PUTU: SASTRA TIDAK PERLU KOMUNITAS


Seminar Temu Sastra Indonesia (TSI) III di Hotel Pelangi, Tanjungpinang, Jumat (29/10) yang dimulai pukul 08.30 WIB hingga sore, cukup menarik dan seru untuk disimak. Pasalnya, beragam pendapat dan masukan dari para sastrawan tumpah ruah disana, khususnya perihal keragaman ideologi dan ekspresi keragaman terhadap komunitas dan media di kalangan sastrawan.
Seminar tersebut diawali dengan kuliah umum dari Budi Darma dan Katerin Bandel sebagai penyanggah. Mereka membahas tentang penting tidaknya seorang kritikus sastra di kalangan sastarawan maupun akademisi.
Budi Darma menganggap kritikus di Indonesia, kurang bisa dimanfaatakan. Ia malah mencotohkan sebuah istilah banyak pakar ekonomi di Indonesia, tapi ekonomi kacau. Begitu juga banyak pakar politik, tetapi politik semakin kacau. ”Kehadiran kritikus sastra ini juga tidak bermanfaat, karena akan semakin mengacaukan sastra itu sendiri,” jelasnya.
Katerin Bandel langsung menampik pendapat Budi Darma. Ia mengatakan kritik sastra di Indonesia sangat memprihatinkan, karena kurang terjadinya pertemuan. Dikarenakan pihak akademis terkesan tertutup, begitu pun sastrawan tidak mau ikut setiap digelar acara.
Tidak hanya itu, banyak pendapat seakan dunia akademis lebih berkualitas dan objektif terkait sastra. ”Jadi saya kurang setuju seputar usul Budi Darma. Kritik sastra kurangg aktif, karena sastra sendiri tidak menarik dibahas. Hal itu kurang sesuai, karena begitu banyak sastrawan yang banyak karyanya tapi tidak pernah ada pembahasan,” jelasnya.
Disamping itu, tugas kritikus, tegasnya, bukan hanya menanggapi karya bagus tapi kalau memang ada yang tidak beres dan ketimpangan ataupun kurang berkualitas dalam sebuah sastra, itu juga sangat layak untuk dibahas.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih dalam, terkait komunitas dan media di kalangan sastra, yang dibawakan Putu Wijaya, Nanang Suryadi, dan Akmal yang dimoderatori Hasan Aspahani.
Namun sebelumnya, sastrawan asal Bali, Putu Wijaya mengatakan sebenarnya kritikus itu bagus. Cuma, saat ini penerbit, koran, dan komunitas sudah menjadi kritikus. Karena ketika sebuah karya best seller, itulah yang dianggap bagus. Padahal sebenarnya karya tersebut bukan sastra, tetapi hiburan yang memang lagi populer di tanah air ini.
Sebuah karya, kata Putu, bisa dibilang karya sastra jika bisa menjadi makanan batin karena memberikan aspek ke seluruh tubuh.
Seperti di Tanjungpinang, sastra dirayakan, dimuliakan, dan dibudiyakan sejak dahulu, meskipun tidak ada kritikus. ”Tidak adanya kritikus, karena tidak ada prospek pada waktu itu,” jelasnya.
Namun, sambungnya, yang ada saat ini sastrawan sudah terbelah seperti partai-partai. ”Itu yang menyebabkan kritikus tidak bisa dipercaya. Katanya sastra bisa meluruskan yang bengkok, tapi sastranya sendiri sudah bengkok seperti kelok sembilan Sumbar (Sumatera Barat, red),” tegas Putu.
Menurutnya, kesatuan atau komunitas itu berbahaya, karena akan membentuk molekul-molekul. Biarlah sastrawan berbeda setiap pribadi sehingga memberikan dinamika. Ia mencontohkan Purwadaminto, yang selalu bersahabat dengan semua orang dan tidak mau dipengaruhi siapapun kecuali hati nuraninya.
Sanggahan pun datang dari Nanang Suryadi. Penulis Sang Pencerah ini mengatakan kelompok sastra bukan hanya mencari untung melainkan untuk kepentingan umum, seperti Forum Lingkar Pena, Rumah Dunia, sangat ramai aktifitasnya.
Sekarang banyak muncul komunitas dunia maya seperti seriti.com (memuat cerpen-cerpen dimuat di koran), jendela saastra.com. Media sastra.com dan video puisi youtube. ”Semua bentuk sastra, bisa diakses dan bisa dikomentari, sehingga memberikan manfaat baik bagi penulis maupun komentator,” jelasnya.
Namun, Putu Wijaya tetap pada pendiriannya. Menurutnya secara umum, seperti yang banyak terjadi di kalangan sastra, satu komunitas selalu menjelekkan komunitas yang lain. ”Bacalah internet bagaimana satu komunitas saling memaki satu sama lain. Begitu pun media, saya bingung kalau baca koran. Wartawan sudah berpihak pada medianya atau pada pemiliknya yang juga termasuk orang partai,” jelasnya.
Menanggapi salah satu penanya dari peserta yang tidak setuju komunitas sastra disamakan dengan partai. Putu mengatakan, orang yang biasanya memberikan komentar adalah orang luar, bukan orang dalam satu komunitas karena itu tidak mungkin. ”Perbendaan pendapat tidak harus disamakan. Saya bukan orang yang berasal dari komunitas manapun, tapi itulah yang saya lihat,” aku Putu.
Secara global, terangnya, sekarang yang terjadi adanya persaingan yang kurang sehat. Tapi saya tetap tergerak dengan prinsip Purwadarminto. ”Tapi saya tidak pernah memusuhi orang yang tergabung di dalam komunitas, tetapi jangan sampai komunitas itu mengacaukan penilaian,” tegasnya.
Tapi kalau komunitas menjelekkan komunitas lain, itu yang tidak boleh. ”Lihatlah yang terjadi saat ini, orang lebih sibuk mencari siapa yang salah, seperti meletusnya gunung merapi, tsunami, dan banjir, bukan malah mencari solusi,” pungkasnya. (nie)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://batamcyberzone.com, 30 Oktober 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s