunitas Hysteria memang cukup menarik. Sayangnya, kemasan acara tersebut sering terabaikan. Kesan yang bisa ditangkap, acara itu tak terselenggara dengan sungguh-sungguh.

Penulis Nugroho WU menyarankan, Hysteria untuk bisa menggelar acara yang lebih terbuka, di mana semua pihak bisa terlibat di tempat yang mudah dijangkau pula. Dia memberi contoh kegiatan kedai apresiasi yang pernah diadakan di TBRS beberapa tahun lalu.

Sementara itu, penulis Gunawan BS menilai Hysteria masih minder untuk terjun di blantika kesenian Semarang. Dia berharap, komunitas yang kini dimotori oleh Adin itu tak lagi bersikap seperti itu.

Lantas, bagaimana tanggapan aktivis Hysteria? Mungkin, status yang tertulis di akun Facebook milik Adin bisa menjawab. Status yang ditulis Selasa (29/9) malam itu berbunyi,”ulangtaun ke 6! kcil dan potensial!” (Adhitia A-67)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://suaramerdeka.com, 1 Oktober 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s